
"Liat, tuh."
Semua menoleh mengikuti arahan dari Dean. Pandangan mereka tertuju pada televisi empat puluh inchi yang terpasang di dinding kantin.
Satu saluran televisi sedang menayangkan acara infotainment, dan yang membuat Dean tergerak meminta perhatian kawan-kawannya adalah sesosok Cakrawala Sore yang ada di dalamnya.
Bukan hal yang mustahil Direktur itu ada di sana. Sosok Sore yang merupakan penerus salah satu perusahaan terbesar di Asia akan dengan mudah menarik perhatian khalayak. Apalagi sebelum dirinya, kehidupan sang Ayah sudah jadi konsumsi publik.
Meski tak dapat banyak mengulik topik yang berkaitan dengan pribadi, masyarakat akan tetap penasaran walau berita yang beredar sebatas agenda liburan keluarga konglomerat itu.
Ayu sebenarnya tidak pernah tertarik pada acara yang mempertontonkan kekayaan dan kemewahan seorang, dia biasanya akan jatuh iri dan mengomel sambil mengudap mi instan. Tetapi karena semua mata memandang ke arah televisi, Ayu tak ingin dianggap sok tidak tertarik jika terus konsentrasi pada makanan di piringnya.
"Wah, gile sih! Ini berita terbombastis abad ini!" komentar Rafi, terlalu antusias dengan mata melototnya.
Ayu mengerjap, dia bahkan baru berniat melihat ke layar bercahaya itu, tapi Rafi sudah heboh sendiri.
Indah menimpali, suaranya masam terdengar. "Masih gosip sih, ya. Belum diklarifikasi. Jangan heboh dulu. Nyebarin hoax, dipidana lo."
Rafi memicing. "Sensi banget lo."
Dean ikut bicara. "Tumben lo asem. Biasanya kan, lo yang paling gercep soal gosip. Lambe turah aja biasanya keduluan ama lo."
Indah memutar bola mata. "Salah ya, gue ngasih nasihat buat kemaslahatan kalian?" ucapnya bernada tersinggung. Menggedikkan bahu. "Terserah kalian sih, ya, gue gak ikut-ikutan kalo entar kalian dipenjara."
Kalimat dari Indah justeru menambah sempit mata Rafi penuh kecurigaan. "Bukan seorang Indah si ratu ghibah kalau bersikap kayak gini. Gue mencium bau-bau perasaan terselubung."
"Eh, eh! Tuh, tuh liat!" Dean menyela rusuh. Kembali mengambil alih perhatian.
Kini di televisi terpampang foto Sore yang disandingkan dengan foto hitam sosok wanita misterius dengan tanda tanya besar terpasang di badan cewek tersebut. Dengan tulisan "Siapakah gerangan sang calon tunangan????" terpampang dengan ukuran besar di layar.
"Kan!" seru Rafi sambil menggebrak meja, membuat yang ada di sana terperanjat kaget. "Pak Sore gak pernah dikabarkan dekat sama cewek manapun dari dulu. Sekarang tiba-tiba ada kabar kalau dia bakal tunangan. Ini sih udah fix, bentar lagi sah!"
Tepat setelah itu, Indah beranjak dengan gerakan agak kasar. Lalu katanya, "Entar kalo di nikahan pak Sore kalian liat isterinya muntah paku, gue pelakunya."
"Wih, ngeri banget lo Ndah." Dean berkomentar pada sosok Indah yang kini telah lolos dari jarak pandang.
Ayu mengerjap. "Indah kenapa?"
Masih Dean yang bicara. "Biasa, lah. Sekalipun suka nyinyirin pak Sore, indah tetep termasuk salah satu dari jajaran cewek yang nge-fans berat sama dia. Siapa juga yang gak bakal klepek-klepek liat muka kayak pangeran Disney begitu? Kebanyakan cewek pasti tergila-gila sama cowok berpredikat flamboyan kayak dia," jelas Dean panjang, dengan mata yang sekali-kali melirik pada Ayu. Menanti setiap reaksi yang temannya itu ciptakan. Dan gotcha! Tatapan Ayu yang mengambang membuat senyum tipis Dean tertarik.
"Eh, tapi ngomong-ngomong, ceweknya kayak gimana, ya? Penasaran gue. Siapa cewek yang mampu mencairkan gunung es di hati bekunya itu orang?"
"Pastinya cewek spesial. Cakep, cantik terus dari golongan atas. Orang tua pak Direktur gak mungkin ngasih restu kalo ceweknya golongan rendahan. Apalagi karyawan." Dean menyeringai sedikit, meminum jus jeruknya.
"Wah. Gue gak sabar pengin liat ceweknya kayak gimana. Pasti cakep ...."
Hanya sebatas itu Ayu mampu mendengar. Ia merenung. Sedikit banyak Ayu mengerti posisi Indah. Ayu juga pernah berada di fase itu. Saat di mana dia tidak bisa melakukan apapaun karena cinta sepihak dan hanya tersiksa sendiri akhirnya. Ayu juga merasakan seolah dunianya tidak memiliki titik pusat secara mendadak, pendengaran yang seakan-akan memudar dan sengatan listrik statis di ulu hati.
...*...
Apa hari ini diadakan apel pagi? Sejak kapan mereka jadi PNS?
Ayu berdiri tidak sabaran di antara teman seperjuangannya. Ia ingin bertanya, tetapi memilih bungkam dan memperhatikan sang CEO yang jadi pusat perhatian. Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu memegang megaphone di depan mulut.
Ayu mengerang pelan. Tidak bisakah hal ini dipercepat? Rasanya Ayu mulai bernostalgia dengan masa-masa saat dirinya dipanggang di bawah terik matahari pada saat MOS.
Suara dari megaphone mulai menguar. Dan apa yang Ayu takutkan sejak tadi benar-benar terjadi. Pembukaan panjang lebar ini.
Kepala Ayu pening. Ada apa dengan Ayah dari Direkturnya itu pagi-pagi seperti ini? Tidak bisakan dia menggunakan metode yang simpel? Apapun itu asalkan dia tidak usah berdiri di pelataran seperti ini.
Ayu baru bisa bernapas lega kala CEO itu mengutarakan maksud aslinya.
"Jadi saya mengumpulkan kalian di sini karena saya ingin mengumumkan acara pertunangan putera saya satu-satunya," Lelaki itu menepuk keras pundak anaknya yang berdiri dengan wajah lempeng di sampingnya. "Cakrawala Sore Dirma si patung es berjalan ini."
Tak dipungkiri perkataan itu mengundang banyak tawa, tetapi nyaris seluruhnya terpenggal di kerongkongan saat wajah yang bersangkutan menjadi lebih anger dari sebelumnya.
Pengeras suara kembali digunakan. "Kalian semua diundang untuk datang ke pertunangan Sore. Bisa ajak pacar, pasangan atau keluarga sekalian. Suka-suka kalian lah. Tapi jangan lupa kasih amplop yang isinya super tebal. Ngehehe saya bercanda. Ini pertunangan kan ya, bukan hajatan. Okelah segitu aja yang saya mau bilang. Silakan kalian bekerja kembali. Akhirul kalam, wassalamua'laikum warohmatullahi wabarokatuh."
Semua serempak menjawab salam penutupan tersebut.
"Jingaaaaaaaan. Bener kan, apa kata gue!" Suara memekak Rafi mengudara di samping Ayu. Ayu terkejut, sejak kapan ada Rafi di sana?
"Wah, dasar emang orang tajir melintir! Sekantor diundang, coy!" Dean menimpali dengan rasa tidak percaya yang kental dari suaranya.
Rafi tertawa girang. "Btw, acara di mana ya?"
Dia mendapatkan hadiah jitakan di puncak kepala. "Lo kagak denger apa? Barusan kan, dibilang. Di hotel mereka yang baru dibuka."
"Serius?! Sialan. Gue mesti pake baju paling bagus nih, biar gak malu-maluin pas nginjek lantai hotel mewah," kata Rafi sangat antusias. "Gila. Gegara ini gue pasti gak bisa molor 'tar malem. Bakal kepikiran setengah mati sama bentukan hotelnya. Penasaran banget, sumpah."
"Gue sih, lebih penasan sama calon tunangannya pak Sore. Gimana ya tampangnya?"
Apa yang dirasakan sebagian besar karyawan wanita di sana mungkin terlalu besar, sampai-sampai Ayu mendapatkan transfer perasaan itu dan dadanya ikut menyempit. Ia berjalan mendahului Rafi dan Dean. Menyusul Indah yang telah melenggang kesal sejak tadi.
...*...
Ayu masih setia mengerutkan kening sampai ketika pintu dikuak dari luar. Ada seraut wajah milik Sore yang ditemuinya.
Sore bersandar di tepi pintu. "Itu buat yang di bus dua hari lalu."
Ah, jadi uang ini milik Sore.
Ayu tidak dapat mengontrol dirinya yang mendingin tatkala mendeteksi keberadaan Direkturnya ini. "Saya tidak pernah meminta ganti untuk itu."
"Memang. Tapi saya gak mau punya hutang budi. Terlebih sama kamu."
"Saya juga tidak pernah menganggap itu sebuah hutang budi yang bisa Bapak bayar suatu hari."
"Terus, kamu ingin saya anggap itu sebagai apa? Sedekah dari kamu?"
"Anggap saja itu sebagai tanda terima kasih saya untuk cheese cake yang waktu itu."
"Saya juga tidak pernah menganggap kue itu sebagai sesuatu yang bisa kamu ganti."
"Saya hanya berterimakasih."
"Kalau begitu kenapa-"
"Sampai kapan Bapak ingin memperpanjang hal ini? Saya harus bekerja."
Sore terdiam. Kentara sekali jika rahangnya mengeras. Ayu tahu Sore kesal, tetapi lelaki itu tidak bicara apapun lagi dan sekonyong-konyong pergi tanpa menutup pintu.
Meja jadi tumpuan tangannya, Ayu menghirup napas panjang beberapa kali. Untuk sekarang, dia tidak bisa sekadar menghadapi Sore.
Beban di pundaknya terasa memberat tiap ia melihatnya.
...*...
"Sebentar."
Ayu terdiam tidak mengerti saat Sore tiba-tiba menghentikan langkahnya di lobi seperti ini. "Ada apa, Pak?" tanyanya sembari melepas cekalan Sore di tangannya. Ayu semakin bingung, karena alih-alih menjawab pertanyaanya, Sore malah memindahtangankan tas karton kecil kepada Ayu.
"Obati luka kamu. Jangan dibiarkan seperti itu jika tidak ingin berbekas."
Ayu tergerak megikuti ke mana pandangan Sore tertuju. Ah, luka melepuh itu ternyata tak luput dari penglihatan sang Direktur. Kemudian ucapnya, "Saya tidak apa-apa, Pak. Ini hanya luka kecil."
Ayu hanya kurang konsentrasi saat memasak tadi pagi.
"Saya bilang obati," tegas Sore.
Namun itu tak berpengaruh banyak pada Ayu bersikukuh menolak tanpa rasa takut. "Maaf, Pak. Tapi saya bisa membeli sendiri apa yang Bapak berikan kepada saya saat ini."
Sore dapat mengetahuinya, Ayu tidak nyaman dengan lirikan banyak pasang mata yang lalu lalang di sana. Dia paham, setelah pengumuman Ayahnya yang kemarin, setiap interaksinya dengan Ayu selalu diperhatikan. Seolah-olah mereka bisa saja berbuat melenceng di atas pertunangan yang bahkan belum terlaksana. "Kita impas dengan itu. Saya tidak punya hutang budi apapun lagi sama kamu. Lain kali berusahalah untuk tidak ceroboh."
Suara Sore terdengar sampai di sana. Dia melenggang pergi tanpa ingin menerima bantahan apapun lagi.
Ayu mendesah pelan, berderap cepat menuju pintu.
Isi kepalanya semakin rumit.
...*...
Di halte, Ayu merasakan oksigen seperti hilang dari dunia.
Sore ada di sana lagi. Kali ini bersama beberapa pegawai yang melirik sungkan terhadap keberadaannya. Sore terlihat tidak peduli seperti biasanya, berdiri di ujung halte tanpa ada raut ingin menggubris keberadaan orang-orang di sekitarnya. Kaki panjang berbalut pentopel mahalnya melangkah santai memasuki bus dan sebuah kejutan karena dia membayar biaya transportasi ini dengan T-money.
Ayu yang paling terakhir naik, langsung celingukan mencari kursi yang tersisa. Beberapa kali menelusuri, Ayu mendesah pasrah. Bus hari ini penuh. Sekarang yang perlu dia lakukan hanya meraih hand grip dengan tangan kanan dan luka melepuh di permukaan lengannya, lalu bertahan berdiri lama dalam tumpuan hils lima sentimeter. Semoga saja banyak yang turun di halte berikutnya.
Ayu tidak memperhatikan apapaun, tatapannya cenderung tanpa titik fokus dan mengambang ketika dirinya ditarik dengan satu sentakan. Ayu tercekat, memekik kecil dan melotot penuh tanya pada si pelaku yang kini memposisikan diri di belakang punggungnya.
"Lihat ke sana," kata Sore, seolah-olah itu menjawab kekagetan Ayu.
Memenuhi arahan itu, Ayu segera mengernyit. Apa yang Sore maksud adalah lelaki yang berdiri dengan gerak-gerik waspada dan mengenakan atribut mencurigakan itu? Jaket kulit dan topi bisbol yang lidnya diturunkan sampai menutupi setengah wajah- sebentar, Ayu spontan mengecek sling bag yang ia kenakan.
"Bukan seperti yang kamu pikirkan. Lihat lagi."
Untuk yang ke dua kali ini, Ayu melotot. Ia menoleh cepat pada Sore yang berada di belakangnya, memberi tatapan yang bermakna apa saya baru saja hampir jadi korban pelecehan???
Sore menangkap hal itu, ia menjawab terlalu tenang. "Iya."
Napas Ayu tertarik dengan ngeri. Astaga.
Lalu bagaimana dengan nasib gadis SMA itu? Ayu kembali menoleh ke arah yang sama.
Napas leganya terhela banyak-banyak. Beruntung, lelaki tadi langsung turun begitu bus berhenti di halte. Sepertinya dia sudah memprediksi kalau aksinya telah ketahuan.
Hanya saja sayangnya, napas Ayu tak melega sampai seterusnya. Penumpang membanyak yang jadi alasan. Ayu mau tidak mau harus pasrah berdekatan dengan Sore. Terlebih setelah dipikir kembali, badan Sore yang tinggi tegap itu bisa melindunginya dari berbagai macam dorongan dan himpitan yang sangat mungkin menimpa seseorang berbadan kecil sepertinya di dalam bus penuh sesak seperti ini.
...***...