
Di waktu bentala masih terlelap, Ayu terbangun dalam keadaan napasnya yang terengah-engah. Ia mengalami mimpi buruk lagi. Namun kali ini mimpi yang berbeda, alam bawah sadarnya kembali mengingatkan tentang peristiwa terakhirnya bersama Krystal. Saat wanita itu datang padanya dengan mata menyalak, tanpa kata menamparnya keras sampai wajah Ayu terlempar ke samping dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Ayu membekap mukanya. Napasnya yang masih memburu tidak kunjung mereda. Hal ini tak bisa diatasi hanya dengan usaha menormalkan pernapasan, Ayu membutuhkan bantuan.
Terburu-buru dan kacau, tangannya membuka seluruh laci yang ada di sana, mengobrak-abrik isinya. Ayu terus mencari dan ia tak bisa menghalau kepanikan yang telah menyebar ke seluruh tubuh, keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya. Saat ketika ia tak jua menemukan benda yang dicarinya, Ayu tersadar jika tempat ini bukan kamar di rumahnya. Tempat ini asing. Ayu berusaha untuk tenang dan mengingat-ingat.
Dia sedang di luar kota bersama Sore. Tapi tempat apa ini? Susana ini bukan kamar hotel yang terakhir kali ia ingat.
Apa dia di mansion Sore?
Tidak peduli jika ia memang berada di mansion atasannya itu sekarang. Yang ia perlukan adalah obat penenang. Ayu menggeram kesal. Di mana benda itu sekarang?
Ah, tasnya! Ayu melarikan tatapan, menemukan di atas meja rias. Ayu segera menyongsong dengan tergopoh. Lantas mencari dengan resah lalu menelan beberapa pil sekaligus. Tubuhnya terduduk di kursi, napasnya mulai melaju normal.
Ayu tidak bisa tidur lagi setelah itu. Terbenam dalam angan yang mengawang, sebelum memutuskan untuk mengambil tempat pada salah satu kursi di balkon. Nyaris seluruh yang ada di depan matanya adalah kegelapan, perlahan tapi pasti menyingkap lapisan waktu. Ayu terdiam memperhatikan tanpa ingin beranjak dalam waktu dekat.
"Kamu sudah bangun?"
Tergerak menoleh, menemukan Sore yang baru saja bicara dari balkon kamar sebelah. Tak ada sahutan yang Ayu berikan. Membawa pandangannya kembali ke ufuk timur.
Senyap mengukung cukup lama. Semilir angin dingin di pagi buta menyerbu, Ayu menggigil pelan namun tetap terdiam, memikirkan kejadian yang tadi ia alami. Jika harus jujur, Ayu sebenarnya merindukan Krystal. Tetapi perempuan tinggi itu terlanjur membencinya tanpa alasan yang jelas. Sampai detik ini, Ayu masih mempertanyakan sebab Krystal membencinya. Jika itu karena kesalahannya, Ayu akan dengan senang hati memohon maaf. Tetapi Krystal tak pernah memberikan kejelasan apapun.
" ... Saya ... ingin meminta maaf."
Suara pelan itu membuyarkan lamunan Ayu, kembali menoleh ke samping. Apa dia tidak salah dengar? Kepala lelaki itu tidak terbentur sesuatu, kan?
Ayu yang diam memberi ruang untuk Sore menambahi kalimatnya. "Saya minta maaf untuk yang Krystal katakan. Saya minta maaf untuk kejadian di depan kantor waktu itu."
Ayu memalingkan wajah. Sore ternyata hanya ingin meminta maaf tentang kejadian baru-baru ini.
"Saya sungguh meminta maaf sama kamu," kata Sore lagi. Sedikit lebih rendah namun tetap serius.
"Boleh saya tanya sesuatu?" Alih-alih memberikan jawaban, Ayu justeru berkata begitu, membuat Sore yakin jika tak akan semudah itu mendapatkan pengampunan dari wanita ini.
"Tentu."
"Kenapa Kak Krystal marah sama saya?"
Sore membisu cukup lama. Satu tarikan napas panjang samar Ayu dengar. Hingga katanya, "Karena saya. Saya yang sengaja membuat dia marah sama kamu."
Jantung Ayu tersentak satu kali. Ia pernah memprediksi hal ini, tetapi mendengar langsung dari mulut Sore, entah kenapa begitu menyakiti Ayu. Air matanya terstimulus dengan cepat, menganak sungai tanpa adanya isak. "Dan karena itu saya kehilangan sahabat satu-satunya. Saya kehilangan seseorang yang sangat berarti." Ayu mengusut air matanya yang jatuh satu-satu dari pucuk dagu. "Saya menderita karena dibenci orang yang semula menjadi satu-satunya tumpuan. Saya ..." Napasnya sudah tersengal. Ayu tak sanggup meneruskan kalimatnya. Dadanya terhimpit rasa sakit.
"Saya minta maaf, Yuna. Saya-"
"Saya tidak tau harus bicara apa. Semuanya terlalu sakit. Bahkan ketika sekarang Bapak meminta maaf atas hal itu pun, saya tetap akan hidup sebagai orang yang paling dibenci kak Krystal. Lalu saya harus bagaimana?" Isak perlahan mulai hadir. "Apa menurut Bapak, saya harus memaafkan dan melupakan luka yang saya derita selama bertahun-tahun begitu saja?"
Ayu pergi dari sana, meninggalkan Sore yang meraup wajahnya kasar.
Dia tahu, Ayu tak akan memaafkannya semudah itu. Dosanya terlalu besar.
...*...
Sore sendirian di meja makan. Sarapan pagi ini tak lebih dari roti panggang ditemani selai, secangkir kopi hitam dan segelas susu yang tadinya diperuntukan untuk Ayu. Tetapi Sekretarisnya itu belum terlihat batang hidungnya sampai sekarang. Bahkan setelah Sore menuntaskan satu lembar roti.
Pikirnya, pasti Ayu masih marah soal semalam. Terutama ketika pengakuannya sebagai orang yang mengacaukan persahabatan Ayu dengan Krystal membuat tangisan pilu samar terdengar, menyelinap di setiap detik yang ia habiskan dengan termangu di balkon sampai fajar menyingsing. Sore mendesah pendek di hadapan meja bundar yang cukup untuk delapan orang, namun hanya dirinya yang berada di antaranya. Seharusnya ia tak mengungkap hal itu tadi malam, ketika Ayu baru diperlakukan tidak baik oleh mantan sahabatnya.
Pernah ia mengira kalau dua gadis berbeda dua angkatan yang dulu kerap dilihatnya duduk berdua di meja kantin yang sama- terlepas dari mereka yang juga sering ditemukan di tengah lingkaran pertemanan kelas masing-masing -menjalin teman hanya sebatas kakak kelas idaman dan junior paling digandrungi, tetapi sepertinya hal itu salah, mengingat efek dari meregangnya bisa separah ini.
Memikirkannya, Sore mengembuskan napas panjang. Tak ada gunanya mengungkit hal itu sekarang, yang perlu ia lakukan adalah menunjukan kesungguhan penyesalannya atas retaknya persahabatan dua gadis sampai menjadi dua wanita dewasa ini. Langkahnya naik ke kamar untuk mengganti pakaian. Melewati kamar Ayu yang pintunya tak bercelah sedikit pun. Ia membenak, mungkin Ayu masih tidur.
Tetapi saat ini pun, tatkala dia sudah berpakaian rapi, pintu kamar di sebelah masih tertutup rapat.
Mengetuk pintu. "Bangun. Sudah pagi."
Tak ingin berlama-lama penasaran, tangannya memutar kenop pintu, hendak masuk. Tetapi tertahan karena pintu dikunci dari dalam.
"Bi!" panggil Sore, pada siapapun maid yang bisa mendengar suaranya. Sepuluh detik baru lewat ketika seorang wanita datang dengan terburu-buru.
"Iya, Tuan Muda," sambutnya, sedikit menunduk.
"Ambilkan kunci serep."
"Baik, Tuan."
Wanita itu turun, kembali lagi dengan apa yang Tuannya inginkan. Pintu segera berayun pelan, kegelapan adalah apa yang Sore dapati. Berderap masuk, dalam sekali gerakan, cahaya merangsek ke dalam ruangan setelah tirai dibukanya.
Sore langsung menemukan ujung kepala menyembul dari selimut yang membentang di kasur. Alisnya terdorong mengernyit aneh. Pernah dua kali mendapati Ayu tertidur sebelum ini, Sore tahu kalau Ayu bukan tipikal orang yang bisa leluasa bernapas di bawah selimut. Wanita itu akan lebih suka tidur tanpa selimut daripada hidungnya terlapisi sesuatu.
"Yuna."
Masih tak ada suara sekecil apapun yang Sore dapati sebagai jawaban.
"Yunaira, bangun!" Suaranya meninggi selagi bergerak menyingkap selimut.
Kekesalan Sore hanya sampai di situ, sampai wajah pucat dan sedikit berpeluh itu tertangkap matanya. Pantas saja Ayu melakukan hal di luar kebiasaanya.
Memanjangkan tangan, menemui kening Ayu yang terlihat gelisah dalam tidurnya. "Panas," gumamnya.
Dua puluh menit berikutnya, jas yang memeluk tubuh atletis itu tersampir alakadarnya di sofa tunggal terdekat. Lengan kemeja terlipat sembarangan sampai ke siku. Sore masih berada di sana dengan kepala yang mencari jawaban atas tubuhnya yang bertindak seakan-akan tak dapat dikendalikan oleh rasional. Ketika kini, ia memeras handuk kecil dan ditempatkan di kening Ayu namun berkali-kali ia melakukannya, di saat yang sama pula ia berniat menolak. Walau akhirnya tetap menjalankan apa yang nalurinya perintahkan- setelah sebelumnya terlihat begitu kesal pada plester penurun panas yang dilepas, dilempar sembarangan olehnya karena dirasa tak berguna. Demam Ayu tak kunjung turun walau telah memakainya.
"Hngh ...." Ayu melenguh.
Sore sigap mencondongkan badan. "Apa ada yang terasa sakit?"
Wajar baginya melakukan itu, karena barusan adalah suara pertama yang terdengar di saat matahari bersiap meninggi.
Senyap, hanya napas panas yang menerpa wajah dengan tempo cepat. Mungkin barusan hanya alam bawah sadar Ayu.
Sore menjauh. "Ambilkan air lagi."
"Baik Tuan." Maid yang sejak tadi ada di sana- sedikit memperhatikan juga -menyanggupi, dengan anggukannya ia ke luar ruangan.
Tak menggubris, karena lagi-lagi tak terkendali. Kali ini tangannya yang bergerak merapikan helaian rambut yang membingkai wajah itu, menempel karena basah oleh keringat. Sore memandang wajah Ayu sesaat, tak dapat dipungkiri dirinya merasa bersalah.
Ayu seperti ini pasti karena apa yang menimpanya malam tadi.
...*...
Ayu terbangun dengan kepala yang sangat pusing dan terasa berat. Matanya menyipit, menyesuaikan dengan cahaya yang tersedia di ruangan. Ini sudah siang, terlihat dari keadaan kamar yang sangat terang. Menoleh, Ayu mengerjap berkali-kali tatkala satu tubuh ia temukan terduduk di sofa dan mata yang lurus menatap ke arahnya.
"Pak ..." Sore maksud kelanjutan perkataan Ayu, tetapi dia mengernyit. Tenggorokannya terasa sakit dan suara yang dihasilkan terdengar aneh, sedikit serak. Ayu memaksa tubuhnya untuk duduk, namun sebelum hal itu terjadi, Sore sudah mencegah.
"Jangan bangun. Tidur saja. Demam kamu baru turun."
Ayu yang sesungguhnya memang tidak kuat, menjatuhkan kembali tubuhnya di kasur. Serangan pening hebat mendera kepalanya akibat gerakan yang terlalu tiba-tiba.
"Apa yang kamu perlukan?" Sore berdiri, berjalan ke satu arah kala Ayu mengatakan yang ia butuhkan adalah air. "Bangun." Tetapi yang diterimanya adalah mata layu menatap tanpa tenaga ke arahnya. Sore mengambil tempat di tepi ranjang, membantu menopang Ayu yang kepayahan mengangkat badan.
"Terima kasih." Suara Ayu sudah lebih baik terdengar usai meneguk air. Tetapi kepalanya masih pusing dan sepertinya Sore tahu itu, dia membantu Ayu untuk kembali berbaring.
"Hari ini istirahat saja. Ada maid yang akan menjaga kamu. Saya harus pergi, ada urusan."
Ayu tak kuasa menjawab, memilih menutup kembali matanya yang terasa begitu berat.
...***...