Ours

Ours
Bab Tiga - Yuna



Konsentrasi Sore teralihkan ketika mendengar bunyi debum pelan. Ayu masih ada di sana, menjadi pelaku penyebab terciptanya suara barusan. Kepala wanita itu terantuk meja akibat sang empu yang kelepasan terlelap.


Sore mendesah pelan. Padahal tadi dia sudah memperingatkan Ayu agar jangan berani-beraninya tertidur atau minimalnya menutup mata lebih dari durasi biasanya ia berkedip. Sore beranjak ke samping Ayu yang terlihat bergerak menyamankan kepalanya di atas meja. Mula-mula Sore mengernyitkan alis, dilanjut dengan kakinya menendang-nendang kaki kursi yang digunakan Ayu selagi berujar,


"Hei. Bangun." Terus begitu sampai kalimatnya ditambah jadi, "Woy! Bangun! Gue bilang bangun! Woy, kelinci!"


Sore geregetan sendiri melihat tidur Ayu yang seperti orang mati; tak dapat dibangunkan lagi selain oleh sinar mentari pagi.


Sekarang dia memikirkan bagaimana sebaiknya dia memperlakukan mayat hidup ini. Dia tidak tahu alamat rumah Ayu dan malas untuk mencari tahu. Dia juga tidak mau berusaha membangunkan lagi karena rasanya percuma saja.


Tubuh Ayu berakhir melayang dalam raupan kedua lengah kokoh Sore. Lelaki itu berderap menuju sofa dan membaringkan Ayu yang lelap sekali dengan empasan yang dapat dikategorikan tidak santai sama sekali. Masih berharap jika terguncang kuat Ayu akan terganggu dan membuka mata, Sore berdecak saat yang ia lihat perempuan itu malah mencari posisi ternyamannya di permukaan sofa. Kemudian tangan Ayu terangkat untuk memeluk dirinya sendiri.


Apa mungkin Ayu kedinginan? Tapi kan, dia pakai jaket.


Sore tidak tahu kenapa mau-mau saja mengecilkan AC dan menyelimuti tubuh meringkuk seperti jabang bayi tersebut. Sore tak segera beranjak. Ada magnet tak kasat mata yang memakunya di sana. Sore tak dapat menahan dirinya untuk menelusuri wajah yang terlihat lelah tersebut.


Kantin hari itu ramai. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan genk Sore yang duduk bergerombol di salah satu meja yang sudah diklaim telah resmi menjadi salah satu teritori mereka di sekolah.


Sore yang tadi tertawa-tawa oleh celotehan teman-temannya telah menghilangkan lengkung di bibirnya, menoleh ke satu arah.


Primadona sekolah yang biasanya bermulut ceriwis itu kini tertunduk lesu. Duduk menyudut, sendirian dengan tangan yang terus merapatkan jaket yang dikenakannya sebelum kemudian beralih memijat pelipis. Wajahnya pucat pasi, berhenti menampakkan semburat merah muda yang biasanya menghiasi pipi. Napasnya juga memburu. Berulang kali dia memutar bola mata, seperti orang yang sedang berusaha menghilangkan pusing yang teramat sangat di kepala.


Makanan di hadapannya masih utuh dan dia terlihat seperti orang yang membutuhkan makanan itu, namun tak sanggup untuk sekadar mengangkat tangan guna mengambil satu suapan.


Sore larut memerhatikan. Butuh tiga helaan napas untuk berikutnya Sore membuang tatapan sambil mendengus keras. Baru saja mereka bertemu pandang. Apa gadis itu tahu dirinya sedang diperhatikan?


Sore merutuk dalam hati. Apa yang dia lakukan? Merasa khawatir? Yang benar saja!


Dia membenci gadis itu!


Sore mengguncangkan kepalanya sebentar, mencoba mengenyahkan bayangan masa lalu yang kembali muncul setelah dia membuangnya jauh-jauh. Setengah mati dia berusaha melupakan perempuan ini dan sekarang, dia malah sedang tertidur pulas di ruang kerja pribadi miliknya dan baru saja Sore pandangi lamat-lamat.


Sore masih tidak menyangka hari itu dia menemukan Ayu sebagai sekretaris barunya, sehingga dia berusaha agar segera menendang wanita itu dari perusahaan. Tetapi, dewi fortuna sedang berpihak padanya lewat sang ayah yang sampai mau bersusah-susah membelanya.


Apa sebenarnya yang semesta rencanakan? Karma?


Sore berlalu. Menutup pintu dan menjemput kasur berukuran besar di kamarnya.


...*...


Ayu ke luar ruang meeting dengan wajah gembira. Lagi-lagi sukses. Keberadaan Rendi di ruangan yang sama entah kenapa bisa menambah mood Ayu. Lelaki itu sempat-sempatnya memberikan kepalan tanda semangat untuknya. Ayu tersenyum-senyum sendiri, tak tahan untuk segera menagih traktiran dari Indah; rekannya itu sudah berjanji. Sayang, dia belum bisa melaksanakan niat menggebu-begu tersebut sebab Rendi yang mencekal pergelangan tangannya.


Serta merta Rendi bicara. "Istirahat ini kita ke Kafe yang waktu itu, mau nggak?"


"Hmm. Sori. Tapi gue udah ada janji sama temen."


Rendi beraut kecewa walau sedikit. Tetapi alisnya yang menurun dan bibirnya yang berhenti menampilkan senyum membuat Ayu merasa tak enak hati. Jadi dia spontan saja menawarkan.


"Lo bisa gabung." Tiba-tiba Ayu jadi sedikit ragu ketika ingat sesuatu. "Kalau lo gak keberatan kumpul bareng karyawan."


Namun Rendi langsung ceria. Tanggapan yang jauh melebihi apa yang Ayu perkiraan semula. "Oke. Di mana?"


"Kantin."


Dan Ayu diseret dari sana. Tepat di hadapan kolega yang lain dan juga Sore.


...*...


Saat ini, pertama kalinya Sore memasuki area kantin kantor hanya untuk dibuat ingin memutar badan secepatnya. Begitu masuk, pemandangan yang ia lihat berupa Ayu, Rendi dan beberapa karyawan yang duduk semeja. Mereka cekikikan. Bahkan Rendi terbahak sampai langit-langit mulutnya terlihat jelas.


Sore mendengus. Hendak memutar badan saat tiba-tiba saja Rendi menyerukan namanya. Sore sempat merutuk. Bagaimana bisa Rendi meneriakinya dengan panggilan, "Sor!"


Sore menarik-ulur napasnya. Berusaha memenangkan diri sebelum bergerak mendekat dengan wajah yang dibuat kalem. Beda halnya dengan yang ada di meja sana, mereka menangkap ekspresi Sore sebagai wajah lempeng khas pangeran es yang berwatak dingin.


Begitu Sore mendarat dengan mulus di salah satu kursi, tekanan udara di sana seketika berubah drastis. Dari yang awalnya sehangat suasana piknik di musim panas menuju kebekuan di musim salju. Canggung mengambang lama sekali sampai tak ada yang berani angkat bicara. Ayu melengos, karyawan yang lain menunduk takut dan Rendi sedang sibuk mengulum tawa dalam mulut. Baginya ekspresi rekan-rekan Ayu sangatlah lucu. Apa sedingin dan sesangar itu Sore di mata mereka?


Suasana tak berubah, malah atmosfer di sana semakin pekat. Rendi tak tahan lagi, jadi dia berceloteh guna memecah keheningan yang sempat bertahan lama.


"Dih. Diem-dieman. Padahal barusan ramenya kayak pekerja sirkus."


Rendi bicara lagi. Kali ini hanya ditujukan pada orang di sampingnya. "Sor, lo juga kenapa diem kayak chicken paeh* dah."


Sore tak menanggapi. Matanya menyorot tajam Ayu yang masih senantiasa menatap ke area luar lewat kaca membentang yang ada di sampingnya. Tak lama setelah itu, Sore beranjak begitu saja tanpa sempat berkata. Dan semua yang merasa tercekik di sana lega seketika saat derit kursi Sore terdengar.


"Bwaaaah. Rasanya gue kayak kecekek waktu si patung es berjalan itu duduk di sini. Brrr. Nyeremin."


Dean spontan berujar penuh kelegaan.


...*...


Sore hampir selalu memutar bola mata tatkala melihat Rendi yang menempeli Ayu tak ubahnya bak benalu di pohon mangga.


Keinginan menahan Ayu untuk dirinya sendiri sangat besar adanya. Ayu adalah sekretarisnya, bukan sekretaris Rendi. Namun saat Ayu terlihat bebas berekspresi dan tertawa lepas saat bersama Rendi, Sore entah kenapa merasa kehilangan hak dan hanya bisa mendengus kasar lalu pergi. Tetapi seperti yang sudah diketahui, dia egois.


"Kamu temani saya makan siang ini." Sore mencekal tangan Ayu yang berwajah ceria dan hendak menuju kantin. Wanita itu sempat kaget, dan bertambah saat ia terseret tanpa bisa melawan setelahnya.


Meja di sebuah restoran mewah terisi oleh mereka berdua tak sampai sepuluh menit kemudian akibat cara berkendara Sore yang ugal-ugalan.


Ayu tak protes, tak juga angkat bicara. Kepalanya tertunduk fokus pada makanan di depannya.


Perhatian Ayu teralihkan. "Saya tidak suka sayur."


Sore untuk sepersekian detik hanya menatap Ayu, sebelum dia memutus tatapan yang kemudian dialihkan pada makanannya sendiri. Ayu sendiri sudah tak aneh lagi dengan sikap Sore yang seperti ini.


"Yuna."


Sore bernada memanggil tetapi entah pada siapa. Ayu mengangkat wajah, pandangan mereka malah beradu. Ayu sedikit terhenyak karena tak mengantisipasi hal itu saat tadinya dia mengira Sore akan tertoleh ke satu arah. Apa Sore baru saja memanggilnya?


"... Saya?" tanyanya sedikit ragu.


"Memangnya siapa lagi? Cuma kamu yang ada di depan saya."


"Tapi kan, saya Ayu."


Sore memutar bola mata jengah. "Nama kamu kan, Yunaira Kiazmi."


Ayu mengangguk-angguk kecil. Dia sedikit tersanjung karena setelah sekian lama Sore masih mengingat nama lengkapnya. Tapi kalau boleh dibilang, Ayu lebih suka dipanggil dengan nama jepangnya: Ayumi, sebagaimana keluarganya memanggil, daripada disapa dengan Yuna. Rasanya aneh sekali.


"Tapi Bapak sebaiknya panggil saya 'Ayu' aja. Orang-orang juga manggil saya begitu. Lagipula saya kurang nyaman dipanggil 'Yuna'."


Wajah Sore memang sedingin itu. Dia tak berekspresi sama sekali. "Saya tidak peduli dengan orang-orang. Dan suka-suka saya mau memanggil kamu seperti apa."


Kepala Ayu kembali terangguk-angguk, namun kali ini dengan setengah hati. Dia kesal, masyaallah. "Iya, baik. Suka-suka Bapak."


Percakapan berhenti di sana. Sore terlalut dalam gaya elegannya memotong daging sapi di piring sementara di sisi lain sedang ada kepulan asap tebal dari puncak kepala Ayu, embumbung seperti gunung yang bersiap memuntahkah lahar. Ayu terus menggerutu dalam hati sehingga ekspresinya terikut kusut. Selama masih berada di sana, Ayu menghabiskan waktu dengan gaya makan serampangan, tatapan sengit dan dada terasa terhimpit.


Geram sekali menghadapi Sore yang suka seenaknya.


...*...


"Ini."


Ayu menerima sodoran benda dingin yang sempat mengenai ujung hidungnya. Dia mendongak, mengucapkan terima kasih pada Sore yang berdiri menjulang di depannya.


Dalam perkiraan Ayu, selepas makan mereka akan segera ke kantor karena keduanya ke luar dari restoran di waktu menjelang usainya jam istirahat. Bukannya terduduk di sebuah meja bundar pada satu pelataran Mini Market begini.


Beruntung setiap meja dilengkapi payung, jadi Ayu tidak terlalu kepanasan dan es krim di tangannya tidak dengan mudah mencair.


Ayu berdecap senang ketika satu jilatan es krim masuk ke dalam mulutnya. Ya Tuhan, Ayu tidak pernah tahu es krim ini rasanya enak sekali! Kalau tahu begitu, sejak kemarin-kemarin dia memilih es krim ini saat berkeinginan memakan yang dingin-dingin daripada memilih varian yang sama terus.


"Kenapa kita gak segera ke kantor, Pak? Kita sudah telat."


"Kamu gak perlu khawatir. Sekarang kamu pergi bareng saya. Beda halnya kalau kamu perginya sama Rendi."


Ayu menangkap nada aneh di kalimat terakhir Sore. Tapi dia tidak tahu padanan yang tepat untuk mengungkapkannya. Pokoknya aneh. "Tapi Pak, kita tidak boleh terlam-"


"Yuna. Kantor itu milik saya."


"Milik ayahnya Bapak." Ayu cepat-cepat mengoreksi.


Bolehkan Ayu bertanya mengapa sekarang Sore menegakkan badan yang tadinya ia sandarkan ke kursi? Apa Sore bisa tersinggung semudah itu?


"Jadi maksud kamu, kalau kamu perginya sama ayah saya, baru kamu bisa tenang?"


Ayu terperangah. Kenapa Sore malah berpikir sampai ke sana? Dia mengerjap-erjap terlebih dulu sebelum berucap, "Bukan seperti itu maksud saya, Pak."


Sore memicing, tapi dirinya yang kembali menempelkan punggung ke sandaran kursi berhasil membuat Ayu tenang walalu sedikit. "Lagian tinggal dua tahun lagi perusahaan itu jadi milik saya." Sore mendadak berwajah angker. "Dan saat itu tiba, saya gak akan pikir dua kali buat segera nendang kamu dari hadapan saya."


Ekspresi Sore persis -tidak, bukan persis tapi memang menguarkan aura penuh dendam. Ayu yang menyadari itu hanya membisu kehilangan kata-kata.


Mulai dari sana, Ayu perlahan-lahan merasa tidak nyaman dalam duduknya. Dia bergerak gelisah. Tidak tahan lagi kalau harus berlama-lama berduaan dengan Sore.


Ayu hampir melepas napas lega ketika mengira bunyi kursi digeser yang hadir dari seberang mejanya berarti mereka akan segera beranjak ke kantor, tetapi dia salah. Sore berpindah tempat dan sebelum itu terjadi dia sempat berkata,


"Saya mau merokok dulu di meja samping. Kamu duduk di sini, jangan dekat-dekat."


Ayu berwajah bingung. Belum bisa menangkap maksud Sore.


Sore yang diberi ekspresi kebingungan dengan kepala memiring ke samping begitu mendecak kesal. "Bukannya kamu gak tahan sama asap rokok?" tanyanya dengan intonasi sarkas. Setelah itu dia meninggalkan Ayu.


Itu jelas sebuah pernyataan. Pernyataan tentang Sore yang mengetahui Ayu tidak suka asap rokok dan -sebentar ...


Dari mana Sore tahu dia tidak suka saat ada asap rokok di sekitarnya?


Ayu merenung cukup lama. Merangkai segala kemungkinan di otaknya. Sore masih ingat nama lengkapnya, ketidak sukaannya, kebiasaanya .... Apa itu berarti Sore juga mengingat kejadian buruk waktu itu?


Ayu seketika berwajah terguncang. Tentu saja Sore masih ingat! Itu sebabnya Sore selalu bersikap seperti seseorang yang sangat benci padanya dengan melancarkan siksaan-siksaan agar dia tidak tahan dan angkat kaki dengan sendirinya!


Ayu menggigit bibirnya cemas. Bagaimana ini?


...***...


* -Chicken : Ayam


-Paeh (bahasa sunda): Mati