Pierendra

Pierendra
( masih ) Penjelasan sesi dua



"Uma... kapan-kapan kita boleh main ke rumahmu ya..?" sepertinya mereka benar-benar penasaran sama kak Rendra.


"Ya boleh lah. Kapan..? hari Minggu besok...?" Uma menawarkan.


"Oke...siap !" jawab mereka.


Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi tanda masuk kelas untuk segera memulai dengan membaca doa bersama.


Terlihat Mbak Arin pun sudah memasuki ruang kelas. Mukanya sudah tidak terlalu kelihatan sedih lagi. Uma mengajaknya tersenyum saat dia melewati mejanya . Dan Mbak Arin pun tersenyum meskipun dia sedikit memaksakan diri karena baru saja dia meluapkan emosinya .


Kiranya belum seberapa dari keterangan yang ingin Uma ketahui. Tapi Uma lega saat mengetahui bahwa mereka tetap baik-baik saja.


" Inilah yang aku inginkan, sebesar apapun permasalahan kami , jangan sampai merusak atau putus tali silaturahmi dan pertemanan kami." Batin Uma.


Uma mulai tidak konsentrasi dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Kembali satu per satu kebingungannya muncul dengan berbagai pertanyaan didalam benaknya.


Lalu Uma mulai mengingat kembali sewaktu dulu. Berarti, selama ini kalau dia bercanda denganku tentang Azi, dia tidak sepenuhnya gembira bahkan mungkin sebal, karena membohongi dirinya sendiri.


Uma semakin penasaran dan akhirnya suara bel istirahat yang ditunggu-tunggu berbunyi juga. Segera Uma menengok ke belakang dan mbak Arin pun sudah bersiap . Kami pergi ke taman sekolah untuk pembicaraan kami yang cukup privat ini.


Uma membuka obrolan dengan menanyakan perasaannya. "Mbak Arin nggak apa-apa kan...? "dia hanya mengangguk. sambil tertunduk dia mengatakan. "Maafkan aku Uma....Kamu pasti sangat bingung dengan semua ini."


"Aku ingin menjelaskan kepadamu kalau sebenarnya aku menyukai Azi tapi aku bingung harus mulai dari mana. Sedangkan semua orang sudah tahu kalau Azi tergila-gila padamu." sambung mbak Arin.


"Semakin ku pendam perasaan ini aku semakin tidak bisa menahan diriku. Aku takut aku akan melakukan hal-hal yang diluar kendali. Aku takut kalau aku akan menyakitimu. Karena jujur, dulu aku bukanlah orang yang mudah berteman . Aku tidak suka berbagi, menunggu lama hanya untuk sebuah kebersamaan, menurutku semua itu sangat menjengkelkan dan mengganggu ." Terangnya.


"Memang awalnya niatku berteman denganmu supaya aku mengetahui banyak tentang Azi dari mu. Dan benar saja, aku tahu biru warna kesukaannya, Buah kesukaannya adalah semangka, memakai Hem menjadi pilihannya, bahkan dia suka menggerakkan jarinya seolah sedang menulis sesuatu saat berbicara itu semua ku ketahui darimu Uma." Tambahnya lagi.


"Yang tidak bisa ku terima adalah bagaimana mungkin orang yang begitu gigih untuk mendapatkan cintanya , namun tak sedikit pun kau hiraukan." mbak Arin semakin kesal.


"Iya mbak... maaf. Aku mungkin memang jahat. Terkadang aku juga ingin mencoba untuk menerima cinta Azi, tapi tetap tidak bisa mbak.... rasanya aneh seperti ada batasan yang menghalangiku..." Jawab Uma jujur.


"Sekarang, coba mbak Arin jelaskan mengenai lukisan wajahku di papan tulis kemarin pagi !!" aku masih belum menemukan jawaban dibalik semua itu.


"Sebenarnya aku yang merekayasa kejadian itu, Dengan begitu aku bisa mebuatmu mengikuti alur permainanku." jelasnya.


"Dari sini Pierendra sangat berperan penting. aku meminta bantuannya untuk membuat cerita tentang kebiasaan Azi yang suka menggambar wajahmu setiap pagi sebelum mulai pelajaran, tentang Azi yang suka membacakan puisi ketika jam istirahat. bahkan lagu favorit Azi ." Mbak Arin menjelaskan lagi.


"Jadi.... semua itu hanya sebuah rekayasa ? kenapa mesti Pierendra sih mbak ?" tanya Uma sedih.


"iya... untuk saat ini hanya Pierendra yang bisa membuatmu percaya , sedangkan aku ataupun teman yang lain tidak mungkin bisa. kamu tidak pernah menganggap serius karena seringnya kami menggodamu tentang Azi. Dengan begitu kamu dengan cuekmu itu yang tidak pernah ingin tahu tentang Azi, pasti merasa penasaran dan ingin mengetahui sebenarnya ." tegas Arin.


"Berarti Pierendra tahu ini semua ? Awas kamu ya..!" geram Uma.


"Stop disini...mbak Arin juga tahu siapa nama asli Pierendra ?" Uma menerka.


"Iya ...aku tahu, Riyan kan..? waktu itu aku memang menggoda mu apa kamu akan mengatakan kalau Riyan itu Pierendra atau bukan. Tapi kamu malah mengatakan Riyan itu tetanggamu. rasanya aku ingin tertawa geli tapi aku tahan. hihihi...." Arin mengingatkan kembali.


"Uuu... mbak Arin jahat..!" kata Uma.


"iya... maaf ...." dengan sedikit senyum diwajahnya.


"Aku juga membuatmu melihatku dengan Azi waktu itu. Supaya kamu merasakan bagaimana rasanya ketika kamu ingin mendapatkan sesuatu tapi harus pulang dengan kekecewaan ." Arin mengingatkan kejadian waktu itu.


"Kalau kamu menganggap ini adalah balas dendam, ya.... aku memang ingin membalas dendam kepada orang yang menghalangiku untuk mendapatkan Azi. yaitu kamu Uma." tegas Arin.


"Sedikit pun aku tidak merasa kecewa ataupun marah kepadamu mbak.... hanya saja untuk apa semua ini...? Azi bebas bukan milik siapapun termasuk aku." Uma mencoba menjelaskan.


"Memang waktu kelas satu dia pernah nembak aku, tapi aku menolaknya. Dia bisa menerima keputusanku asalkan dia tetap kuijinkan untuk merayuku semaunya. Dan aku tidak boleh menolak sampai dia bisa berdamai dengan perasaannya. Makanya seluruh siswa yang ada di sini tahu tingkah polah nya." jelas Uma.


"Setelah berjalannya waktu kami mulai bersikap seperti sedia kala. kami bercanda biasa layaknya seorang teman. Cuma anehnya diawal kelas tiga dia mulai lebay lagi...." kata Uma sambil sedikit tertawa.


"Tunggu.... tunggu....awal kelas tiga...? Bukankah kalian bertemu di OSIS kelas dua...?" Merasa teringat sesuatu yang saling terkait.


"Iya...kenapa..? "mbak Arin penasaran.


"Ya Allah mbak..... hahaha....."


aku tertawa cukup lama untuk menyadari sesuatu yang mengungkap semuanya.


"Apanya yang lucu...? Dasar aneh....'! kata mbak Arin sedikit kesal.


Sambil kutahan tawa dari mulutku dan menggelengkan kepalaku, karena sangat tidak masuk akal.


"Pantas saja..... hahaha...." Uma menuntaskan tertawanya.


"Uma..... berhenti tertawa ! Atau aku akan pergi dari sini ! " ancam mbak Arin.


"iya mbak....maaf..! " Uma segera berhenti tertawa.


"Aku baru ingat, di kelas dua itu dia pernah cerita kalau dia mau move on dariku. Dia suka dengan seseorang yang tidak mau dia sebut namanya. Kalau bertemu dengannya, dia suka grogi sampai-sampai salah bicara. Makanya dia utarakan isi hatinya lewat surat " Jelas Uma.


"Namun setelah dia bertemu dan memberikan suratnya dia sangat menyesal." Kata Uma.


"Kenapa...? " tanya mbak Arin.


"Dia lupa menulis nama yang dituju baik di amplop maupun di suratnya itu. Karena saking groginya yang seharusnya dia mengatakan untuk cewek itu menjadi untukku.Ternyata....cewek itu mbak Arin tho...... hihihi...." Uma menyimpulkan.


"Dasar Azi....dia menjadikanku modus untuk mendekatimu mbak.....Tak beda denganmu yang juga menjadikan aku sebagai alat untuk mengetahui lebih banyak tentang Azi." Tambah Uma.


" lebih lagi, saat dia menyuruhku berbaris didepan dalam upacara waktu itu karena dia tahu mbak Arin pasti juga akan berbaris didekat ku. Yang membuatnya tidak ngantuk selama upacara berlangsung adalah karena ada mbak Arin di belakangku dan bukannya aku seperti yang dia katakan." Uma menyadari sekarang.


"Mungkin dia juga memiliki perasaan yang sama tidak enaknya dengan mbak, karena kalian berdua sahabatku . Nanti dikira pagar makan tanaman lagi.." kata Uma.


"Begitukah menurutmu Uma..? " Merasa tidak yakin.


"Iya.... lalu disaat nasi sudah menjadi bubur. kalian berdua harus saling membalas surat supaya bisa terus bertemu namun tetap memendam perasaan masing-masing." Wajah mbak Arin memerah dan seakan mulai mencerna keteranganku, dia mulai tersenyum.


"Oke..... sekarang giliranku menjadi Dewi cinta kalian yang cantik, supaya cinta kalian bersatu , hehehe...." Kata Uma bersemangat.


"Tinggal satu pertanyaan lagi. Apa karena rekayasa ini juga yang menyebabkan aku tidak menjumpai puisi yang tertempel di jendela ku ?" Tanya Uma.


"Puisi yang tertempel di jendela ? Apa maksudmu...? Siapa yang melakukannya..? Aku tidak mengerti." Jawab mbak Arin kebingungan.


"Ayolah mbak.... jangan pura-pura tidak tahu setelah semuanya sudah terungkap ! " Uma mendesak mbak Arin agar mau menjawab pertanyaan terakhir.


"Sungguh Uma....aku tidak melakukannya."


tegas mbak Arin.


"Hah....Lalu , siapa ya....?" Bingung Uma.