Pierendra

Pierendra
Tempat duduk



Karena waktu sudah hampir pukul 19.30, maka Arin memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Menurutnya untuk sekarang ini bukanlah waktu yang tepat untuk melanjutkan pembahasan yang sangat penting namun sempat tertunda tadi.


" Aku memang bertanya-tanya dan sangat penasaran dengan sosok rahasia yang hampir saja terungkap . Siapa yang dijodohkan dengan Uma ? Lalu apa alasan mereka menikah muda ? Apa mungkin...? Ahh... tidak mungkin, aku tahu Uma sangat bisa menjaga dirinya. Aku saja belajar darinya. " Tepis Arin dengan segala pemikirannya yang sedang berkecamuk.


Tapi batin Arin puas, karena sebentar lagi info ini akan sampai ke telinga Azi. Ya... Orang yang sangat dicintainya namun belum juga dia mampu meraih hatinya karena Uma. Seringai senyum Arin tak tertahan menunggu hari itu tiba dimana dia akan menjadi satu-satunya peri sandaran bagi Azi. Kembali Arin tersenyum dengan berbagai makna dan rencana.


Ibu Sofi yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Arin karena berjalan diwaktu yang sudah malam, akhirnya menyuruh Lui untuk mengantarkan Arin.


" Lui... tolong kamu antar kak Arin sampai ke rumahnya ya..! " Pinta ibu Sofi.


" Dengan senang hati Bu.." jawab Lui memastikan ibunya merasa tenang.


" Arin pulang dulu Tante, sampai besok Uma, sampai ketemu lagi cantik... Assalamu'alaikum..." Arin berpamitan kepada semua anggota keluarga yang mengantarkan didepan pintu rumah.


" Wa'alaikumus Salaam..." serentak mereka menjawab salam dari Arin.


" Ini akan menjadi ujian bertubi-tubi bagi Azi. Mengingat Senin bwsok adalah hari pertama ujian Nasional yang diselenggarakan serentak di seluruh SLTA sederajat termasuk Madrasah Aliyah negeri 1 . Bersiaplah Azi, kamu akan jatuh ke pelukanku. hihihi...." Arin sangat berharap hal itu segera terwujud.


******


Seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, terjadi penggabungan saat ada ujian Nasional. Tempat duduk putra dan putri akan diacak sehingga nantinya akan berpasangan .


Azi sangat berharap kalau dia akan berpasangan dengan Uma. " Kuharap kita akan duduk satu meja Uma. " Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Azi saat hendak memasuki gerbang sekolah.


Tanpa diduga, Azi melihat Uma yang juga sedang berjalan memasuki gerbang. Sengaja Azi melambatkan langkahnya supaya bisa berbarengan dengan Uma.


" Hai..Azi ! " Sapa Uma senang karena bertemu dengan seorang yang dikenal.


" Hai...! " Sahut Azi sumringah karena belum apa-apa Tuhan sudah mengabulkan keinginannya untuk bertemu Uma.


"Kamu tolong temani aku mencari ruang IV ya , Aku malu sekali karena belum pernah masuk ke gedung sekolah putra." Sambung Uma meminta tolong.


" Tidak mungkin, kamu satu ruangan denganku . " kata Azi sambil menunjukkan kartu testnya.


" O ya.. syukurlah. Aku tidak perlu repot-repot mencari ruangan itu. Terimakasih Azi ! " Ucap Uma senang tanpa mengetahui kalau dibelakang mereka ada Arin yang sedang terbakar cemburu melihat kedekatan mereka berdua.


" Sama-sama, ayo ! ". Ajak Azi meneruskan langkah mereka. Ingin rasanya Azi menggandeng tangan Uma, namun dia tahan karena sedang berada di lingkungan sekolah.


" Sungguh di luar dugaan, aku bisa sebahagia ini. " batin Azi .


Arin yang sedang terbakar api cemburu berpikir keras memutar otak bagaimana caranya agar dirinya bisa duduk satu meja dengan Azi. lalu dia pun menemukan sebuah ide. Diam - diam Arin mengambil jalur tercepat menuju ruangan IV untuk melihat susunan tempat duduk sebelum siswa yang lain sampai. Hal ini sangatlah mudah baginya karena dia pernah menjadi anggota OSIS dan ikut serta dalam kegiatan di gedung sekolah putra. Itulah sebabnya dia hafal betul denah dan tata letak ruangan yang ada disana.


Tak perlu waktu lama, Arin sudah berdiri didepan ruang IV. Benar saja, menurut gambar denah duduk yang terpampang di kaca Mading , Azi dan Uma memang duduk bersama. Dengan cepat Arin memindahkan foto Uma dan menukar dengan dirinya. " Hei Uma, ngapain kamu deketin Azi ? Kamu itu cocoknya sama si perfeksionis Riyan yang kamu kejar-kejar dulu. Hahaha....aku baik kan...? " Arin berbicara sendiri sambil melancarkan aksinya.


Tanpa diduga, aksi Arin tersebut dipergoki oleh petugas kebersihan. " Hei...apa yang kamu lakukan ? " tanya petugas kebersihan.


" Eh...ini pak , tadi ada yang jatuh mungkin lemnya tidak melekat kuat ". kata Arin ngeles sambil kebingungan. Lalu Arin segera mengeluarkan beberapa lembar merah kepada petugas itu untuk melancarkan rencananya.


" O Iya pak, tolong ini diterima sedekah dari saya . Saya harap bapak mau mendoakan saya supaya lancar ujiannya hari ini . oke pak..?" kata Arin meminta tolong sembari mengalihkan pikiran petugas kebersihan supaya tidak mengingat kejadian tadi.


" Iya pak, terima saja ! " desak Arin.


" Kebetulan sekali nak, besok bapak harus melunasi tagihan sekolah anak bapak supaya bisa ikut ujian. terimakasih ya nak...!" kata petugas kebersihan berterimakasih.


" Iya pak, alhamdulillah kalau bapak mau menerimanya. " sambung Arin.


" Saya doakan semoga lancar ujiannya, dan keinginanmu dikabulkan oleh Allah SWT. " kata petugas kebersihan mendoakan.


" Aamiin... terimakasih pak...! " Arin senang mendengarnya. Lalu dia berpura-pura menuju ke wastafel di taman depan ruang kelas. dan petugas kebersihan itupun membukakan pintu ruang kelas tersebut.


Tak lama setelah itu terlihat Uma yang datang menghampiri Arin , namun tidak begitu dengan Azi. Dia lebih fokus untuk melihat denah duduk ketimbang menemui Arin.


Dalam batin Arin mengatakan," lihat saja Azi ! Dengan siapa kamu akan duduk, hihihi...."


" Duh... senengnya...baru lihat cowoknya datang saja sudah tersenyum sendiri." kata Uma menggoda Arin yang tidak tahu kronologi kejadian sebenarnya.


" Hehehe...iya nih, bawaannya pengen senyum aja. " jawab Arin.


"Nanti kalau di dalam, jangan lupa ngasih tahu jawabannya ke aku ya Uma !" pinta Arin.


"Lhah....aku kan Ndak belajar mbak . " jawab Uma spontan.


" Ahh...masa iya... nggak percaya aku, kamu itu anak yang rajin, tidak mungkin kamu tidak belajar. Pokoknya nanti kamu harus bantu aku, oke ! " desak Arin kepada Uma sambil merangkulnya memasuki ruangan.


" Ngapain juga aku harus belajar kalau nantinya akan langsung menikah." batin Uma berkata demikian.


"Eh, ngomong-ngomong aku duduk dimana ?" tanya Uma.


" Disini, di depanku. Sama si Riyan." jawab Arin.


" Wah... kok bisa kebetulan sekali ya ? Kalau mbak Arin sama siapa ? " tanya Uma lagi.


" Azi dong..!" jawab Arin bersemangat.


Berbeda dengan Arin yang kegirangan, Azi menunjukkan ekspresi wajah yang kurang bersemangat saat menuju tempat duduknya. Tapi masih lebih baik karena dia bisa memandangi Uma dari belakang, yang justru nampak sangat jelas. Senyum Azi kembali merekah.


" Azi...Azi ! " Arin berusaha memanggil Azi dari alam bawah sadarnya.


" Apa ? " jawab Azi.


" Ada yang mau aku omongin pulang sekolah nanti. " kata Arin.


" Sebaiknya penting, karena kalau tidak.. " Azi menggantung kalimatnya.


" Ooo...ini sangat penting sekali. hahaha... " Arin tidak sabar untuk mengatakannya kepada Azi.