Pierendra

Pierendra
Curhat



Uma tiba-tiba saja berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Arin sambil berkata, " Mbak Arin mampir ke rumahku yuk.... dah lama kan nggak ketemu sama Zia ?" Ajak Uma.


" Oh... iya banget. Yukk ! " Sahut Arin sembari meninggalkan meja beserta dua cowok ganteng yang ekspresi mukanya seolah-olah tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


" Ehh...Lho...kok..! pergi begitu saja ? " bingung Azi dan Riyan.


Tanpa mempedulikan pertanyaan mereka, Arin dan Uma berjalan bergandengan menuju rumah Uma yang jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan sebentar saja.


*******


" Sore Tante .." Sapa Arin sambil mencium tangan ibu Sofi.


" Eh....Arin, makin cantik aja . Kemana saja kamu ? " Ibu Sofi memuji karena senang melihat Arin yang sudah lama tidak berkunjung .


" Eh ini Tante, sedang banyak tugas. Hehe..." Arin ngeles.


" Alah....tugas apa tugas ? Kami ke kamar dulu ya Bu .. ! " sambil nyelonong masuk ke kamar meninggalkan ibu Sofi yang menggelengkan kepalanya karena melihat kelakuan mereka.


Uma mencoba menggodanya karena tahu kalau sebenarnya selama ini Arin lebih banyak bersenang-senang ketimbang belajar. Tapi itu bukanlah hal yang aneh untuk seorang putri pengembang properti yang sukses. Dengan sebuah hentikan jari saja dia bisa asal tunjuk universitas mana yang akan dia pilih. Tapi anehnya kenapa sekarang dia tidak sekolah di SMA yang elite? Uma jadi teringat ingin mengetahuinya.


" Mbak, aku tahu kalau sebenarnya mbak Arin itu anak seorang pengusaha sukses." Uma membuka obrolan.


Arin melotot dan melongo mendengar kata-kata Uma barusan. " Dari mana kamu tahu ? ". Tanya Arin yang masih tidak percaya karena selama ini dia berusaha menyimpan rapat identitasnya.


" Mbak Arin kenal Dika ? Dia yang ngasih tahu aku kemarin. " jawab Uma.


" Dika ? Dia kesini ? Aduh.. anak itu ! Awas nanti." Arin merasa sebal karena sepupunya telah membocorkan rahasianya.


" Memangnya dia cerita apa aja ? " tanya lagi Arin.


" Ya, gitu aja. Makanya aku ajak mbak Arin ke sini buat cerita yang sebenarnya. Kenapa orang kaya seperti mbak Arin tidak sekolah di tempat yang elite dan kenapa juga mbak Arin menutupi jati diri mbak , buat apa coba? " Uma balik bertanya.


" Ceritanya panjang Uma. Sebenarnya rumah yang aku tinggali sekarang ini adalah rumah nenek. Sedangkan tempat tinggalku yang asli berada di Bandung. Aku dikirim papa ke Semarang untuk memenuhi janji papa kepada nenek yang ingin mempunyai cucu yang taat dan mengenal ilmu agama. Itulah sebabnya kenapa selama ini aku selalu judes. Karena itu berlawanan dengan nuraniku yang menginginkan kebebasan untuk masa remajaku. Aku juga kehilangan fasilitas mewahku karena pernah berusaha kabur dari rumah nenek. hahaha...lucu juga kalau ingat itu. " mbak Arin menjeda ceritanya.


"Tapi sejak aku bertemu denganmu Uma, aku mulai belajar arti kesederhanaan . Bahwa kebahagiaan tidak selalu didapat dari materi. Kita hanya perlu menghargai apa yang ada disekitar kita, yang terdekat dengan kita. Dan sekarang , aku mulai bisa menerima kenyataan yang direncanakan papa untukku. Serta mewujudkan impian nenek dengan membuatnya senang karena aku menjadi cucu yang penurut ." mbak Arin melanjutkan ceritanya.


" 0...jadi itu nenek kamu ? tapi kamu manggilnya mama ? " heran Uma.


" Iya. Karena itu memang permintaan dariku. Dengan panggilan itu aku selalu merasa dekat dengan mama, aku seperti sedang memanggil mama saat dirumah. Ya, meskipun aku sering video call sama mama. herghh.... ini semua gara-gara Dika ! Kok kamu bisa kenal dia sih ? Gimana ceritanya ? " Arin menuntut jawaban.


( Mampus gue !!! waktu itu kan kejadiannya pas aku kena hukuman bersihin toilet, bisa gawat kalau aku ceritakan ke mbak Arin )


" Emm...ya, dia kan satu kelas sama


Azi dan Riyan, jelas tahu lah..! " Uma mencoba memberikan alasan yang logis. Namun Arin tidak mudah percaya.


" O ya ? kalian pacaran ya ? " Arin mendesak Uma.


" Nggak...!! " Dengan tegas Uma menyangkalnya.


" Oh... kemarin itu , dia ngasih aku ini sebagai tanda permintaan maaf , juga sebagai tanda kalau kami berteman ." Jawab Uma sambil menunjukkan syal yang diambilnya dari lemari pakaian.


" Kenapa Dika minta maaf sama kamu ? Dia ngapain kamu ? Biar aku balas nanti kalau ketemu sama dia. Sekalian aku mau marahin dia karena sudah membongkar identitasku. " Arin merasa geram lagi.


" Eh...nggak usah ! Biasa , waktu itu dia salah paham sama aku, jadi ngomong yang nggak nggak, tapi dia udah nyesel kok , nggak akan mengulangi lagi. " Jelas Uma.


" Oh , begitu ? Beneran nggak ada apa-apa ? Arin memastikan lagi.


" Beneran mbak..! Kami nggak ada apa-apa." jawab Uma.


"Ohhh...ya udah , sekarang aku percaya." kata Arin.


" Eh... katanya tadi kamu mau curhat ? kok malah jadi aku yang cerita kemana-mana sih ? "Arin mengingatkan Uma tentang tujuan awal dia membawanya bermain ke rumah.


" Oh...itu... emm....anu mbak...ini... sebenarnya..." Uma bingung mau menceritakan sebenarnya atau tidak tentang apa yang sedang dialaminya.


" A... e... a.... e.... Kamu itu ya, kayak ditanya mau nikah saja, bingung kayak gitu ! hahaha...." suara tawa Arin pecah melihat Uma yang sedang kikuk.


Melihat Uma yang tidak merespon candaan Arin barusan, membuat Arin mengira kalau apa yang dikatakannya tadi adalah benar.


" Atau jangan-jangan... " air muka Arin berubah tegang seketika.


" Serius kamu Uma ? " Arin memegang kedua lengan Uma seraya menggoyangkan untuk memastikan karena Uma tertunduk malu.


Uma pun hanya mengangguk tanpa berani memperlihatkan mukanya. Dirinya belum siap kalau ada orang lain yang mengetahui hal yang selama ini dia berusaha tutupi dengan rapat.


" Kamu dijodohkan ? " Arin mendesak Uma.


Lagi-lagi Uma hanya mengangguk.


" Sama siapa ? " Rasa penasaran Arin semakin besar.


Sedangkan Uma masih saja membisu, mulutnya terasa begitu berat untuk sekedar mengucapkan nama kak Rendra.


" Uma...! " Arin menyadarkannya lagi dari aktifitas diamnya.


Kali ini Uma mengangkat wajahnya untuk melihat Arin dihadapannya. Dia mengambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya untuk menggerakkan bibirnya dan bersiap menyebutkan sebuah nama.


Namun disaat mulutnya mulai terbuka, Zia tiba-tiba datang mengejutkan Arin dari belakang. " Kak Arin..!!! "


Sontak semuanya jadi terkaget mendengar suara Zia. Riuh tawa pin pecah di kamar Uma.


" Duh...Zia..! Kak Arin jadi kaget nih...! Sampai jantungku mau copot rasanya. " kata Arin sambil memangku Zia dan memeluknya.


Arin memang sangat menyukai Zia sejak pertama datang ke rumah Uma. Mereka berdua sangat akrab seperti saudara.


Kedatangan Zia yang mengejutkan itu membuat Arin lupa seketika dengan pertanyaan yang dia ajukan kepada Uma.