
Sore membanting pintu mobil. Hentakan kuat di alas kakinya menandakan emosi yang mendidih tak terkendali. Amarah ia bawa sepanjang perjalanan dan kini telah siap untuk dimuntahkan. Dengan rahang mengetat, Sore bahkan tak mau susah-susah membalas sapaan dari seseorang yang membukakan pintu untuknya. Terlebih dalam kondisi normal pun, ia tak pernah melakukannya.
"Jun?"
Sore mengucap nama itu dengan bingung.
Kenapa ada nama itu tercetak di dalam lingkar cincin ini? Padahal jelas-jelas dia mengetahui jika benda di tangannya adalah milik Ayu. Dia tidak mungkin salah ... tidak, dia memang tidak keliru. Hanya saja memang, ukiran nama itu sejak awal telah ada di sana.
Emosinya terpantik di sana, menjadikan cincin itu berada dalam genggaman kuat. Jadi ini maksud Ayu tentang dirinya harus menjauhi wanita itu.
Terkenang poin barusan, emosi Sore makin menggelegak. Tak ada hal lain terpikirkan selain melampiaskan dengan menghancurkan kamar sendiri.
Namun nyatanya kemurkaannya bukan apa-apa, jika dibandingkan kalimat Sang Ayah yang sebanding dengan ultimatum malam ini.
"Sore, kita bicara sebentar."
Menyusul Jonathan yang berdiri, satu kepala berambut cokelat kemerahan kini terlihat di mata berbayang emosi tertahan Sore. Dalam posisi membelakangi itu, Sore tahu siapa dia tanpa harus melihat wajahnya. Yang ternyata membuatnya jengah sekaligus kesal ketika betul-betul melihat dua detik setelahnya.
Kenapa dia harus menjumpai Hera dalam keadaan seperti ini? Dan kenapa juga wanita itu ada di sini? Bukankah seharusnya dia sekarang sedang berada di antara kebahagiaan keluarga besarnya? Yang pastinya sangat senang akan berbesan dengan keluarga yang sama terpandangnya, bahkan lebih.
Sore baru tahu, berprasangka buruk tentang perempuan itu bisa semenyebalkan ini.
Meskipun Hera tersenyum cerah, Sore tetap mempertahankan wajah lempengnya. "Ada apa, Pa?" tembaknya tak ingin basa-basi.
"Duduklah."
Jarang sekali Sore melihat Papanya berwajah serius seperti ini. Dia melirik sinis pada sofa sebelah, membuat Hera membuang muka ke samping.
Apa yang wanita itu bicarakan dengan Papanya?
"Ada hal penting yang perlu Papa bicarakan sama kamu." Jonathan bicara, selagi memancarkan keseriusan dari sorot matanya.
Sore mengangguk ringan sebagai tanggapan. Ia melempar jas sembarangan ke tempat kosong di sampingnya dan berakhir menggelincir ke lantai, lanjut mengikis lengan kemeja sedikit kasar. Dari matanya yang sama sekali tak tertuju pada lawan bicara, Sore khas dengan ketidakpedulian. Nyatanya ia menunggu dengan tegang, menebak-nebak apa yang Hera katakan sampai Papanya tak memberikan waktu barang sejenak untuknya membersihkan diri di kamar.
Sebelum masuk ke inti percakapan, Jonathan buktinya tetap menanyakan kabar pada Sore, tentang pekerjaan yang sebetulnya telah ia tahu dan berbagai hal lainnya.
Sore membalas dengan baik, meski tak pernah menyahut jika Hera yang bicara. Sampai pada satu waktu, ia sadar kalau pembicaraan tadi semata-mata untuk mengulur waktu, sampai Mama hadir di tengah-tengah mereka. Hal yang sempat Sore ingat pada situasi ini, mau sebijaksana apapun, Jonathan tetaplah orang yang tak cukup cakap dalam bicara, lain halnya dengan Inari. Jonathan bertele-tele agar isterinya yang mengawali "pembicaraan" yang sebenarnya.
"Mama sama Papa tadi udah ngobrol sama Hera," ucap Inari bertepatan ia telah duduk nyaman di sofa single.
"Tentang pernikahan?" Sore menebak jengah. "Dua tahun-"
"Dua bulan lagi."
"Apa?!" Sore spontan berdiri. Alisnya menurun tak terima. "Ma, gak lucu."
Ketenangan Inari bukanlah pertanda adanya lelucon dari perkataanya. "Mama serius. Begitu pula Papa sama Hera. Kita udah memikirkannya matang-matang."
"Kalian. Aku gak dihadirkan di sana," sergah Sore dingin, tetapi tak menutupi kenyataan adanya sebuah protesan khas seorang anak di sana.
"Memang. Karena Mama gak perlu kehadiran kamu di sana." Inari menyahut cepat, tak ingin menanti reaksi apa lagi yang akan ditunjukkan Sore. Ia lanjut bicara tanpa mengindahkan ketidaksetujuan yang gamblang diperlihatkan anaknya. "Sebaiknya mulai sekarang kalian fokus mengurus semua persiapan pernikahan. Dua bulan bukan waktu yang lama."
"Baik, Tante." Suara Hera terdengar menyahut. Perempuan itu baru berani bicara setelah Inari terlihat tak mau menerima pendapat Sore dalam bentuk apapun.
Sedangkan Jonathan diam saja. Tetapi kepalan tangan anaknya diam-diam diperhatikan. Sore terlihat marah, berbeda dengan dirinya yang sebelumnya. Yang meski ogah-ogahan, tetapi tak pernah terang-terangan menyuarakan ketidakmauan. Dia mengikuti saja walau Jonathan tahu dengan jelas, jika Sore sama sekali tak menginginkan Hera sebagai pendampingnya. Berbanding terbalik dengan Inari, Jonathan sebetulnya menanti reaski Sore.
Sekian lama diam, Sore berkata dengan suara dalam yang terasa dingin. "Aku gak setuju."
"Dan apa yang bisa terjadi kalau kamu tidak setuju?" Inari menghadang Sore dengan wajah yang cepat sekali mendingin, menantang dengan alis terangkat meremehkan. "Bukan itu yang Mama butuhkan, Sore. Kamu jelas-jelas tau, gak bakal mudah merubah keputusan Mama."
Inari beranjak. Membiarkan Sore diselubungi murka.
Kepala Sore yang penuh amarah tak bisa menerima apapun yang Ibunya katakan. Dia beranjak kasar, cepat menaiki tangga dan tenggelam di balik pintu kamarnya, sampai tak ada suara apapun lagi yang terdengar.
Tersisa Jonathan sebagai emupnya rumah di sana. Pelan dia menarik napas. "Sudah malam. Kamu sebaliknya pulang. Nanti kita bicarakan lagi dengan orang tua kamu."
Hera mengangguk agak kaku. "Baik, Om."
Tanpa menunggu apapun lagi, Jonathan menyusul isterinya. Dalam perjalanan itu dia sedikit memijat pangkal hidung. Ini akan sedikit rumit.
Meskipun Inari adalah wanita yang sehari-harinya ceria dan santai, dia bisa sangat keras dan tak dapat diganggu gugat jika situasi memanggil, seperti saat ini. Inari akan sulit diajak bermusyawarah jika sudah begini. Dan sifatnya yang seperti ini menurun pada Sore.
Jonathan kini berada di keadaan yang cukup sulit. Dia harus menengahi dan pintar-pintar memilih siapa yang mesti didekati lebih dulu. Dan saat ini ia rasa Inari yang harus didatanginya. Biarkan Sore terlebih dahulu, anak itu paling-paling menghancurkan barang atupun minggat ke mansionnya sendiri. Jonathan sudah hafal betul polahnya ketika marah.
Tetapi Inari, dengan satu tabiatnya yang selama ini disamarkan, dengan dia yang sulit ditebak. Entah apa yang terbesit di pikirannya. Jonathan saja tidak pernah bisa menerka.
Namun utuk kali ini, Jonathan akan menebak-nebak Inari lagi. Penolakan Sore sudah cukup untuknya ikut campur.
...*...
Hera urung meraih pintu utama rumah keluarga Sore. "Ada apa?"
"Gue perlu bicara."
"Silakan."
"Di taman belakang."
Di tempat yang telah disebutkan, Sore tanpa mau buang-buang waktu langsung menodong Hera dengan tanya penuh curiga. "Apa yang lo rencanain?"
Hera tak ingin tampak gentar menghadapi Sore yang bersidekap, meskipun sebetulnya dia berantisipasi atas segala kemungkinan. Dia tahu, Sore bisa sangat kasar. Tak pandang siapapun yang dihadapinya, biarpun seorang perempuan. "Gak ada."
"Gak usah berkelit. Selama gue masih bisa tanya baik-baik."
Hera menekan suaranya, terdengar serius. "Ya, memang gak ada, Cakrawala Sore Dirma."
Ini pertama kali Hera memanggil dengan nama lengkapnya. Sore pikir Hera seorang yang penakut, nyatanya tak jauh beda dengan kebanyakan wanita di luar sana. Munafik. Yang sifat aslinya baru akan muncul setelah merasa posisinya lebih dominan. Sore terkekeh. Mengubah gerak-geriknya jadi santai. "Oke. Sekarang, gue kasih kesempatan lo buat menunjukkan kemajuan apa yang telah lo capai. Silakan."
"Kamu pikir aku sepicik itu?" Hera memutar mata. Pikirnya, jika memang dia picik, maka Sore lebih dari itu. Memiliki perasaan pada seseorang saat telah memiliki pasangan? Yang benar saja? Hera nyaris terkekeh, ikut menunjukkan gestur santai tak terintimidasi. "Aku cuma mau memperkecil kemungkinan buat orang lain masuk ke celah di antara kita berdua. Lebih cepat pernikahan dilaksanakan, lebih baik."
Sore bertepuk tangan, seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang menakjubkan. "Ternyata lo sebegitu terobsesi buat milikin gue. Yang bahkan gak sedikitpun cinta sama lo?"
Ekspresi Hera masih sama, seolah tak ada pengaruh apapun dari ucapan Sore. "Aku gak peduli kamu mau sebut aku kayak gimana. Tapi asal kamu tau, aku bakal singkirkan siapa aja yang berani ngusik milikku. Terutama ketika ikatan pernikahan itu udah terjalin, kamu gak bakal bisa berbuat apa-apa."
"Dan gue gak bakal biarin ikatan itu ada." Sore tak ingin kalah. Ia merasa harga dirinya dipertaruhkan di sini.
"Oya?" Hera terkekeh skeptis. "Bicaralah begitu di depan Tante Inari. Kamu seharusnya sadar, yang jadi musuh terbesar kamu di sini bukan aku, tapi Mama kamu."
Tanpa ada tambahan apapun lagi, Hera beranjak dari sana. Tak sekalipun dia menoleh.
Untuk kedua kalinya, Sore terbenam dalam amarah. Untuk kedua kalinya pula, bahkan dalam rentang waktu yang cukup rapat, dia dibuat tak bisa berkutik oleh wanita. Melampiaskan itu, dia mengerang keras, menjambak rambutnya frustrasi sambil memaki. "SIAL!!"
"Dua bulan. Harusnya cukup. Tunjukan kalau kamu memang gak pantas buat ini."
...*...
"Kaum jomblo dilarang lama-lama mandangin foto pernikahan. Gak bakal tahan."
Seloroh itu lewat di belakang Ayu, membawanya berbalik dan melepas lipatan tangannya yang semula di dada. "Spesies takabur kayak gini nih yang bakal dilaknat Tuhan."
Jun mencengir, merasa lucu. "Siapa bilang?"
"Rafi."
"Siapa Rafi?"
"Sumber informasi terpercaya."
"Buset dah. Maksud lo, dia cenayang, gitu?" Terkekeh-kekeh.
"Lebih dari itu. Rafi adalah sumur tempat kalo lo mau nimba berita. Terutama gosip. Dia sebelas-duabelas sama Indah."
Jun mengangkat kedua tangan di samping wajah, sinyal jika ia sudah tak ingin lanjut membicarakan. "Gue gak mau tau lagi tentang Rafi dan gak tertarik buat tau siapa itu indah."
"Yakali lo tertarik sama Indah. Bilangin Kak Mey, digebuk abis-abisan lo."
"Dan karena itu gue gak minat." Dia menuju sofa, melempat ransel penuh sesak milik Ayu ke sofa sebelah, lalu menambahkan. "Buat apa lo natapin foto nikahan gue seserius itu?"
Ah, ini. Ayu kira Kakaknya itu sudah terdistraksi. "Gak ada. Cuma gue baru sadar aja, kalo kita tuh beda banget. Gue cenderung mirip Kak Mey. Karena kan, kita sama-sama cantik. Nah, lo? Gak tau deh kenapa bisa jadi Kakak gue padahal kita tuh ibarat Yin dan Yang."
Sebal yang telah bercokol di hati Jun, sedikit terbelokkan oleh penasaran. "Yin dan Yang?"
"Hitam dan Putih."
"Sialan lo." Jun melempar cushion sofa ke wajah cengar-cengir Ayu, namun meleset karena Ayu sudah pandai menghindari lemparan benda yang sama tiap kali Jun kesal. "Gue gak item, ya!"
"Hehe." Hanya itu. Ayu mencomot satu kue kering dari stoples di atas meja. Seperti baru ingat, dia berkata dengan mata melebar. "Eh, nih, gue balikin."
Jun mengayunkan tatapan pada benda yang Ayu taruh di atas meja, lalu menolak. "Kagak ah. Kan, Mey minta lo pegang dulu selama dia belum balik dari rumah Mom."
"Gak mau gue. Cincin itu ngedatengin mudharat."
"Mana ada, mayonaise Mayumi. Yang ada nih, gue selama pake cincin nikah ini hoki melulu."
"Ya itu kan, elu. Tapi buat jomblo kayak gue bawa perkara. Noh, noh, gue taro di situ, ya. Awas kalo sampe ilang. Gue gebuk lo."
Jun mengerang. "Males ah, Yuuu. 'Tar kalo betulan ilang, gimana? Sebelum digebuk ama lo, gue udah duluan jadi prekedel."
"Itu sih, karena keidiotan lo sendiri."
Jun tercengang. "Asu-"
Ketukan di pintu menginterupsi sekaligus menyelamatkan ruang keluarga dari pertikaian yang tidak perlu. Ayu yang sudah menebak siapa tamunya pagi ini, segera memberondong pintu diantar kalimat bernada jahil dari Jun.
"Semangat banget siiih, yang mau liburan bareng pacaaaaaar."
Ayu menghadiahi Jun sebuah pelototan ganas, yang dibalas lelaki itu dengan juluran lidah mengejek. Kemudian dia fokus pada tayangan game di layar televisi, joystick telah siap di tangannya.
Baru pintu bergeser sedikit, Rendi sudah memaksa masuk dengan gerutuan sebal yang langsung mencemari udara.
"Plis Yu. Gue tau lo pelit, tapi gak gini juga."
Lantas Ayu dibuat mengernyit tidak mengerti. "Apa dah lo, dateng-dateng ngomel. Kita ini mau liburan Rendi."
"Nah, itu!" Rendi memburu, seperti menemukan jika yang mereka bicarakan memiliki korelasi. "Mending gak jadi aja gue mah."
Ayu tercengang. Mengintil Rendi yang melempar dirinya ke sofa tanpa semangat, dengan ketidakpercayaan dan rasa ingin protes. "Mana boleh! Gue udah bela-belain ngadep CEO langsung cuma biar bisa bolos kerja. Ini gak adil, Rendi. Gue bahkan sampe beliin nasi Padang dulu buat dia."
Rendi malah ikut larut dalam game bersama Jun yang oke-oke saja. Katanya memang dia sedang butuh partner setelah diajak tanding oleh pengguna lain. Sementara Ayu dibuat meradang karena Rendi seolah-olah tidak peduli. Dia merampas controller di tangan Rendi, yang maknanya mengundang erangan keras bernada kesal Jun untuk mengudara sebab karena kelakuan Ayu, mereka kalah.
"Apaan banget sih lo, Yu! Kalah nih, ah!" Protes Jun menyembur pada Ayu yang membalasnya dengan lemparan controller tanpa manusiawi.
"Cuma karakter game lo yang modar, gak usah berlebihan. Dan lo Rendi, kita mesti ngomong."
Ayu tak menerima apapun yang Rendi ucapkan sampai mereka berada di teras belakang rumah. Ada kekosongan menggelantung di sana selama beberapa jenak, Ayu diam dengan dada naik-turun gusar.
Rendi kira dia akan dimarahi, tetapi Ayu memberikan jawaban yang mematahkan asumsinya. Perempuan itu merengek.
"Kita hari ini mau liburan, Rendiiiiii .... Gak boleh gak jadi." Mencebik kesal.
Rendi mendecak gemas. "Abisnya lo pelit banget, gue jadi males ke mana-mana."
Dahi Ayu berlipat. "Dari tadi lo bilang, gue pelit-gue pelit, apa sih maksudnya?"
"Lo ngajak gue liburan pake voucher yang gue kasih. Perlu ditekankan, YANG GUE KASIH. Lo becanda apa gimana?"
"Ya, kan sayang, Ren. Bentar lagi kadaluarsa. Mubazir kalo gak dimanfaatin." Tanpa merasa malu, Ayu masih saja mengajukan rengekan tak terimanya.
Rendi menahan geraman di mulut, dia gemas sekali sampai-sampai rasanya jika menelan wanita mungil ini semudah memakan sushi, niscaya tanpa pikir panjang akan ia lakukan. "Tapi itu gue kasih buat hadiah ulang tahunnya Irene." Raut mukanya berubah seakan baru mendapat pencerahan. "Jangan-jangan lo nggak kasihin ke Irene. Wah, gak amanah banget lo, Yu. Parah."
"Enggaaaak." Ayu menghentak-hentakan kaki layaknya bocah. Rendi sempat mengernyit, dia sekarang tahu dari mana Irene mencontoh perilaku seperti itu. "Irene keburu dibawa lagi sama Mama. Dia ke Indonesia cuma buat rayain ulang tahun. Trus selama libur sekolah dia di Jepang. Makanya gue punya inisiatif buat pake voucher itu." Dia menambahkan, "Udah izin juga kok, sama Irene." berharap ini bisa meyakinkan Rendi.
Alih-alih menjawab, Rendi malah menarik Ayu dan mengambil ransel sambil lalu.
Sesaat langkah mereka memelan di dekat pintu. Kenapa lagi jika bukan karena teriakan menggelegar Jun dari dalam.
"YU! INI SERIUS LO GAK BISA SIMPENIN CINCINNYA MEY?"
"DAN LO MASIH NANYA? GUE GEBUK ASLIAN NIH!"
"GUE PELUPA, OKE?!" Suara Jun kental atas pembelaan.
"DAN KARENA ITU KAK MEY YANG JUGA PELUPA NITIPIN CINCINNYA KE GUE. COCOK BANGET EMANG KALIAN! BIKIN GUE PUSIIIIINGEEH! JANGAN TARIK-TARIK!"
"Berisik, Yunaira! Kita hampir telat. Pesawatnya bentar lagi lepas landas."
"ASTAGA! KENAPA LO GAK BILANG DARI TADI?!" Dengan teriakan itu, Ayu mengambil alih. Kini dia yang menyeret Rendi sampai ke mobil. Hingga tak sadar kalau seharusnya Rendi yang menyetir, bukan dirinya.
...***...