Pierendra

Pierendra
Kado spesial



Kami melanjutkan perjalanan setelah selesai dari sholat berjamaah di mushola at taqwa. Kira-kira kurang dua puluh menit lagi perjalanan kami sampai.


" Kak Rendra.....! " Uma merengek meminta sesuatu.


" Ada apa ? " jawab kak Rendra.


" Haus....'' Uma berterus terang.


" Oke. didepan ada es kelapa muda kita beli disana saja, tapi dibungkus ya biar cepat ! " pintanya.


" Siap ! " jawab Uma bersemangat.


Kami sudah tiba di Abang penjual es kelapa muda. syukurlah kami tidak perlu mengantri karena tenggorokanku sudah kering sekali.


" Beli es nya dua bang ! " Uma memesan.


" Mau minum di sini apa dibungkus neng ? "


" Dibungkus saja . Tapi kasih sedotan ya bang ! "pinta Uma.


" iya siap. Silahkan duduk dulu neng ! " kata penjual itu ramah.


" iya bang terimakasih." jawab Uma.


Abang itu telah menyelesaikan satu bungkus es kelapa muda, langsung saja Uma memintanya untuk di seruput,


" Bismillahirrahmanirrahim..... Shlluuuurrpppp...... Ahhh..... segerrr.....manis.....enaaak......! ". kata Uma mengekspresikan rasa es kelapa mudanya.


" Ini den ... satunya.... " Penjual itu memberikan kepada kak Rendra.


Kak Rendra menerimanya sambil memberikan uang sepuluh ribu sebagai tanda pembayaran.


Tak mau kalah, kak Rendra pun lebih cepat menghabiskan dari pada aku.


" Haus mas ? Bocor ? cepet banget ngabisinnya ? hihihi...." goda Uma.


" Aku cepet-cepet supaya nanti nggak susah bawa motornya, lha kamu enak di belakang, sudah jangan ketawa melulu...! Barusan Tante kirim pesan lagi lewat wa." kak Rendra menjawab.


" Oh...oke, Ayuk kita lanjut ! " kata Uma,


******


" Akhirnya, sampai juga. Capek banget habis perjalanan jauh." kata Uma.


" Kamu sih perginya kejauhan. Untung ada aku." sahut kak Rendra.


" yei.... iya - iya, maaf ? makasih ." sambung Uma.


" Eh....mobil siapa ini ? kayak pernah lihat. " kata Uma.


" Dasar aneh. Innova kan memang banyak di jalanan . Apalagi warna hitam, jelas pernah lihat lah...! " kata Riyan.


" Bukan begitu kak, sticker gambar kura-kura itu lho sepertinya aku pernah tahu, tapi kapan dan dimana nya aku lupa." jelas Uma.


" Kak Uma.... " sambil berlari Zia menghampiri dan memeluk kakaknya . Mereka saling melepas rindu seperti sudah lama sekali tidak bertemu padahal baru satu hari.


" Kakak kangen .... sekali sama kamu Zia . " kata Uma sambil mencium pipinya yang tembem.


Sedangkan kak Rendra menuju ke tempat kost nya. Uma merasa aneh dengan sikapnya kali ini yang tidak seperti biasanya. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin ketahui olehnya. Dari tadi dia selalu diam dan seperti grogi. Bahkan ini tadi dia lupa hanya sekedar mengucapkan aku masuk dulu Uma... atau aku pergi dulu...Ada apa ya....?


" Ayo kak masuk ke dalam, aku tadi disuruh ibu buat jaga di depan kalau kak Uma datang suruh segera masuk." kata Zia.


" Iya...ini kak Uma sudah datang. memangnya ada siapa Zia ? " sambil kami berjalan masuk ke dalam rumah.


" Aku nggak tahu kak. " jawab Zia


" Kamu juga nggak tahu ? " tanya Uma lagi.


Zia hanya memberi isyarat dengan mengangkat kedua bahunya.


" Assalamu'alaikum....


Loh.... kirain ada mobil parkir di depan, ada tamu, kok di ruang tamu sepi ? " kata Uma.


Kemudian tiba-tiba muncul dibalik pintu utama , dddooorrrr....... suara balon yang diletuskan oleh Lui membuat Uma sangat kaget dan kesal hingga berteriak dan memukuli ringan punggung Lui dengan bertubi-tubi. Tapi belum selesai Uma meluapkan kekesalannya , ada suara yang muncul dari ruang keluarga dengan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Serta membawa kue tart coklat bertuliskan nama uma di atasnya. Hanya saja tradisi keluarga kami tidak memakai lilin untuk ditiup, karena nanti kuenya terkena karbondioksida dari mulut kita.


" Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun... Uma...... Selamat ulang tahun..."


" Yeeiii..... Selamat ulang tahun sayang.....anak gadis ibu sekarang sudah remaja. Semoga diusia kamu yang ke -17 ini kamu tambah rajin , tambah pintar, tambah sayang keluarga, tambah bertanggung jawab, dan yang paling penting selalu sehat dan bahagia... Aamiiin...."


kemudian Ibu meletakkan kuenya diatas meja lalu memberiku ciuman hangat dan memelukku


" Aamiin... terima kasih bu.... Uma sayang banget sama ibu."


" Iya ... selamat tambah tua ya kak.... Semoga bawelnya berkurang, dan nggak pelit lagi, hehehehe.... " Tetap saja Lui usil.


" Iya Kafa .... ihhhh....." sambil Uma mencubit lengannya.


" Aduh...aduh ! hehehe..." Kafa kesakitan.


" Selamat ulang tahun kak Uma....semoga tambah cantik dan tambah sering main sama aku, hihihi...." Zia memberikan ucapan.


" Iya sayang..... makasih ya..... muah..." Lagi-lagi pipi Zia Uma jadikan sasaran pelampiasan rasa gemas dan sayangnya.


" Mari kita potong kuenya dan kita makan bersama. Potongan pertama untuk ibu, lalu Zia , Lui ambil sendiri ya ? " Uma menggodanya.


" Uuu....dasar ! Sentimen sekali. lihat saja , aku ambil yang banyak !hahaha...." goda Lui.


" Nggak papa, bebas." kata Uma membolehkan.


" O iya Bu, Mobil yang parkir diluar tadi siapa ya ? Tamu kita ? " Belum saja ibu menjawab, tiba-tiba ada yang datang.


" Assalamualaikum....." suara seorang wanita.


" Wa'alaikumus Salaam.Nah, ini dia tamu kita. " Sambut ibu dengan wajah berseri-seri dan sangat senang.


Uma pun menoleh, betapa terkejutnya saat mengetahui bahwa tamunya adalah Ibu Lina , dan .... " kak Rendra ? Iya. Mobil itu adalah mobil yang pernah aku tumpangi waktu itu . Gara-garanya aku menghindari seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ke jalan raya lalu aku membanting cepat setang sepedaku kearah kiri hingga membuatku terjatuh dan sepedaku rusak. Pantas saja aku merasa pernah melihatnya...." batin Uma.


" Berarti....Anak sulungnya yang kuliah itu adalah kak Rendra ? Ya Allah....kok bisa kebetulan begini ya ? Uma masih merasa tidak percaya.


" Eh....kok bengong sih...? ayo, disambut tamunya ! " Ibu mengagetkan Uma karena sedari tadi hanya melamun.


" Kenalkan Uma. Ini teman ibu waktu SMA dulu. namanya..." ibu memperkenalkan.


" Bu Lina. " Dengan cepat Uma menjawab sambil tersenyum lalu meraih tangan bu Lina dan mencium punggung tangannya.


" Lho...kalian berdua sudah saling kenal...??? " tanya ibu keheranan.


" Iya Sofi. Kami pernah bertemu secara tidak sengaja karena bungsuku Vio tiba-tiba lari ke jalan raya dan hampir tertabrak sepedanya Uma. Untungnya Uma menjatuhkan diri sehingga tidak menabrak Vio."


" Ooo...yang kejadian beberapa bulan yang lalu itu....? " ibu teringat.


" Iya Bu...yang Uma ceritakan itu." Uma menimpali.


" Oohhh....bagus lah kalau begitu, jadi ibu gak perlu repot memperkenalkan kalian.


" Lui...tolong ajak Zia makan kuenya di dalam ! " perintah Ibu.


" Baik bu. Ayo Zia ! " jawab Lui sambil membawa masuk sisa kue yang kami makan tadi.


" Mari... silahkan duduk ! Kita ngobrol bersama. " Kata ibu sambil menggandeng Bu Lina supaya bisa duduk berdekatan .


" Begini Sofi, kedatangan kami kesini ingin silaturahmi sama kamu sekeluarga , kepingin tahu kesehatan kalian semua. Kamu tahu kan sejak suamiku meninggal kita sudah tidak pernah lagi bertemu. Terakhir kali kita bertemu waktu kamu melahirkan Zia, sedangkan kamu masih SD sayang... " kata Bu Lina sambil menatap Uma.


" Ooo....iya....pantas... wajahnya terasa tidak asing. " batin Uma.


" Kemudian kami juga ingin meneruskan rencana kita yang dulu. Aku harap kamu nggak lupa ya Sof ? " jemari Bu Lina menggenggam tangan ibu.


" Ahhh....tentu saja tidak. Tapi, berhubung kalian sudah datang kemari, alangkah baiknya kalau kita tanyakan langsung kepada anaknya." sontak pandangan mereka tertuju kepada Uma dan membuat jantungnya berdegup kencang .


" Nak Uma... saya kesini , ingin melamar kamu untuk menjadi istrinya anak saya Rendra." kata Bu Lina .


" Apa ? me.. melamar ? Saya ? " rasanya jantung Uma mau copot.


" Iya. Tidak masalah kan ? Kamu kan sudah kelas tiga, sebentar lagi lulus . Dan nanti kalau kamu ingin kuliah juga akan aku ijinkan. " kata kak Rendra.


" Ta....Tapi ? ." Uma masih belum sadar dengan apa yang sedang dibicarakan.


" Eh... begini saja...kita biarkan mereka berdua untuk lebih dekat . Kasih kesempatan Rendra untuk berbicara dulu. kita pindah ke taman belakang yuk Lina...." Ibu mencoba memberi waktu untuk kami.


" Oh...iya Sofi... aku setuju." Kemudian mereka meninggalkan kami berdua di ruang tamu.