
" ... Dia pasti senang."
Ayu tersipu. "Iya, semoga aja. Soalnya ini hadiah ulang tahunnya. Saya gak tau harus gimana kalau dia gak suka."
"Dia pasti suka," tegas si pemilik toko, menampik raut khawatir yang Ayu tunjukkan. "Anak kecil suka kalau buku-buku belajar mereka berwarna kayak gitu."
Usai membayar dengan sejumlah nominal, Ayu mengucapkan kata pamit dan mendorong pintu kaca yang ada di sana. Di beranda, ia tersenyum senang. Sekilas membolak-balikan buku yang baru saja ia beli. Semoga saja Irene suka, harapnya dalam hati.
Kakinya baru mau melangkah menuruni tangga pendek, hujan deras tiba-tiba turun. Membuat satu kakinya yang telah menapak di anak tangga, tertarik cepat menuju tempat semula. Mundur sedikit, lalu mengernyit. Kepalanya melongok kecil pada langit. Hari ini mataharinya cerah, tetapi hujan turut serta mengguyur. Menghadirkan sensasi sejuk dan hangat secara sekaligus.
Ayu tidak bawa payung sebelum ke sini. Jadi ia memutuskan menunggu di beranda dengan perkiraan hujan seperi ini tak akan bertahan lama.
Namun nyatanya cukup lama. Ayu hampir jatuh bosan, juga sedikit kedinginan. Blazer kerjanya tak mampu menghalau angin-angin kecil yang terus lewat. Ia hampir melaksanakan niat untuk menembus hujan jika tak ingat pada buku yang berada di pelukannya. Sampulnya bisa rusak kalau terkena air. Ayu masih menunggu, kali ini ditemani gerutuan dalam hati. Kenapa hujannya lama sekali dan langitnya justeru menggelap? Dari jarak tiga meter, Ayu memandang ke jalan, tidak ada kendaraan umum yang melintas. Ia akan pasrah terdampar di sana, namun sebelum itu bunyi klakson membuatnya berjengit.
Ayu menyipitkan mata berusaha menajamkan penglihatan. Ia tidak mengenali mobil itu. Mungkin klakson yang barusan memang bukan ditujukan padanya. Tak berselang lama setelah ia memalingkan wajah, sebuah suara menyapa dan membuatnya kontan berwajah datar.
"Sedang apa kamu di sini?"
"Saya baru habis membeli buku," sahut Ayu sederhana, tak terpikirkan untuk menanyakan apa pula yang Sore lakukan di sana.
"Kenapa tidak pulang?"
Ayu merasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Tidakkah Sore bisa melihatnya sendiri? Apa masih harus Ayu perjelas jika saat ini sedang turun hujan?
"Biar saya antar."
"Tidak, terima kasih. Saya bisa menunggu sebentar lagi. Mungkin hujannya akan mereda." Ayu tak ingin bahkan sekadar menatap Sore lama-lama.
Bisakah lelaki itu pergi saja? Apa dunia ini terlalu sempit sampai-sampai Ayu selalu dipertemukan dengannya? Tanpa sadar lidahnya berdecak sebal.
Tak ada alasan bagi Sore untuk merasa terintimidasi hanya karena sebuah decakan penolakan. Sore tahu, Ayu memang sekeraskepala itu. Merasa percuma menghadapinya dengan argumen, Sore melepas jas yang dikenakannya, mengalihfungsikan untuk menutupi kepala Ayu dari rintik hujan dan meraih tangan kurus wanita itu, membawanya pergi tanpa mengindahkan pekikan yang menyambar pendengaran tanpa ampun. Sore membuka pintu mobil penumpang depan, memberi sedikit dorongan pada tubuh Ayu yang masih berusaha bertahan.
Mobil melaju menerjang tirai tipis hujan dengan keajaiban Ayu yang tak mengajukan protesan dalam bentuk apapun. Meskipun jelas sekali jika dia kesal dari bibirnya yang mengerucut.
"Di halte depan."
"Sejak kapan halte diperbolehkan untuk dijadikan hunian seseorang?" Sore menjawab tak kalah ketus dari intonasi yang Ayu gunakan.
Mendecak sebal. "Maksud saya, saya ingin turun di halte depan."
"Saya akan mengantar kamu sampai ke rumah."
"Saya gak mengizinkan."
"Dan saya tidak meminta persetujuan kamu."
"Silakan saja. Saya gak akan memberi tau Bapak di mana letak rumah saya," jawab Ayu tak ingin kalah.
"Dan seharusnya kamu tahu akan sangat mudah bagi saya jika sekadar mencari informasi tentang alamat rumah kamu. Sekarang pun saya bisa mendapatkannya." Mengendalikan kemudi dengan satu tangan, tangan yang lain ia gunakan untuk merogoh saku celana, menarik ponsel dari sana. "Hal-"
Kata dari mulut Sore tak terselesaikan, sebab Ayu telah merampas ponselnya dan mematikan sambungan dengan gerakan sarat amarah. Wajah berlapis kesalnya menghadap Sore yang seakan-akan tak terganggu dengan tetap fokus pada jalanan yang dihadapinya. "Bisa tidak, Bapak berhenti berbuat seenaknya atas diri saya? Apa harus saya memohon terlebih dahulu?"
Ekspresi Sore berubah sedikit, rahangnya mengetat oleh amarah. Terus ditolak oleh wanita di sampingnya ini telah sangat melukai harga dirinya. Ayu bahkan tak ingin ia tahu walau sebatas letak rumahnya. Namun kenyataan itu tak sampai diketahui oleh Ayu yang sedang dikuasai emosi yang lebih membuncah.
Tetapi Sore bungkam tak menjawab. Memilih menepikan mobil di tempat yang telah diminta wanita di sebelahnya. Tanpa mengatakan apapun, keberadaan Ayu diakhiri dengan bantingan pintu. Sore yang juga tak lepas dari dikuasai amarah, segera tancap gas. Meninggalkan Ayu yang menurun alisnya, berat oleh emosi yang meletup-letup. Matanya memicing, memperhatikan mobil Sore yang mengecil cepat dengan dada naik turun sarat emosi.
Lelaki itu, apa tidak cukup mengacaukan masa lalunya? Haruskan hal itu berlaku untuk sekarang juga?
Ayu berbalik dan wajahnya terlempar ke samping, pipinya panas bukan main. Ia bahkan belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi, tatkala teriakan berupa caci maki telah merangsek ke dalam telinganya.
Tanpa melihat pun, Ayu dengan mudah mengenali siapa pemilik suara ini dan mendapatkan pemahaman apa penyebab hal ini dialaminya.
"LO TAU KAN, KALAU SORE ITU CALON TUNANGAN ORANG! MASIH KEGATELAN AJA! DASAR JA**NG! APA SIH YANG LO KASIH KE DIA, HAH?! TUBUH LO?!"
Ayu menutup matanya dalam-dalam, menolak apa yang wanita itu tuduhkan padanya. Tetapi dia tidak melawan dan berteriak menampik. Dia tahu, seperti apapun ia mencoba menjelaskan, segalanya akan percuma karena dia sangat salah di mata Krystal.
Suara Krystal merendah, namun tidak dengan kesan benci dan melecehkan di dalamnya. "Ah, ya. Pasti lo ngasih diri lo, kan? Sampe Sore lebih milih nganterin lo daripada bantuin Hera nyiapin pertunangannya. Lo emang gak pernah berubah, ya. Gue kira lo cukup tau diri dengan pergi dari hidup Sore, tapi nyatanya lo masih cewek murahan yang sama. Lo balik lagi buat apa? Buat bikin Sore menyesal terus lo bisa nguasain hartanya? Kayak waktu dulu lo malsuin-"
"Cukup," sela Ayu dingin.
Krystal terkekeh sinis. "Kenapa? Lo malu?" Pura-pura terkesiap. "Masih punya malu juga ternyata?"
Dia menutup mulut, suaranya direndahkan seperti orang kehabisan napas.
"Kak Krystal gak tau apa-apa," tekankan Ayu.
"Apa yang gak gue tau? Kejadian setelah itu?" Tertawa kosong, bertujuan mengejek. "Gue tau, Yunaira." Sedetik setelah mengatakan itu, raut wajahnya mendatar. "Yang gue gak tau, kenapa selama gue jadi temen lo, gue gak bisa liat sifat lo yang asli. Gue tertipu sama topeng yang lo pake. Dan gue gak tau seberapa menyesal gue atas pertemanan yang pernah terjalin di antara gue sama manusia munafik kayak lo sampe-sampe gue semuak ini tiap liat wajah menjijikan lo."
Ayu tidak tahu, seolah mengikuti dorongan naluri saat ia membalas tamparan Krystal sampa wajah tertoleh paksa itu diwarnai kaget yang amat kentara dengan jejak merah telapak tangannya tercetak jelas. Ayu tidak tahu, hanya rasa hatinya begitu terancam dan berdenyut perih sekaligus ketika berteriak di depan muka Krystal.
"LO GAK TAU SESAKIT APA YANG GUE TANGGUNG ATAS KELAKUAN SIALAN MANUSIA BAJ***AN ITU! APA LO PIKIR GUE SENENG KETIKA HARUS MERASA TERCEKIK SETIAP LIAT TAMPANGNYA?!" Ayu memburu, namun sebelum kemarahannya meledak lebih parah, kesadarannya lebih dulu kembali. Sadar, tak ada gunanya ketika yang Krystal pikirkan hanyalah Sore yang benar.
Tak lanjut bicara, kakinya dilarikan dari sana. Ia tak dapat menahan serbuan air mata yang kemudian bersimbah di pipinya. Sangat sakit terasa kala Krystal menyinggung pertemanan mereka dan menyamakan semua yang telah mereka lalui bersama dengan kepalsuan. Ayu tulus pada Krystal.
Di sela tangisnya, dada Ayu makin terasa sempit. Tak memiliki ruang sisa dan hanya dipenuhi dendam yang semakin menumpuk pada Sore. Sekeji apa tuduhan yang lelaki itu tujukan padanya hingga memecahbelah persahabatan mereka? Sampai Krystal membencinya separah itu.
...*...
Ayu berjalan agak kepayahan di sepanjang trotoar. Keresek berisi banyak belanjaan memenuhi kedua tangannya, ia kesusahan meraih ponsel yang meraung dari dalam sling bag yang menyilang di tubuhnya. Tak ada jalan lain, meletakkan satu keresek belanjaan di sebelah kaki, berharap tak ada tangan nakal yang akan menyabetnya saat ia sibuk bertelepon.
"Hm," sambut Ayu dengan suara lesu, dia lelah sekali walau hanya mengelilingi supermarket tak lebih dari satu jam.
"..."
"Udah. Semuanya udah siap."
"..."
"Kadonya juga. Mama jangan khawatir," ucap Ayu, semeyakinkan mungkin. "Kapan Mama sampai?"
"..."
"Mau dijemput?"
"..."
Ayu menyungging ujung bibir, berniat jahil. "Bagus kalau Mama sadar diri. Udah jadiin aku pesuruh yang kalap cari-cari bahan buat bikin kue ulang tahun dalam waktu terbatas yang bikin aku ngerasa jadi kontestan lomba masak, masa mau nyuruh jadi jemputan juga." Tak perlu lama menanti, pekikan dari Mamanya di ujung sambungan mendorong ponsel menjauh dari telinga. Pengang sekali rasanya.
Tetapi tak lama setelahnya, Ayu mencengir. Mengerjai Mamanya ternyata bisa membantu menaikan suasana hati. Lain kali mungkin ia bisa mengulangi. Dan dia hanya cengengesan mendapati omelan mengular panjang dari seberang. Kemudian dengan seenaknya ia berkata, "Udahan dulu ya, Ma. Aku mau siap-siap bikin kue." Padahal seperempat perjalanan saja masih jauh ditempuhnya.
Ayu kembali pada keresek, menyibak surainya yang jatuh menghalangi dengan satu gerakan. Berikutnya ia meniup sejumput rambut yang menjuntai di depan wajah. Seharusnya tadi rambutnya diikat saja, sudah terlalu panjang hingga hampir melewati pinggang. Berniat meneruskan langkah, Ayu justeru terdiam. Di depannya seseorang tersenyum dan Ayu berharap maknanya tak akan terlalu buruk.
"Ayu? Abis belanja?"
Sapaan itu terlalu ramah jika Ayu mencari segala alasan untuk mengelak dan cepat-cepat pergi.
...***...