
Namaku Sifana Humaira, mereka memanggilku Uma . Siswi kelas 3 di MA Negeri 1 Ngairan. Aku mengambil kelas bahasa. Sekolah kami memiliki kebijakan untuk memisahkan siswa putra dan putri dalam gedung yang berbeda . Akan tetapi pada waktu upacara dan ujian kelulusan akan terjadi penggabungan siswa baik putra maupun putri.
Pagi ini aku sedang bersiap menuju Sekolah. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Segera ku ambil tas dan mencari ibuku yang sedang membereskan meja makan untuk berpamitan.
" Uma berangkat ke sekolah dulu ya Bu...."
sambil mencium tangan ibuku yang penuh kehangatan.
" Iya, hati-hati naik sepedanya ! Belajar yang sungguh-sungguh ! " Pesan ibu Sofi kepada putrinya.
" iya Bu.." Sahut Uma.
Tanpa panjang lebar langsung ku kayuh sepeda kesayanganku. Kenangan terakhir dari ayahku sebelum beliau wafat.
" Uma ..! " Teriakannya membuyarkan lamunan Uma . Dia adalah Azi tetangganya. Mereka satu Sekolah. Oleh karena itu mereka sering berangkat bersama.
" Upacara nanti jangan lupa baris paling depan ya...! " Katanya sambil ngos-ngosan karena sepedanya hendak menyusul di samping Uma.
" Kenapa harus di depan...? " Tanya Uma heran.
"Supaya aku bisa memandangmu , dan selama upacara berlangsung nanti aku nggak ngantuk... hehe...." Azi mengatakan alasannya.
" Uuu... dasar gombal.. ! Udah ah ... yuk cepetan ... takut telat nih.. ! " Kata Uma sambil mempercepat laju sepeda.
Sesampainya di lapangan Sekolah, Uma memenuhi keinginan Azi untuk masuk barisan depan.
Sebenarnya Uma tahu dari teman - temannya kalau Azi menyukainya, tapi Uma lebih suka berteman saja. Meskipun sudah dijelaskan, tetap saja perasaan Azi terhadapnya tidak berubah.
Bahkan di kejauhan Azi sudah melambaikan tangannya untuk memberi tahukan dimana posisinya. Lalu Uma memberikan respon dengan memberinya senyum kecil.
[ Tunggu tunggu... Siapa itu yang berdiri di belakang Azi...? Perawakannya yang tinggi membuat wajahnya yang putih, bersih dan tampan terlihat sangat jelas. Matanya yang teduh membuat tatapannya terasa begitu dalam. Kemudian senyumnya saat bercanda dengan teman disampingnya....manis sekali...] Semuanya pertanyaan muncul dalam benak Uma.
"Hayo....!!!" Suara Arin mengagetkan Uma sambil mengguncang punggungnya . Dia anaknya dewasa dan memang setahun lebih tua dari Uma. Makanya Uma memanggilnya mbak.
"Lagi liatin siapa..? Tanya mbak Arin.
"Eh...mbak Arin, ngagetin aja...." Uma mencoba mengalihkan perhatian.
" Habis.... dari tadi kok pandanganmu kedepan tapi mata kamu kesana terus, awas juling lho.... hihihi...." Mbak Arin menertawai tingkah Uma .
" Kelihatan ya mbak....? Jadi malu aku . Mbak... lihat deh ... cowok yang dibelakang Azi, ganteng banget ya..... sumpah...!" Uma berterus terang.
"Mana mana ? Ooo...itu. Ya... Oke lah.." komentar Arin mendukung pernyataan Uma.
"Siapa ya namanya..? Penasaran aku." Kata Uma.
" Kamu nggak coba tanya sama Azi ?"
Mbak Arin mencoba memberi solusi.
" Nggak enak lah..! Secara Azi itu kan suka sama aku, masa aku tanya ke dia..? " kata Uma lagi.
" Iya juga sih. Ya udah itu buat PR aja !
hihihi....." Celetuk Arin.
" Uuu.... Mbak Arin bisa aja.." Sahut Uma.
Tanpa terasa upacara telah selesai. Kami pun bergegas menuju kelas masing-masing. Sedangkan Uma masih terbuai dengan wajah yang mencuri hatinya. Tanpa Uma sadari bibirnya sudah tersenyum, dan terselip harapan untuk bisa dipertemukan dengannya .Semoga saja.
[ Oh tidak....tiga jam pertama berturut-turut adalah mata pelajaran matematika, sama sekali bukanlah hal yang menyenangkan . Apalagi gurunya yang suka ngasih tugas yang super banyak. Bisa pusing kepala aku nanti. Aduh..! gimana nih..?] batin Uma.
[ Ya sudahlah....aku sudah berjanji kepada ibuku dan diriku sendiri, kalau aku akan belajar dengan bersungguh-sungguh.]
" Semangat Uma..." Kata Uma lirih.
Tiba-tiba pena Uma malas untuk mengerjakan tugas, tapi justru dikertas yang berbeda gerakan pena Uma mengikuti goresan yang semakin membentuk wajah yang tadi dilihatnya.
Dengan mengandalkan memori internal dalam kepalanya , Uma berusaha mengingat tiap lekukan pada wajahnya. Dan... yang paling ikonik adalah pecinya yang memiliki renda ditengah, sangat fix dengan kontur muka yang dimilikinya.
[ Ohh....Pemilik peci berenda yang keren....
lalu tiba-tiba saja terbersit dalam benak Uma, sebuah nama yang mewakili gundahnya.
[ *~PIERENDRA ~* ]
" Sudah selesai anak-anak ? " Pertanyaan itu menghentikan aktivitasnya membuat sketsa. segera Uma menyembunyikannya agar tidak ketahuan oleh siapapun apalagi pak Sony .
" Belum Pak..." Jawab semua murid.
"Kompak sekali ya ? Baiklah, kita lanjutkan besok lagi ! " kata pak Sony.
( teeet..... teeet.....teeet.....) Bel berbunyi.
[ Huh..... Akhirnya, istirahat juga. Pelajaran matematika ini membuatku lapar. ] batin Uma.
" Yuk Ma....kita ke kantin...." Ajak mbak Arin sambil menggandeng tangannya.
" Ehh.. Pelan - pelan !" Hampir saja kakinya tersandung meja karena terlalu kencang Uma berbelok keluar kelas. Namun , kaos kakinya tersangkut paku kecil yang tidak tertanam sempurna di kaki meja samping bawah.
(Kkrrreeek. ....)
"Aduh.. Kaos kakiku robek. " Sambil Uma memegangi bagian yang robek.
" Ups.. Sorry ya? Nggak sengaja, beneran maaf ya Uma..! " Sesal mbak Arin.
"Ke kantinnya nanti saja ya ? Kita cari kaos kaki dulu buat kamu !" Kata mbak Arin
"Baiklah. " jawab Uma.
Kami harus berjalan keluar gedung sekolah menuju koperasi yang lokasinya berada didekat gedung sekolah putra.
Beberapa langkah menuju toko, pandanganku langsung tertuju ke bagian atas , disana sudah berjajar kaos kaki yang tergantung rapi dengan berbagai model dan corak warna yang menarik.
" Mau yang mana mbak ... ?" Tanya pak Yahya penjual toko .
" Emm..... yang itu deh pak." Uma menjatuhkan pilihannya pada kaos kaki putih dengan renda bunga yang cantik.
Sejak tadi, renda menjadi favoritnya dan selalu mendominasi di otaknya. Lagi-lagi Uma tersenyum sendiri.
"Biar aku yang bayar Uma ! " mbak Arin menahan Uma saat dia mulai merogoh uang di kantong bajunya.
" Eng...nggak usah mbak, ini aja." Kalah cepat Uma menyodorkan uang ke pak Yahya, sampai-sampai pak Yahya bingung, lalu nyeletuk " Sini..saya terima semua uangnya . hahaha...." lalu kami semua tertawa.
" Mau beli apa mas ...? " Dengan segera pak Yahya menawarkan karena tidak ingin membuat pelanggan yang lain menunggu terlalu lama.
" Saya mau beli type-ex satu pak ." Suara seorang cowok.
[ Deg.... deg...deg....deg.... ]
Suara ini membuat irama detak jantung Uma berdebar-debar. Umapun menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara ini. Dan ternyata....
Wajah yang sedari tadi merajai pikirannya tepat berada di depannya. Seketika Uma menarik pandangannya menuju mbak Arin. Sambil berbisik ,"Mbak.. ! Itu dia."
"Iya." jawab mbak Arin lirih.
Lalu kami pura-pura membahas sesuatu agar tidak terlihat mencolok kalau kami membicarakannya. Diapun berlalu sembari diikuti pandangan mataku yang terus memandangi menghantarkan kepergiannya.
"Uuuummm....... Cakep banget....".( merengek manja )
Ternyata, dia memiliki titik hitam kecil diujung hidungnya yang mancung, membuat Uma gemas dan mengambil nafas panjang...
" Terima kasih Tuhan....dengan kuasa-Mu Engkau telah menciptakan makhluk yang begitu sempurna di mataku, semoga sikapnya pun se elok wajahnya. Terima kasih mbak Arin... karena telah membuat sobek kaos kakiku , dengan begitu aku bisa bertemu dengannya." Kata Uma yang lagi kasmaran.
" Ya..ya...ya.... Hey.....udah... mimpinya...???" Sambil menjentikkan jarinya ke muka Uma supaya terbangun dari hipnotis Pierendra.
" Masih ada waktu untuk ke kantin, ke sana yuk....perut aku sudah demo nih..." Ajak mbak Arin.
"Hahaha.....Siap bos !." Kataku semangat.
Aku sangat bersyukur atas apa yang terjadi di hari ini. Semoga ini menjadi awal yang baik untukku.