Ours

Ours
Bab Enam Belas - Semangka Lima Kilometer



"Kenapa kamu diam saja?"


Ayu menolak, membawa tubuhnya memiring ke samping, memunggungi Sore yang menjulang dengan setelan piyama garis-garis vertikal abu-abu putihnya.


"Yunaira, ada apa dengan kamu?" Sore mendesak, suaranya terdengar seperti orang yang berusaha mencoba bersabar. Tapi kemudian dia setengah membentak sebab Ayu tetap tak menggubris. "Yuna!"


Ayu bereaksi hanya dengan kerutan yang makin dalam di dahi dan lirikan sinis lewat ekor mata. Lalu kembali ke posisi semula, sedikit menarik selimut juga.


Sore geram, sekali ia menyentak tubuh Ayu dan kini pandangan mereka bertemu. "Kamu kenapa? Sakit lagi?" tanyanya lagi dengan suara yang kembali ke intonasi tenang.


Ayu merengut, persis seperti saat dia marah akan sesuatu. Namun akhirnya dia memberi keterangan atas tindakannya. "Ini tuh namanya saya lagi ngambek, Bapak!" kesal Ayu di depan wajah Sore yang terlalu condong ke arahnya- menurutnya. Ayu mengernyit terganggu, jarak mereka terlalu dekat. Ingin rasanya ia mendorong wajah atasannya itu menggunakan telunjuk.


Sore menarik diri, lalu memicing. Tak tertinggal, ia melipat tangan di dada. "Bukannya di sini seharusnya saya yang marah? Ingat, tadi kamu muntah ke pakaian saya?"


Rekaman kejadian tadi sore melesat dari belakang kepala menuju kening dalam kecepatan yang setara dengan kereta shinkansen. Ayu menipiskan bibir, ujung telinganya memerah malu. "Itu, kan saya gak sengaja! Lagian salah Bapak sendiri malah nyamperin saya saat saya siap-siap mau muntah! Perut saya mual banget, tau!" serunya defensif, meski kesan dalam kalimat terakhirnya tak jauh bentuknya dari sebuah aduan. "Terus sekarang saya mau semangka! Bapak pelit banget gak kasih ke saya!"


Sore memutar bola matanya. "Ini sudah malam, Yuna. Saya harus cari di mana?"


Wajah Ayu makin berlipat. "Ya, di supermarket! Pasti ada!" Setelah itu, Ayu mengubur dirinya lagi ke dalam selimut tebal berwarna cokelat tersebut.


Sore menyerah, memilih pergi dari sana. Dia baru tahu kalau Ayu akan menjelma jadi bocah super manja namun sangat menyebalkan seperti ini jika sedang sakit.


"Di mana supermarket terdekat sekitar sini?" tanyanya begitu sampai di ujung tangga dan dihadapkan seorang Maid. Sore memakai mantel guna merangkap pakaian tidurnya. Ia malas mengganti. Hanya ke supermarket ini, pikirnya.


"Supermarket terdekat sekitar lima kilometer."


Sukses memelototkan mata Sore. "Yang bener aja, astaga!" erangnya kesal.


Seharusnya tahun lalu ketika ia berniat membangun mansion ini, ia juga memperkirakan jarak ke swalayan terdekat. Inilah akibat yang harus ditanggung ketika sekarang pergi berbelanja sendiri, ia harus menahan kesal sepanjang mengemudi.


Kenapa jarak supermarket saja cukup jauh? Seingatnya ia memilih tempat yang tak terlalu jauh dari pusat kota.


...*...


Ayu merapatkan jaket yang ia pakai. Angin malam terlampau dingin, tak mampu dihalau lapisan cukup tebal yang ia ambil dari gantungan dan entah milik siapa. Mungkin ini kualat, angin masih bisa menusuk kulitnya dengan ujung ranting tajam tak kasat mata, sampai pundaknya menggigil kecil.


Bibirnya senantiasa bersungut-sungut. Jelas merupakan track record sebagai yang terpanjang semasa hidup, sebab keluhannya berceceran di sepanjang jalan. Ayu mengomelkan banyak hal: tetang kepalanya yang masih tersisa pening, melebih-lebihkan perkara suhu yang turun sampai katanya terasa hampir menyentuh titik beku, dan supermarket yang tak jua masuk jarak pandang. Ia ingin semangka, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan mendapat cecaran dari Sore soal dirinya yang mengendap-endap pergi tanpa pemberitahuan. Salah Sore sendiri tidak memberikan apa yang ia inginkan, Ayu membela diri dalam hati. Walau tak mau mengakui, Ayu sadar dia memang sedikit berlebihan. Sikapnya yang seperti ini jelas kekanakan. Ayu tahu itu, tetapi dia tetap ingin semangka!


Capek menggerutu, Ayu melarikan tatapan dan kontan merasa agak merinding. Tak menyangka jalanan di tempat ini bisa sangat sepi di malam hari. Jujur, Ayu seorang penakut. Ia bisa terserang panik walau hanya mendengar suara langkah kaki di belakang punggungnya.


Itu kemungkinan yang tak mau Ayu temui, tetapi malam ia dapati. Ayu meneguk ludah, terdorong sangat susah karena takut melanda. Bulu kuduknya berdiri, Ayu merinding memikirkan siapa yang berkemungkinan tengah berjalan di belakangnya kini. Tak mampu berprasangka baik, napas Ayu tertarik panik. Kakinya dipacu separuh berlari dan apa yang ia khawatirkan benar adanya. Sosok di belakangnya mengejar.


"Ap -apa mau kamu?" Suara Ayu muncul dengan keberanian yang telah menciut drastis.


Tawa menyambut. "Gue mau cewek cantik kayak lo." Menyeringai lagi sembari tangannya menelusup di saku jaket kulit, kembali dengan sebilah pisau lipat yang ditodongkan.


Ayu melotot. "Ja- jangan!"


Tak henti-hentinya ia menyeringai. Kini dicampuri gelegar tawa menakutkan. "Jangan?" oloknya. "Kenapa jangan? Gue mau tubuh lo yang layanain gue malam ini."


Kalimat laknat itu. Ayu telah sepenuhnya gemetar, bercucuran keringat dingin. Ia bersusah payah memundurkan tubuh, berusaha mencari jarak aman dari pisau yang berada di antara dua alisnya.


Tetapi itu percuma, karena kini lengannya dicengkram kasar dan dipaksa berdiri. Teriakan takut darinya membelah sunyi malam, mencari bala batuan di antara bangunan-bangunan yang nyaris seluruhnya adalah toko yang telah tutup.


Ayu terseret, memohon dalam tangis namun sosok itu terlalu bengis. Yang ia rasakan selanjutnya adalah sensasi terlempar pada salah satu gang yang minim penerangan.


"Sa- saya mohon. Jangan apa-apakan saya." Terisak-isak, mundur penuh gentar lalu memeluk tubuh yang kemudian terhenti karena tembok membatasi.


Sosok itu tak tampak mendengarkan, masih sibuk melepas lapisan yang menutup tubuh bagian atasnya sembari sekali-kali memainkan ekspresi, mengejek Ayu yang tersudut bak mangsa yang nyawanya di ujung tanduk. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat Ayu berharap nyawanya tanggal di sana saat itu juga, daripada harus menerima pelecehan dari lelaki ini.


"Sayangnya gue gak bisa jamin kalau lo gak bakal diapa-apain malam ini," Dia tak habis-habisnya tertawa, namun kali ini tak sempurna sebab tubuhnya terpental di tembok dengan sangat keras. Bunyinya membuat Ayu menekuk lutut, merasa ngilu sendiri.


"SIALAN!" Lelaki itu memaki, pada siapa saja yang telah ikut campur dan kini berurusan dengannya, yang ternyata seorang Kakek dengan ubannya yang terlihat samar di bawah cahaya.


"Jangan berbuat tidak senonoh. Apalagi melecehkan seseorang di wilayah ini," kata Kakek itu tenang.


"APA URUSAN LO?!" Lelaki muda tersebut menantang berang, meludahkan saliva yang tercampur darah.


Kakek berpakaian agak lusuh ini terlihat tak gentar barang sedikit pun. "Saya sebetulnya tidak punya urusan sama kamu, tapi kamu yang cari perkara."


Lantas tak dapat dibantahkan, Kakek itu diserang dengan membabi buta. Namun tak disangka, tiada satu serangan pun yang mengenainya. Dengan tubuhnya yang terlihat renta, gerakan Kakek itu sangat gesit. Pun ketika tinjuan-tinjuan darinya yang tepat sasaran, melumpuhkan lawannya dalam waktu yang terbilang singkat.


Sementara pergulatan yang terlihat tidak imbang tersebut selesai dan ditutup oleh suara gedebuk di tanah, Ayu masih tak ingin melihat, kepalanya tertunduk di atas lutut, pundaknya bergetar karena derai tangis.


"Kamu tidak apa-apa?" Kakek itu menyentuh pelan pundak Ayu, lantas sedikit tersekat saat Ayu menepis tangannya kasar, berposisi bertahan dengan mata yang kalut oleh rasa takut dan ... tekanan.


Kening keriput Kakek itu makin belipat. Ada apa dengan wanita ini? Kenapa seperti tidak bisa lagi mengenali yang mana musuh dan bukan? Kentara sekali dari matanya yang bergetar, saat ini dia mewaspadai semua orang.


...***...