
Ayu menunduk sedalam yang ia bisa. Dia yakin seratus persen kalau kepalanya sekarang sedang dihujani tatapan dari tiga orang lain yang kini duduk satu meja dengannya. Ayu mau pulang saja, Ya Tuhan.
Wanita paruh baya dengan pakaian dan gaya luar biasa anggun di sana membuka percakapan dengan pertanyaan berupa, "Kamu Yunaira, kan? Sekretarisnya Sore yang waktu itu juga pernah nginap di sini?"
Tolong jangan diperjelas. Ayu meringis dalam batin. "I-Iya Nyonya," jawabnya sepenuh gugup.
Tidak tahu saja dia kalau kelakuannya membuat sang ratu rumah tersenyum geli di tempatnya. "Sore maksa kamu kerja rodi lagi, ya?"
"Ma." Suara Sore terdengar memperingatkan.
"Apa?" Sementara suara Mamanya terdengar menantang.
"Aku mempekerjakan dia dengan upah yang sesuai ya, Ma."
Wanita itu mendecih. "Upah sesuai yang mananya?" katanya. "Kamu harusnya kasih dia upah sebesar yang kamu terima. Dia begadang terus gara-gara kamu."
"Mama berlebihan." Sore menyahuti masih dengan pembawaan khasnya yang sangat datar. "Lagian dia gak pernah lembur. Yang ada malah ngorok."
Ayu tersedak di tempatnya. Segera tangannya menyambar segelas air di dekat siku tanpa peduli itu milik siapa. Tapi sepertinya untuknya.
Sore mendengus menanggapi tingkah Ayu. Sedangkan sang Kepala Keluarga yang tadinya berwajah lempeng seperti Sore, kini tersenyum geli. Dia sudah tidak tahan ingin menimbrung. "Kamu gak usah kaku begitu. Kita gak bakal potong gaji kamu atas semua pelayanan yang kamu terima selama di sini."
Sang isteri memutar bola matanya jengah. "Kok, malah ke situ sih, bahasannya? Apa lagi bahasanya, pelayanan? Dikira ini hotel." Beliau mencibir.
Wajah pria yang telah mengoleksi sedikit uban di rambutnya itu tercengang. "Loh, emangnya kenapa? Papa maunya ngomongin itu." Tatapannya beralih pada Ayu yang curi- curi pandang atas percakapan mereka berdua. "Iya, kan, Yunaira?"
Ayu gelagapan seketika. "Eh. I-Iya Pak."
"Tuh. Orang cantik aja gak protes kok. Masa Mama-"
'"Yang gak cantik malah protes." Sang isteri menyambar. Melanjutkan kalimat itu dengan nada jengah, seperti sudah terlalu sering mendengar ungkapan yang sama.
"Nah, tuh tau."
Ayu tidak tahu harus berekspresi sepeti apa selain takjub. Tabiat kedua orang ini beda sekali dengan -ekhem- BOS GALAKNYA YANG DINGIN. Astaga. Apa yang dia sebutkan dengan nada sarkas barusan bisa dijadikan judul ftv.
Kembali ke meja makan, mereka berempat telah bersiap menyantap makanan karena semua yang disajikan pagi ini telah siap di meja. Ayu meneguk ludahnya sendiri, dia serasa mau prasmanan. Makanan sebanyak ini apa bisa dihabiskan dalam satu kali sesi? Ayu meragukan hal tersebut. Boleh tidak dia membungkus sisanya?
"Makan yang banyak ya, Yunaira. Kamu kurus begitu. Makan hati ya, kerja sama patung es berjalan kayak Sore?" Lagi-lagi sang Kepala Keluarga berseloroh.
Jika otak manusia bisa kasat mata, dapat dilihat Ayu sedang berteriak menyetujui apa yang lelaki itu katakan. Berat badannya sampai turun dua kilo dalam rentang waktu satu bulan terakhir. Tapi Ayu masih mempunyai tata krama -meski jika diperhatikan sudut bibirnya sedang berkedut ingin membenarkan- jadi dia menjawab, "Ah. Tidak, Pak. Saya memang sudah kurus dari dulu." Ayu menangis dalam hati. Ke mana perginya daging yang dua kilo itu?
"Kamu gendut waktu SMA," celetuk Sore tiba-tiba.
Sebagaimana wanita pada umumnya. Ayu juga tak suka disebut gendut. Dulu dia hanya sedikit berisi, oke. Tidak pernah lebih dari empat puluh lima kilogram. "Gue gak gendut, ya!"
Sore menatap dengan sorot mata yang mengatakan, heh? Masa sih? Situ gembrot begitu. Yang membuat Ayu meradang dan lupa siapa posisinya di depan lelaki tersebut. Namun sebelum Ayu memuntahkan kekesalannya, sebuah tanya lebih dulu mengudara.
"Kalian udah saling kenal dari dulu?" Ini masih sang Kepala Keluarga.
"Enggak," jawab Sore santai sembari memasukan satu suap makanan ke mulutnya. "Aku gak pernah kenalan sama cewek gendut. Gak selera."
Tolong. Ayu ingin mencakar wajah seseorang sekarang.
Berkali-kali dia menarik dan mengembuskan napas. Harus sabar-Harus sabar-Harus sabar! Ayu mensugesti dirinya berkali-kali. Ingatkan dia selalu kalau ada orang tua di sini. Ayu tidak boleh bersikap bar-bar.
Mencari distraksi dari rasa kesalnya yang sudah terpancar lewat aura menakutkan di sekitar tubuhnya, Ayu tanpa peduli lagi berniat memakan makanan apa saja yang terdekat dengan dirinya. Seleranya sudah menguap sejak tadi.
Ayu akan menyuap tanpa memperhatikan makanan apa yang sebetulnya ia raih, namun sebelum itu terjadi, Sore sudah lebih dulu menyongsongkan badan ke arahnya. Tangan lelaki itu memanjang dan meraih piring di depan Ayu. Tanpa peduli dan dengan intonasi yang masih sangat datar dia bicara, sehingga ucapannya menyelonong begitu saja. "Jangan merengut pagi-pagi," mulainya, sambil memindahkan sayuran di antara tumpukan udang dari piring milik Ayu ke piring miliknya. "Kamu jelek dan itu bikin mata saya sakit. Apalagi kalau kamu merengut gitu, bisa mual saya selama di kantor." Selesai dengan kelakuan tak terduganya yang membuat tiga pasang mata di sana terpana, Sore mengembalikan piring yang sudah bersih dari sayuran ke tempat semula.
Ayu baru tersadar dari syoknya setelah Sore kembali menyantap makanan tanpa peduli sekitar. Dengan itu, kebakaran di kepala Ayu teredam, segera tergantikan dengan rasa malu yang membuat pipinya panas.
Tidak-tidak. Apa yang dia lakukan? Dia tidak boleh tersipu hanya karena perlakuan sepele begitu. Ingat Ayu, ingat! Kamu benci dia setengah mati!
Setelah mampu memperbaiki susunan dendam di hatinya, Ayu mengambil satu suapan tanpa suara. Mengabaikan dua yang lain di sana belum juga teralihkan dari rasa kaget.
Sore tak pernah sepeduli itu pada orang lain sebelumnya.
...*...
"Enggak!"
Ayu menolak mentah-mentah perintah dari Sore untuk berangkat bersama menggunakan kendaraan miliknya pagi ini. Ayu menanam dirinya di jarak dua meter dari pintu mobil Sore.
"Kamu mau menolak?"
Ayu mengangguk cepat.
"Gak tau diri banget ya, kamu. Setelah saya membebaskan kamu dari kewajiban kamu yang harusnya datang setiap pagi ke sini, kamu masih mau membantah saya?!" Sore geram. Pagi-pagi harus berdebat dengan wanita ini?! Rasanya dia tidak perlu sekretaris lain kali setelah ia berhasil memendangnya jauh-jauh.
"Tapi, Pak, sebenernya itu bukan kewajiban saya." Ayu membantah.
Sore juga membantah. "Kewajiban kamu. Setelah kamu kerja dan jadi bawahan saya."
Ayu merengut, tidak dapat menemukan bantahan lain. "Tapi saya bisa naik bus, Pak." Selain ini.
"Boleh. Asal kamu lebih cepat sampai di kantor sebelum saya."
Mata ayu kontan melebar. "Tapi rumah Bapak jauhnya dua kali lipat dari yang biasa saya tempuh dari rumah." Ayu tidak sadar kalau nada suaranya telah beralih menjadi rengekan khas anak kecil.
Napas Ayu langsung tanggal di tenggorokan, kaget sekali diteriaki pagi-pagi. Biasanya masih ada waktu lebih siang lagi sebelum ia menerima teriakan dari Sore. Ayu diam saja. Mengkerut takut dengan napas yang masih tertahan sebelum Sore mendorong punggungnya dengan tenaga yang tidak main-main sampai akhirnya Ayu sukses duduk di kursi sebelah kemudi.
Sore menyalakan mesin. Bersiap untuk meluncur -kalau saja tatapannya tidak lebih dulu ditarik oleh Ayu yang masih manyun. Dia merotasikan bola matanya sebal. Tuhan. Sabarkan Sore untuk sekali ini saja. "Kamu mau bikin saya ditilang?"
Ayu masih bungkam. Malah bibirnya makin tertutup rapat.
"Pakai Seat belt kamu!"
Bentakan yang entah ke seberapa sepagian ini kembali menyambar telinga Ayu. Ayu tidak peduli, dia memutar bola mata sambil memasang sabuk pengaman, lalu membuang tatapan ke luar jendela. Malas sekali harus menyadari eksistensi sosok di sampingnya barang sedikit saja.
Mobil akhirnya membelah jalanan tanpa adanya perdebatan apapun lagi. Selain medan listrik konslet yang terpancar dan bertabrakan dari kepala Ayu dan Sore.
...*...
Cemberut masih betah menguasai wajah Ayu. Perempuan yang mengenakan blus berwarna putih gading dirangkap blezer hitam itu terang-terangan menyuarakan kekesalannya dengan mendahului langkah Sore memasuki lift. Ayu segera mengambil tempat menyudut dengan tangannya yang telipat di depan dada dan mata yang diturunkan untuk menatapi selop yang ia kenakan.
Sore menyusul masuk. Hanya mereka berdua yang jadi penumpang dan pintu bergerak tertutup. Tadinya, Sore juga berniat diam saja atau menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya namun ketika satu gumaman berisi nada sebuah lagu lewat di telinganya, Sore melirik wanita yang berada di samping.
Ayu masih berdiri di sana. Berkaca pada cermin yang ada di permukaan lift sambil memperbaiki riasan di wajahnya.
Sore memutar bola mata. Semua wanita sama saja.
Keduanya tak teralihak sedikitpun saat pintu terbuka. Terdengar Ayu menyapa beberapa karyawan yang bersiap memasuki lift dengan pembawaan yang ceria. Seperti lupa pada dirinya yang cemberut dengan pipi menggembung barusan.
Lift belum juga tertutup, sehingga mampu menarik Sore dari layar ponselnya. "Kalian gak akan masuk?"
Para karyawan yang berdiri di depan pintu terenyak oleh suara dingin tersebut. Lalu satu persatu mereka mengambil langkah. Sore memperkirakan, dengan manusia sebanyak itu lift akan terisi penuh, jadi dia mempersempit jarak dengan Ayu. Bukan apa-apa, hanya dia sadar diri kalau mereka tak akan mau berjarak dekat dengannya dan akan berdesak-desakan di depan guna mencari jarak aman. Makanya Sore mendekat pada Ayu agar sisi lainnya tidak kosong dan lift tidak berat ke depan.
Ayu tampak sedikit terganggu dengan jarak mereka yang tiba-tiba menipis, tapi dia diam saja dan fokus pada punggung seseorang di depan matanya. Sampai satu guncangan terjadi.
Ayu oleng dan hampir membenturkan kepala ke permukaan di sampingnya kalau saja tidak ada kesigapan dari Sore yang menjadikan tangannya sebagai bantalan. Ayu cepat menoleh ke samping. Dapat dilihatnya Sore yang masih lempeng seperti biasa, jadi dia urung untuk sekadar mengucapkan terima kasih.
Lift mengalami gangguan sebentar dan sempat membuat yang ada di dalamnya panik -kecuali Ayu dan Sore- sebelum akhirnya dapat beroperasi kembali. Sebagian besar isinya segera menyeruak dengan perasaan lega. Rupanya mereka masih trauma dengan kejadian bertahun-tahun lalu tatkala lift mengalami kerusakan dan meluncur sampai ke lantai dasar. Kejadian menggemparkan yang melibatkan banyak tenaga medis dan polisi tersebut masih belum mengelupas dari ingatan mereka karenya katanya ada satu nyawa yang jadi korban.
Menjejaki wilayah ruangan pribadinya, seperti biasa tanpa kata Sore memasuki ruangannya dan melewatkan delikan tajam dari Ayu. Wanita itu mencibir di depan pintu ruangannya yang berada di sebelah. Namun tiba-tiba saat belum sempat ia mendaratkan diri di kursi, empat orang mendobrak pintu dengan seruan.
"AYUUUU!"
"ADA APA?!" Ayu terbawa suasana karena mereka datang dengan wajah syok yang berlipat ganda. Ayu takut ada berita mencengangkan yang terjadi di kantor dan ia tidak sempat menyimak sehingga sekarang berita itu telah pecah.
"Baju lo harganya dua ribu dolar!"
Ayu merasa ada tonjokan keras di perutnya. Dia mulas, seperti akan memuntahkan kembali sarapan paginya. DUA RIBU DOLAR?!
Ayu megap-megap pada Dean yang masih memampangkan layar ponsel di depan wajahnya. Dia merampas benda itu dan dibuat tercengang. Mata bulat itu hampir meloncat dari rongga tempatnya bersarang. "DUA RIBU DOLAR?!" Ayu mengulang dengan lebih dramatis.
"IYA!" Indah menimbrung. Perempuan itu cepat-cepat menarik Ayu yang masih kesusahan bernapas untuk ke luar dari balik meja. Memutar-mutar badannya sampai Ayu pusing. "Astaga! Beneran! Ini asli!"
Maka setelahnya Ayu diputar-putar lebih sering dari sebelumnya.
"Bentaaaaaar! Gue pusing!" Ayu menghentikan tingkan teman-temannya. Menahan dua sisi kepalanya yang terasa akan buyar jadi dua bagian. Namun setelah itu, Ayu kembali pada mode sebelumnya. "Astaga. Dua ribu dolaaaaarrrrr." Ayu menggingiti tiga jari dari masing-masing tangannya dengan wajah berlapis ringisan.
"Lo ngepet di mana, Yu?!" Ini Rafi yang juga tercengang-tengang.
"Sembarangan!" Indah menegur. "Mana mungkin Ayu ngepet!" Kepalanya berputar cepat, beralih menatap Ayu di sampingnya. "Lo ngumpulin duit berapa tahun buat beli ini baju?!"
Dean memasukkan ponselnya kembali ke saku celana setelah puas mengecek berkali-kali rupa pakaian yang tertera di salah satu situs penjualan merk ternama dengan yang Ayu kenakan. "Bisa dijual lagi gak, Yu?" tanyanya selanjutnya.
"Gak tauuuu." Ayu meringis ngeri.
"Lah. Terus lo dapet baju ini dari mana? Jangan-jangan bener lagi, ini hasil ngepet?"
"Dari Mamanya Pak Soreeee." Ayu ingin menangis rasanya. Dia masih tidak percaya. Dua ribu dolar hanya untuk setelah dalamnya saja. Belum blezer yang dikenakannya. Karena demi nasi padang tadi malam yang rasanya sangat mantap, blezer ini bau uang!
Seperti dikomando, keempatnya serempat berteriak. "APA?!"
"Dari Mamanya pak Sore!" Ayu menegaskan. Tidak tahu kalau tanya barusan hanya sebagai realisasi dari rasa kaget rekan-rekannya. Ayu berlanjut menghapus air mata imajiner di sudut mata.
"Kok, bisa?!"
"Serius lo?!"
"Sedekahin ke gue aja, Yu! Daripada entar lo buang! Lo kan, sebel sampe ke ubun-ubun sama anaknya! Pasti lo gak bakal mau pake itu lagi, kan?!"
"Jual lagi aja, Yu! Kayaknya bakal laku! Paling banter setengah harga!"
Suasana masih belum kondusif ketika pintu menjeblak terbuka disusul satu teriakan jengkel menggema. "Sejak kapan sekretaris saya jadi berlima?!"
Mereka terkocar-kacir setelahnya.
Tetapi sebelum betul-betul ke luar dari ruangan, Dean menyempatkan diri untuk memotret Ayu dengan tanpa persiapan sedikitpun dari sang model. Barulah dia melesat setelah sedikit mengangguk hormat pada Sore yang berwajah sangar.
Sore beralih menatap Ayu yang masih senantiasa berwajah terguncang. Alisnya mengerut terganggu. "Kamu kenapa?"
Ayu menggumamkan "Dua ribu dolar, dua ribu dolaaar" dengan nada sedih yang amat merana sambil mencubit penuh kehati-hatian pakaian yang ia kenakan.
...***...