
Hari itu, Sore baru selesai mencuri-curi waktu untuk menghabiskan satu batang rokok di dekat tembok samping sekolah. Dia dengan kesombongan yang berkibar-kibar melenggang angkuh di koridor.
Menyandang titel sebagai anak dari pemilik sekolah, pastinya membuat dia disegani murid manapun. Tak akan ada yang berani berbuat macam-macam apalagi mengusik ketenangannya. Poin lainnya adalah karena dia pemimpin geng terpopuler di sekolah, memiliki wajah yang rupawan dan pemalak yang andal.
Sore tersenyum miring. Dia teramat bangga pada dirinya. Memangnya, siapa yang berani melawannya selama dia masih menjadi seorang Cakrawala Sore? Tidak akan pernah ada.
Seringaiannya masih tersungging, menghina setiap manusia rendahan yang sedang dilewatinya hingga ketika di pertengahan jalan, teriakannya menggelegar mengisi koridor yang ramai. Menuntut seluruh atensi yang ada di sana untuk turut memperhatikan.
"LO BUTA APA GIMANA?!"
Seorang gadis yang diteriakinya tertunduk dengan tubuh bergetar takut. Lalu cicitnya, "Ma -maaf. Gue gak sengaja."
"SENGAJA ATAU ENGGAK, LO TETEP UDAH NGOTORIN SEPATU GUE!" Sore mengerang, dengan lagak jijik ia mengerakkan sepatunya yang terkena tumpahan es krim berwarna putih yang kini telah mencair, merembes ke dalam sepatunya hingga terasa di permukaan kaus kaki. "BERSIIN!" katanya lagi.
Pundak bergetar gadis di hadapannya tak sedikitpun menurunkan emosi Sore, pun ketika dia telah merendahkan diri dan mengelap sepatunya yang kotor. Gadis itu berusaha mengendalikan tangannya yang gemetar, dan dia hampir menangis ketika noda di sepatu Sore tak kunjung hilang, malah semakin melebar.
Sore hendak melaksanakan perintah egonya untuk mendorong tubuh gadis yang masih berjongkok itu menggunakan telapak sepatu, namun sebelum hal itu benar-benar terealisasikan, satu tangan yang memanjang dan hinggap di pundak si gadis menghalangi keinginannya.
"Berdiri," kata si pelaku kemudian.
Orang yang ia ajak bicara menggelengkan kepalanya rusuh, seolah menolak permintaan itu. Dia takut pada Sore yang mungkin akan menindasnya lain waktu, karena urusan mereka belum selesai dan dendam lelaki itu belum terpuaskan.
"Aku bilang berdiri," ucap suara lembut itu lebih tegas.
Nada suaranya berhasil membuat tubuh gemetar ketakutan itu terangkat perlahan.
"Kamu gak papa, kan?"
Pertanyaan yang tidak dapat dipastikan apakah akan mejadi penyelamat atau awal mula bencana dalam hidup gadis lainnya.
"... Ak- aku baik." Jawabannya terdengar kecil. Wajahnya tertunduk makin dalam setelah satu dengusan dari Sore terdengar.
"Lo ngapain ikut campur, sih?" gerutu Sore pada si gadis penyelamat yang kini tengah menatapnya dengan sorot terganggu sekaligus menantang.
"Jaga sikap lo Cakrawala Sore."
Sore mendecak, kemudian mencibir. "Siapa lo? Emak gue bukan."
"Emang bukan. Lo gak pernah juga kan, dapet undangan nikahan gue sama bapak lo," jawabnya enteng dengan nada jengah.
Sore mengembuskan napas. Dia menyerah. Melawan orang di depannya ini selalu menguras emosi dan membuatnya uring-uringan, karena dia tidak pernah menang. "Mau lo apa sekarang?"
"Mau gue, lo berhenti bertingkah urakan kayak preman gini."
"Oke. Kapan-kapan."
Nada suara lawan bicaranya terdengar geram. "Secepatnya," tekankan dia. "Lo mesti jadi manusia yang berguna. Setidaknya buat orang tua lo yang udah susah-susah nyekolahin lo."
Sore berlagak tidak mendengarkan, matanya hinggap di mana-mana. Dia mengorek telinga dengan jari kelingking. "Gak salah tuh? Mereka gak susah kali. Mereka kaya raya, tajir. Biaya sekolah gue gak banyak. Gak bakal nguras tabungan mereka."
Dia mendapatkan jitakan di puncak kepala. "Bukan itu maksud gue, bodoh! Lo harusnya mulai berusaha buat jadi penerus yang pantas. Apa kata emak gue kalau nantinya lo gak becus ngurus perusahaan."
Sore mengerutkan alis. "Korelasinya di mana?"
"Ya, gak ada!"
"Terus kenapa lo bawa-bawa emak lo segala!"
"Terserah gue!" Dia mulai meradang. Kemudian melakukan metode penenang dengan menarik-embuskan napasnya berulang kali. "Denger ya, Cakrawala Sore yang terhormat. Hamba sebagai seseorang sepupu yang bisa dipastikan jadi satu-satunya manusia yang merasa prihatin sama lo, mau menyarankan. Lo mesti berubah Sore, sebelum karma berbalik dengan sesuatu yang lebih buruk dari apa yang lo lakuin ke korban-korban lo. Lo harusnya-"
"Ya, ya, ya." Sore mengibaskan tangannya tidak mau mendengar. "Kalau mau khotbah entar jum'at siang di mesjid. Minggir. Gue mau lewat."
Gadis di depannya memejamkan mata menahan luapan emosi. "Gue cewek, gak ikut jum'atan."
"Bodo. Kalau mau ikut ya ikut aja. Biar lo dirukyah sekalian sama jemaah satu mesjid."
"Cakrawala Sore ...."
"Iya, Saya. Ada apa ya, Krystal Elise Dirma?" Nada suara Sore jelas mengejek.
Orang yang dipanggil Krystal itu mengepalkan tangan. Lalu menyumpah, "Moga-moga lo kena azab. Pas waktu itu terjadi, gue bakal jadi orang pertama yang ngetawain lo ampe modar." Lalu melenggang pergi dari sana bersama kekesalan yang amat besar.
"Makasih do'anya. Moga diijabah," teriak Sore, masih dengan nada mengejeknya.
Setelah melepaskan pelototan sadis pada banyak pasang mata yang sejak tadi menonton, Sore melanjutkan perjalanan tanpa peduli apapun yang Krystal katakan.
Tiap-tiap langkah yang diambilnya terasa arogan, sampai pada satu titik ia terhenti. Di lapangan sana, kelas sepuluh selesai melaksanakan olahraga. Sore dengan mudah menemukan sesosok gadis mungil yang ia siksa di saat Masa Orientasi Siswa dilaksanakan. Sore memang sengaja mencalonkan diri jadi panitia agar bisa menindas murid-murid baru dengan dalih mendidik mereka agar nantinya tidak melunjak.
Dengan sosoknya yang mungil, gadis itu dapat dengan mudah mengekspresikan dirinya yang energik. Berlari ke sana-sini, melempar bola dan tertawa-tawa. Hingga Sore jatuh dalam sesi memperhatikan lebih lama. Entah kenapa setiap sisi dari gadis itu terlihat sangat jelas di matanya. Rambutnya yang terikat melambai-lambai, senyumnya yang lebar, matanya yang melengkung saat tertawa dan suaranya yang manis melantun sempurna.
Sore hampir mengulas senyum, tetapi tidak jadi. Dia tetap berada di sana sampai satu tepukan mengagetkan dan menyadarkannya.
"Woy. Lo kenapa dah, ngejublek di sini? Awas 'tar kesambet mbak kunti penghuni kelas sebelah."
"Serah lo aja dah, mau bilang apa." Sore memutar bola mata.
Dennias mencengir mendapat tanggapan seperti itu. Ia ikut melemparkan tatapan ke arah mana Sore terpaku. Lantas mengangkat alisnya tinggi-tinggi mempertanyakan sesuatu. Tak berselang lama, senyum jahilnya terbit.
"Ngeliatin siapa lo di antara dedek-dedek gemes itu?"
"Gak ada."
Sore beranjak pergi tanpa mempedulikan ejekan lainnya yang ke luar dari mulut licin Dennias. Dia ingin segera masuk ke kelas dan tertidur di sana sampai waktu sekolah berakhir.
Harusnya skenario itu yang ia lakoni, tetapi saat langkahnya baru menginjak hitungan lima, dia kembali berhenti. Suara gedebuk dari arah lapangan menarik kepalanya cepat sekali. Baru kakinya yang terarah ke lapangan, Sore telah didahului oleh sosok Dennias yang melesat membelah lapangan.
Dennias berjongkok, berucap sesuatu pada seorang gadis yang terduduk dengan lutut lecet dan sedikit berdarah. Sore terdiam sesaat sampai akhirnya meneruskan niat untuk ke kelas setelah memastikan gadis itu dibopong dengan baik oleh Dennias menuju UKS.
Sore terbangun dengan keringat membasahi pelipis, kepala dan punggung. Napasnya terengah. Ia menyapukan pandangan ke sekeliling. Sore lega karena ia terbangun di ruang kerja pribadinya, di meja kerja. Menyandarkan punggung di kursi, Sore menyugar rambutnya yang basah dan mendesah pelan. Yang barusan itu hanya mimpi. Mimpi yang berasal dari sepenggal masa lalu.
Sore memejamkan mata, dia kembali terngiang pada apa yang Krystal katakan.
Apa ini yang Krystal maksud? Karma itu?
Sore menggelengkan kepala, tak ingin memikirkan lebih jauh. Langkahnya berderap menuju salah satu laci rendah. Mengaduk-aduk isinya mencari sesuatu. Lalu tatkala apa yang dicarinya telah didapati, ia beralih tempat menuju balkon, duduk di salah satu kursi. Embusan asap ke luar dari mulutnya. Sore selalu merasa sedikit lega jika sudah merasakan sebatang rokok. Dia jarang melakukan hal ini sebenarnya. Hanya di waktu-waktu tertentu. Seperti saat dia merasa terlalu penat atau pikirannya tertekan.
...*...
Pintu menjeblak terbuka. Sore sebagai pelaku tak merasa bersalah telah membuat Ayu berjengit kaget. Dilihatnya perempuan itu sedang bersiap untuk pulang.
"Masih berani kerja juga kamu setelah dua hari bolos." Suara Sore masam saat mengatakan itu.
"Kemarin saya kerja. Bapak saja yang tidak ada di kantor," jawab Ayu tanpa membalas tatapan Sore. Dia lebih memilih melanjutkan kegiatannya merapikan meja.
"Kemarin saya saya harus mengurus segalanya sendirian, termasuk hari ini juga."
Apa Sore mengadu padanya? Atau menyalahkannya? Ayu memutar bola mata. "Saya juga bekerja. Sesuai porsi saya."
Alis Sore menurun kesal. "Lalu, ke mana kamu satu hari sebelumnya?"
"Saya sudah melampirkan surat dari dokter. Saya dirawat di rumah sakit, dan Bapak harusnya tidak usah bertanya karena apa. Bapak sudah tahu sendiri kan, penyebabnya?"
"Kamu menyalahkan saya?"
"Terserah menurut pengertian Bapak seperti apa. Lihat saja pada kenyataan yang ada."
Selepas itu, Ayu menuju pintu, mengabaikan Sore yang emosi dilewatinya begitu saja. Ayu tidak ingin lama-lama menghadapi wajah menjengkelkan itu. Dia tak ingin harinya berujung berantakan hanya karena Sore.
...*...
Ayu menahan napas. Dia kesal pada perilaku aneh atasannya yang satu ini.
Apa tidak cukup menyiksa dan mendebatnya selama di kantor? Di tempat umun seperti ini juga? Haruskah?
"Ada apa lagi, Pak Sore?" tanya Ayu geram.
Sore menyelundupkan kedua telapak tangannya pada saku celana, berdiri angkuh. "Kamu ikut saya hari ini. Selesaikan pekerjaan yang belum sempat saya kerjakan."
"Maaf Pak. Tapi saya gak bisa. Saya harus pulang."
"Kamu mau membantah saya?"
Mengembuskan napas. Tenang, Ayu. Tenang. "Terserah Bapak saja. Saya masih mematuhi peraturan dan ini memang waktunya jam kerja saya selesai. Permisi." Ayu melenggang dari sana dengan dada naik turun kasar sarat emosi. Namun pada satu waktu dia harus terhenti. Saat ucapan Sore begitu menusuk di telinganya.
"Kamu sekarang sudah berani menunjukan jati diri kamu yang sebenarnya, ya?" Jelas sekali dari nada suaranya jika dia berniat mencela. Apalagi ditambah decihan itu.
Ayu berbalik dengan wajah dingin. Lantas, "Maksud Bapak, apa?"
"Sifat kamu yang pemberontak, sok dan ... Murahan."
Gigi Ayu gemerletuk, beradu dalam kemarahan. "Tolong jaga cara bicara Bapak."
Sore medengus sinis. "Cara bicara saya yang mana? Yang kalau kamu itu murahan? Memang itu kenyataan, kan? Buktinya kamu masih berdekatan sama si bajingan itu setelah apa yang dia lakukan ke kamu. Ah, atau memang yang malam itu kamu sebenernya menginginkannya? Sama seperti ketika dulu kamu menggoda-"
Wajah Sore terlempar keras ke samping. Pipinya terasa panas dan sudut bibirnya perih. Ayu baru saja menamparnya dengan segenap rasa benci.
"Berhenti menghina gue!" Teriak Ayu, napasnya terengah. Kemudian suaranya berubah, menandakan adanya peralihan emosi. "Lo gak tau apa yang sebenernya terjadi. Lo gak tau apa yang gue derita setelah hari itu. Berhenti menghina Rendi. Lo bahkan lebih berengsek dari dia. Lo bahkan bikin gue merasa seribu kali lipat lebih jijik liat kearoganan lo. Lo manusia yang gak punya hati!" Ayu sudah menangis, tidak peduli kalau dirinya masih di pelataran kantor. "Lo," tunjuk Ayu di dada Sore dengan sedikit dorongan. "masih bisa hidup, masih bisa dengan sombongnya menginjak-injak gue, tanpa pernah berpikir kalau lo lebih hina dari gue!"
Masih banyak emosi yang belum Ayu tumpahkan. Dia bahkan tidak tahu seperti apa rupanya jika dikeluarkan. Sebesar apa amarah dan dendamnya jika dimuntahkan. Ayu tak dapat memprediksi seberapa dahsyat gelombang emosinya kini, rasanya campur aduk, menggelegak dan memenuhi dadanya sampai terasa sempit juga sesak.
Mengabaikan Sore yang mematung dan jadi bahan tontonan, Ayu berlari dengan air mata yang ia usap kasar. Langkahnya berbelok di salah satu kafe, menyelinap di antara gang.
Ayu menangis keras, tumbang di dekat tempat sampah. Terisak-isak menangisi hati yang semula telah susah payah ia perbaiki. Ayu tak bisa mengaisnya lagi sekarang. Perasaannya telah lebur dalam kehancuran. Selama ini, dia mati-matian berusaha untuk merekatkan kepingan hatinya satu per satu, tidak peduli seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali utuh. Tetapi dengan mudahnya perjuangan itu dimusnahkan jadi debu. Dia merasa dirinya bodoh, karena lagi-lagi hatinya porak poranda oleh orang yang sama.
...***...