
Peristiwa hari ini tidak ada dalam agenda sang Direktur yang biasanya Ayu pun akan mengetahuinya.
Maka sebab itu, sekarang dia menggulirkan roda koper dengan tergesa-gesa. Ini merupakan buah dari ulah Sore yang memberi perintah untuk bersiap-siap mengikuti ke mana ia pergi secara mendadak lewat sambungan telepon tadi subuh. Ayu bahkan masih linglung dan berusaha mengumpulkan nyawa saat menerimanya.
Tidak perlu waktu lama bagi Ayu menunggu. Sesaat setelah ia sampai di halte dekat rumahnya, satu unit sedan berhenti di depannya dan si pengendara dengan kesertamertaan menyambar barang bawaanya tanpa berkata apapun, lalu memasukkannya ke bagasi.
"Pakai sabuk pengaman. Saya akan sedikit mengebut. Kita hampir terlambat mengejar penerbangan." Adalah apa yang Ayu dapatkan begitu memasuki mobil Sore yang berbeda lagi dari yang ia pakai kemarin.
Melaksanakan tanpa suara, Ayu sigap memasang badan dan mengambil ancang-ancang, bersiap memacu adrenalin untuk gaya mengebut Sore yang sudah ia hafal betul segila apa.
Ayu menginjakkan kaki di badara lima belas menit kemudian. Dia langsung digiring Sore menuju pesawat dengan langkah yang dibuat terburu-buru. Setelat apa mereka? Itu yang sempat Ayu tanyakan sebelum terperanjat saat lagi-lagi Sore melakukan sesuatu yang tak terduga. Lelaki itu merampas koper yang sedang ditariknya dan kontan ikut menarik kepala bersurai panjang itu untuk menoleh dengan kecepatan turbo.
"Kamu lama. Bawa koper sekecil ini saja kesusahan." Keluhan ini yang Ayu terima darinya.
Walaupun Sore hanya membawa ransel yang disampirkan di satu pundak, Ayu tetap tidak enak hati tatkala kini Sore harus menggulirkan koper miliķnya. "Saya bisa-"
"Berhenti bicara, jalan lebih cepat dan pegang ini." Sore menyerahkan ranselnya tanpa aba-aba kepada Ayu. "Barang-barang penting saya ada di sana. Pegang yang baik."
Dingin sekali. Bagaimana Sore bisa mengoceh dengan wajah datar tanpa ekspresi seperti itu? Dan bagaimana pula lelaki itu mengatakan akan pergi paling lama satu minggu dengan berbekal isi ransel yang terlalu ringan terasa bahkan untuk Ayu?
Tak berniat mengutarakan pikirannya, Ayu menurut saja. Dia tidak bicara apapun lagi usai mendapati wajah tegang Sore. Ayu memilih bertahan untuk menyamakan langkahnya yang walaupun sudah tak menggeret apapun, masih saja kalah cepat dari Sore. Bagiamana pun langkah Sore dua kali lebih lebar dari miliknya, lalu di mana letak keadilan di sini?
...*...
Sore bilang kepergian mereka hanya untuk mengurusi masalah di perusahaan cabang yang berada di luar kota, tanpa adanya berkabar perkara pesta mewah tengah malam yang akan dihadirinya dan Ayu yang diharuskan untuk turut serta.
Terkesiap. "Ya Tuhan ...." Ayu mengigit ujung bibir. Memandang penuh decak kagum pada pantulan cermin. Yang di sana itu bukan dirinya. Wanita dengan gaun berwarna peach, berkalung benda berkilauan dengan riasan mewah dan glamor namun masih wajar itu bukan dirinya. Rambut digelung yang menampakkan leher jenjang itu juga bukan miliknya. Ayu sama sekali tidak mengenalinya. Namun ketika dirinya bergerak mendekatkan diri ke cermin, pantulan itu ikut membesar dan Ayu baru mau mengakui kalau memang ia yang berada di posisi gemetar gugup itu sekarang. "Mama ... anakmu ternyata gak sejelek itu," gumamnya menggunakan nada terpukau.
Ayu lanjut menekan dada. Ia tidak pernah memprediksi hal ini. Bagaimana bisa Sore masih tak berkata apapun setelah menyeretnya begitu saja ke salah satu kamar di mansion besarnya. Belum cukup sampai di sana, di dalam ruangan itu Ayu langsung didandani tanpa mempersiapkan mentalnya yang baru saja dibuat melompat-lompat khawatir setelah diseret dengan semena-mena oleh Sore.
Satu suara menyentak Ayu. Datang dari seorang wanita seumuran dengannya dengan kepala tertunduk penuh rasa sopan. "Nona, Tuan Muda sudah menunggu di bawah."
Tuan Muda, lagi. Ayu seharusnya sudah terbiasa dengan gelar itu. Tapi tetap saja dia dibuat menahan napas. Seseorang yang disebut begitu bukanlah orang yang bisa ia ajak minum kopi di kedai pinggir jalan. Ayu merasa terhormat bisa menghadap seseorang yang dipanggil begitu, jika saja orang itu bukan Sore.
Kini Ayu sedang menuruni tangga dengan langkah perlahan, takut menginjak ujung gaunnya. Padahal alasan sebenarnya ialah harapan jika hal tersebut bisa mengulur waktu selama mungkin agar ia bisa menenangkan jantungnya yang mendadak bertalu. Dan ia merasa langkahnya masih terlalu cepat saat menemukan sosok Sore yang berada di ujung tangga. Lelaki itu belum menyadari keberadaanya. Ayu makin kesulitan menghirup oksigen di tiap-tiap anak tangga yang kian mengikis jarak. Menghadap pada punggung Sore, Ayu bersuara dengan campuran getar canggung. "Pak."
"Cepat ikut saya." Sore menanggapi tanpa menghadap Ayu sama sekali.
"Baik, Pak." Ayu mengintil di belakang dengan jantung yang masih melompat-lompat dan itu hampir terasa cukup menyakitkan.
...*...
Kedatangan Sore disambut oleh keramaian. Rupa tampan dan sosok tingginya langsung menarik perhatian. Beberapa orang yang telah mengenalnya tersenyum semringah, mereka berdatangan menghadap Sore untuk mengungkapkan banyak basa basi. Sedangkan sisanya yang sebatas tahu, tak ingin bersusah-susah menghalau mata penuh binaran tertarik mereka meski hanya bisa memperhatikan dari tempat masing-masing.
"Selamat malam Pak Sore." Seorang lelaki paruh baya lebih dulu mengulurkan tangan gempalnya.
Segera Sore menerimanya. " Selamat malam Pak Handoko."
Sore menanggapi dengan baik kedatangan sapaan-sapaan tak penting lainnya setelah itu. Tersenyum ramah ataupun meloloskan sedikit tawa yang menghilangkan mata kecilnya untuk ditelan lengkungan serupa bulan sabit.
Jujur saja, Ayu sedikit terpana. Selama di depan dirinya Sore tidak pernah tersenyum sekalipun, hingga Ayu menduga kalau lelaki itu memang tak tahu caranya menarik bibir jadi sebuah senyuman karena sudah terlanjur kaku.
Perkiraan Ayu tentang eksistensinya di samping Sore telah tak tampak, rupanya melenceng. Tatapan mereka bisa teralihkan dengan cepat usai berbagai macam pujian telah dilontarkan. Sorot mata yang seluruhnya menunjukan tanya nyaris membuat kepala Ayu tertunduk, kalau saja Sore tak segera memberi penjelasan dengan kalimat pendeknya.
"Dia sekretaris saya."
Kepala manusia yang ada di sana mengangguk mengerti. Namun tak semua mengikuti alur percakapan yang berlanjut pada hal lain. Beberapa dari mereka ada yang undur diri dengan berbagai alasan. Tak sedikit yang bertahan karena tertarik dengan topik yang Sore angkat.
Namun lebih dari semua itu, dengan mudah Ayu bisa merasakan banyak dari mereka- terutama laki-laki -memperhatikannya dengan pandangan menilai, membuat Ayu berdiri dengan salah tingkah di sana. Dia tidak tahu bagaimana cara mengalihkan pandangan yang membuatnya tak nyaman ini. Sampai telinganya mendengar pembahasan telah merambah pada kabar pertunangan Sore, Ayu menjauh untuk mendekati sajian kudapan yang ditata di meja sudut ruangan.
"Pak, saya pergi sebentar," bisik Ayu pada Sore yang tak menoleh sedikit pun, masih memperlihatkan tatapan tertarik pada seseorang di hadapannya yang sedang bicara.
"Ya. Jangan terlalu jauh," balas Sore dengan bisikan sama rendahnya, tak ingin mengusik ocehan pak tua di depannya.
Dengan itu, Ayu menjauh. Ketidaknyamanan yang dirasanya bertambah besar saat pembicaraan itu mulai tak berada di jalur bisnis.
Ayu mengudap satu muffin. Merasa sedikit relaks dengan suasana setelah lidahnya mencecap rasa manis dari makanan tersebut. Seleranya baru akan beralih pada chocolate mousse ketika tangannya ditahan dan melayang.
"Sebelum anda memakan lebih banyak makanan manis itu, bisakah saya berkenalan dengan si manis yang satu ini?"
...*...
"Berhenti menatap dia dengan mata seperti itu, Aldo."
Kalimat Sore memberi ancaman yang terlalu kentara, tetapi yang bersangkutan malah tertawa. "Astaga, Sore. Bisa aja dong reaksinya. Dia kan, cuma Seketraris lo, bukan calon tuangan lo."
Sore mendecak sarkas. "Lo gak liat dia ketakutan gitu?" Melirik Ayu yang berdiri sedikit jauh di samping Aldo. Perempuan itu meremas telapak tangannya resah. Kentara sekali kalau dia tidak nyaman pada tatapan menelanjangi dari lelaki kurang ajar ini.
Aldo mengangkat kedua tangan sambil tersenyum remeh. "Oke-oke. Gue gak bakal mandangin Sekretaris lo yang kelewat cantik itu. Tapi gimana dengan yang lain?" Ia melarikan tatapan ke sekeliling ballroom beraksen serba mewah tersebut. "Apa lo bisa menghalangi tatapan penuh hasrat mereka dengan suara lo yang dingin itu?" Dia menyeringai sekarang. "Well, gue juga harus pergi. Anak Isteri gue udah nunggu. Sampai jumpa lagi, Pak Direktur." Diakhiri dengan menepuk pundak Sore penuh cemooh.
Mendapati apa yang dikatakan temannya itu benar adanya, Sore melirik sinis pada Ayu yang kepalanya tertunduk. Ia melepas jas dari tubuhnya dan menyampirkan di pundak Ayu. Dapat Sore lihat Ayu yang terhenyak pelan tetapi kepalanya masih setia menunduk ketika mengatakan, "Terima kasih, Pak." dengan suara pelan.
"Kita pulang," kata Sore kemudian. Agak masam terdengar.
"B- baik, Pak."
Sore melangkah ditemani gerutuan samar nyaris di sepanjang jalan. Apanya yang terlalu cantik? Apanya yang menarik dari pundak terbuka seorang wanita pendek kurus seperti itu? Sore tak habis pikir.
...*...
Ayu kira mereka akan lolos dari pintu dengan mudah, tetapi dia salah.
"Sore."
Teguran dari seseorang menghentikan langkah keduanya di tengah ruangan. Sore berbalik, hanya untuk dibuat jengah seketika.
Sore menjawab kalimat bernada riang tersebut dengan suara dingin. "Gak ada yang nanya."
"Iya juga sih. Hehe." Mengusap belakang leher sedikit malu. "Eh, tapi ini siapa?" tanyanya dengan intonasi antusias terhadap sesuatu yang baru dilihat.
"Sekretaris gue."
Wajah itu kini beraut mengenali. "Kayak kenal. Kamu ... Ayumi, kan?"
Ayu memejamkan mata beberapa jenak. Padahal dia berharap tak dikenali semudah itu. "I-iya, Kak Hera."
Hera tercengang. "Ayu, kamu apa kabar? Lama gak ketemu." Dari pembawaannya, perempuan ini pasti sedang mengingat masa-masa ketika Ayu jadi juniornya di kampus.
"Baik, Kak." Meski keberadaanya ditanggapi dengan baik oleh Hera, Ayu tetap tak bisa untuk tidak merasa canggung.
Ayu tahu, Hera yang selanjutnya menggiring mereka ke salah satu meja dengan antusias, bukanlah pertanda baik. Ia tersenyum setengah hati pada wanita bergaun biru dongker di atas lutut itu yang kembali menghadapnya bersama binaran tertarik yang begitu besar di mata, seakan-akan baru saja menemukan satu keajaiban dunia. Suara Hera masih secerah tadi ketika ia kembali bertanya.
"Kamu sekarang kerja di tempatnya Sore?"
"Iya, Kak. Aku Sekretarisnya Pak Sore."
"Ooh." Hera mengangguk-angguk, kemudian pandanganya beralih pada Sore. "Kamu kok, gak bilang soal Ayu ke aku."
Sore menanggapi dengan putaran bola mata. "Harus ya, gue ceritain semuanya ke lo termasuk hal yang gak penting?"
Hera tak menjawab untuk itu, hanya bibirnya yang sedikit mengerucut sebal. Sore tak sedikit pun berubah sikap terhadapnya, pikirnya. Namun karena tak ingin percakapan berakhir sampai di sana, ia lanjut bertanya. "Kenapa kamu bisa dateng ke acara ini? Katanya sibuk kerja."
Sore terang-terangan mendecak kesal. "Dan kenapa lo nanya-nanya terus?"
Wajah Hera sedikit lesu, berulang kali menerima tanggapan sinis begitu. "Ya, penasaran aja ...."
"Tapi gue lebih penasaran kenapa perempuan itu ada di sini juga," timpal sebuah suara khas perempuan lainnya dari arah punggung Sore. "Cuma Sekretaris doang, kan? Apa perlunya dibawa ke acara penting kayak gini? Sementara calon tunangan lo harus datang bareng gue," ujarnya sinis. Memposisikan diri di kursi sebelah Hera, melipat tangan di dada.
Ayu yang mendapatkan tatapan menusuk dari si pemilik suara kontan makin menundukkan kepala takut.
"Lo nakutin dia, Krystal." Sore memperingatkan perempuan yang lebih tua satu tahun darinya itu.
Krystal berwajah tercengang. "Oh, masa? Cewek pemberani yang gak gentar akan apapun bisa ketakutan cuma gara-gara gue liatin? Woah, gue tersanjung." Nada suaranya tak lepas dari cibiran.
Ayu mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan paha sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak suka berada di keadaan seperti ini. Ia tidak suka harus satu ruangan dengan Krystal, apalagi Hera yang tak pernah ia duga merupakan calon tunangan Sore.
"Ahaha." Tawa kosong berkesan canggung mengudara. "Kak Ital udah kenal sama Ayu, ya?"
Krystal menjawab itu, namun tatapan menghunusnya tak lepas dari Ayu sedikit pun. "Siapa juga yang gak kenal sama cewek paling populer satu sekolah? Come on Ra, dulu cowok sekelas gue gak pernah berhenti ngomongin soal dia. Sampai-sampai gue muak dengernya."
Pembawaan Krystal saat mengucapkan itu sangat ringan dan riang, tetapi menusuk Ayu terlalu dalam sampai yang mampu dilakukannya hanya memejamkan mata dalam-dalam, menahan gejolak emosi. Ia menyadari betul jika mantan kakak kelasnya itu masih membencinya sampai sekarang.
"Oya? Haha. Iya, sih. Waktu jadi seniornya, aku juga tau kalau Ayu selalu jadi pusat perhatian. Dia emang secantik itu, sampai aku iri liatnya."
Krystal menoleh dengan binaran kaget yang dibuat-buat. "Oh, Hera sayang. Lo iri sama cewek murah-"
"Cukup Krystal." Sore memperingatkan menggunakan suara yang lebih tegas.
Krystal memutar bola mata, kesal ucapannya dipotong. "Udah mulai peduli ya, sama dia? Bukannya dulu lo adalah orang yang paling menginginkan dia lenyap dari dunia?"
"Elise!"
Krystal mendengus. Lagi-lagi memanggilnya begitu jika lagak tak ingin dibantahnya ke luar. Krystal berdiri. "Ya, selamat malam untuk anda Tuan Direktur. Gue pergi," ucapnya sambil membawa gelas berisi minuman berwarna pekat di tangannya.
Sore melepaskan embusan kasarnya, mengempas punggung di sandaran kursi. Lelaki itu seperti sedang dibanjiri emosi. Sementara Hera kebingungan di tempatnya duduk. Dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Aura mencekam yang Krystal keluarkan penuh dengan rasa benci. Masalah apa yang terjadi antara wanita itu dengan Ayu?
Tetapi ketika ia menoleh pada Ayu yang duduk di samping Sore, tanpa bisa dicegah rasa simpatinya muncul. Iba tatkala menemukan Ayu terus menunduk tanpa daya. Sayangnya sebelum ia mengutarakan, Sore sudah lebih dulu beranjak dan meminta Ayu ikut melakukan hal yang sama dengan kalimat, "Kita pulang."
Ayu tak langsung berdiri, dia terlihat menarik dan mengembuskan napas beberapa kali. Sore dengan dirinya yang tak suka menunggu lantas meraih kedua sisi pundak Ayu, memaksanya berdiri. Kemudian ujarnya pada Hera, "Gue mesti anter dia ke hotel. Lo mau tetep di sini atau sekalian gue anter?"
Hera menggelengkan kepala serta sedikit membubuhkan senyum. "Enggak. Aku baru dateng. Udah janjian mau ketemu sama temen-temen juga. Kamu duluan aja."
Dengan tanpa bicara apapun lagi, Sore menarik Ayu dari sana tanpa peduli pada tatapan penasaran dari nyaris seluruh mata yang hadir.
Apa mereka tidak punya kerjaan lain selain menatap orang dengan mata memicing seperti itu?
...*...
Ayu terpejam dan Sore mendesah lelah. Bagaimana perempuan itu bisa terlelap dalam keadaan seperti ini?
"Yuna," panggil Sore.
Dan Ayu kembali ke mode susah dibangunkannya. Perempuan itu lelap sekali, nampak lelah juga. Dengan keinginan untuk segera beristirahat, Sore memutar kemudi. Melakukan manuver berbalik di malam hari, melanjukan kuda besinya menuju mansoin pribadinya.
Sampai di mansion sambil memangku Ayu yang seperti orang pingsan, mengundang banyak tatapan khawatir dari penghuni rumah yang keseluruhan adalah maid. Sore tetap berjalan lurus menuju tangga dan berakhir menidurkan tubuh terlelap itu di salah satu kamar.
Sore berdiri, sejenak memperhatikan wajah kuyu tersebut. Ia menoleh pada seorang maid yang berada tak jauh darinya dan sedang menunduk, tak berani menatap ke arahnya barang sedikit pun. "Hapus riasannya dan gantikan pakaiannya."
"Baik, Tuan."
Selepas dengan urusan itu, Sore melenggang menuju kamar yang berada di sebelah.
Sosok Sore telah pergi, sang maid langsung melaksanakan perintah. Ia meraih kapas dan meneteskan cairan pengangkat make up. Pelan-pelan menuju mata Ayu yang terpejam rapat.
"Nona sebenarnya siapa?" gumamnya pada diri sendiri, sembari terus konsentrasi pada pekerjaannya. "Tuan tidak pernah mengizinkan orang lain menginjak apalagi tidur di kamar pribadinya seperti ini."
...***...