Pierendra

Pierendra
Pierendra lagi....?



" Bukannya aku sudah memperingatkanmu tadi pagi ?" kalimat kak Rendra membelah suara bising laju motor yang sudah mencapai 80 km per jam. Dan kami sudah melakukan setengah perjalanan pulang.


Uma terdiam untuk mengingat saat hendak keluar rumah tadi memang ada kak Rendra yang menunggunya untuk menunjukkan pesan Ita dari dalam handphonenya. Tapi... karena buru-buru Uma hanya men-scroll pesan itu. Jadi , dia nggak tahu persis apa isi pesan tersebut .


" Hehehe.... maaf kak, sebenarnya tadi aku belum membacanya. " jawab Uma santai.


( Ciiii.....tttt .) Motor berhenti seketika kemudian kak Rendra menoleh lalu melepaskan helmnya dan memegangnya dengan tangan kanan.


" Sudah ku duga. Kamu ini ceroboh sekali Uma! Bagaimana bisa kamu abaikan begitu saja pesan yang aku tunjukkan tadi pagi ? Aku pikir kamu akan mengubah niatmu untuk pergi setelah membacanya, tapi kamu masih saja pergi. itu sebabnya aku mengikuti kalian dari belakang tadi." dengan nada tinggi kak Rendra mengomel panjang lebar membuat Uma sangat kaget dan ketakutan hingga akhirnya Uma menangis dengan menutup mukanya.


" Memangnya aku salah apa sih kak ? apa pergi sebentar itu dosa besar ya ? sampai-sampai aku dimarahi kayak gini ? huu....uuu...." kata Uma sedih.


Dengan perasaan menyesal Kak Rendra meletakkan helmnya di kaca spion lalu memegang kedua tangan Uma dan berusaha membukanya supaya berhenti menangis.


" Sshhhtt.....cup cup. Kok nangis? Maaf, aku khilaf ! Sebenarnya aku sangat panik sekali tadi." kata kak Rendra mencoba menenangkan.


Uma tidak peduli dengan usahanya menghentikan tangisannya . " Salah sendiri, bentak orang seenaknya. Memangnya tidak bisa , bicara dengan lebih halus ? " batin Uma.


Karena masih belum juga berhasil, akhirnya kak Rendra mendekap Uma dan membelai kepalanya dengan lembut sambil berkata," Aku tidak tahu kalau kamu se cengeng ini Uma, aku janji nggak akan mengulangi perbuatanku lagi. Berhenti dong nangisnya ! " pinta kak Rendra.


Mendengar rayuannya Uma jadi ingin tertawa tapi dia tahan," Biarlah aku akting dulu supaya dia menyesal lebih lama sedikit lagi. hihihi..." batin Uma licik.


" By the way...kita lagi dipinggir jalan raya lho. Kalau kamu nggak berhenti nangis, kita akan berpelukan seperti ini terus ." rayu kak Rendra lagi.


Sontak Uma tersadar lalu melepaskan pelukannya dan karena terkaget dia lupa menutup mukanya yang tadi berpura-pura sedih hingga kak Rendra melihat wajah Uma yang tanpa air mata ataupun kesedihan.


" Hey ! kamu ngerjain aku ya ? Pura-pura nangis lagi, awas kamu ya...! " kata kak Rendra sedikit mengancam .


" hihihi....iya. Salah sendiri bentak-bentak aku memangnya kalau aku bohong , kak Rendra mau apa ? " Uma menantangnya.


" Aku akan membuatmu melakukan apa yang kulihat tadi pagi...." jawab kak Rendra .


"Hhaaa....emm.... " kembali Uma menundukkan kepalanya dengan muka yang memerah karena kak Rendra masih saja mengingat hal yang memalukan itu.


" Nah...kena kan ! Gimana rasanya dikerjain ? hahaha....." Puas sekali kak Rendra setelah membuatnya malu.


" Iiihhh.....kak Rendra jahat. " kata Uma sambil mencubit pinggangnya.


"Aduh...aduh... hentikan Uma ! aduh...geli. sakit ! " sahut kak Rendra.


" Geli apa sakit ? ha ..?! " sambil terus saja Uma mencubit perut bagian sampingnya.


" Bisa nggak sih, nggak bahas soal kejadian tadi pagi ? " pinta Uma sedikit mengancam.


" Bisa , bisa. Tapi hentikan nyubitnya ! " pinta kak Rendra.


" Oke ." jawab Uma.


"( huh.....huh....)kak Rendra mengatur nafas. Tapi aku nggak bisa lupa .Kamu terlihat cantik dan.....seksi... " senyum kak Rendra kembali terlihat karena merasa menang.


Uma menggelengkan kepalanya. Kali ini dia menyerah dan benar-benar malu mendengar ucapannya. " lebih baik aku diam supaya pembicaraan ini berhenti." batin Uma memutuskan.


" Kenapa diam ? Aku sedang memujimu tadi. " kak Rendra berusaha memancing uma untuk bicara.


" Memangnya aku harus bilang waoow gitu ? " sahut Uma singkat.


" Hahaha.....Uma...Uma..." kak Rendra hanya tersenyum.


" Alhamdulillah... sudah masuk waktu dhuhur . Kita cari mushola dulu ya baru nanti kita lanjutkan perjalanan." kata kak Rendra.


" iya..." balas Uma.


Tak jauh dari tempat berhenti tadi kami menemukan mushola di tepi jalan. Mushola itu nampak tidak begitu luas tapi elok dan rapi serta sejuk karena banyak pepohonan disekitarnya.


Kami berpisah menuju penunjuk arah pria dan wanita. masing-masing dari kami mengambil air wudhu. Sebelum berwudhu, Uma menuju toilet untuk buang air kecil yang sedari tadi dia tahan.


" Ahh....leganya ." kata Uma yang sudah keluar dari toilet.


Uma menuju keran air yang berjajar di dinding mushola. Nampak seorang ibu-ibu paruh baya sedang melepaskan kerudungnya supaya tidak basah karena air saat mengambil wudhu. Kami saling memberikan senyum yang hangat. Aku sangat senang sekali jika bertemu orang tua perempuan. Entah itu ibu-ibu, tante-tante atau bahkan nenek-nenek. Kebanyakan mereka selalu ramah dan penuh kasih sayang.


" Kamu juga sedang melakukan perjalanan nak...? " tanya ibu itu kepadaku.


" Iya Bu. Ibu mau kemana ? "aku balik bertanya.


" Oh...ibu tadi baru saja kondangan di tenda merah yang pinggir jalan raya tadi lho nak, terus ini mau pulang . Nah, kebetulan sudah masuk waktu dhuhur, jadinya mampir sholat dulu. " Jelasnya sambil berjalan menuju ruang utama mushola untuk selanjutnya memakai mukena dan dilanjutkan melakukan sholat berjamaah.


Didalam mushola ada satir penyekat antara jamaah putra dan putri yang membuat tidak bisa saling melihat satu sama lain , hanya menyisakan ujung kepala saja yang bisa dilihat .


Saat sholat akan segera dimulai, terdengar lantunan iqamah dengan suara yang merdu dan indah. Suara ini bersumber dari seseorang yang berdiri didekat penyekat yang terlihat memakai peci dan sepertinya ada lekukan ditengah . " Oh tidak.Pierendra lainnya ! hihihi... " Uma menahan tawanya lirih dan mulai menata niat supaya selama sholat nanti bisa khusyuk.


kami semua sudah selesai melakukan sholat berjamaah. Ibu tadi mengajak salaman karena ingin segera pulang . Uma masih belum mau meninggalkan tempatnya bersimpuh. Masih meresapi tiap butiran biji tasbih yang dia jatuhkan satu persatu dengan mata terpejam dan memusatkan pikiran saat berdzikir . Mencoba memahami makna kehidupan yang sedang dialaminya. Susah, senang, disayangi, dikhianati, dipuji , dicaci,


" Ohhh.. Ya Allah... Aku pasrah dengan segala yang Engkau pastikan untukku. " kata Uma.


Lalu Uma menengadahkan tangan , " Ya Allah....aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi, hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan dan perlindungan. Ya Allah, jika Riyan itu baik untukku maka dekatkanlah, namun jika Riyan tidak baik untukku maka jauhkanlah. Dan berikan hamba petunjuk siapa yang terbaik untukku. Aamiin..... "


Cepat-cepat Uma mengemasi mukena yang ia pakai karena kak Rendra pasti sudah lama menunggu.


Saat Uma menuju teras mushola, terlihat kak Rendra sedang duduk bersandar di salah satu tiang penyangga sambil memainkan hapenya. Dan tepat di samping kanannya dia menaruh peci yang Uma lihat tadi saat hendak sholat berjamaah. " Berarti, dia yang mengumandangkan Iqamah tadi ? Ternyata kak Rendra memiliki suara yang merdu. Dan ternyata lagi dia adalah Pierendra lainnya tadi. Oohhh.....Ya Allah..... sekarang aku bingung dengan cara-Mu menjawab doaku tadi. " batin Uma.


" Lama banget sih ! " tanya kak Rendra sambil terus menatap hapenya.


Tanpa menjawab, Uma malah senyum-senyum sendiri.


Karena tidak segera mendengar jawaban Uma , akhirnya kak Rendra menengok dan berkata, " Kamu kenapa ? " aneh melihat tingkah Uma yang tidak ada angin tidak ada hujan tersenyum sendiri.


" Itu." mata Uma mengarah ke peci yang berada disampingnya.


" Ada apa dengan peci saya ? " tanya kak Rendra heran.


" Nggak.. Peci itu mengingatkanku sama Riyan. Dia juga memiliki peci yang sama." jawab Uma.


" Enak aja ! Kamu jangan samain aku sama siapa tuh ? Aku gak mau sebut namanya ! " kata kak Rendra sombong


" Riyan...." pancing Uma.


" Iya... " sahut kak Rendra.


" Yuk cepetan ! kita sudah ditunggu Tante ! " ajak kak Rendra.


" iya iya.... lagian ada acara apa sih ?bikin deg degan aja." tanya Uma iseng.


" Memangnya aku tahu ? Nanti kita akan tahu kalau sudah sampai. " jawab kak Rendra.