Ours

Ours
Bab Tujuh - Kalau Gue Suka Sama Lo



Sepanjang di kantor, Ayu terus bersikap waspada. Dia selalu mencipta jarak sejauh mungkin dari hal yang berpotensi merusak permukaan pakaian mahal yang membalut tubuhnya.


Seperti saat seorang office boy berjalan berlawanan sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat secangkir kopi.


Ayu memampangkan kedua telapak tangannya di depan tubuh, mengalihfungsikannya menjadi tameng. Dengan penuh rasa was-was di raut mukanya, dia berjalan menyamping sampai menempel di tembok seperti manusi yang baru saja dirasuki roh kepiting sambil menggumamkan "Wow-wow-wow. Jaga jarak-jaga jarak. Baju mahal." berkali-kali. Kemudian tancap gas dan melantaskan sang office boy terheran-heran. Berpikir mungkin Ayu sudah kelewat stres menghadapi kearoganan Sore, selagi melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan oleh kelakuan aneh Ayu.


...*...


Ayu masih berlari membelah di antara kubikel. Entah di mana dia saat ini, Ayu tidak peduli. Dia harus menghindar dari segala bahaya yang mungkin terjadi.


Ayu sempat mengumpat tentang daya magis pakaian yang dikenakannya bisa membuatnya melihat segala sesuatu sebagai ancaman. Padahal seingatnya, dia tidak pernah seperti ini saat asal-usul pakaian yang dipakainya bermula dari pasar tanah abang.


Laju langkah Ayu baru terhentikan saat dia tanpa sengaja sudah menabrak sesuatu. Permukaan di depannya keras sekali tetapi tidak sekeras tembok namun tentu Ayu dengan tubuh mungilnya yang ringan dapat terpental dengan mudah. Dia terjerembab dengan posisi pinggul lebih dulu mencium lantai. Untungnya kali ini Ayu tidak berteriak, dia hanya mendesis merasakan sakit yang lumayan di area belakangnya. Ayu rasanya langsung terserang encok.


Membutuhkan waktu satu menit kemudian sebelum Ayu sadar yang ditabraknya adalah seorang manusia. Sepatu pentopel di depannya langsung mengingatkan Ayu pada siapa yang berpotensi memilikinya. Siapa lagi kalau bukan seorang Sore yang mampu menginjak-injak segepok uang demi mengenakan sepatu mengilat dengan cahaya yang seolah-olah menegasakan "gue mahal!" seperti itu di kantor ini? Minus Ayahnya Sore.


Ayu bangkit susah payah tanpa adanya sinyal kalau Sore berempati dan berniat membantu.


"Kamu kenapa lari-lari?" Sore menegur dengan intonasi dingin dan pembawaannya yang mirip seorang guru pada murid paling petakilan di sekolah.


"Saya hanya jaga diri," sambut Ayu dengan suara judes. Terang-terangan menunjukan kalau dia sebetulnya tak berkeinginan menghadapi Sore.


Wajah Sore sedikit berlipat dalam tanda tanya. "Jaga diri dari apa?"


"Jaga diri dari marabahaya."


Sore menyentak kepalanya sedikit. Dia tahu Ayu itu aneh, tapi tak pernah menyangka bisa seaneh ini. Dia bertanya lagi. "Kenapa kamu di sini?"


Kenapa situ tanya-tanya? "Saya mau ketemu teman-teman saya."


Mata sore berotasi. "Mereka tidak di sini. Mereka di lantai sebelumnya."


Ayu spontan celingukan. Benar juga si patung es berjalan ini. "Kok, bisa saya nyasar ke sini?" Ayu berwajah merenung.


"Ya mana saya tau."


Dalam hitungan nano sekon Ayu berairmuka protes. "Saya tidak bertanya pada Bapak."


"Terus kamu nanya sama siapa? Cuma saya yang ada di depan kamu."


Ayu menjawab asal-asalan. "Sama hantu yang nemplokin punggung Bapak."


Dan Sore berwajah jengah. "Kamu pikir saya bakal takut?"


"Enggak tuh."


Sore mengembuskan napas kesal. Wanita ini tidak pernah berubah. Tetapi sebelum Sore mendebat Ayu lebih jauh, sejak tadi dia sudah terganggu dengan helaian rambut Ayu yang mencuat berantakan ke mana-mana. Tahu-tahu saja tangannya memanjang guna merapikan helaian tersebut dengan ekspresi di wajahnya yang masih saja lempeng. Dia tidak menggubris gerutuan Ayu tentang kubikel teman-temannya yang bisa berpindah lantai secepat itu karena sebetulnya, mereka sejak awal memang berada di lantai atas, wanita ini saja yang kelewat aneh sampai bisa salah lantai. Sebenarnya sudah berapa lama dia bekerja di kantor ini? Bukannya itu nyaris dua bulan yang lalu?


Gerakan sore di kepala Ayu terhenti, cepat-cepat dia menurunkan tangannya dan menggerutu dalam hati saat sadar telah melakukan hal yang konyol. Sore bertanya kenapa bisa-bisanya dia melakukan hal itu bahkan tidak tahu kapan memulainya. Dia seperti kehilangan kontrol terhadap tubuhnya sendiri. Sedangkan Ayu sampai sekarang tak pernah menyadari. Sore mendengar wanita itu mengatakan,


"Awas ya, si Dean kurang asem itu. Tak bejek-bejek kepalanya sampai jadi sambel uleg. Seenaknya aja ngelelang baju orang tanpa persetujuan dari yang punyanya ...."


Masih lebih panjang dari itu gerutuan Ayu setelahnya. Sore masih memantau dan menunggu kapan wanita ini akan tersadar. Tapi ketika dilihatnya Ayu menyingsingkan lengan blazer yang ia kenakan dengan lagak mencerminkan seorang preman yang bersiap menghadap musuh, Sore bergerak menahan.


"Kamu mau ke mana?"


"Bapak ini kenapa tanya-tanya terus, sih?" ucap Ayu dengan nada jengkel.


"Bagaimana saya gak nanya kalau lagak kamu kayak bersiap menghancurkan kantor saya begitu?"


"Dih, kepedean. Saya cuma mau labrak Dean doang." Ayu dongkol juga lama-lama. 


Mari anggap hal selajutnya yang dia lakukan masih tanpa disadari. Sore yang bergerak mengurai gulungan di tangan Ayu membuat si empunya berjengit kaget. Dia terus melakukan hal itu sambil bilang, "Jangan buat keributan di kantor saya." tanpa menyadari Ayu yang mematung kehilangan kata-kata.


Ayu cukup gugup ketika selanjutnya tatapan mereka bertemu kembali. Wanita itu berdeham pelan lalu membuang muka ke asal tempat. Detak jantungnya berpacu cukup cepat. Ayu ada apa sama kamu? Kamu gak boleh goyah! Ingat rasa sakit itu! Isi kepala Ayu berteriak memperingatkan. Mendapati itu, Ayu mengambil napas banyak sekali. Dia harus tenang.


Sementara di tempatnya Sore masih belum mengerti kenapa Ayu bersikap begitu. Keterdiaman dia pertahankan di atara mereka sampai beberapa puluh detik kemudian erangan kesal dari Ayu menggema ulah Sore yang mengatakan waktu istirahat sudah selesai.


"Masa udah harus kerja lagi?"


Ayu baru tersadar sudah membuang-buang waktu tanpa bisa melaksanakan niat untuk memukul kepala Dean dengan sekuat tenaga setelah Sore melenggang dari sana tanpa kata lain.


...*...


Penampakan boneka teddy bear berukuran setengah badan Ayu yang pertama perempuan itu lihat saat membuka pintu. Ayu tercengang hingga menjatuhkan kantung sampah berukuran besar yang semula diniatkan akan ia antar ke tempat sampah. Ayu menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melotot tidak percaya.


"Hallo Ayu. Udah jam delapan siang kok, masih belekan?"


Bukan seperti yang Ayu bayangkan. Otak sinetronnya yang mengira akan ada kata-kata sok manis dengan suara ditekan sampai terdengar cempreng, melenceng total. Ayu mendengus. "Gue udah cuci muka, ya." Lalu merengut tidak terima. Meski begitu tak lama wajahnya kembali semingah. Dia merentangkan tangan selebar mungkin. Berkata, "Ututututu ... Sini Ayu peluuuuk." dengan nada gemas yang terlalu gamblang kentara.


Wajah Rendi menyembul dengan seri mengejek yang sangat jelas setelahnya. "Bukan buat lo," serunya, menjungkirbalikan kebahagiaan Ayu sampai pupus tak berbekas.


"Terus lo bawa ke sini buat siapa? Mau pamer doang?"


Ayu cemberut sedikit, tetapi memaksa agar tak terlalu jelas terlihat. "Jelek."


Wajah Rendi berwarna kecewa. "Yah. Padahal gue mau kasih ini buat Irene," keluhnya.


"Bagus, kok!" Ayu cepat-cepat membantah.


"Lha? Katanya jele-"


"Bagus. Tadi salah fokus aja. Gue gak liatin bentukan bonekanya tapi malah liatin muka lo." Ayu mencengir setelahnya.


"Heuuuh. Dasar." Boneka besar berbulu cokelat tebal itu merangsek ke wajah Ayu tanpa dapat dicegah. Bersyukur Ayu sigap menahan. Dari balik perut benda di pelukannya, suara tawa puas Ayu yang teredam dapat didengar oleh Rendi.


Rendi menarik senyum sedikit sebelum menyelonong masuk tanpa persetujuan bertepatan saat wajah Ayu muncul ke permukaan.


Ayu mengintil di belakang kala Rendi mendaratkan dirinya di sofa dengan dorongan yang cukup betenaga. Kepala lelaki itu bergerak celingukan. "Irene mana?"


"Masih diculik sama mamanya." Ayu menggedikkan bahu. Bukannya Rendi sudah tahu?


"Nah. Kalo begitu sekarang lo ikut gue. Kita jalan."


"Gak mau ah. Gue suka Insomnia kalau abis jalan ama lo."


Rendi menautkan alisnya. "Kok, bisa?"


"Bisa. Kayak minggu lalu lo bawa gue ke pantai. Malamnya gue gak bisa tidue soalnya kepikiran pengen ke sana lagi."


Rendi langsung tahu maksud terselubung dari "Insomnia" yang Ayu katakan. "Lo mau ke sana lagi sekarang?"


"Mau!"


Nah, kan.


"Yaudah ayok."


"Pake baju kayak gini?" Ayu menatapi baju tidur bertemakan kepala Mickey Mouse yang membalut tubuhnya. Yang benar saja dia harus pakai setelan seperti ini ke pantai.


"Ya, lo mandi dulu, Yunaira. Masa gue bawa wajah lo yang butek naik mobil mewah mengilat gue yang harganya selangit-"


Ucapan Rendi tak terselesaikan sebab sebelum itu Ayu sudah melemparkan bantal sofa ke wajahnya dengan sadis. "Iya-iya! Berisik lo!" Lalu melenggang ke bagian lebih dalam dari rumahnya disusul oleh teriakan Rendi.


"Jangan lama! Kalo enggak gue tinggal!"


"Iya bawel!" Ayu secara sengaja membanting pintu sebagai akhir dan meninggalakan Rendi yang berkeliling dengan tatapan hinggap ke berbagai sisi rumah sederhana namun ditata rapi tersebut. Sampai pada ceceran pigura dalam penataan yang cukup artistik pandangannya bertahan cukup lama di sana. Pada salah satu foto dalam bingkai putih gading yang terawat. 


Dia memperhatikan wajah Ayu yang termuat di dalamnya. Terlihat sangat bahagia dengan senyum lebarnya yang cantik. Wanita itu terlihat sangat menawan dengan gaun putih yang membungkus tubuh rampingnya. Di sebuah pesta pernikahan.


...*...


Ayu berlari bersama rentangan tangan yang menantang hamparan air di depannya. Tawanya berderai panjang, luapan rasa bahagia tumpah ruah sampai Rendi tak mampu memperkirakan jika dirinya harus menampung itu semua. Dia tidak akan sanggup.


Ayu terlihat sangat senang. Berbeda sekali dengan wajahnya yang seringkali terlihat kusut dan muram selepas dari kantor. Tangannya dilambai-lambaikan rusuh pada Rendi yang berjarak cukup jauh.


Rendi menggelengkan kepalanya heran. Ayu terlalu kekanakan untuk usianya yang sekarang.


Kaki telanjangnya menapaki hamparan pasir dalam tempo yang tenang, berbeda dengan Ayu yang berlarian kesana-kemari tanpa mengindahkan rambutnya yang berantakan tersapu angin kencang. Rendi mendapatkan lemparan pasir, percikan air dan tawa lepas dari Ayu ketika jarak mereka sudah menipis dan Ayu leluasa mengeluarkan segala kesenangannya.


Rendi juga mendapati Ayu yang tertawa-tawa saat dia mengatakan bahwa Ayu sudah menganiaya dirinya. Perempuan itu tanpa sengaja menyebabkan butiran pasir masuk ke mata Rendi dan makin terbahak saat mata Rendi sedikit berair. Mengatakan, "Huuuu. Masa cowok nangis." Dan menjulurkan lidahnya mengejek.


Mereka berada di sana sampai malam hari usai Rendi memutuskan untuk menyewa dua kamar hotel dan menginap satu malam.


Ayu tak seheboh tadi pagi. Kali ini dia hanya terdiam di bawah langit malam, memperhatikan ombak di hadapannya sembari duduk pada sebuah batu karang besar. Ayu tersadar dari pikirannya yang mengawang tatkala merasakan ada sesuatu yang memeluk punggungnya hangat. Kepala dibawanya menoleh ke samping, ada Rendi yang mengisi pandangannya.


"Di sini dingin banget. Lo malah ke luar cuma modal kaosan doang." Rendi memperbaiki letak selimut yang digunakannya untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Ayu sedikit mencebik. "Gue gak rela ninggalin tempat ini biar besok bisa ngadepin si patung es lagi."


Rendi terkekeh. "Kita bisa ke sini lagi lain kali."


Ayu hanya mengangguk tanda setuju namun dia tidak mengeluarkan suara, jadi Rendi yang bicara.


"Yu."


"Apa?"


Terdapat jeda yang cukup lama setelah itu, sampai Ayu menunjukan tatapan menuntut agar Rendi meneruskan kalimatnya.


Rendi menarik napas. "Kalo misalnya gue bilang, 'gue suka sama lo' lo mau jawab apa?"


...***...