Ours

Ours
Bab Dua Puluh - Gairdin Cafe



Sore itu pengecut.


Sadar betul ketika kini ia menghindari Ayu dengan cara menyetujui permintaan sang Ayah untuk mengunjungi sekolah Yayasan yang didirikan Kakek. Meski dia memang berniat akan ke sini setelah dari makam, tetap tak ada pembelaan tatkala waktu yang ia pilih adalah ketika tak berani menemui seseorang. Sore tetaplah tercundang oleh rasa takut.


Usai lolos dari ruang Kepala Sekolah dan segala sapaan yang memulai terlemparnya ia ke segala lapisan waktu dalam kenangan lelaki paruh baya berkacamata itu, pun termasuk pada momen ketika dirinya bersekolah di sini- yang sekarang menjadi Kepala Sekolah dulunya adalah Guru Sore di kelas enam, Sore terjebak di antara lautan anak berkemeja putih dirangkap rompi kuning dengan bawahan kotak-kotak perpaduan kuning dan kelabu. Ah, dia salah memilih waktu. Sekarang saatnya manusia cebol di kelas taman kanak-kanak pulang.


Sore sampai di mobilnya lima menit setelahnya. Selepas melakukan aksi menerobos yang mendapatkan protes dan pekik suara nyaring anak-anak. Dia belum masuk, baru selesai menerima satu panggilan telepon tatkala gerakannya yang akan membuka pintu terhenti.


"Bu, nanti aku mau beli permen kapas di depan!"


"Em? Dina suka permen kapas?"


"Iya! Suka banget!" Tersenyum ceria dengan satu gigi depannya yang tanggal.


Terlihat wanita dewasa itu tersenyum, mengangguk adalah sebuah kesanggupan yang ia berikan. "Nanti kita beli."


"Yay!"


Percakapan kecil antara seorang Ibu dan anaknya yang menjadi murid di sekolah ini telah berlalu, namun fokus Sore tak jua lepas dari sosok mungil yang mengekor di belakang mereka.


Anak itu diam saja, tetapi mudah bagi Sore untuk menemukan binar iri di matanya. Sebentar setelah itu, kepalanya tertunduk dengan sorot mata yang meredup.


Apa dia tidak dijemput oleh Ibunya juga? pikir Sore.


Anak kecil memang mudah iri pada hal sepele, contohnya seperti ketika melihat temannya yang dijemput salah satu orangtuanya. Sore tahu itu, dia pun pernah mengalaminya. Tetapi tampaknya anak itu berbeda, dia seperti seseorang yang iri karena memang tak pernah sama sekali, seperti ketika apa yang paling ia inginkan tak juga terkabul sedang orang lain mudah mendapatkannya.


Sore menyentakkan kepalanya sekali, ingin lanjut saja pada niatnya untuk segera pergi. Tetapi rupanya ia tak bisa kemana-mana, karena lagi-lagi dirinya harus terdiam. Satu kekuatan magis berasal dari anak kecil tadi menariknya. Untuk memperhatikan, untuk meluangkan waktu berdiri dengan mata mengawasi.


Siapa yang sekarang sedang bersama anak itu? Yang membuatnya tertawa dan berjingkrak?


Alis Sore menukik, berusaha menajamkan pandangan. Menelisik siapa wanita dewasa yang berpakaian kantoran berjarak cukup jauh di sana.


...*...


Ayu berjalan dengan langkah ceria. Perasaanya melambung bahagia.


Entah apa yang terjadi pada sang CEO, hanya dengan bermodal satu kalimat, "Sore gak ada, kan? Ya udah kamu pulang aja. Jalan-jalan atau apalah. Biar pikiran kamu gak mumet-mumet amat. Selama ini sepet, kan liat wajah lempengnya Sore melulu? Saya aja jengah liatnya saban hari." dia menjamin kelangsungan pekerjaan Ayu yang sempat melongo, karena tiba-tiba saja menerima "pembebasan" saat berpapasan di salah satu lorong. Kesadaran yang datang lambat mendorongnya untuk segera mengiyakan dan mengepak barang-barangnya. Ayu tak ingin tahu kenapa sang CEO bisa seolah memahami kondisi, seolah tahu jika Ayu kesulitan tertidur hanya karena kemungkinan akan bertemu Sore paginya. Yang terpenting sekarang adalah tempat tujuannya.


Melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanan sekali, Ayu menambah kecepatan berjalannya.


Sudah waktunya. Dan bangunan luas di depan mata membangkitkan sepercik antusias, membayangkan senyum bahagia yang akan segera ia terima. Ia berakhir setengah berlari, mendapati seorang anak kecil sedang sendirian di samping gerbang yang terbuka.


"Hayyy," sapanya riang, begitu saja senyumnya tumpah ruah.


Irene membeliak melihat keberadaanya. Tak lama, kedua matanya menghilang, terdorong tarikan senyum. "Hay!" sambut dia senang.


"Hari ini aku yang jemput, bukan Om Jun. Gak papa, kan?"


"Um!" Irene mengangguk keras.


Ayu tersenyum penuh, mengacak-acak atas kepala Irene. Kemudian menyodorkan tangan yang segera disambut oleh keceriaan Irene yang baru pertama ia lihat. Irene sesenang itu ketika ia jemput. Tak tertahan ketika hal itu menjadikan wajah Ayu sedikit kehilangan rona ceria, merasa bersalah. Tak ingin terlarut, secepatnya ia mengembangkan senyumnya lagi.


"Nah. Hari ini kita mampir buat beli gado-gado dulu di depan. Irene mau?"


Irene terlonjak bahagia. "Mau!"


...*...


Seperti biasa, menyetir memang membosankan.


Sore membawa stir untuk berbelok, di saat itu ia melihat pemandangan yang membuatnya terpaku sepanjang jendela sebelah bisa menayangkan. Memelankan mobil, Sore memikirkan ulang adegan barusan. Tidak salah lagi. Itu memang Ayu dengan bocah yang tadi diperhatikannya tadi di sekolah. Jadi wanita tadi benar-benar Ayu -Sore sempat tidak meyakininya.


Sore memundurkan adegan tentang apa yang baru saja direkam otaknya, ia menepi. Menggigit bibir bawah dan menurunkan alis, berpikir.


Siapa anak itu bagi Ayu? Adiknya kah? Sebab interaksi mereka tampak dekat.


...*...


Rendi memperhatikan seorang anak kecil itu, sedang bermain bersama seorang lelaki dewasa di ruang tengah. Ia tak dapat menahan matanya yang memindai dan menilai, menelisik setiap gurat di wajah keduanya. Mereka nyaris mirip dan Rendi terlalu terfokus pada anak perempuan berambut lurus itu, memperhatikan bagaimana caranya tertawa yang persis seperti milik Ayu, sampai satu bunyi menyadarkannya. Sosok berpakaian rumahan Ayu mengambil tempat di sofa seberang. Dua gelas jus jeruk telah hadir di meja berpermukaan kaca, menemani mereka di sana.


Tanpa peringatan Rendi melayangkan tatapan mengkonfirmasi pada Ayu yang terlihat agak gelisah, seperti memikirkan sesuatu.


Sampai saatnya Ayu mengembuskan napas lelah, kemudian katanya, "Mereka itu ... keluarga gue."


"Keluarga?"


Mengangguk-angguk lemah. "Keluarga kecil gue."


Rendi menggantungkan tangannya di samping badan. Ponselnya masih menyala, menampilkan sebuah foto yang dikirim dari kontak tanpa nama, tetapi Rendi tahu betul itu siapa.


Mengambil udara pendek, sedikit merapatkan mantel tebal yang dipakainya. Langkahnya dilekaskan, alas sepatu mengetuk cepat lantai bandara. Ia harus segera pulang. Ia harus segera menemui Ayu.


"Pak. Ada seseorang yang mengatakan ingin bertemu dengan Bapak?"


"Seorang wanita yang mengaku sebagai teman Bapak."


"Teman? Namanya?"


"Dia enggan memberitahu. Dia hanya bilang 'seseorang dari masa SMA' dan menitipkan ini."


Rendi membaca isi secarik kertas yang diserahkan Sekretarisnya. Terdiam sesaat, memikirkan apakah harus memenuhi atau menolak.


Hanya sebuah informasi yang gue punya. Tapi lo mungkin menyesal kalau gak mengetahuinya.


Gairdin Cafe


Rendi memicingkan mata. "Kak Krystal?"


Krystal menoleh ke belakang dengan gerakan anggun, sedikit mengibaskan rambut panjang yang membingkai wajahnya. Dia tersenyum, penuh arti. "Hallo."


Kursi kosong di hadapan Krystal jadi tempat yang Rendi duduki kini. "Ada ... keperluan apa ya, Kak?" Rendi bertanya sungkan pada mantan kakak kelasnya itu. Mereka tidak pernah akrab, jadi rasanya sedikit aneh bila menemukan Krystal dengan sebuah keperluan padanya. Dia bahkan tak mengira jika seorang populer dari keluarga Dirma seperti Krystal bisa mengetahui fakta tentang Rendi sebagai adik kelasnya. Rendi tidak mencolok dan Krystal mengetahuinya, haruskan dia tersanjung?


Krystal tersenyum, mengetahui dengan pasti letak kecanggungan Rendi. "Santai aja, Ren. Gue gak bakal apa-apain lo."


Rendi tertawa canggung, pendek. Berdeham. " ... Jadi ... ada apa, Kak?"


"Jarak dari tempat lo tadi jauh loh. Gak minum dulu?" Memberi gestur menunjuk dengan tatapan, pada satu cangkir yang Rendi hadapi. "Latte panas. Semoga pilihan gue gak salah."


Rendi mengangguk sedikit kaku. Berkata, "A- ah, gak kok, Kak." Lalu mengambil satu teguk.


Krystal menyunggingkan senyum pelan. "Bagus deh. Latte gak terlalu buruk buat diminum di musim dingin kayak gini, kan?" Kemudian mengambil satu teguk dari cangkirnya sendiri. Usai itu ia mendesah nikmat. "Gak pernah gue sangka ternyata kapucino di Korea enak juga." Dan konsentrasi berlanjut pada cangkir di tangannya. 


Rendi mendapati itu sebagai tanda jika dia tidak harus menjawab kalimat Krystal sebelumnya yang sebentuk pertanyaan. Selepas tegukan kecil tadi, Rendi mengikuti aliran yang Krystal bawa: terdiam menikmati suasana Kafe yang bernuansa kayu, menenangkan bersama alunan musik yang mengalun.


Hanya saja tetap dia tidak nyaman jika harus berdiam lama-lama. Tetapi sayangnya Krystal tampak begitu menikmati pemandangan salju turun di luar sana.


Rendi berdeham kecil, menuntut perhatian Krystal agar mengindahkan keberadaanya. Siapa tahu wanita itu lupa jika sedang ada seseorang berhadapan dengannya. "Maaf, Kak. Tapi kalau boleh tau-"


"Jauhin Ayu." Tembak Krystal tiba-tiba, membuat Rendi mengerjap sedikit kaget.


"Apa, Kak?"


"Gue rasa lo punya pendengaran yang masih baik."


Rendi kehabisan kata-kata. Bukan begitu maksudnya. Sedikit waktu hadir mengisi kekosongan, Rendi baru bicara lagi sepuluh detik selanjutnya. "Ayu ... Maksud Kakak ... Yunaira?"


Krystal menarik senyum remeh. "Memangnya siapa 'Ayu' yang kita berdua kenal?"


Oke. Rendi mulai jengah dengan gaya bicara Krystal. Ini terlalu bertele-tele. "Langsung ke intinya saja," tukasnya dingin.


Entahlah. Krystal seperti hobi menyeringai. "Ayu bukan orang yang pantes lo deketin. Jauhin dia. Karena sampai kapan pun lo gak mungkin bisa dapetin dia."


Agaknya tersinggung Rendi terpantik, dahinya berlipat samar. "Bukan Kakak yang nentuin bisa atau tidaknya Ayu saya miliki," cetusnya dingin, lalu mendengus geli. "Apapun itu urusan Kakak di negara ini, sepertinya Kakak udah buang-buang waktu dengan hal ini."


Wajah Krystal nyaris seperti biasa, tetapi jelas dia mencemooh. "Gue bahkan gak punya urusan di sini. Gue sengaja jauh-jauh ke sini buat nemuin lo. Setidaknya lo merasa terharu." Lalu dia manyun main-main, menunjukkan rajuk palsu.


Rendi baru tahu, wanita secantik Krystal bisa sangat menggelikan baginya. "Maaf sudah membuat Kakak repot-repot, tapi ini sama sekali bukan hal penting buat saya. Jadi permisi."


Gerak Rendi yang telah setengah beranjak dari kursi terhenti oleh apa yang Krystal katakan.


"Bukan gue Rendi," Menatap Rendi dingin. "tapi apa yang gue bawa."


Rendi seharusnya pergi, tapi rasa penasaran kurang ajar merekatkan dirinya kembali ke kursi. Rendi mencoba mengikuti apa yang Krystal inginkan. Dia akan melemparkan dengusan keras nantinya jika apa yang Krystal samarkan dengan "apa yang gue bawa"-nya itu benar-benar bukan sesuatu yang penting.


Krystal puas dengan keputusan Rendi. Cepat dia meraih satu paperbag di dekat kaki meja, menyerahkan isinya pada Rendi. "Silakan periksa sendiri."


Sebuah amplop cokelat besar yang langsung Rendi terima. Dengan ekspresi dingin membuka dan menerima isinya. Menelusuri apa yang tertera pada selembar kertas dari dalamnya, ekspresi Rendi pudar. Tergantikan oleh bayang-bayang ketidakpercayaan di matanya.


"Lihat? Sekarang lo ngerti kalau harusnya lo dengerin apa perkataan gue."


Napas Rendi rasanya tanggal di tenggorokan. "Gimana ...." Tak sanggup melanjutkan.


"Lo udah tau itu, Rendi. Kan?" Dia mencibir. "Ya, gue paham. Kadang manusia memang suka menipu diri sendiri. Berharap pada sesuatu yang gak pasti, padahal sebenarnya dia udah tau kalau kenyataan yang ada sama sekali gak berbaik hati pada harapan. Lo udah ada clue, tapi pura-pura gak tau soalnya gak mau merasa sakit."


Rendi terdiam, pandangan jatuh pada tangannya yang mengepal di atas meja, urat-uratnya menonjol. Telak. Krystal mengetahui dengan pasti apa yang selama ini Rendi paksakan. Apa yang coba ia tampik dengan ketidakmungkinan mereka bertemu rasa.


Tapi jejak yang tertinggal terlalu jelas menunjukkan kalau Rendi hanya pecundang yang terlalu berharap akan belas kasih yang bukan haknya. Pada cinta yang bahkan telah menolak hatinya.


Krystal beranjak. Untuk terakhir kali ia berkata sambil menjatuhkan tepukan pelan di pundak Rendi yang menegang, cukup sekali.


"Pikirkan baik-baik apa yang ada di situ."


...***...