
"Diam di sini."
Hera yang beranjak dengan wajah panik, menoleh ke arah Sore, lelaki dingin itu masih duduk nyaman di sofa. "Tapi Ayu-"
"Kita lagi liburan, Hera. Gak usah buang-buang waktu dengan mempedulikan orang lain."
Hera mengiyakan soal liburan itu, tetapi dia tidak setuju kalimat terakhir dari tunangannya ini. Mengambil napas panjang, ia mencoba sabar. "Ayu adalah temen aku. Aku peduli sama dia. Menurut kamu aku bakal diem aja pas ngeliat dia tiba-tiba kalut gitu??!"
Meski telah mencoba, Hera tetap tak bisa lagi menahan gejolak emosi di hadapan Sore. Tidak untuk saat ini.
Sore masih nampak tenang, tak terganggu dengan lupa emosi Hera. Dia berdiri, menghadapi kerutan sarat kekesalan di dahi Hera dengan angkuh. Melipat tangan di dada. "Bukannya Ayu adalah orang yang lo waspadai?"
Lipatan di wajah Hera makin tebal. "Maksud kamu?"
Berdecih. "Gak usah munafik, Hera. Gue tau lo yang mengusulkan ke Mama buat mempercepat pernikahan dan juga alasan lo melakukan hal itu. Karena lo takut Ayu ada di antara kita, kan?" Sore memindai ekspresi Hera yang kini bergeming, wanita itu bungkam.
Sore mengenal betul bagaiman Hera yang kurang piawai dalam menyamarkan suasana hati, yang sayangnya dia adalah tipikal orang yang suasana hatinya akan tergambar jelas melalui raut wajah. Mendapatkan reaksi seperri itu, seringaiannya tersungging. "Lo gak perlu khawatir soal itu. Karena justeru sejak awal gak ada kata 'kita' antara lo sama gue. Dan bakal gue pastiin hal itu akan tetap sama sampai kapanpun."
Sore beranjak dari sana, meninggalkan Hera yang kepalanya tertunduk dengan tangan mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
Langkah tegap Sore terarah mendekati lift. Tanpa buang-buang waktu, ia masuk dan menekan tombol menuju lantai tiga.
...*...
Kaki panjang itu berlari begitu lift terbuka. Wajahnya sudah berkebalikan dengan keadaan semula. Kepanikan menguasai seraut milik Sore kini.
Pikirannya penuh dengan kalimat-kalimat yang menyerang dirinya sendiri. Jika mungkin saja Ayu seperti itu karenanya, karena kata-kata. Meski tak menampik kalau secercah harapan mengisi relung hatinya. Jika tanggapan Ayu yang begitu karena wanita itu sedih atas apa yang ia ucapkan, mungkin dia punya peluang lebih besar. Dia bisa memperbaiki kesalahannya dulu. Atau kalau perlu mengemis permohonan maaf di kaki wanita itu, asalkan dia bisa memastikan kalau kini terbuka jalan untuknya.
"AYU!"
Sore mendengar teriakan itu menggema di koridor depan. Ia mempercepat laju lari, menukik di belokan dan hanya sampai di sana, dia terdiam.
Tepat setelah punggung lelaki yang ia kenali sebagai Rendi menyusul masuk ke kamar yang dihuni Ayu.
Mereka bahkan menempati kamar yang sama.
Sore tertawa hampar. Merasa konyol dengan dirinya sendiri. Apa yang dia pikirkan? Bisa-bisanya sempat berharap.
Ia berbalik dengan wajah keras dan rahang mengetat, bersiap menghancurkan apapun yang bisa jadi pelampiasannya.
...*...
"Lo udah bangun?"
Tidak ada tanda-tanda kalau Ayu bersedia menjawab, perempuan itu justeru diam saja. Memperhatikan langit-langit dengan pandangan menerawang.
"Sejak kapan lo konsumsi obat penenang?"
Lantas, Ayu menoleh. Di sana, Rendi duduk di sofa tunggal dan memegang botol obat yang Ayu tahu sebagai miliknya.
Rendi kira, kali ini pun tak akan mendapatkan sambutan, tetapi dia meleset. Ayu menjawab sekalipun sempat mempertahankan senyap cukup panjang menetap.
"Enam setengah tahun lalu, pertama kali gue ketergantungan obat itu," jawab Ayu dengan suara lemah. "tapi bisa lepas tiga tahun terakhir, dan gue butuh lagi tiga bulan belakangan." Terdiam sesaat sebelum menambahkan. "Dokter bilang, gue gak boleh minum. Tapi gue gak ada pilihan lain selain bertahan dengan bergantung pada obat itu. Selama dosis yang sekarang gak sebesar dulu."
Rendi menarik napas panjang, lelah dan ada sedikit kekecewaan di dalamnya. "Sekarang gue sadar, gue gak sama sekali tau masa lalu lo sebelum kembali muncul lagi di hidup gue. Ternyata selama ini yang menganggap kita temen cuma gue."
"Tapi obat ini berkata lo justeru selalu ingat."
"Sayangnya iya." Ayu menarik napas, tiba-tiba gumpalan pahit menyumbat tenggorokannya.
Kemudian tanpa diminta, ia berkisah. Mengurai masa lalu yang walau tak terucap, sedang Rendi inginkan saat ini. Mungkin memang Ayu perlu menjelaskan.
Panjang lebar dia bicara. Suaranya sering tertahan di banyak titik, atau ketika dia kebingungan memilih kata yang tepat sebelum dimuntahakan. Mati-matian dia menahan isak, tetapi suaranya goyah dan parau di mana-mana, tercekat di sini-situ. Hingga mencapai pembahasan soal sikap anehnya tadi, air matanya telah meleleh. Dalam sekejap, wajahnya memerah. Terutama di bagian hidung dan mata. Berkebalikan dengan air yang turun tak terbendung dari kelopak mata, hidung Ayu justru tersumbat.
Rendi amat terenyuh di bagian Ayu mengatakan kalau dia sempat dijauhi saudara, dijadikan bahan perbincangan pada setiap kesempatan, dicacimaki dan hal itu membuatnya semakin terkekan. Depresinya semakin tak terkendalikan.
Pernah, Ayu mengamuk karena mendengar bisikan-bisikan aneh di telinganya. Dia tidak mau mendengar itu, tetapi justeru terngiang-ngiang di dalam kepala. Setelah kejadian itu, intensitasnya jadi makin sering. Puncaknya, Ayu mengurung diri di kamar hanya untuk melaksanakan dorongan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun Tuhan masih ingin ia berjuang. Ayu selamat meski sempat kritis dan koma selama seminggu. Dia sempat murka, bertanya-tanya kenapa sulit sekali untuk nyawanya pergi. Kenapa susah sekali untuk menemukan ketenangan.
Terkurung di ruangan berbau obat yang membuatnya muak itu, Ayu seperti orang linglung. Bahkan tidak bereaksi atas kunjungan-kunjungan dari Orang Tua dan Kakaknya. Sampai ada beberapa kerabat menyarankan Ayu untuk dirawat di bagian kejiwaan. Dan Ayu benar-benar berada di sana selama berbulan-bulan. Sampai dia hadir. Mejadi obat sekaligus kekuatan baru untuknya. "Gue udah gak pernah kena serangan lagi. Tapi gak tau kenapa malah kejadian hari ini. Gue gak tau kenapa bisa kalut, kacau dan ngerasa apa-apa yang ada di hadapan gue tercerai-berai." Isak menjeda sesaat. "Gue capek kayak gini. Tapi kenangan buruk itu justeru makin menempel di otak gue. Gue kira gue bisa berharap buat pulih, tapi nyatanya gue gak bisa mengelupas memori itu dari pikiran sekalipun waktu terus maju."
Rendi memperhatikan dengan seksama tiap kata yang meluncur dari mulut Ayu. Dia diam merenung sembari memperhatikan Ayu yang kini menangis sesenggukan. Betapa malang nasib perempuan rapuh ini.
Dia bergerak mendekat, meraih tubuh bergetar hebat itu ke dalam dekap. Ia mengusap kepalanya perlahan, berharap itu bisa sedikit membatu menenangkan. Namun justeru yang Rendi dapat adalah isak yang mengencang. Ayu menangis sampai kesusahan menarik napas. "Tarik napas, Yu. Pelan-pelan." Peringatkan dia.
Selama beberapa waktu, Rendi membiarkan dirinya jadi pelampiasan wanita itu. Menerima tangan dan punggungnya diremat kuat, menerima pundaknya yang basah oleh air mata, menerima tangisan pilu yang menyayat hatinya sebegitu rupa.
Lelah. Ayu meraung sampai kelelahan. Dia berakhir dengan tangis kecil dan tarikan napas tanpa tenaga. " ... Gue pengen normal juga kayak orang-orang, Ren. Gue capek ...."
Rendi mereganggkan pelukan, yang dia paksa dari Ayu yang tidak mau melepasnya sama sekali. Wanita itu berlagak seakan-akan Rendi bisa lebur tiba-tiba dan meninggalkannya sendirian. "Lepas dulu, Yu. Gue pengen ngomong sama lo."
Di dadanya terasa kepala Ayu menggeleng keras, lingkaran tangan wanita itu juga dieratkan di punggungnya. "Enggak mau! Kalo mau ngomong, ngomong aja! Gak usah dilepas."
Rendi berkata setenang dan semeyakinkan mungkin. "Gue gak bakal ke mana-mana. Gue janji."
Merasakan usapan di kepalanya sebagai sebentuk keseriusan dari lelaki itu, Ayu melepas tangannya walau kentara tidak rela dan takut.
Mengikuti dorongan naluriah, Rendi menyingkirkan air mata yang membuat pipi Ayu sembab dengan usapan tangannya. Kemudian menangkup pipi itu. "Yu. Mungkin ini saatnya buat mempertimbangkan saran dari Mama lo buat balik ke Jepang. Di sana jauh dari masa lalu. Lo gak harus berada di lingkaran trauma lo. Apalagi orang-orang yang membuat lo begini ada di sini."
Ayu tertunduk lesu mendengar itu, rambutnya terburai menutupi hampir seluruh wajahnya. "Tapi gue gak mau nyusahin Mama lagi, Ren." Ia mengangkat kepala, memperlihatkan air yang kembali menggenang di pelupuk matanya. "Mama pasti udah cape urusin gue yang kayak gini. Dulu, Mama pernah ngeluh kalau dia pengen gue sembuh. Gue berusaha buat gak jadi beban lagi, makanya gue memberanikan diri buat balik lagi ke sini. Gue pingin bertahan di sini, berjuang di sini ... tapi rasanya beban di pundak gue udah gak tertanggung. Gue gak kuat lagi. Gue harus gimana? Gak mungkin gue jadi beban buat Mama lagi terutama di saat kayak gini. Mama lagi berusaha mulihin bisnisnya yang berantakan. Gue- gue gak mau kalau nantinya liat Mama putus asa sama gue." Selepas mengungkap fakta itu, air matanya kembali menganak sungai. Tiap detik diisi dengan mengusap pipi, Ayu tertawa kosong sambil mendongak. "Ahaha. Lo pasti muak, kan liat gue yang cengeng begini? Lo udah sering banget liat gue mewek."
Rendi tidak membawanya ke dalam sebuah pelukan lagi, tetapi lelaki itu mengusap pundaknya, memberi kekuatan. "Gue emang muak liat lo mewek terus."
Pembenaran dari Rendi membuat Ayu terdiam kaget. Ia tidak menyangka akan disetujui, sebab meski kalimat itu ke luar karena kalimatnya sendiri yang bersifat memancing, sedikit banyak Ayu tetap merasa sedih. Barusan hanya sebatas kekhawatirannya saja sebenarnya.
Suara Rendi melembut ketika berkata, "Maka dari itu. Gue mau lo bahagia. Gue gak mau lo terus-menerus nangis. Yunaira, berhenti berpikir terlalu keras dan carilah kebahagiaan itu dengan cara yang lebih sederhana." Tangannya bergerak menyampirkan rambut yang membingkai wajah wanita di hadapannya. Termasuk rambut yang terlem di permukaan kulit putih tersebut. "Gak mau balik ke Jepang bukan berarti lo harus bertahan di sini. Lo bisa cari suasana baru. Mungkin udara pedesaan bagus buat kesehatan lo. Atau kalau enggak, lo bisa pindah kerja di tempat gue."
Tanpa sadar, Ayu agak mengerucutkan bibir. "Tetep aja. Lingkaran lo masih di antara masa lalu gue. Ujung-ujungnya juga gue pasti keseret lagi."
Kalimat Ayu terdengar seperti rajuk yang penuh protes. Rendi tergelak sedikit. "Perusahaan gue bukan cuma di sini aja."
"Gue pikir-pikir dulu."
Rendi agak terpana. Ayu bilang akan mempertimbangkan? Dia kira Ayu tak akan menjawab secepat itu. Mungkin perempuan itu sungguh-sungguh saat mengatakan kalau dia sudah tidak sanggup lagi.
Tentu kenyataan itu menarik tiap ujung bibirnya agar menampilkan senyum. Dia memandang Ayu lekat, kemudian katanya, "Yunaira, lo harus janji. Lo bakal bahagia dengan atau tanpa adanya gue."
Kalimat itu membuat Ayu menatap wajahnya dengan sorot suka terbaca.
...***...