
" Nih dia baru nongol..!" Arin menyambut Riyan yang baru saja turun dari mobilnya dan menghampiri dirinya yang sudah terlebih dulu duduk di teras rumah Azi.
" Kenapa lesu gitu sih....? " Arin bertanya kepada Riyan yang sekarang duduk di sampingnya .
" Aku kurang tidur saja tadi malam. " Padahal Riyan sedang menyembunyikan kegalauannya setelah dirinya mengutarakan perasaannya kepada Uma , dan sudah hampir seminggu dia tidak siap untuk mengetahui jawaban dari Uma . Meskipun mereka saling bertemu tapi Riyan malu untuk menanyakan lagi perihal yang membuatnya gusar itu.
" Ooohh.... Kenapa beb....? Kamu mikirin ujian atau... mikirin aku ? " goda Arin . Seperti biasa, Arin tidak sungkan untuk memberikan sebuah pelukan, belaian lembut , bahkan kecupan manis untuk Riyan.
Sebenarnya itu semua dilakukannya semata-mata untuk memancing reaksi Azi terhadap dirinya. Arin berharap Azi cemburu dengan tingkah lakunya. Namun sepertinya usahanya kali ini belum membuahkan hasil. Azi masih tetap saja melihat kedalam galeri ponsel miliknya yang berisi foto-foto kenangan dirinya bersama Uma.
Tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya pernah dekat sekali dengan Uma. Sangat dekat sebagai sahabat. Tapi berlawanan dengan perasaannya yang menginginkan lebih dari persahabatan.
" Huhh.... Aku memang bodoh . Aku sudah bisa dekat denganmu, tapi malah ingin memilikimu. Sekarang...? Seandainya aku bukan orang yang serakah... " Azi merasa sangat menyesal karena sekarang dirinya jauh dari Uma. Tidak bisa bersenda gurau seperti dulu. Saling memberikan perhatian , mendengarkan cerita satu sama lain, serta berbagi suka maupun duka adalah makanan sehari-hari mereka.
Ingin rasanya Azi menyalahkan Arin atas semua ini. Sejak dirinya diketahui menyatakan cinta kepada Arin dan disaksikan oleh Uma, tentu sudah sepantasnya sekarang Azi lebih dekat dengan Arin ketimbang Uma . Dan itulah yang membuat Azi kesal. Tapi Azi memilih untuk menahannya karena itu sudah menjadi kesepakatan mereka untuk membalas sikap Uma yang tidak mau menerima permintaan Azi untuk menjadi kekasihnya.
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Azi, sontak Arin merasa sedih. " Masih saja melakukan hal yang sama dan kata-kata yang sama. Kalau aku memprotes perilakunya, aku pasti akan menerima kenyataan yang sama " batin Arin.
Bukannya Arin tidak bisa membujuk Azi agar lebih memilih dirinya dan fokus saat bersamanya, tapi setiap kali Arin meminta Azi untuk melupakannya sejenak saat bersama dirinya, Azi langsung geram. Bahkan waktu itu Arin sempat mendapatkan ancaman , kalau Azi tidak akan mau menemuinya jika dirinya masih tidak juga bisa menerima kesenangan Azi untuk memikirkan Uma.
" Riyan...coba kamu hubungi Uma untuk kesini..! " dengan berbunga-bunga Azi memintanya karena sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan Uma . Sudah lama dia tidak mendengar suara dan gelak tawanya yang seperti candu baginya. Meskipun nanti dia harus memainkan perannya bersama Arin, tapi setidaknya rasa rindunya terobati.
Setalih tiga uang, Riyan yang juga sedang memikirkan cara untuk bertemu dengan Uma, merasa mendapat angin segar untuk menghubunginya tanpa sungkan karena dia pasti mau saat diminta menemui kami bertiga.
" Oke ! " Dengan segera Riyan mengambil ponselnya dan menyentuh nomor kontak yang tertera di layar utama.
tuuut... tuuut.... ( sedang terhubung )
" Halo ... " Uma mengangkat panggilan.
" Halo yang... kamu lagi ngapain ? " tanya Riyan.
" Oh...ini, aku lagi disuruh ibu ke mini market buat belanja bahan kue. Kenapa yang...?" Uma balik bertanya.
" Bisa nggak kamu ke rumah Azi setelah belanja, ini semua lagi pada ngumpul, ada Arin juga . " bujuk Riyan.
" Oh...ada mbak Arin ? " Uma memastikan.
" Oh...oke. Sepuluh menit lagi aku kesana. bye... " kata Uma .
" bye..yang..." . kata Riyan sebelum menutup teleponnya.
Arin merasa kesal karena tiba-tiba saja Riyan dan Azi tersenyum sumringah begitu mengetahui Uma akan segera datang. Namun begitu, dia juga harus memainkan perannya sebagai kekasih Azi. Dari situlah senyum Arin berkembang, karena dirinya bisa memanfaatkan momen tersebut untuk diperlakukan seperti harapannya saat bersama Azi.
Uma sudah terlihat berjalan menuju halaman rumah Azi dengan melambaikan tangannya. Seperti ada sutradara yang memberikan aba-aba, tangan Arin langsung memeluk lengan Azi sembari menyandarkan tubuhnya. Tentu Azi tidak akan bisa menolak dalam keadaan seperti ini.
" Duhh... Seneng deh lihatnya..." sapa Uma kepada sepasang kekasih yang nampak sempurna bagi Uma namun ternyata abal-abal itu.
" Iya nih ...aku juga jadi pengen.." tambah Riyan memanfaatkan situasi yang sama sekali tidak disukai Azi itu . Namun, Azi adalah pemeran yang hebat karena dia mampu mengubah ekspresi mukanya seolah-olah dia sedang bermesraan bersama Uma. Dan tentu saja Arin tidak perduli apakah Azi berpura-pura atau tidak, yang jelas dia sangat menikmati perannya sekarang ini.
" Kalian jadian aja...! kan bisa kayak gini...( mereka mempraktekkan French K*** di depan Uma dan Riyan ) Tentu saja itu adalah idenya Arin dan disambut dengan profesional oleh Azi semata-mata untuk mengaduk-aduk perasaan Uma.
Dengan gelagapan Uma kebingungan menyaksikan pemandangan yang tidak biasa itu. Dia mencoba membuang pandangannya ke kanan, tapi justru wajahnya bertemu dengan wajah Riyan yang juga sedang tidak karuan pikirannya karena menyaksikan hal yang sama.
Bola mata mereka seperti koin karambol yang terpental kesana kemari mencari arah yang nyaman untuk menyembunyikan perasaan mereka hingga akhirnya mereka tertunduk malu.
Setelah sekitar dua menit Azi dan Arin menghentikan kegiatannya, mereka justru tertawa melihat Riyan dan Uma yang salah tingkah dan memerah mukanya . " Kalian berdua kenapa...? kita yang c****n, Kalian yang keringetan... hahaha..." . Arin memecah suasana canggung mereka.
Riyan hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Uma menepuk jidatnya melihat kelakuan sahabatnya itu.
" Kalaupun aku jadian, aku nggak akan melakukan hal itu , tahu..! " tentang Uma.
" Iya...nih...porno banget kalian, ditempat tertutup kek...! ", akting Riyan yang padahal lebih berpengalaman dari pada Azi dan Arin. saking pengalamannya sampai tidak ketahuan.
" Sshhh....Azi gigitnya kekencengan, jadi sakit kan..? " keluh Arin sambil menyentuh bibirnya.
Azi hanya tersenyum. Tentu saja dia melakukannya dengan sengaja karena meskipun sedang akting untuk membalas Uma, tapi seharusnya tidak sampai seperti itu. Lagi pula Azi sangat marah karena perkataan Arin yang menyarankan Riyan dan Uma untuk jadian.
" Kamu apa kabar Uma ? Maaf ya ..dulu aku pernah berkata kasar kepadamu, itu semua karena rencana Arin untuk memberimu kejutan di hari ulang tahunmu. " Azi mengingatkan kejadian waktu itu yang menyebutnya buta .
" Iya Azi...nggak papa. aku seneng kok mengetahui ternyata kamu tidak bersungguh-sungguh. Aku harap kita akan berteman selamanya sampai kita semua tua.. hahaha...." Uma mencairkan suasana dan diikuti semuanya ikut tertawa. Terkecuali Azi yang selalu merasa sedih saat mendengar Uma mengatakan kata teman atau sahabat kepada dirinya.