
Enam tahun.
Terhitung enam tahun lamanya setelah pertemuan terakhir mereka. Ayu sekalipun tak pernah berharap akan dipertemukan kembali dengan Sore. Tak sedetikpun terlintas di benaknya seorang Cakrawala Sore yang amat dia benci, kembali menjadi salah satu nama yang berseliweran di masa dewasanya.
Ketika kenyataanya, Ayu acapkali berdoa dalam tangisnya yang pecah berserakan, dalam keadaan hatinya yang porak poranda, jika dia tidak ingin Sore hadir dengan atau tanpa kemampuannya yang bisa dengan mudah menghancurkan Ayu seperti dulu.
Ayu tidak ingin diinjak-injak sampai lebur layaknya remaja penuh cinta seperti di masa yang telah lampau. Dia ingin menulis jarak selebar-lebarnya dari rasa sakit yang sampai sekarang masih tak ia temukan ujungnya, yang masih mengurungnya dan entah sampai kapan Ayu tak dapat menemukan pintu ke luar. Ayu sadar jika dia masih mengemban dendam yang teramat besar, karena sering sekali dia terbangun di malam hari akibat mimpi buruk yang terus menghantui. Hal itu makin kerap terjadi setelah Ayu dipertemukan kembali dengan Sore dan begitu saja, tanpa bisa ia cegah luka itu langsung menganga kembali. Ia sadar bila lubang di hatinya tak pernah mampu ditutup, sekeras apapun ia mencoba.
Ayu sampai harus kembali berkonsultasi dengan Dokternya, begitu ia memanggil. Karena nyatanya wanita paruh baya merupakan seorang psikolog (Ayu tak ingin dipandang sebelah mata jika ia mengatakan dengan siapa selama ini ia bertemu, mengingat stigma miring masyarakan tentang seseorang yang berurusan dengan kesehatan mental)
Kata wanita itu, Ayu masih trauma dan mendadak trauma itu dibangkitkan lagi secara utuh. Ayu tidak akan sanggup menghadapinya tanpa dibantu konsultasi dan obat. Yang malah selama ini tanpa diketahui siapapun, Ayu justeru bergantung pada pil penenang yang tak disarankan sedikitpun. Sang Dokter menyarankan Ayu untuk berdamai dengan masa lalu dan melakukan terapi hipnotis. Atau jika Ayu bersikukuh menolak saran pertamanya, Ayu seharusnya segera mengukir jarak lagi dengan Sore. Sejauh yang ia bisa.
Ayu bimbang. Dia ingin mengikuti saran Dokter, tetapi hanya pada pekerjaan ini dia bergantung. Gajinya besar dan dia berharap itu cukup untuk membangun masa depan lain yang ingin ia perjuangkan.
Memang Ayu tidak benar-benar terlahir dari keluarga miskin, keluarganya hidup berkecukupan di luar negeri sana. Tetapi Ayu tak ingin membebani ibunya lebih banyak. Dia harus menghidupi dirinya sendiri mulai sekarang. Dia harus menghadapi masalahnya sendiri tanpa harus menjadikan ibunya tameng seperti saat dulu beliau harus menanggung derita dari apa yang telah Ayu tuai.
Detik awal ketika tatapan mereka kembali bersirobok, Ayu langsung linglung. Dia melemas seketika. Tetapi saat otaknya mengingat lagi tentang masa depan yang ia inginkan, Ayu memilih bertahan. Memaksakan diri dan mengesampingkan masalah pribadi. Dia bertekad akan menekan dendam dalam dirinya yang justeru sekarang makin terasa memberatkan pundaknya.
Ayu menghapus air matanya yang telah menganak sungai. Dalam benaknya penuh tanya. Kenapa dia selalu saja dihadapkan dengan pilihan sulit? Apa yang telah ia lakukan di masa lalu sehingga Tuhan tak pernah berbaik hati padanya?
Hati Ayu menyempit, napasnya terasa sakit. Namun ketika ia menoleh, ada dia di sana. Tertidur pulas dengan wajah damai yang entah kenapa membuat Ayu seketika diguyur rasa bersalah. Ayu sadar, tidak seharusnya dia terpuruk seperti ini. Tidak seharusnya dia memikirkan Sore sampai sejauh ini. Tidak seharusnya dia memikirkan orang lain. Ayu hanya perlu memikirkan dia dan jika memang harus ada dendam tak terselesaikan di antaranya dan Sore, Ayu tidak keberatan. Ayu akan berusaha menghapus dendamnya sendiri sampai tak ada jejak yang tertinggal dari Sore lagi di sana. Namun, dia tidak pernah berniat menghapus seutuhnya rasa sakit itu. Dia ingin mengingatnya seumur hidup.
Bahwa dia akan selalu membenci seorang Cakrawala Sore.
...*...
Rendi sudah siap dengan pakaian rapi. Sekarang hari libur dan dia sudah berada di pekarangan rumah Ayu tepat pada pukul tujuh pagi.
Ayu sering menolak ajakannya untuk berjalan-jalan melepas penat setelah hampir seminggu bekerja. Sama seperi yang sudah-sudah, Ayu awalnya menolak ajakan Rendi yang entah ke berapa ini. Tapi kali ini Rendi bersikukuh. Dia terus memaksa dan merengek pada Ayu yang akhirnya menyerah dan setuju.
Senyum Rendi terkembang lebar. Membayangkan Ayu yang terlihat cantik dan manis di saat bersamaan ketika memakai pakaian santai dan bukannya setelan atau kemeja yang biasanya Rendi lihat, jantungnya berdegup gugup. Astaga. Apa-apaan ini. Dia bukan abege kasmaran yang akan menyatakan perasaan pada cinta monyetnya. Kenapa Rendi bisa jadi segugup ini?
Rendi menapaki lantai teras dengan langkah mantap. Butuh beberapa kali pintu diketuknya sampai benda bercat cokelat kayu itu perlahan terbuka.
Mata Rendi harus turun setelah itu dan alisnya hampir menyatu atas rasa heran di keningnya. Bukan wajah yang ia harapkan yang kini memenuhi pandangan. Lantas siapa sosok mungil yang dihadapinya ini?
"Mencari siapa, ya?"
Suara kecil cempreng itu bertanya. Tampak heran akan Rendi yang bertamu sepagi ini.
"Ayunya ada?"
Dia sempat terdiam, tak menyembunyikan pula matanya yang terlihat menilai Rendi dari atas sampai bawah. "Ada."
...*...
"Hm. Iya, gak usah. Gue lebih suka naik bis kalo berangkat."
Dari seberang sambungan sana, Rendi berdecak pelan. "Kenapa gak sekalian pulang-pergi aja, sih?"
"Lo bukan sopir gue Rendi."
"Ya emang iya. Lagian lo gak bakal mampu buat ngerekrut gue jadi sopir, bayaran gue tinggi."
Tawa Ayu melantun dalam porsi kecil. "Maka dari itu gue antisipasi. 'Tar suatu hari tau-taunya lo malah nagih gaji. Gue miskin, asal lo tau."
"Ya makanya gue tawarin tumpangan gratis buat lo. Lagian sekalian menghemat ongkos. Bukannya lo demen ama yang namanya gratisan?"
"Iya sih, tapi tetep aja gue nggak mau." Ayu tetap menolak. "Emang kenapa sih, lo keukeuh banget?"
"Gue lagi beramal, Yunaira. Itung-itung sebagai penebus dosa gue waktu kuliah. Gue begajulan banget soalnya. Antar jemput lo lebih gampang daripada melakukan perjalanan penebus dosa kayak yang Sasuke lakuin."
Alis Ayu terangkat tinggi-tinggi. Rendi seperti itu di masa kuliahnya? Dari sikap baiknya selama ini, Ayu tak pernah menyangka sama sekali. Namun Ayu tak ingin membahas, sebentar lagi pemberhentian pertamanya. "Gue gak kenal sama Sasuke."
"Iya gue tau. Lo kan, cewek girly. Gak ada tampang-tampangnya manusia yang tau soal segala kehebatan Sasuke Uchiha."
Bagi Ayu, arah pembicaraan Rendi mulai melantur. Maka sebelum terlanjur semakin jauh, Ayu akan memutusnya terlebih dulu. "Udahan dulu ya, Pak Rendi. Jangan lupa nanti beli sempolan dulu sebelum jemput saya."
Telepon diputus secara sepihak oleh Ayu. Segera benda pipih itu masuk kembali ke dalam tas selempangnya.
Tarikan kecil dapat Ayu rasakan di sisi kemejanya. Ayu menoleh, segera menyondongkan badan ke samping. "Apa?"
"Itu om Rendi?"
"Iya."
"Nanti pulang jam berapa?"
"Kayaknya seperti biasa. Petang."
Kepala lawan bicaranya terangguk-angguk. "Boleh gak, Irene minta dibeliin gado-gado lagi sama om Rendi?"
"Boleh. Nanti dibilangin, ya. Om Rendi pasti mau beliin." Ayu tersenyum lalu seketika teringat sesuatu. "Nanti Irene pulang dijemput Mama lagi?"
"Enggak. Mama bilang mau ke rumah temannya. Irene juga kan, mau diajak main dulu sama om Jun setelah pulang sekolah."
"Hum!" Irene mengangguk semangat. Dia sudah tidak sabar ingin segera mengunjungi taman bermain seperti yang telah om Jun janjikan.
...*...
Sore kali ini melihat kehadiran Rendi di kantornya di luar jadwal pertemuan mereka- lagi. Sore sudah bisa menebak apa niatan yang mendasari rekan bisnisnya itu karena setiap hari tanpa telat, dia duduk di lobi dalam rangka menanti Ayu.
Sore sempat bertanya apa hubungan mereka berdua sampai bisa seakrab itu. Tetapi dia tidak dapat jawaban karena dia bertanya pada dirinya sendiri. Sore bergeming di tempatnya berdiri. Percakapan dua sejoli itu terdengar jelas sekali dari jarak yang hanya beberapa meter ini.
"Mana sempolannya?"
"Ada. Nih." Rendi terlihat memamerkan senyum dan keresek di tangannya dengan bangga. Kemudian tangan kurang ajar lelaki itu seenaknya merangkul pundak Ayu yang tak mengeluarkan gelagat tidak nyaman ataupun menolak.
"Gado-gado?"
"Ada juga."
Ayu tersenyum setelah itu. Langkah mereka berlanjut.
Sore tidak sadar saat kakinya berpacu cepat sampai di luar dan dia merasa bodoh setelah mencekal pergelangan tangan Ayu, lalu menjumpai wajah bertanya dari wanita itu. Apa yang baru saja dia lakukan?!
Ayu melepaskan kaitan tangan Sore cepat-cepat. "Ada apa ya, Pak?" tanyanya.
Sore mendengus. Ayu tidak sudi jika disentuh olehnya sedangkan Rendi dibiarkan merangkulnya tanpa beban saat mereka masih di wlilayah kantor, dan bersikap seolah-olah tidak peduli dengan tatapan bertanya dari rekan kerjanya. Memang dasar murahan.
"Hari ini kamu harus bantuin saya." Untunglah dia menemukan alasan yang logis dan segera mengenyahkan tampang bodohnya.
"Tapi Pak, sekarang kan, sudah bukan jam kerja." Ayu memprotes.
"Kamu protes karena saya ganggu acara 'pacaran' kalian?"
Kening Ayu berlipat tidak paham. "Maksud Bapak?"
"Saya tidak peduli apa yang kalian rencanakan setelah ini. Saya ingin kamu sekarang pergi ikut saya," cetus Sore dengan nada tak ingin dibantah.
Ucapan Sore terdengar seperti ultimatum, tapi Ayu tidak peduli. Dia masih bagian dari manusia di luar sana yang wajib memiliki waktu bebas. Termasuk waktu rehat dari cecaran kalimat menyakitkan dari manusia tak berperikemanusiaan seperti Sore. "Maaf, Pak, tapi saya-"
"Kamu mau saya pecat?"
Ayu memejamkan mata, menahan emosi yang menggunung dengan cepat. Selalu itu yang Sore gunakan sebagai ancaman. Sepetinya lelaki itu sangat tahu kelemahan Ayu.Tapi kali ini Ayu sudah muak. Dia tidak ingin melihat wajah Sore lebih dari jam kerja. "Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Tapi-"
"Nanti kamu saya traktir nasi padang. Sepusmu."
Gigi Ayu gemeletuk, beradu satu sama lain. Dia merapatkan matanya gemas. Manusia ini benar-benar! "Oke!"
Ayu menyerah. Sore sangat tahu secinta apa Ayu pada traktiran, gratisan dan nasi padang. Huft. Menyebalkan!
Sore menyeringai bangga pada Rendi yang sejak tadi hanya memperhatikan. Tahu sekali Sore kalau Rendi sejak tadi diam saja karena dia yakin Ayu akan tetap menolak. Tapi lihat, siapa yang menang saat ini. Sore tidak akan bisa dikalahkan oleh siapapun.
Ayu menghadap Rendi dengan wajah tak enak hati. Menggunakan kedua tangannya ia menggenggam salah satu telapak Rendi. Meremasnya sedikit, usaha agar lelaki itu setuju tanpa amarah. "Sori ya, Ren. Gue mesti ikut sama Pak Direktur." Ayu manyun sedikit. "Sori banget, ya."
"Tapi kan, lo berhak menolak. Ini di luar jam kerja," tutur Rendi santai tetapi berkekuatan besar sampai mampu memelototkan mata Sore yang sudah diketahui oleh khalayak bahwasanya lelaki tampan itu jarang sekali berekspresi selain tampang dinginnya yang menyeramkan.
"Ini kemauan Bos gue loh."
Rendi hampir memutar bola mata. Bilang aja lo tergiur sogokannya Sore. Padahal gue bisa beliin sebanyak apapun kalau lo minta. "Iya, ya udah."
Rupanya Rendi tidak punya daya besar untuk menolak tatapan memohon dari mata yang membesar itu. Ternyata dia lemah bila berhadapan dengan Ayu.
Ayu langsung tersenyum senang. "Makasih yaaaaa."
Lima langkah menuju mobil mewah milik Sore yang terparkir di basemant, gerakan Ayu terhenti saat telinganya mendengar suara Rendi yang memanggil dari arah belakang. Ia berbalik, dapat dilihat Rendi berlari menuju dirinya.
"Kenapa?"
Rendi meraih tangan Ayu dan memindahkan keresek yang semula dia bawa lari.
"Sempolan," ujarnya di antara laju napas yang berantakan.
"Oh, iya. Gue lupa. Makasih ya,"
Rendi belum menanggapi ketika teriakan Sore lewat. "Sampai kapan kamu mau berdiri di sana?! Saya gak suka nunggu! Apalagi itu kamu!"
Posisi Ayu yang memunggungi Sore memungkinkan perempuan itu untuk memutar bola mata dan mencibir Sore yang baru saja berteriak. Gak sabaran banget sih! "Baik, Pak. Maaf telah membuat Anda menunggu."
Ayu memasuki kursi penumpang bagian depan setelah barusan berkali-kali meminta maaf dengan suara pelan pada Rendi.
Tumben sekali Sore tak menjadikannya sopir dadakan. Ayu sedikit bersyukur untuk itu. Ia bisa mengambil waktu untuk beristirahat barang sejenak.
...***...
...***...