
Sore sedang melewati ruangan penuh kubikel saat langkahnya terhenti begitu saja. Keramaian yang ada di dalamnya lah yang menghentikan langkah tegap lelaki itu. Alisnya terangkat sebelah dengan heran. Ini waktu istirahat, biasanya pegawai memadati kantin atau area lainnya selain tempat kerja. Biasanya lantai-lantai penuh komputer dan segala hal yang menguras pikiran di tempat ini akan sepi. Tetapi kenapa hari ini terdengar percakapan ramai di sana?
Sore melangkah masuk. Ia terdiam di jarak kurang lebih tiga meter. Matanya tertuju pada gerombolan manusia di salah satu sudut ruangan.
Mereka ramai sekali. Dari nada suaranya, terdengar seperti sedang melempar godaan untuk seseorang. Sore mempersempit jarak, berhenti saat satu suara mengudara serta mengandung kalimat,
"Woaaah, daebak. Lo ada hubungan apa sama pak Rendi?" Tak lama setelah itu nada suaranya makin pekat godaan. "Hayolo ... hayooo. Ada apa nih sama wajah tersipu itu?"
Tidak tahu kenapa bisa terjadi, tetapi telinga Sore menajam dengan was-was menunggu jawabannya.
"Gak ada." Sore tidak sempat menarik napas, karena suara itu menampik dengan kesan malu-malu.
"Emh, gak ada tapi kok, itu bibirnya pake di elapin segala. Di depan umum lagi. Orang gak ada hubungan, mana sudi ngelakuin."
Dielapin? Di depan umum? Cih.
"Enggak." Suara itu menampik lagi. Kemudian mengelak. "Itu cuma karena gaya makan gue aja yang berantakan."
"Masa sih?" Suara lainnya menimpali. "Gaya makan lo yang berantakan atau emang sengaja diberantakin?" godanya.
"Enggak. Astaga." Lalu suaranya terdengar terbungkam sesuatu.
Sore tidak tahan lagi akan erupsi dadakan di kepalanya, ia melangkah mendekat dengan langkah lebar yang pasti. Lalu berdeham guna menarik perhatian empat orang yang ada di sana.
Semua menoleh, termasuk si pemilik suara malu-malu. Satu wanita duduk di kursi dengan dikelilingi teman-temannya -tipikal sebuah adegan interogasi. Sore masih tidak tahu kenapa kemarahannya berpusat pada wanita itu. Terutama saat dirinya tak diacuhkan dengan si wanita yang memusatkan tatapannya untuk sibuk memperhatikan punggung tangan di atas meja.
Sore belum puas menusuknya dengan tatapan tajam saat ia berdeham dan berkata, "Tolong kalian bekerja yang benar. Tempat ini untuk mencari nafkah, bukan untuk mengorek informasi. Bukan juga stasiun televisi infotainment."
Tatapan Sore baru terlepas saat ia telah berbalik menuju pintu tanpa peduli tanggapan dari yang ada di sana.
Begitu sosok tinggi tegap itu menghilang, napas lega Indah terbebas. "Wahhhh, gile. Lo pada liat tatapannya tadi? kayak orang yang menyimpan dendam kesumat, tau nggak."
Rafi mencibir. "Tau. Dia emang sekaku itu ternyata. Terus apa katanya, timpit ini intik minciri nifkih bikin mingirik infirmisi. Hih. Terserah gue lah. Lagian ini kan, waktu istirahat."
Keluhan mereka terus terlempar satu per satu. Tetapi Dean tidak turut andil, dia lebih senang memperhatikan raut wajah Ayu yang tiba-tiba jadi keruh bahkan selepas Direktur itu pergi. Ia menyunggingkan bibir, penasaran akan seperti apa kisah temannya itu berakhir.
...*...
Ayu menghadap dengan wajah tak berseri.
"Bapak memanggil saya?"
Sore di kursinya tak menatap Ayu sedikitpun, obsidiannya tetap fokus pada layar laptop di depannya.
Cukup lama Ayu menunggu. Dia terdiam dengan wajah dingin saat Sore merendahkan badan dan mengeluarkan satu kotak berbungkus kain dari bawah sana.
"Untuk kamu," ujarnya sederhana.
"Maaf, tapi itu apa, Pak?"
"Cheese cake."
Alis Ayu menyatu tidak paham. "Cheese cake?" Apakah Direktur ini sedang sombong kalau dia dibekali cheese cake hari ini?
Sore tetap berfokus pada layar ketika menjawab. "Lactose Intolerant. Saya tidak bisa minum susu ataupun makan olahan dairy dan itu cheese cake."
Oke. Ayu sepertinya adalah pegawai pertama yang diberitahu hal itu, tapi apa hubungannya pemanggilannya ke ruangan ini dengan fakta kalau Sore pengidap Lactose Intolerant? Dan apabila Direktur ini tahu diri kalau dia mengidap lactose intolerant, kenapa dia masih bekal cheese cake? Ayu tidak mengerti.
"Kue itu pemberian seseorang dan sekarang saya berikan ke kamu," jelas Sore, agak jengah pada Ayu yang sulit mengerti.
Ayu mengangguk-angguk. "Baik, kalau begitu saya terima." Ayu mengambil alih bungkusan itu. "Terima kasih, Pak. Selamat siang."
Ayu undur diri tanpa digubris Sore. Dia tidak mempermasalahkan karena memang sudah terbiasa.
Di luar ruangan, kepala Ayu jatuh memiring, menatapi bungkusan yang ia angkat sampai ke depan muka. Dia tidak suka cheese cake, tetapi kata Mamanya tidak baik menolak rezeki.
Ah, Ayu akan memberikannya pada si tikus Dean. Lelaki itu sangat suka pada keju.
...*...
Tetapi Rendi yang tertawa dan melakukan panggilan video saat dirinya di bandara membuat hati Ayu melega. Dia baru bisa berheti berkata masam dan tersenyum setelahnya.
Biarpun sempat mengajukan rengekan soal ongkos bus yang naik mulai minggu ini pada Rendi, Ayu tetap berakhir di halte yang berjarak sedikit jauh dari kantor tempatnya bekerja.
Ayu sendirian di sana. Pasti karena para karyawan lain memiliki kendaraan pribadi. Tapi apa semuanya punya, sampai-sampai halte kosong di jam pulang seperti ini? Ayu mendesah pelan.
"Yah, kok hujan," keluhnya saat mendadak hujan turun di cuaca yang masih cerah. Pundak Ayu melemas. Dia tidak membawa payung. Semoga saja hujan tidak melebat dan akan segera mereda. Ayu telah mengecek arlojinya untuk kedua kali saat kehadiran seseorang membuatnya menoleh.
Di ujung lainnya dari halte ini, berdiri seseorang. Dari titik-titik air yang menggenang di permukaan jasnya, tampaknya lelaki itu baru saja menerobos hujan.
Ayu tidak merasa aneh akan hal itu, tetapi dia heran kenapa Sore bisa ada di sana? Ke mana mobil mewah yang selama ini menemani imejnya sebagai Direktur kaya raya?
Wajah Sore datar tak terkesan, menatap lurus jalanan seakan-akan hanya dirinya seorang yang ada di sana.
Ayu mengangkat bahu. Untuk apa dia peduli? Biarkan saja Sore berbuat semaunya. Entah itu naik bus sekalipun.
Terlepas dari Sore, pikiran Ayu mengawang. Ia teringat banyak hal sampai saat bunyi ponsel meraung memutus ingatannya. Ayu spontan tersenyum tatkala melihat nama si penelpon.
"Hmm ..."
"Udah kangeeeen."
Seruan manja dari si penelpon membuat Ayu tertawa.
Sore yang berada di sana dengan pendengaran yang masih baik, tentu mendengarnya. Betapa tawa itu melantun indah hanya karena sambungan telepon. Padahal sebelum ini, wajah Ayu masam sekali ketika menyadari keberadaanya.
Bus yang ditunggu Ayu datang berselang lima menit kemudian. Ayu berniat untuk segera naik dengan tidak menyangka Sore juga melakukan hal yang sama dan lelaki itu menyerobot langkahnya untuk lebih dulu masuk. Dan dia berakhir kebingungan di dekat sopir.
"Tujuannya?" tanya sang sopir berkumis melintang.
"Halte terakhir."
"Dua puluh lima ribu."
Entah apa yang lelaki itu lakukan dengan black card-nya.
"Bisa pakai ini?"
Ayu di belakangnya langsung terkena having mental breakdown.
Pembuktian baru kalau tenyata kabar seorang Sore yang tidak pernah naik bus ternyata bukan sekadar hoax.
Ingin urusan perongkosan ini cepat selesai, Ayu menimbrung. "Pak, ongkos orang ini saya yang bayar." Kemudian mengambil sejumlah nominal dari dompet dan memasukannya ke kotak kaca yang ada di sana. Saking seringnya dijemput oleh Rendi, dia sampai lupa mengisi ulang saldo T-money-nya.
Ayu melewati Sore begitu saja dan duduk di salah satu kursi dekat jendela. Ia setra merta melemparkan tatapan ke luar jendela. Hujan sudah reda, Ayu bersyukur untuk itu.
Hampir Ayu menggelengkan kepala heran saat terlihat Sore melewatinya dengan lagak seperti orang bingung. Apa dia juga tidak tahu caranya duduk di angkutan umum? Ternyata orang kaya sombong bisa berubah jadi sangat bodoh dengan semudah itu hanya karena menghadapi fasilitas rakyat jelata.
Dan ada apa dengan hari ini? Bus ini dengan ajaibnya lengang di waktu-waktu krusial begini. Hanya ada beberapa pekerja kantoran dan ibu-ibu yang sedang menggosip di kursi belakang Ayu. Dua kali berhenti di halte, hanya satu satu remaja berseragam sekolah yang naik.
Ayu terlanjur bosan, hampir jatuh tertidur saat halte pemberhentiannya telah berada di depan mata. Ia lantas siap-siap untuk turun dengan usaha untuk mengenyahkan sisa-sisa ngantuknya terlebih dahulu.
...*...
Bus berhenti. Sore memperhatikan sosok Sekertarisnya yang bersiap turun. Wanita itu terlihat sangat lelah dan mengantuk saat ia sempat melihat sekelebat raut wajahnya dari jendela.
Sore lagi-lagi tak bisa menahan dorongan dalam dirinya jika itu menyangkut tentang Ayu. Ia berdiri, berpindah ke tempat duduk yang semula Ayu tempati. Masih ada sisa hangat yang tertinggal dari tubuh Ayu di sana.
Sore mendesah, menyandarkan kepalanya di jendela. Ia ingin tahu apa yang begitu menarik di luar sana sampai-sampai pandangan Ayu terus tertuju tanpa sekalipun terusik. Hanya sekelebatan pemandangan dan bangunan-bangunan yang mampu ia tangkap.
Sore berpaling, tidak ada yang menarik di sana. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa lelah setelah seharian dipaksa untuk tegap tak peduli seberapa penatnya itu. Perlahan bayangan wajah Sekertarisnya yang lebih dingin- sangat dingin dari biasanya tergambar.
Sejujurnya Sore merasa bersalah atas kejadian tempo hari. Tetapi kearogananya selalu berhasil mencegah setiap ia berniat meminta maaf.
Iya. Setelah sekian lama, Sore akhirnya memiliki niatan untuk meminta maaf atas kesalahannya pada seseorang. Dia tidak pernah merasa sebersalah ini sebelumnya, sampai-sampai tak dapat pergi tidur dengan tenang. wajah Ayu yang penuh tangis dan amarah setelah menamparnya hari itu selalu terbayang. Sungguh, Sore ingin meminta maaf. Tetapi dia masih tidak memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menekan ego di dalam dirinya. Bahkan setelah kejadian di taman belakang sekolah tempo dulu.
...***...