Ours

Ours
Bab Dua - Teman Lama



"Woaaaaaah capeeek ...."


Ayu mengerang. Meregangkan kedua tangannya ke atas sambil menggeliat-liat sedikit.


Sekotak susu pisang yang semula masih berada di genggaman kini berpindah ke dalam perutnya. Ayu mengambil dalam satu tegukan dan isinya tandas seketika. Lupakan kenyataan tentang omelan Dean yang menunggunya di kantor sana, Ayu merampok susu itu dari meja Dean karena terpaksa. Kepalanya mumet menghadapi omelan panjang dari Sore -yang Ayu baru ketahui kalau ternyata lelaki dingin begitu bisa mempunyai sisi cerewet juga- dan dia haus. Makanya sekotak susu yang tak pernah absen ada di meja Dean jadi korban tangannya selagi ia melesat lewat.


Ayu sengaja memisahkan diri dan tidak berada di kantin seperti biasanya untuk hari ini. Dia ingin sendiri dan untungnya saat dalam perjalanan pulang kemarin, dia menemukan taman dan hari ini telah sukses jadi tempat pelariannya sampai kedepannya.


Ayu mendesah pelan. Jika dipikir-pikir, hari ini tepat satu minggu dia bekerja di bawah kuasa Sore dan rasanya melelahkan. Lelaki itu tidak pernah berhenti memarahinya atas sekecil apapun kesalahan yang ia perbuat. Dalam jangka waktu sesingkat ini, rasanya Ayu sudah hampir mencapai tahap "kebal" terhadap segala perlakuan tak mengenakkan dari atasannya itu. Sore yang terkesan mencari-cari letak kesalahan Ayu, geram sekali melihat keberadaan Ayu di sekitarnya, tentu dapat Ayu tangkap dengan jelas. Tetapi Ayu mencoba untuk tidak menanggapi banyak, dia harus tetap bertahan demi masa depan yang ia perjuangkan. Sang CEO yang selalu memperhatikan gerak-gerik Sore sangat membatu Ayu agar dia tidak ditendang dengan mudah dari perusahaan tempatnya bekerja.


Indah pernah berkabar kalau sang CEO memarahi Sore karena tabiatnya yang suka semena-mena memecat seseorang yang sama sekali hanya karena masalah sepele. Jadi kalau kesalahan yang Ayu lakukan masih dikategorikan sepele, Ayu merasa masih aman di sini. Sore tidak akan memecatnya begitu saja setelah mendapatkan teguran keras. Walau begitu, Ayu tahu dia tidak boleh lengah apalagi memberikan Sore celah untuk bisa menendangnya dengan mudah. Selelah dan sekesal apapun, Ayu harus tetap bertahan karena menurutnya pekerjaan ini bisa menjamin dia ke depannya.


Merogoh saku blazer yang dikenakannya, menyalakan ponsel dan segera saja membuka aplikasi galeri. Menggulir terus sampai akhirnya sebuah senyum terbit di bibirnya. Hati Ayu selalu membaik sekaligus melambung bila sudah melihat potret dia. Rasa menghangat itu selalu hadir dan membuat Ayu optimis kembali. Senyumnya makin bertambah banyak kala satu panggilan telepon diterimanya.


Ayu tertawa begitu suara si penelpon merangsek ke telinga. Seruan ceria yang sangat Ayu rindukan keberadaannya. Pun pelukan hangat yang tak pernah ia dapatkan lagi dalam beberapa waktu terakhir. Terlepas dari semua itu, mendengar suaranya saja Ayu merasa membaik dengan cepat. Lelahnya menguap sampai tak bersisa.


"Iya ...." Tawa Ayu terus berderai di tengah taman kosong dan guyuran terik matahari yang tak begitu membakar hari ini.


...*...


Senyum Ayu telah mengempis, tawanya sudah surut dan kepanikan memenuhi wajahnya kini. Dalam hitungan menit dia bisa terlambat masuk kantor. Padahal baru saja dia bertekad tak akan membiarkan Sore menemukan celah untuk bisa memecatnya lagi.


Tergopoh-gopoh dia berlari. Sembarangan menyebrang di zebra cross dan akibatnya dia tidak menyadari kedatangan satu mobil dari arah kanan. Ayu baru menyadari ketika mobil itu sudah tak berjarak jauh dengannya. Mudah memikirkan dirinya yang terempas di aspal jalan dan berakhir di rumah sakit, tetapi kemungkinan yang melesat secepat kilat di pikirannya itu lenyap karena sampai sekarang Ayu merundukkan badan dan masih bisa mendengar detak jantungnya yang sangat keras di telinganya sendiri.


Napas Ayu tertahan. Tidak berani menegakkan badan dan mengetahui apapun itu yang terjadi sekarang. Wajahnya pucat pasi dan dia masih sangat syok. Barusan dia hampir tertabrak.


Ayu masih terdiam sampai guncangan keras dirasakan badannya. Setelah itu pendengarannya yang sempat meredup kembali jelas. Satu seruan panik berada tepat di sampingnya. Ayu meneleng sedikit, menjumpai tangan besar masih berkerja mengguncang-guncangkan tubuhnya. Barulah setelah merasa nyawanya baik-baik saja, Ayu mengambil napas banyak-banyak.


"Mbak! Mbak! Mbak gak papa?!"


Ayu menaikkan pandangan. Menemukan sorot khawatir yang teramat kentara. "... Saya ... baik."


Helaan napas jelas terdengar di telinga Ayu. "Syukurlah ...."


Orang itu bicara lagi. "Mbak, mau saya antar ke rumah sakit?" Nada khawatirnya masih ada.


Dan begitu saja, Ayu mendadak teringat wajah berekspresi jengkel milik Sore yang membuat dia melotot seketika. Orang di hadapannya dibuat kaget, takut ada sesuatu hal buruk yang terjadi dengan wanita ini tetapi tak lama, karena dia langsung bingung begitu Ayu ngacir tanpa berkata apa-apa.


...*...


Orang itu Rendi. Rendi Segaara yang tidak pernah Ayu kira bernama belakang Wiraatmadja. Dan merupakan rekan bisnis Sore.


"Sori banget Yu, soal yang tadi di jalan. Soalnya gue buru-buru, jadi gak liat kalau lampu udah merah."


Ayu tertawa hambar. "Gak papa kok."


"Gak papa, tapi lo bikin jantung gue jatoh ke tanah karena ekspresi mengerikan lo dan lo malah ngibrit gitu aja."


Ayu mencengir. "Tapi sekarang lo masih hidup." Ucapannya berlanjut dengan, "Makasih juga ya, lo udah mau belain gue tadi di depan pak Direktur."


Rendi menggedikkan bahu. "Emang lo nggak salah, kan? Lo gak bakal telat kalau gak hampir gue tabrak."


Ayu menanggapinya dengan mengangguk-anggukan kepala.


Iya. Laki-laki bernama Rendi inilah yang berurusan dengannya di jalan tadi. Dan kenapa mereka bisa tiba-tiba akrab?


Karena Rendi teman satu kelas Ayu waktu SMA. Tadi keduanya tidak saling kenal karena sudah lamanya mereka tidak bertemu dan juga karena suasananya cukup genting, keduanya hanya fokus pada kepanikan dalam diri. Juga karena intensitas percakapan mereka di kelas dulu sangat minim. Mereka hanya sebatas mengenal dan yang paling penting, dulu Rendi ini si kutu buku yang culun. Kacamata bulat tebal adalah ciri khasnya. Tabiatnya pendiam dan jangan bersosialisasi. Sedangkan sekarang, cowok yang juga dulunya kurus kerempeng itu menjelma jadi lelaki tinggi tegap, tampan dan tanpa bintik-bintik merah yang memenuhi wajahnya. Pantas bagi Ayu untuk tidak mengenalinya sama sekali.


"Jadi lo kerja di tempatnya Sore?" Rendi berucap lagi setelah menyeruput kapucino di gelasnya.


Kedua bahu Ayu terangkat. "Ya, seperti yang lo liat."


Ayu mencibir. "Bukannya dia udah parah banget sejak dulu?" Kalimatnya bernada sanksi.


"Iya. Tapi sekarang lagi jalan dari tahap parah banget ke memprihatinkan."


"Bener banget." Kali ini Ayu setuju dengan ucapan Rendi. Sore memang memprihatikan. Yah, memang dasarnya preman sekolah.


Keterdiaman menguasai mereka cukup lama, namun hal itu bukan sesuatu yang membawa canggung kepada keduanya. Rasanya masih nyaman-nyaman saja ketika mereka sibuk dengan pikiran sendiri. Ayu yang sibuk memperhatikan lalu-lalang di area luar Kafe dan Rendi yang terdiam entah memikirkan apa.


"Eh. Ngomong-ngomong, lo udah nikah belom?"


Ekspresi Ayu berubah sedikit, tapi tak sampai diketahui Rendi. "Belum."


Rendi mengangguk. "Sama dong. Yah, lagian baru dua tiga, kan. Mending nikmati aja dulu. Mikirin biaya hidup sendiri aja udah pusing gak sih. Apalagi nikah." Rendi bergidik. "Gue belum kepikiran sampe sana."


Ayu tersenyum canggung, mulai tak nyaman dengan arah pembicaraan ini. "Hm, iya. Pasti pusing," jawabnya setengah ragu.


Sepertinya kali ini Rendi cepat menangkap ekspresi Ayu, sehingga dia membelokan topik ke hal lain. "Daripada pusing, mending akhir minggu jalan bareng gue."


Ayu terkesiap sebentar. "Hah?" Lalu menolak. "Enggak ah. Gue pasti disibukin sama kerjaan yang gue bawa ke rumah."


Lagipula mereka baru bertemu beberapa jam lalu. Ini saja dia mau memenuhi ajakan Rendi untuk ngobrol di Kafe langgananya ini karena Rendi yang ternyata punya watak pemaksa. Belum lagi wajah bertanya dari rekan-rekannya saat mereka ke luar kantor bersama dan delikan dari Sore tadi tidak pernah mau hilang dari ingatannya. Masa' tiba-tiba mereka jalan-jalan bareng? Meski sudah saling kenal dan dengan percakapan ini Ayu yakin mereka akan akrab seterusnya, tetap saja akan canggung rasanya buat Ayu jika harus bepergian seperti dua orang yang sudah sangat akrab dengan Rendi secepat ini. Dan Ayu tak mau terjebak dalam kebingungan nantinya kalau mereka benar-benar berakhir canggung.


...*...


Ayu tidak menyesal datang mengenakan jaket hoodie berwarna merah muda dengan aksen telinga kelinci ini meskipun Sore sempat mendelik sebal kepadanya.


Ayu sampai sekarang masih memikirkan kenapa dia menyanggupi titah dari Sore yang mengharuskannya datang tengah malam begini. Dalam waktu lima belas menit pula. Taksi sudah tidak beroperasi jadinya dia terpaksa menggedor pintu tetangga dan dengan tidak tahu etikanya dia datang membawa niat ingin meminjam motor si tetangga. Beruntung, dia dan Bu Luluk sudah sangat akrab. Setidaknya Ayu dulu sering menemani wanita empat puluh tahunan itu mengghibah di teras rumah.


"Ini teh hangatnya." Ayu meletakkan gelas di dekat siku Sore yang tengah fokus pada layar laptop.


"Nggak-"


"Nggak kemanisan kok, Pak."


Sore diam tak menanggapi. Ayu berderap menuju sofa yang ada di sana. Kantuk yang semula lenyap kini mulai kembali menggelayuti kelopak matanya. Ia menoleh pada satu arah, pukul satu dini hari. Tangannya terangkat memijat pelipis. Pusing menderanya akibat tadi dia terbangun dengan rasa kaget mendengar ponsel yang meraung menyampaikan sambungan dari Sore.


"Kenapa kamu malah duduk di situ?"


Meski tak menatapnya sedikitpun, dari balik punggung yang kali ini terlihat menurun lelah itu, Ayu tahu kalau Sore berwajah masam. Jadi dia bergegas menghadap dan mengambil tempat di sebelahnya.


Walaupun telah berkata demikian, keberadaanya Ayu tak digubris segera oleh Sore. Ayu manyun karena rasa kantuknya tak mau hilang juga dan di sini dia malah diabaikan. Lalu apa gunanya lelaki itu memutus mimpi indahnya dengan kalimat "ini sangat genting"-nya kalau Ayu malah berakhir tanpa guna seperti ini?


Ayu memutar bola mata saat menemukan wajah Sore yang sangat serius. Tumpukan berkas-berkas itu menyebalkan sekali terlihat. Apa Sore tidak muak menghadapinya lagi setelah seharian memeras otak di kantor guna menyelesaikan kertas-kertas berharga milyaran tersebut?


Mengingat gagasan "milyaran", Ayu sempat-sempatnya berpikir bagaimana kalau uang milyaran itu masuk ke rekening pribadinya. Hah. Dia tidak usah susah-susah makan hati menghadapi kearoganan Sore. Kenapa manusia baik sepertinya harus terlahir dari keluarga melarat sedangkan manusia sombong seperti Sore selalu saja mendapatkan tempat tinggi dalam strata sosial.


"Emangnya gak bisa dikerjain besok aja?" Ayu terkesiap. Apa dia baru saja mengucapkan isi pikirannya?! Ya Tuhan! Habis sudah dirinya!


Ayu sigap menunduk tatkala jemari Sore berhenti di papan ketik. Lelaki itu melepas kacamata yang membingkai di wajahnya, lalu menatap Ayu sengit. "Nggak bisa. Ini buat meeting besok."


Ayu hanya mampu mengangguk terpatah-patah.


"Cepat bantu saya menyelesaikan ini. Dari tadi kamu cuma diam aja."


Ayu sukses memutar bola matanya -masih sambil memunduk, makanya Ayu berani. Siapa yang tadi mengabaikan keberadaannya? Kalau boleh memilih, Ayu lebih suka terdampar di lautan kapuk murah di kamarnya daripada berada di ruang kerja pribadi berisi barang-barang mahal ini.


"Baik, Pak."


...***...