
Senyum, pakaian dan diri Hera yang begitu anggun di panggung sana menguarkan kekuatan magis yang tak pernah sebelumnya membuat Ayu terhipnotis sebegini jauh. Sampai-sampai berkedip pun tak dilakukannya, ia terlalu terpaku.
Kekaguman itu rupanya tak dirasakan olehnya saja, binar dan gumam terpesona ada di sekeliling, tak surut dari pendengaran. Ayu melihat semua pendapat itu menguap dari puncak kepala mereka, berkumpul di tengah atap ruangan sebelum pecah bersama taburan bubuk kerlip yang kuat mengesankan betapa Hera tampak begitu menawan malam ini.
Spontan senyum Ayu tertarik. Hera memang semenakjubkan itu. Dia sudah dibuat kagum oleh wanita itu sedari jadi mahasiswa. Hanya saja sekadar sebentar senyumnya bertahan, lekas hilang tatkala Sore memasuki area pandangan.
Lelaki itu tampak dingin, sejak awal sampai sekarang. Namun lebih dari itu, jika ditelisik, dingin ini ternyata berbeda dengan dia yang seperti biasa. Sore tak ubahnya bak orang yang tidak sama sekali menikmati, malas dan ingin ini cepat selesai.
"Saya cinta sama kamu."
"Kamu orang yang saya cintai sejak dulu. Sedari SMA."
Ayu mengguncangkan kepala sesaat, berusaha melenyapkan kalimat-kalimat barusan. Tidak. Dia tidak boleh memikirkan itu bahkan di saat seperti apapun. Dia tak sedikit pun boleh memikirkan Sore, termasuk perkataannya. Dia tak boleh goyah. Tetapi bagaimana cara menghilangkan suara yang kini terngiang-ngiang di telinga- Hera! Ini acara Hera! Mari perhatikan wanita itu saja!
Sepersekian detik Ayu kokoh, namun secepat itu juga ia roboh. Matanya dengan mudah beralih. Hanya untuk dibuat meredup setelahnya- sekuat apapun ia mencoba bertahan agar tak menampakkan perasaan yang mati-matian ia timbun. Kepalanya ditundukkan oleh tekanan di dada, dikepung gelombang sesak yang tiba-tiba hadir.
" ... Yu."
"Yu!"
Mata Ayu ditarik menanjak secepat mungkin, menatap kaget si pemilik seruan.
"Rendi?"
"Bukan. Gue jelmaan setengah Leonardo DiCaprio, setengah Cha Eun Woo," cibirnya.
Dan wajah Ayu tak pernah sedatar itu terlihat, ia melengos jengah. "Gak lucu."
Rendi tak terpengaruh, tergambar dari putaran matanya. Ia menaruh tubuhnya di sebuah kursi dekat Ayu. "Tersinggung gue sama lo."
Kening yang menurun, mendorong Ayu guna menoleh pada Rendi. "Maksudnya?"
Rendi malah menumpukan tangan di tepi sandaran kursi, bersantai di sana. Ia menatap Ayu serius. "Lo emang bakal liat gue pas saat kayak gini aja, ya?"
Ucapan itu makin mendorong alis Ayu sampai nyaris mempertemukan keduanya. Tetapi tak lama wajahnya mendatar lagi, sedikit menjemput wajah Rendi, menatap balik dengan menantang. "Kayak gimana maksud lo? Rendi, gue gak ngerti," ucapnya dengan suara rendah.
Rendi terdiam, sukar dibaca maknanya. Ambigu ia perlihatkan. Sedang Ayu pun tak ingin ambil pusing, juga tak berniat menarik wajahnya yang terlalu dekat dengan Rendi. Tidak mempermasalahkan pucuk hidung mereka yang nyaris bertemu.
Bisu yang memaku satu sama lain panjang adanya. Rendi menyelam ke mata Ayu yang malam ini terlihat seolah-olah memiliki taburan bintang di dalamnya. Indah, tetapi menyesatkan untuknya.
"Kalau mau ciuman jangan di depan gue, please."
Wajah Rafi tahu-tahu ada di antara mereka berdua, dengan jarak yang sama dekatnya. Tatapan datar bersorot terganggunya itu membuat dua kepala lainnya menoleh dalam kecepatan mili detik, selanjutnya menjauh cepat dengan binar kaget.
Rafi menegak, berdecak sarkas. "Kalian bisa, kan gak usah bikin gue salah satu kaum jomblo berkepanjangan jadi merana? Mentang-mentang semua mata lagi fokus sama yang lagi tukeran cincin, kalian sengaja memanfaatkan pojokan buat melakukan dosa." Dia menggelengkan kepala miris. Tetapi katanya sambil menyongsongkan antusiasme, "Di sini kamar banyak. Mewah lagi. Gak minat buat nyewa satu? 'Tar kalian fotoin isinya. Gue pengen liat kebombastisannya." Sekarang matanya persis sedang membayangkan. Kemudian dia tersentak, tidak tahu karena apa. "Tapi jangan fotoin kalian yang lagi hiya-hiya! Mata gue masih perjaka! Gak bakal rela gue kalau dicemarin dengan zina!"
Ayu dan Rendi saling tatap. Ada apa dengan manusia di depannya ini?
Namun sepertinya sia-sia ketika Rafi berkata, "Hngm ... Hngm ... Kalian pasti ghibahin gue lewat telepati." Telunjuknya menuding wajah dua orang di hadapan.
Rafi dengan julukannya "si cenayang" memang bukan rumor belaka.
Rendi beranjak lebih dulu, memutus tatapan sengit penuh kecurigaan dari Rafi. "Lo gak ada sambutan apa gitu buat gue yang baru balik dari negri orang?" katanya. Posisi yang menatap Ayu, gamblang menjelaskan jika tanya barusan ditujukan pada wanita itu, membuat Rafi yang sedang sentimentil soal pasangan-percintaan-perjombloan merengut tersinggung. Lelaki itu berseru, suaranya tercampur geram dan jengah.
"Bodoooooo. Dunia emang milik kalian berdua."
Rendi melipat tangan di dada, memiring sedikit untuk menghadap pada kekesalan Rafi yang tercetak jelas. Lalu ia menembak dengan kalimat, "Apa sih jomblo? Berisik aja."
Yang praktis membuat Rafi mengerjap-erjap, menahan dada dan mendemonstrasikan adegan terserang asma. "Woaaah," mulainya tak menyangka. "Spesies takabur begini nih yang bakal dilaknat Tuhan." Dan baru benar-benar pergi lima menit berikutnya setelah persitegangan sengitnya dengan Rendi dibubarkan Ayu karena telah banyak menarik perhatian. Termasuk orang-orang di panggung sana.
Selepas melempar tubuhnya kasar di kursi, Ayu menggelengkan kepala tak habis pikir. Bisa-bisanya dua lelaki dewasa itu mendebatkan hal yang tak penting.
Tapi tanpa terantisipasi sama sekali, Rendi melakukan manuver. Menyeret Ayu membelah ruangan luas ini- yang saking kagetnya nyaris terguling. Ayu diperlakukan tanpa aba-aba begitu hanya bisa menurut karena takut menginjak gaunnya sendiri, meskipun wajahnya penuh tanda tanya. Belum lagi ia harus bertambah kebingungan saat di tengah-tengah perjalanan, derap Rendi memelan dan yang dia lakukan selanjutnya adalah merangkum jemari Ayu untuk saling bertaut dengan miliknya, mengisi kekosongan ruas-ruasnya. Lelaki itu beralih mengiringi, bukan menggiring seperti barusan.
...*...
Di tempat benderang penuh manusia dan meja-meja itu bisikan banyak terdengar. Mereka mencuri-curi pandang, bergumam membicarakan hal yang sama.
Pada satu meja di dekat jendela itu, ada satu lelaki dan wanita dengan kostum di badannya yang terlihat salah kaprah. Tetapi mereka tampak tak peduli, sibuk saling melempar argumen.
"Jadi ... Gue mesti gimana?" Tangan Ayu sigap menahan jas yang turun untuk kembali menutupi pundak polosnya.
"Ya apa kek. Peluk, cium atau ... Ya, apa aja caranya buat nyambut orang!" Rendi yang tersisa dengan kemeja putihnya berseru kesal. Menyedot minuman di gelasnya banyak-banyak.
Sementara di sisi lain, mata Ayu memicing tajam, menusuk Rendi dengan sengit. "Gak perlu sampe cium ya, kalau cuma buat penyambutan! Itu berlebihan!" Tapi kemudian ia teringat sesuatu. "Gue ada voucher liburan sama nginep. Buat dua orang. Lo mau? Itung-itung penyambutan yang lo TUNTUT."
Meski sebenarnya bisa dengan lantang mengiyakan, Rendi memikirkan gagasan liburan dan menginap itu agak lama, semata-mata hanya untuk menunjukkan sikap jual mahal.
Ayu melirik pada arloji yang melingkar di tangan Rendi yang ditaruh di atas meja dengan malas. Lalu mencetus sambil beranjak, "Liburannya gak jadi."
Rendi melotot. "Lho kok???"
"Kelamaan mikir."
"Oke-oke. Gue mau," kata Rendi cepat-cepat menahan tangan Ayu.
"Oke." Kembali duduk karena memang tak serius ingin pergi secepat itu.
Rendi menarik napas panjang diam-diam. Mungkin rencana "liburan" nanti adalah momen yang tepat untuk mengutarakan satu maksud yang ia bawa buru-buru dari Korea, meninggalkan pekerjaan yang sebetulnya belum rampung.
...***...