Ours

Ours
Bab Delapan - Rendi



Rendi itu baik sekali.


Tempat keluh kesah yang paling tepat bersama pemikiran luas dan penuturan yang tak pernah sekalipun terdengar menggurui apalagi menghakimi. Dia adalah tempat berbagi suka yang paling mengerti, bahwasanya cara Ayu sangat sederhana. Ayu tidak perlu bicara, Rendi mengerti dengan sendirinya. Kalau bahagia Ayu tidak pada limpahan harta, tetapi pada tempat yang terasa nyaman baginya. Pada sosok yang melebarkan tangan untuk kesedihannya.


Ayu menyayangi Rendi. Karena hanya padanya Ayu menemukan sosok kakak yang reliabel. Karena hanya dirinya yang suka rela menjadi wadah segala perasaan Ayu untuk tumpah. Tetapi dengan terpaksa malam itu, Ayu mematahkan hatinya.


Senyum Rendi tidak lenyap, dia malah tertawa. Namun hal itu masih belum cukup untuk mencegah Ayu menemukan kekecewaan yang membasuh matanya.


Ayu gelisah semalaman, dalam pikirannya penuh dengan Rendi. Segala sikap baik lelaki itu terkenang, menyalahkan Ayu yang tidak tahu diri.


Ayu terus bertanya, Rendi kurang apa? Kenapa gue gak bisa cinta sama dia? sampai berjam-jam kemudian. Ayu sempat menghakimi dirinya sendiri. Berkata kalau semua yang terjadi karena dirinya yang bodoh telah menyia-nyiakan orang sebaik Rendi. Semua karena Ayu yang dapat dengan mudah dilemahkan oleh masa lalu. Sampai pemikiran itu sendiri menimpali, Rendi terlalu terburu-buru, saat dia sendiri tau kalau kamu masih berusaha lepas dari masa lalu, Ayu berhenti memikirkan.


Mereka pulang sebelum subuh, Rendi menyapa Ayu seperti biasanya. Tetapi Ayu bisa dengan mudah menemukan lelaki itu masih kecewa dengan sikapnya yang terkesan diam.


Di basement, Ayu memberanikan diri untuk bicara, menahan Rendi yang ingin memutar badan menuju kemudi.


"Gue butuh waktu."


Senyum Rendi terkembang saat itu, tangannya juga ia bawa untuk mengelus kepala Ayu. Lalu katanya,


"Dan gue bisa ngasih waktu itu buat lo."


Setelahnya selama di perjalanan, Ayu bisa bernapas dengan lega. Rendi kembali melontarkan guyonan yang membuat kantuk Ayu terlempar ke luar jendela. Mereka sampai di rumah Ayu pukul setengah enam. Rendi ikut turun, membantunya membawakan ransel sampai ke ruang tengah. Ayu menawarkan Rendi sarapan, namun Rendi yang mengatakan kalau hari ini dia tak bisa menjemputnya selepas kerja, membuat senyum Ayu layu hingga sirna sepenuhnya. Seketika Ayu berpikir kalau Rendi mungkin membencinya dan berniat menjauhinya. Mungkin ucapan Rendi di basement tadi hanya agar Ayu melepaskan cekalan tangannya. Harus bagaimana nantinya dia tanpa Rendi? Bagaimana kalau Rendi meninggalkannya untuk selamanya?


Rendi tertawa saat menemukan segala prasangka Ayu yang tercetak jelas di dahi. Dia menatap Ayu sungguh-sungguh, mengatakan kalau hari ini hanya sedang ada urusan yang tak bisa ditinggal. Meski demikian, kepergian Rendi tetap diantar oleh hati Ayu yang belum juga melega. Hingga Ayu tidak bisa fokus selama bekerja dan mendapat cecaran juga bentakan dari Sore.


Ayu percaya pada ucapan Rendi, namun sekarang dia hampir kehilangan hal itu saat sudah berkali-kali Rendi tak menjawab panggilan telepon darinya. Ayu menggigiti kuku jari telunjuknya dengan khawatir dan kaki yang mondar-mandir. Saat sebuah tekad untuk segera menemui lelaki itu hadir, barulah Ayu berhenti melakukan kegiatan yang sudah dua puluh menit ia lakoni.


Ayu menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu, ponsel dan juga dompet. Dia akan menemui Rendi, tidak peduli kalau malam sudah merangkak menuju pukul sebelas. Ayu akan meminjam motor Bu Luluk. Namun belum dia melewati gerbang, geraman kesal berkumpul di tenggorokannya tatkala mengingat kalau dia tidak tahu di mana rumah Rendi. Kenapa lo gak pernah nanya sih, Yu? Temen macam apa coba. Rendi pasti berpikir Ayu hanya memanfaatkan kebaikannya. Ayu hanya suka traktirannya, hanya suka hadiah-hadiah darinya, hanya suka tumpangan darinya, hanya suka tempat yang Rendi sediakan untuk menjadi penampungan keluh kesah, hanya-


Ponsel Ayu berdering. Dia hampir terlonjak bahagia saat si penelpon adalah Rendi, namun segera mengerut bingung saat yang menyapa telinganya bukanlah suara lelaki itu.


"Hallo."


"Mbak, tolong jemput pemilik ponsel ini. Dia tepar di depan saya. Abis teler."


Sesaat Ayu terdiam, mencerna informasi yang baru saja ia terima. Tepar? Teler? Dan Ayu melotot.


Setelahnya ia berlari, bukan ke pekarangan rumah Bu Luluk tetapi rumah samping kananya. Ayu panik. Untung saja dia masih tahu caranya mengetuk pintu dengan manusiawi.


Pintu berayun terbukan dengan sambutan bingung dari si pemilik tempat. "Mbak Ayu? Ada apa malam-malam bertamu seperti ini?"


"Boleh, saya pinjam mobilnya Pak Gun?"


Orang yang dipanggil Pak Gun itu tampak makin bingung, namun ia mengangguk setelah menemukan pengharapan yang besar dari Ayu.


"Ya sudah, tunggu sebentar. Saya ambil kuncinya sama buka garasi dulu."


Mobil APV yang Ayu kendarai membelah jalanan yang ternyata masih sedikit ramai, kebanyakan kendaraan pribadi yang melintas. Berulang kali Ayu mengecek sebuah alamat yang ia terima di ponselnya. Dengan berani dia menambah kecepatan, mengebut di jalanan dengan sugesti kalau tidak akan ada polisi yang menilang malam-malam begini. Yang terpenting baginya sekarang adalah Rendi.


Ayu memasuki tempat yang keberadaanya menyudut di antara gemerlap Ibu Kota dengan langkah yang sangat ragu. Musik berdentum-dentum adalah apa yang ia temui pertama kali. Ayu melangkah lebih dalam, tidak peduli pada beberapa pasang mata yang memicing melihatnya datang dengan piyama bertema kepala kelinci dan jaket hoodie kebesaran sampai seperempat paha.


Ayu celingukan mencari sosok Rendi di antara lautan manusia yang berjubal di sana. Mengabaikan bau alkohol yang merebak dan asap rokok yang membuatnya batuk berkali-kali, Ayu berusaha untuk tak melihat pada area dance floor. Meskipun sudut matanya tetap dapat menangkap tumpukan manusia yang menggeliat-liat di sana, saling menempelkan tubuh tanpa peduli telah melecehkan satu sama lain, terbawa alunan musik dan larutan alkohol yang membuat tubuh tak terkendali.


Ayu menggigil. Seumur hidup, malam ini pertama kalinya dia memasuki tempat laknat seperti ini dan tak pernah menyangka kalau aslinya lebih menakutkan dari apa yang ia lihat di drama. Ya Tuhan, ampuni Ayu! Spontan kepalanya terlempar ke samping saat menemukan banyak pasangan yang nyaris melakukan hubungan intim di sudut ruangan. Gak bisa ya, cari kamar dulu! Ayu murka karena baru saja jadi korban zina mata.


Sampai pada meja bartender, Ayu langsung disapa oleh seseorang yang suaranya ia kenali sebagai si penelpon tadi. Jadi Ayu langsung bertanya, "Di mana Rendi?"


Orang itu berhenti dari kegiatannya mengukir balok es sampai membentuk bola. Matanya menyipit sakit melihat tampilan Ayu yang seperti orang bersiap tidur. Tetapi langsung mengerti karena orang di hadapannya menyebut-nyebut nama Rendi. "Oh. Lo yang gue telpon tadi? Siapanya Rendi? Pacar? Kok, nomer lo ada di panggilan cepat?"


Ayu merengut sebal kala yang didapatinya malah pertanyaan yang tidak perlu. "Di mana Rendi?" ulangnya lebih tegas.


"Tadi sih, di sini. Gue kira dia bakal modar malam ini juga abis minum lima botol sekaligus. Eh, nyatanya masih punya sisa nyawa buat nambah dosa. Noh, dia ada di sana. Lagi joget-joget kaya cacing kepanasan."


Ayu meradang seketika saat melihat temannya itu sedang digerayangi beberapa wanita berpakaian minim. Rendi jangan!


Ayu harus mencegah Rendi membalas sentuhan seduktif itu. Dengan sisa keberanian yang entah tinggal seberapa, Ayu menyingkap massa. Bersyukur tidak terlalu sulit. Masa bodoh dengan mereka yang oleng karena Ayu dorong. Siapa suruh minum alkohol.


"Rendi? Ren, ini gue," ucap Ayu setelah sampai di sana. Dia mendelik pada wanita-wanita seksi di sekitar Rendi yang menatap remeh padanya.


"Ren?" Ayu kembali menegur, mengguncangkan pundak Rendi yang benar-benar kehilangan kontrol pada dirinya. Ayu mengempaskan tangan lelaki itu yang hendak memegang salah satu bagian tubuh wanita di hadapannya yang terlihat senang-senang saja saat akan menerimanya.


Rendi berbalik. Memperhatikan Ayu dengan kerjapan dan rengutan berusaha mengenali. Kemudian dia tertawa. "Eh, Ayu ...." katanya setengah mendayu.


"Ayo, pulang." Ayu ingin meraih tangan Rendi, tetapi lelaki itu segera menepis, wajahnya tidak terima.


"Nggak. Gue masih mau di sini ...." Rendi kembali tawa.


"Ren, please. Lo udah kelewat batas."


Ayu kembali mencoba mengambil alih Rendi dari wanita-wanita yang sama sekali tak terganggu dengan keberadaannya. Mereka sibuk pada tangan masing-masing yang berlomba menyentuh tubuh Rendi. Hal itu mendorong Ayu sampai ambang batas kesabaran. Apa mereka tidak punya harga diri?!


Dengan gerakan menyentak yang agak kasar, Ayu meraih tangan Rendi, mengalungkannya di leher. Segera berat badan Rendi sepenuhnya bertumpu di pundak Ayu. Tubuhnya yang oleng mempersulit Ayu untuk bergerak. "Ren, jalan yang bener."


Percuma saja. Rendi bahkan hampir membuat mereka tersungkur ke lantai. Sekitar sepuluh meter lagi mereka mencapai pintu ke luar, Ayu melotot saat Rendi menyentaknya dan mendorong sampai ke tembok. Bau alkohol dan napas panas yang memburu makin tercium dengan jelas tatkala tubuh mereka hampir tak berjarak.


Rendi menatap Ayu dengan tatapan intimidasi yang sukses membuat nyali wanita itu meciut. Rendi menyeringai. "Yunaira ...." mulainya tepat di telinga Ayu.


Dada Ayu naik turun gusar, keringat telah merembes di permukaan pelipisnya. Matanya tersorot ke arah lain, tidak berani membalas tatapan menakutkan itu.


Rendi bicara lagi. "Yunaira .... Cewek yang gue suka dari dulu."


Ucapan Rendi kembali berhenti. Ayu membeliak mengetahui kenyataan itu. Rendi menyukainya sejak dulu? Apa artinya sejak SMA? Karena "dulu" bagi mereka berarti masa remaja.


"Kenapa lo nolak gue?" kata Rendi dengan suara yang terkesan sedih. "Kenapa?!"


Ayu mengigit bibir. Berharap itu bisa menghalau tangis yang mendesak untuk ke luar. Jadi Rendi seperti ini karena dirinya? Rendi begini karena penolakan darinya? Tapi tadi pagi Rendi terlihat baik-baik saja. Tadi pagi Rendi bilang tidak apa-apa.


"Ren, please. Jangan gini. Kita pulang, ya?" Ayu betul-betul memohon. Berharap Rendi berhenti menyudutkannya begini. Ayu sangat takut. " ... Ren?" Ayu menyentuh lengan atas Rendi saat dilihatnya lelaki itu hanya menunduk. Ayu takut Rendi pingsan sambil berdiri. Meski tak tahu hal itu bisa terjadi.


Namun satu gerakan dari Rendi selanjutnya membuat Ayu melotot sampai bukaan maksimal. Rendi menciumnya dengan gerakan terburu. Kasar, meraup apa yang bisa diraup. Dagunya ditekan dengan paksaan untuk terbuka.


Ayu berusaha menolak, tetapi tubuhnya bergetar sepenuhnya. Dia tidak bisa bernapas. Tangan lemasnya ia usahakan untuk mendorong tubuh Rendi yang tak bergerak seinci pun. Ayu menangis ketika Rendi masih melakukan aksinya. Kepala Ayu berputar dengan hal-hal buruk. Dia tidak bisa merasakan dirinya lagi sekarang.


Napas Ayu masih tertahan ketika bibir Rendi sudah tidak bertaut dengan miliknya. Dia ternguncang saat tubuh Rendi tertarik paksa ke arah belakang dan terempaskan ke lantai. Segera, tubuh Ayu merosot di tembok, kepalanya berdenyut nyeri oleh kerusuhan yang selanjutnya terjadi.


Seseorang mejatuhkan tinjuan ke wajah Rendi dengan membabi buta. Rendi yang tak memiliki tenaga dengan mudahnya terkapar tanpa daya. Wajahnya bisa dipastikan hancur kalau saja tidak ada tiga laki-kali menghadang tinjuan itu dan berusaha melerai.


Ayu masih gemetar, seluruh ototnya terasa menegang Memeluk lututnya, kepalanya jatuh dengan segala kilas balik yang membuat napasnya tersengal-sengal. Dadanya sempit oleh perasaan yang kembali menguasai dirinya. Ayu takut, Ayu sedih, Ayu marah pada dirinya yang selalu saja seperti tikus yang tak berdaya di depan pemangsa. Ayu benci pada dirinya yang tak mampu menjaga matrabat.


Ayu kini tidak bisa mengendalikan dirinya yang menahan napasnya sendiri, yang menutupi telinga demi menghalau kalimat-kalimat buruk yang berlomba-lomba melewati guna meracuni pikirannya.


Sampai kemudia. dia dipaksa terlepas dari semua itu oleh sebuah bentakan, seretan dan dirinya yang nyaris tersungkur di lantai. Ayu baru menyadari kalau dia sudah berada di luar ruangan kala udara dingin berembus menghadang tubuhnya yang menggigil. Dia baru menyadari keberadaan seseorang yang nampak murka di hadapannya.


"Apa yang kamu lakukan, huh?!"


Ayu tersedak napasnya yang terkecat di tenggorokan. Dia tidak tahu harus bicara apa. Tidak tahu dirinya kenapa. Tadi dia hanya ingin menyelamatkan Rendi.


Air mata yang kembali menganak sungai menemani Ayu yang kehilangan kata-kata. Dia linglung dan tak dapat menemukan dirinya lagi saat mendengar sebuah dengusan dan tawa mencela.


"Wanita murahan emang selamanya bakal murahan."


Kata-kata itu mendengung di kepala Ayu dan masih bersarang di sana sampai saat langkah yang ia dengar telah meredup dan sosok barusan lenyap dari jarak pandangan. Ayu menekan dadanya yang terasa terhimpit sampai ia benar-benar tak bisa bernapas.


...***...