
"Kok, lo malah cium gue?!"
Rendi berseru di depan wajah Ayu persis. Reaksi berlebihan dan sangat tak terduga yang membuat mata Ayu membulat. Mengerjap-erjap polos. "Emangnya gak boleh?"
"Enggaklah! Gue ini masih suci! Kayak baju baru di hari lebaran!"
Ayu memutar bola mata sebal. "Cuma di pipi ini."
Hidung Rendi kembang-kempis. Sepertinya lelaki ini serius dengan perkataannya. "Tetep aja! Pipi gue juga udah kembali ke fitri!"
Dan begitu saja, Ayu terpancing untuk ikut-ikutan ngegas. "Kayak yang gue gak tau aja udah berapa banyak cewek yang lo ajak main di kelab!"
"Itu dulu! Sekarang gue udah tobat! Udah kembali-"
"Ke fitri! Bodo amat, Ren, bodo!" Sambar Ayu keki. Dia tak habis pikir akan berakhir saling melempar teriakan setelah sesi tadi dihabiskan dengan adegan penuh tangis.
Ayu harus sampai mengusir Rendi yang berdiri menantang di atas kasurnya saking tidak terima. Lelaki itu tentunya mencoba bertahan, tetapi dia dibuat berspekulasi kalau Ayu bisa menyerap energi alam karena tenaganya yang tak main-main. Dia bisa didorong Ayu hingga sampai ke ambang pintu. Perempuan itu juga menutup telinga untuk protesan Rendi soal kalimat yang baru saja ia ucapkan.
"KATA-KATA ITU PUNYA GUE YA-"
BRAK!
Pintu dibanting di depan hidung Rendi.
Tak semudah itu Rendi melepaskan Ayu, dia menggedor-gedor pintu dengan tak sabaran sampai mendapatkan protes dari salah satu penghuni lain di lantai ini- setidaknya seperti itu skenario di pikiran Ayu, namun nyatanya tidak begitu. Selepas debum keras barusan, suasana benar-benar senyap. Bagaikan tak pernah terjadi satu persitegangan antara sepasang teman.
Ayu yang terdiam penasaran mendekatkan telinga ke pintu, mencari setitik suara dari baliknya. " ... Rendi?"
Tidak ada jawaban. "Ren? Rendi?" Masih tidak, Ayu sedikit khawatir sekarang. "Ren-"
"Hmm."
Tanpa sadar, sahutan itu menjadi alasan Ayu menarik napas lega. "Belum pergi?"
"Ya kalo gue udah pergi siapa yang barusan ngejawab ke lo?"
Astaga. Sia-sia dia bertanya hati-hati hanya karena takut telah menyinggung. Mendengus keras. "Terserah. Gue mau tidur aja."
Ayu belum sama sekali memutar badan untuk menjalankan niat itu, ketika kalimat cepat dari Rendi menahannya di sana.
"Jangan tidur dulu!"
Otomatis, Ayu kembali menempel di pintu. Bibir merah muda itu menipis saat kepalanya dihinggapi niat jahil. Berdeham, mengupayakan suaranya agak tak enak didengar. "Gak mau. Gue ngantuk."
"Ini bahkan belum terlalu malem."
"Terserah gue lah!" Ayu menutup mulut, menahan kikik geli karena sepertinya Rendi percaya.
"Oke-oke. Bentar aja, ya? Lima menit. Dengerin dulu apa yang mau gue bilang. Abis itu udah."
"Bener ya, lima menit!"
"Hm."
Gerakan Ayu yang ingin membuka pintu terhenti karena Rendi menahan gagangnya dari luar. Suara lelaki itu masuk dari celah kecil di sana. "Gak usah dibuka."
"Tadi katanya mau ngomong."
"Iya. Tapi gini aja."
Meski merasa aneh, Ayu menurut. Dia penasaran, ingin mendengar apa yang akan lelaki ini katakan.
Rendi memulai dengan tarikan napas yang entah kenapa membuat Ayu seketika was-was. "Yunaira. Lo tau, kan gue sayang sama lo?"
Baru di sini saja napas Ayu sudah dibuat tertahan. Terutama ketika intonasi Rendi yang terdengar sedikit murung. Senyap beberapa jenak sebelum Ayu menjawab dengan gumam pelan.
"Tolong bilangin ke Kak Jun, mantel yang waktu itu gue pinjem, gak sengaja ketumpahan tinta pemilu waktu nyoblos. Udah gue usahain buat cuci, tapi gak bisa ilang. Sekarang bangkainya gue simpen di gudang. Bilangin gue minta maaf. Jangan jotos gue walau mantel itu mahal, merk Kendi lagi." Sepersekian detik kalimatnya bertambah dengan, "Limited edition juga."
Ayu tertawa pelan saat kalimat Rendi barusan memproyeksikan Kak Jun yang sedang marah-marah di kepalanya. Tetapi meski begitu, entah kenapa tak bisa mengenyahkan sesuatu mengganjal yang kini bersemayam di hatinya. "Kenapa nggak cari gantinya?"
"Udah sold out, Yu. Jangan kira gue gak usaha. Kaki gue sampe segede talas bogor saking seringnya ngubek-ngubek tiap butik Kendi."
"Udah coba cari yang kw?"
Rendi berdecak. Kenapa pembahasan mantel ini jadi panjang? Ini sudah memakan waktu dua menit. "Kapan sih Jun nikah sama anak konglomerat Inggris? Udah lama, kan? Sejak jadi pangeran karbitan itu anak udah dicekokin barang-barang branded. Udah pasti bakal jeli sama perbedaan asli atau kw. Dan ini udah dua menit tiga puluh detik, bisa gak lo anggap masalah mantel itu udah kelar? Masih banyak yang mau gue omongin."
Baiklah, sekarang suara Rendi sudah kejengahan, saatnya Ayu berhenti. Berdeham sekilas. "Apa yang mau lo bilang dalam waktu sependek itu?"
Tetapi rupanya Ayu tetap menyebalkan bagi Rendi dengan kalimatnya itu. Dia memutar bola mata- lagi. Lebih memilih melanjutkan apa yang telah diniatkan. "Lo tau, kan kalo gue juga sayang sama Irene?"
Ayu tidak menjawab, tetapi batinnya mengiyakan. Dia tahu betul.
"Tolong bilang ke Irene, kalo gue sayang sama dia, si princess pecinta gado-gado nomer wahid senusantara."
Berulang, Ayu tertawa. Hanya saja kini disusul air mata melesak. Sesak di dadanya bertambah hanya karena prasangka kalau hal ini terasa seperti perpisahan yang ditutupi oleh Rendi. Ayu berharap perasaan itu tak kentara ketika ia memberanikan diri untuk menjawab. "Gue bakal bilang ini cuma sekali." Percuma saja, suaranya tak terkendali. Gampang sekali untuk bergoyang-goyang terutama belum lama ia melakukan hal yang sama, menangis. "... Irene sering bilang kalo dia sayang sama lo. Tapi gue gak pernah mau bilangin ke lo karena iri."
"Kok lo malah nangis sih?"
Tak terdengar sebagai sebuah guyon, intonasi Rendi yang seperti ini membuat Ayu kesal. Bukan ini yang dia inginkan! Seharusnya Rendi meledeknya! Seharusnya Rendi tertawa dan mengatakan kalau dia cengeng! "Enggak. Mata gue cuma berair."
"Ya itu namanya lo nangis."
Isaknya makin jelas terdengar, mendapatkan sahutan berupa embusan napas panjang dari balik pintu.
"Kenapa kamu nangis?"
"Oke. Jadi kenapa lo nangis, Yu? Ada yang sakit?"
Ayu sesenggukan. "Kenapa sih lo terus-terus nanyain kenapa gue nangis? Gue emang lagi mau nangis, Rendi."
Untuk ke sekian kali, Rendi menarik napas. Lalu katanya lemah. "Maaf ...." Dan setelahnya, suaranya kembali seperti biasa. Namun dapat dengan mudah Ayu menemukan usaha untuk tegar di sana. "Tujuh menit. Lebih dua menit. Sorry gak nepatin janji. Gue pergi. Selamat malam."
Pintu ditutup dari luar. Ayu mau tak mau harus kalah oleh beban yang tiba-tiba hadir di pundaknya, mendorongnya untuk luruh ke lantai.
Kepalanya jatuh, rambutnya terburai, tangisnya pecah berantakan di sana. Pilu, sakit. Ayu menekan bagian di mana jantungnya berada.
Tidak bisakah seseorang bertahan di sampingnya? Kenapa semua selalu meninggalkannya dalam kesedihan yang ia tak ketahui di mana ujungnya.
...*...
Hera sedang mengepak barang ke dalam koper pagi itu, saat satu panggilan telepon membuat kegiatannya berhenti sejenak.
Krystal
"Halo?"
"Gue denger, katanya hari ini lo mau pulang?"
"Iya, Kak."
"Kok buru-buru banget? Baru sehari loh." Krystal terdengar menyayangkan.
"Iya. Soalnya Sore masih ada kerjaan katanya."
Masuk ke telinga Hera sebuah decakan. "Emang kapan dia gak ada kerjaan? Tiap hari juga mantengin berkas-berkas," katanya jengkel.
Hera tersenyum, meski jelas Krystal tak akan bisa melihatnya. Tetapi hanya itu yang dia mampu. Tertawa di keadaan hati berat seperti ini sulit rasanya. Jadi dia hanya menggumam singkat sebagai jawaban. Hera berderap untuk mendekatkan diri ke jendela, memperhatikan kolam renang di bawah sana yang tampak sepi.
"Lo kedengeran kayak lagi bete? Kenapa?" Belum ada jawaban apa-apa dari Hera karena wanita di seberang sambungan sana sudah menjawabnya sendiri. "Pasti karena si kampret Sore, kan?!"
Justeru suara tinggi ini yang membangkitkan tawa kecil Hera. "Enggak kok, Kak. Aku cuma gak mau ngecewain Kak Ital. Kakak yang biayain liburan ini bahkan buat seminggu, tapi aku malah pake sehari aja," kilahnya.
"Hngg... Gak papa. Lo juga pasti gak punya pilihan. Tapi ada syaratnya kalo lo mau balik ke sini dengan selamat."
Heran duduk di tepi ranjang. "Apa?"
"Kita langsung fitting gaun pernikahan. Gue yang tentuin nanti."
"Tapi yang ngatur Tante Inari," ujarnya sedikit kecewa.
"Gampang itu mah. Gue bisa obrolin sama Tante entar. Lo tau-tau tinggal ikut aja."
Hera terkikik pelan. "Aku gak ikut-ikutan tanggung jawab kalo nantinya Kak Ital malah dimarahin."
"Gak bakal. Gue, kan ponakan kesayangan Om Jo." Krystal terdengar meyakinkan dengan rasa bangga tersirat. Hera sampai tak menyangka kalau wanita yang diam-diam dikaguminya itu akan jadi Kakak iparnya.
Interupsi hadir berupa ketukan di pintu.
"Bentar ya, Kak. Ada yang dateng."
"Hmm."
"Udah beres belum?"
Itu yang Hera dapatkan setelah mengayunkan pintu dan Sore berdiri tepat di depannya.
"Belum. Dikit lagi."
"Kalo gitu cepet. Gue tunggu di lobi."
Dengan anggukan dari Hera, Sore melengos dari sana. Tak sekelebat pun di matanya Hera temukan ingin membuang-buang waktu walau sekadar menunggu Hera di depan pintu. Membawakan koper? Mustahil.
"Itu pasti si Patung Es bergerak, kan?"
Suara Krystal menyadarkan Hera dari keterdiaman.
"Iya. Emang Patung Es." Hera berkata sepenuh dongkol dan membuat Krystal tertawa.
"Pokoknya kalo udah nikah, lo mesti bisa cairin itu Es."
"Gimana caranya?"
"Ya dipanasin."
"Dipanasin?"
"Ah, masa lo gak tau," kata Krystal terdengar main-main.
Hera berpikir sejenak. "Maksudnya apa sih-"
"Kak Krystal."
Eh? Hera barusan mendengar suara laki-laki yang ke luar dari speaker ponselnya. Krystal tidak sedang sendirian? "Siapa itu Kak?"
"Temen. Udah dulu, ya? Gue tutup dulu telponnya. Gue tunggu di sini. Jangan mangkir! Awas aja! Gue mau cariin gaun yang terbaik buat lo. Dah, Hera."
Sambungan diputus sepihak. Hera sempat menatap bingung ponselnya yang telah menggelap. Tetapi untungnya dia langsung teringat pada Sore yang mungkin sudah kesal menunggunya. Dia ujung-ujungnya memasukkan sembarangan barang-barang bawaannya, kemudian mengernyit sedikit. Bisa-bisanya dia membawa barang sebanyak ini? Untuk apa kalau akhirnya hanya pergi sehari? Hera nyaris mendengus. Kenapa juga sempat sangat antusias memikirkan agenda yang akan dijalani di tempat ini? Seharusnya dia tahu, Sore akan lebih memilih bergelut dengan kertas berharga milyaran daripada menyegarkan pikiran. Apalagi jika itu dengannya.
...***...