Pierendra

Pierendra
Sedangkan aku



Soreku ditemani gerimis hujan yang membasahi tanaman hias di balik jendela kamarku. Ku lihat, blue star sudah mekar selama lima hari, dan dia masih tetap cantik.


Hemmm ....aroma mie instan kuah ditambah irisan tipis cabe rawit merah dengan taburan bawang goreng semakin nikmat karena ditemani segelas jus mangga yang sudah aku buat tadi.


Makan dengan momen seperti ini terasa begitu nikmat dan nyaman, senyaman hayalan ku yang sedang membayangkan " Pierendra".


Dia eh kami yang sedang duduk bersama , minum jus sambil menikmati hujan , bercerita sambil bercanda ria....


" Duueerrrr....." Adikku yang jahil memecahkan lamunanku. Dia sengaja meniup kantong plastik dan memecahkannya tepat di belakangku untuk mengagetkanku.


"Eh sayang...eh sayang...eh sayang.... ! kagetnya aku...." Uma menggerutu.


"Aaa... ha-ha-ha..... Sayang sayang , pala lu peyang ! huuu....! ." . Dengan santainya dia berkata seperti itu.


[ Hhuuuhh.... ] Aku pun menghela panjang nafasku sampai berulang kali.


Dengan rasa murka yang masih ku pendam , aku pun menegurnya " iihhh...Lui , ngapain sih ? usil banget ! " Kataku kesal.


Lui , adikku laki-laki kelas 1 SMA yang super jahil tapi kesayangan ibu. Dia paling tidak bisa berdamai denganku.


" Ya habisnya.... Udah makan enak nggak bagi-bagi , tambah senyam-senyum sendiri lagi , hayo....mikir jorok ya ? " Masih saja usil.


" Iiihhhh ....apaan sih ? Nggak ! " Kataku sebal.


" Eh...kak... dapat salam nih dari anak kos di kamar tiga, yang kuliah di farmasi itu. Cie...cie... mukanya merah... hihihi.... " Tambah Lui .


" Apa lagi sih... ! Kebanyakan nongkrong kamu. Kalau cuma salam buat apa ? kasih kue kek....boneka kek..." Kataku cuek.


" Uuu... Cewek matre.... " Lui menyebutku.


" Hihihi... Ya, realistis saja dong, kalau di awalnya saja pelit, bagaimana seterusnya ? " jelas Uma.


" Mmm..... Begitu ya cara pandang cewek, pantas... dari kemaren cuma kirim salam saja nggak dibalas. " Lui mengeluh.


" Makasih ya kak, masukannya. Aku akan ngasih cewek itu sesuatu yang dia suka. Dan masalah salam tadi, itu bohong.... "


( sambil tertawa dan berlari menuju kamarnya )


Sedangkan aku , masih mencerna ucapannya.


Kenapa dia berterima kasih ? Kapan dia minta saran kepadaku ?


Berarti..... dasar Lui....!! Minta saran saja pake modus anak kos segala , padahal dirinya sendiri. Aku tersenyum sendiri mengingat apa yang baru saja kafa katakan.


Tapi, anak yang kos di kamar tiga itu juga lumayan tampan sih, hanya saja dia sangat pendiam dan kutu buku.


Sepertinya kaku dan lempeng banget hidupnya. Bakalan borring banget kalau dekat dengan dia. Sangat bertolak belakang dengan kepribadianku yang suka becanda, musik, fun.


Kok , jadi kemana-mana gini pikiranku ya ?aduh..ini semua memang gara-gara Lui ! Geram Uma.


" Kakak....aku pinjam sepedanya sebentar ya.... " Kata Kafa meminta izin.


" Iya.... Semoga misinya sukses ya...!!! " Sahut Uma.


Selang beberapa menit kemudian," Bisa minta tolong nggak kak....? " Adik kecilku Zia yang imut dan cantik mendekatiku sambil menyerahkan Snack untuk dibuka . Dia masih berumur 5 tahun. Matanya bulat dan besar tapi suka nangis alias cengeng.


Dia pembawa keceriaan di rumah kami. meskipun begitu, Zia juga tidak akan luput dari kejahilan Lui . Bagi Lui , suara tangisan Zia adalah kemenangan yang besar. Tapi bagiku senyum dan tawa Zia adalah kebahagiaan tersendiri untukku.


" Tentu saja Zia... sini kakak bantu bukain Snack nya. Kamu mau main sama kakak ? " Aku mengajaknya bermain.


" Mau..! Main drama tuan putri ya kak ?"


matanya yang besar nampak bersemangat sekali.


" Kakak jadi nenek sihir nya... hihihi.... " Zia sangat suka peranku menjadi nenek sihir.


" Boleh. Jangan lupa kita make up dulu ya ! " Kataku.


Momen paling seru adalah saat kami merias bebas sesuai dengan imajinasi kami. bahkan kami mengabadikan lewat foto yang dipajang dipojok meja kamar Zia.


" Asyik.... " Zia langsung memburu alat make-up sederhana yang aku miliki.


****


Hari sudah berganti pagi. Aku telah bersiap dan berada diatas sepedaku. Dengan mengucap bismillah aku berangkat menjemput ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Semoga menjadikan aku manusia yang berguna dan bermartabat. Aamiin....


Ada sekitar tiga ratus meter yang harus ku lalui untuk keluar menuju jalan utama. Di kejauhan tampak sebuah mobil mewah yang berhenti ditepi jalan raya.


[ Wow.... Keren banget mobilnya ... Pasti yang turun juga keren, hihihi....]


" Haaa... itu kan....* Pierendra *.... ! " batin Uma.


Aku pun melintas dengan perlahan. Sengaja aku menatapnya agar dia tahu kalau ada aku yang selama ini mengaguminya. Lalu pandangan kami pun bertemu. kulihat dia juga memandangku dengan penuh tanya dan makna. Pandangannya mengikutiku bersama laju sepedaku.


" Yesss.... !! Dia melihatku. Hihihi..." Uma merasa senang .


Tapi.... mengingat dia tadi baru saja turun dari mobil mewah membuat senyum Uma perlahan memudar dan berganti dengan rasa cemas dan merasa rendah diri.


[ Dia naik mobil mewah , sedangkan aku hanya naik sepeda .Huh..... sadar Uma !


Mungkin hayalan kamu terlalu tinggi. ]


"Lalu bagaimana aku menyadarkan hatiku, yang setiap relungnya sudah mulai terukir namanya ? " Uma mulai bimbang.


[ Tuhan.... tolong bantu aku....


Aku yakin dengan hatiku tapi bingung dengan kenyataan yang kulihat tadi....


Aku bahkan tidak selevel dengannya. Orang sekaya dia tentu memiliki standar yang sangat tinggi. Sedangkan aku?].


Pertanyaan - pertanyaan ini berputar di kepalaku. Hingga tiba - tiba .....


" Ehh....ehh....ehh.... Awas dek...!! " Teriak Uma.


(Gubrak.....)


Aku membanting setang sepedaku kearah kiri karena tiba-tiba ada anak kecil yang luput dari pengawasan orang tuanya sehingga berlari ke jalan raya.


"Aduhh...Shhh..... Sakit....". Uma mengerang kesakitan.


Ku perhatikan siku tanganku sedikit lecet karena terjatuh. Aku berusaha berdiri meraih dan memeriksa keadaan sepedaku. Ternyata kabel remnya putus akibat terlalu kencang aku menarik rem. Setelan pelek rodanya pun tidak center lagi.


" Kamu nggak apa-apa dek...? Maaf ya ...ibu teledor , padahal tadi baru saja memeriksa belanjaan, eh....anak ibu sudah kabur..." Ibu itu mencoba menjelaskan kronologisnya.


" Eng....nggak papa Bu, cuma luka kecil ." Kata Uma.


" Sepeda kamu sepertinya rusak ? "


Lalu ibu itu memanggil supirnya, " Pak, tolong antarkan sepeda anak ini ke bengkel terdekat ! "


" Siap Bu.." jawab supir itu.


Sambil membuka dompetnya ibu itu menyodorkan uang kepadaku, " Ini dek untuk beli obat dan permintaan maaf saya..."


" Eng...nggak usah repot-repot Bu.Cuma luka ringan saja kok , nanti pasti sembuh ." Kata Uma menolak.


" Tolong diterima.... nggak boleh menolak rezeki.. " Sambil memaksa tanganku untuk menerima.


" Kalau Ibu memaksa , baiklah saya terima. Terimakasih Bu..." kata Uma sungkan.


" Sekolah kamu masih jauh ? ini sudah hampir jam tujuh, ayo saya antar...! " Memaksa lagi.


Sertamerta ibu itu menyuruhku masuk kedalam mobilnya.


Ibu itu lumayan cerewet. Disepanjang menuju sekolah dia banyak sekali cerita tentang anak-anaknya. Katanya anak pertamanya sudah kuliah. Dan yang hampir ku tabrak tadi anak bungsunya, anak yang ke empat.


Entah sudah berapa pertanyaan yang harus ku jawab karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Tapi aku senang bertemu secara tidak sengaja dengan ibu itu. Namanya bu Lina.


Mungkin inilah yang disebut sengsara membawa nikmat dan berkah. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan aku dengan ibu Lina. Ternyata masih banyak orang-orang yang mau berbuat baik .


Dan, untuk Pierendra, kita lihat , bagaimana kisah kita nanti.