Ours

Ours
Bab Dua Puluh Enam - Pusaran Tornado



Ayu tak pernah sekalipun menaruh atensinya pada Sore, biarpun lelaki itu sedang bicara. Kepalanya selalu terarah ke sembarang tempat, tanpa sepintas pun melewati sisi Sore di hadapannya. Namun dia tahu dengan pasti, jika Sore tak lepas membombardir dirinya dengan tatapan menusuk.


Ayu diam. Berusaha tak terpengaruh, mendistraksi perasaan tak nyaman yang telah mengambang di atas kepala dengan menanti-nanti Rendi. Lelaki itu hadir lagi dalam lima belas detik selanjutnya, bersama empat gelas jus jeruk yang entah didapatkan dari mana. Ayu justeru mengernyit. Bukankah Rendi adalah pemilik tempat ini? Kenapa dia mau susah-susah "menyuguhkan" minum sendiri? Sedangkan di sini lain cahaya cemerlang berasal dari sambutan hangat, Hera berterimakasih diimbuhi senyum.


Rendi menggangguk pelan sebagai jawaban lalu mengisi kursi kosong di sebelah Ayu.


"Minum dulu, Yu," tawarnya.


Ayu menggeleng pelan. "Nggak. Belum haus." yang dijawab Rendi menggunakan anggukan mengerti.


Hera mengambil satu sedot belum sempurna akibat ulahnya yang seperti baru teringat sesuatu dan langsung mengatakannya. "Eung. Jadi ceritanya nih, kalian lagi liburan berdua sebagai pasangan?"


Rendi memainkan alisnya bangga. "Iya."


"Yah, kita ganggu dong," ujungnya panjang, ada kecewa tersirat.


Rendi menyanggah cepat-cepat. "Nggak, kok. Santai aja."


Hera kembali berbinar. "Serius nih? Berarti kita bisa gabung?"


"Boleh."


Rasa tidak nyaman telah termanifestasi jadi seraut wajah terkekuk pada Ayu. Namun ekspresi senang dari Hera mengelemnya terlalu kuat pada sofa lobi ini. Lagi-lagi, yang dia bisa hanya menekan perasaanya sendiri. Walau begitu, tetap dia tak punya kendali ketika kini separuh tidak mendengarkan terhadap apa saja yang dibincangkan Rendi bersama Hera. Interaksi mereka menimbulkan satu tanda tanya tak kasat mata di kepala yang jika didefinidikan akan jadi kalimat berupa: sejak kapan mereka jadi seakrab itu? Ayu memendam tanya ini cukup lama, sampai satu momen, Sore mengutarakan kalimat yang bermotivasi sama.


"Kalian akrab banget, kayak temen lama."


Seperti sahabat yang terpisah dan dipersatukan lagi oleh waktu setelah sekian lama malah, Ayu menambahi dalam hati.


"Lah, emangnya Hera gak ada bilang kalau kita sepupuan?"


Punggung Ayu terangkat dari sofa oleh pengakuan itu. Iantas melayangkan tatapan mengkonfirmasi pada Hera.


"Iya. Rendi ini sepupu aku."


Sekarang Ayu tahu, dunia memang sesempit itu.


Hera terkikik melihat wajah syok dan kebungkaman yang menetap cukup lama pada Ayu. Meski tidak serupa dan masih saja lempeng tak terkesan, sekelebat kaget pernah ada di wajah Sore yang kemudian lenyap terbuang saat ia melengos dan mendengus keras- tidak tahu karena apa.


Ayu terdiam lagi sehingga memberi ruang untuk Rendi melakukan manuver pertanyaan. "Giliran gue nih yang interogasi." Dia berairmuka sok serius, yang ternyata sangat mudah beralih jadi tengil ketika berkata, "Bocorin dong kapan kalian nikahnya! Penasaran gue. Pas tunangan gak dibilang kapannya." Tak ketinggalan, dia juga mengerling menggoda, memicu tawa malu Hera menguar.


Di ujung tawanya, Hera menyenggol pelan lengan Sore, memberi kode agar lelaki itu saja yang bicara.


Sela antara hening yang Sore pertahankan berisi tiga penantian. Hera dengan Rendi sudah tidak sabar dalam konteks yang berbeda dan Ayu ... meskipun dari muka dia tampak tidak mau peduli, tetapi kuku-kukunya yang menancap di lengah sofa tak mendukung gagasan itu. Dia juga menunggu, tapi rasanya sudah kekurangan pasokan oksigen. Padahal Sore belum juga bersuara.


"Dua bulan lagi." Suara Sore mengalir, bersambut sorakan dari Rendi yang sampai berdiri saking tak percayanya.


"Tante Alia ngebet pengen punya cucu, apa gimana?" katanya separuh menyeloroh.


Dua orang di sana tak mendengar apa yang selanjutnya Hera katakan dengan awalan tawanya. Sore tak lepas memperhatikan tanggapan yang Ayu berikan. Perempuan itu sama sekali tak bereaksi banyak, namun sempat mendapatkan hentakan kaget darinya, Sore berharap sesuatu yang lain: kalau perempuan itu sebetulnya tak menginginkan hal itu terjadi.


Sore akan berusaha memutus hubungan sebelum makin erat- sekali lagi. Tidak peduli apapun tanggapan orang-orang di sekitarnya. Sore menunggu, sebuah pengakuan yang mengatakan bahwa Ayu menginginkannya.


"Eh, konsepnya apa nih? Biar gue 'tar samaan sama Ayu. Ya gak, Yu?"


Ayu menoleh, tetapi suara Rendi lenyap dari pendengaran. Tahu-tahu saja ia merasa seakan-akan porak poranda, bagai sebuah tanah yang baru dilindas tornado; pusarannya menyabut segala yang terlewati dan itu membuat Ayu bertanya-tanya dengan kalut. Terhadap apa yang sedang terjadi dengan dirinya saat ini. Sehingga tiba-tiba napasnya menyesak dan ia merasa jantungnya akan meletus. Tangannya mendingin dan diselimuti keringat, matanya berlarian tidak keruan. Ayu melihat ada empat dinding yang menghimpitnya dari segala arah dan itu mendorong impulsifnya untuk berlari begitu saja. Membawa air mata yang menggenang, menghalangi pandangannya terhadap jalan menuju lift.


Teriakan Rendi diabaikan, mendadak tombol-tombol lift tak ada satupun yang membukakan pintu. Suara Rendi yang menyusulnya menggiring Ayu memburu tangga. Tiga lantai ia berlari, memblokir tangis di dalam mulut.


Pikirannya berputar-putar antara mendengarkan seruan Rendi yang memintanya berhenti atau menanyakan kekacauan macam apa ini. Karena sungguh, dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia tak mampu menaksirkan rasa sakit macam apa yang bersarang di dadanya. Terlalu banyak, sampai ia tak bisa merasakan rasa sakit itu sendiri.


Kenapa aku begini? Tangannya meremas kepala sendiri. Sakit rasanya. Tepat setelah itu, Rendi masuk dan Ayu telah melampiaskan perasaannya pada lembaran kertas di atas meja. Pada gambar yang dibuat semalam, dia mencoret-coret bagian yang sebetulnya sudah cukup; tidak perlu ditambah goresan apapun lagi. Gerakannya makin tak terkendali. Gambarnya berujung berantakan, tertutup oleh blok hitam. Napasnya terengah-engah, sampai teriakan Rendi mampu memasuki telinganya.


"YUNAIRA, STOP!"


Ayu memandang Rendi kaget, tangannya melayang ditahan lelaki itu. Napas memburu Rendi terasa di wajahnya. Cepat dan sarat emosi tertahan.


Ayu mengatakan separuh nama temannya itu tanpa suara, sehingga yang dapat keluar hanya, " ... di ...." Begitu putus asa terdengar.


Rendi tak melakukan pergerakan apapun selain meneliti apa yang tercetak di wajah Ayu, sampai ia mendapatkan keputusan untuk mengatakan, "Lo sesedih itu?"


Ada sakit di sana, Rendi merutuk dalam hati kenapa tak dapat dikendalikan.


"Enggak," jawab Ayu defensif. Dia menarik tangannya dari genggaman Rendi, kembali pada coretan di kertas. Rendi yang melihatnya mengembuskan napas tidak sabar, menyugar rambut dengan sedikit menjambaknya. Sesaat, dia hanya memperhatikan sampai mana Ayu akan melakukan itu. Barulah pada titik di mana dia membuat sobek kertas tersebut dan pensil ditangannya menggelincir, Ayu menoleh.


Rendi akan mendecak, menertawakan Ayu yang masih mengelak padahal sikapnya ini begitu mencolok, tetapi kalimat bersuara pilu darinya tak urung membuatnya menarik perempuan itu dalam dekap.


"Emang sebegitu keliatan ...." Suara dia sudah tidak aman di situ. Parau dan bergetar, lalu tak butuh waktu lama agar tangisnya menyusul pecah. Namun lagi-lagi, kewarasannya bertanya, aku kenapa?


Rendi mengusap belakang kepala Ayu menenangkan, namun yang ia dapati bukan sama sekali begitu. Ayu terdengar seperti seseorang yang kehabisan napas, Rendi sigap melonggarkan pelukan. Hanya untuk mendapati uraian air mata dan Ayu yang menggigit pergelangan tangannya sendiri demi menghalau tangis.


Mata Ayu terlihat kosong dan Rendi memaksa untuk melepaskan gigitan di tangan yang ternyata cukup kuat sampai meninggalkan bekas merah. "Yunaira! Tarik napas, tarik napas! Jangan ditahan, napasnya jangan ditahan!" Merasa percuma, Rendi mengguncangkan pundak Ayu, berharap itu bisa menyadarkannya. Rendi tidak tahu, di situasi seperti ini ia justeru dapat dengan mudah diselimuti rasa frutrasi. Apalagi saat Ayu sama sekali tak mendengarkannya. "YUNAIRA!"


Tak sia-sia bentakan itu, mata Ayu kembali bergerak, segera dia meraup oksigen dengan rakus. Melempar dirinya kembali ke dalam pelukan Rendi, mencari perlindungan di sana. "Aku kenapa? Aku kenapa? Aku kenapa ...." gumamnya takut.


Rendi menarik napas panjang penuh syukur. Meski jantungnya seperti baru selesai opera sirkus, dia merasa tenang sekarang. "Gak papa. Lo gak papa."


Ayu yang melunak tak dikira Rendi akan membantah, disertai dengan jeritan tertahan di tenggorokan. "Tapi aku aneh! Aku aneh! AKU ANEH!"


Sekuat tenaga Rendi menahan berontakan Ayu agar tetap dalam kungkungannya. Sekaligus dia ingin menjaga keseimbangan kursi yang diduduki perempuan itu. Di tengah tangis pedih Ayu, Rendi kebingungan. Secepat baling-baling generator isi kepalanya berputar, mencari-cari jawaban atas apa yang dialami temannya ini. Tetapi yang dapat dia simpulkan hanya kemungkinan kalau Ayu terserang panik atau semacamnya.


Maka seberapa keras Ayu meraung dan meronta, Rendi akan tetap meraupnya dengan ketenangan.


"Aku aneh. Aku aneeeeh ...." Terus meraung, suaranya bahkan sampai tertekan tangis.


Ayu sedang terguncang.


"Lo gak aneh, Yunaira. Gak sama sekali."


Kalimat bantahan terus ke luar dari mulut Ayu yang kini meracaukan banyak hal. Dia menutup telinga dan mulai berteriak, "NGGAK! NGGAK! NGGAK!" yang membuat Rendi semakin kebingungan, juga miris. Ayu seperti orang yang kehilangan dirinya sendiri.


Rendi tidak tahu, bahwa ada yang beriringan masuk ke kepala Ayu. Rupanya adalah kisah-kisah yang tak ingin dingat. Kepalanya berdenyut nyeri dan napasnya memendek, sekujur tubuhnya memanas dan ia tak bisa mengendalikan dirinya yang lagi-lagi berteriak seperti orang sakit gangguan jiwa.


"JANGAN! JANGAN!" Ayu memohon, entah pada apa. Setidaknya ringankan rasa sakit yang menderanya ini, jika memang dia harus dirawat di rumah sakit jiwa.


Kehilangan orientasi jelas pada sekitarnya, pandangan yang menggelap dan ditutup ledakan benda bercahaya di di balik kelopak mata Ayu dapatkan, terpejam.


Apa ini rasanya kematian?


Ada jeda cukup lama, sampai Ayu terbangun di antara cahaya terang. Ia mengernyit, menghalau sinar yang tajam menyipitkan mata itu.


"Lo udah bangun?"


Bangun?


Berarti dia belum mati dan barusan adalah suara Rendi.


...***...