Ours

Ours
Bab Tiga Puluh Empat - Festival



Ungkapan Dennias soal jarak tempat diadakannya festival yang jauh memang bukan sekadar omongan. Untungnya, baik Ayu maupun Irene sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda kebosanan. Atau mungkin, karena Ayu piawai mengalihkan perhatian anak kecil yang duduk di pangkuannya. Dengan metode sepele seperti bermain tebak-tebakan, bercerita dongeng si kancil atau yang paling membuat Dennias tergelitik adalah mereka yang kompak melakukan tepuk Pramuka.


Kira-kira satu jam setelahnya, perjalanan tuntas pada pukul setengah delapan malam. Mobil parkir di area yang telah disediakan panitia penyelenggara, sementara mereka masih harus menapaki jalan tak beraspal dengan lebar sedang yang masih cukup menampung hilir mudik penggunanya. Langkah ketiganya terayun masuk ke tengah-tengah gemerlap pencahayaan dan riuh rendah percakapan.


Berhubung hari telah gelap, festival yang memang dibuka malam hari tentu saja telah digelar. Dennias menemukan berbagai lapisan masyarakat yang terjun ke sana. Di antaranya banyak pasangan yang bergandengan dengan senyum mengembang sempurna. Tak terlepas dari pemantauannya, ada juga yang berkeliling rombongan, kelompok berisikan satu atau segelintir orang, atau mereka yang datang sendirian.


Omong-omong, sekarang mereka sedang berada di sebuah stand penjual pernak-pernik khas daerah sini. Ayu yang mengajaknya, atau lebih jauh, Irene yang sepertinya sangat tertarik dengan benda-benda terbuat dari ukiran kayu, manik-manik, ataupun rotan itu.


"Bunda, Bunda. Itu apa?" Jari mungil Irene menunjuk-nunjuk barang yang berada di balik punggung penjual.


"Itu namanya dream catcher." Bukan Ayu ataupun Dennias, suara yang menjawab berupa perempuan muda pemilik gerai. Wajah manisnya tersenyum, pipi berisi mendorong mata sipit itu untuk ikut melengkung dengan cantik. 


"Dream catcher itu apa?"


"Dream catcher itu alat penangkap mimpi buruk."


Ayu hanya tersenyum menanggapi, tidak ingin turut campur dalam percakapan mereka.


Irene ber-wah lebar. Sangat antusias pada penuturan si perempuan. "Beneran bisa nangkap mimpi buruk, Kak?"


"Iya."


"Gimana caranya?"


"Caranya, nanti kalo mimpi buruk datang bakal di hap! sama dream catcher-nya. Terus gak jadi deh masuk ke mimpi kamu. Kamu cuma bisa mimpi indah setelah itu."


"Wah hebat!" Irene berseru, melompat-lompat kecil. "Bunda! Irene mau beli satu ya, ya, ya?"


Ayu menunduk, merendahkan dirinya sampai sejajar dengan tatap sang anak. "Irene mau?" tanya dia seraya menarik kurva bibir dengan lembut.


"Hum!" Yang ditanya mengangguk kuat. "Boleh ya, Bunda?"


"Boleh dong."


Akibatnya, Irene bersorak. Suara nyaringnya mengundang tatapan gemas dari beberapa orang yang tertarik oleh daya magis si anak untuk memperhatikan. Tetapi si oknum justeru tidak tahu. "Makasih Bunda."


Ayu mengangguk saja. Di sebelahnya Dennias menyaksikan bersama senyum teduh tergurat di muka. "Sana. Minta yang benar sama Kakaknya."


"Kak. Irene mau dream catcher-nya satu, boleh?"


"Tentu boleh." Sekali lagi sepasang matanya tenggelam oleh tarikan senyum. Presensi berbadan sepantaran Ayu itu berbalik, mengambilkan satu dream catcher yang paling menarik minat Irene. "Nih. Buat adek yang lucu banget malam ini."


Apa yang ia sodorkan lenyap dari tangan tak sampai dua detik setelahnya, berpindah pada Irene yang meluapkan rasa senang dengan mengangkat tinggi-tinggi benda itu. Lanjut dia menarik Ayu ke tempat lain tanpa sempat wanita itu mengantispasi. Kabar baiknya, ada Dennias di sana yang tidak keberatan melakukan transaksi. Selepas memberikan beberapa lembar uang, dia mengikuti sepasang ibu dan anak yang tahu-tahu saja sudah jauh dari jarak pandang miliknya. Dia menggeleng-gelengkan kepala teratur. Antusiasme Irene terlalu meledak-ledak untuk Ayu tangani, sampai-sampai perempuan itu kewalahan mengimbangi.


"Irene mau ini?" Si anak tidak sama sekali terkejut pada suara Dennias yang telah berada tepat di sampingnya.


"Iya, Om! Irene mau itu!"


Mengabaikan Ayu yang masih belum pulih dari penat selepas barusan mengikuti tingkah hiperaktif Irene yang lompat sana- lompat sini selayaknya kancil, Dennias memesan apa yang Irene inginkan. Itu takoyaki isi gurita. "Mbak, saya pesan tiga porsi ya."


"Dua aja," suara Ayu buru-buru menyela.


"Loh? Kamu gak mau?"


"Bunda gak suka gurita, Om."


Praktis, kerutan samar tampil di dahi Dennias. "Bukannya dulu kamu suka?"


Ayu menjawab pasca menyengir sedikit. "Aku udah gak suka setelah dulu waktu ngidam pernah muntah-muntah liat gurita."


Atas jawaban itu, Dennias menanggapi dengan anggukan sederhana. Baru tahu efek ngidam bisa berjangka panjang.


"Paan sih, lo?! Gak sopan tau!"


Sang korban keanarkisan menjawab tidak ingin kalah. "Strategi marketing, bego! Siapa tau mau beli!"


"Ya gak gitu juga konsepnya, peak!"


"Udah udah," Dennias turun tangan. Dengan suara tegasnya ia melerai. "Jangan berantem di depan konsumen. Ntar jualan kalian malah gak laku. Saya pesan dorayakinya satu. Itupun kalo takoyakinya gak gosong."


Seolah-olah disadarkan, dua manusia yang di mata orang lain akan lebih mirip seperti pasangan love-hate itu terperanyak. Keduanya buru-buru mengurusi makanan berbetuk bulat yang tengah mereka masak.


Ketika selesai dengan pembayaran yang masih ditangani Dennias, dua porsi takoyaki dan satu porsi dorayaki telah mereka dapatkan. Dennias segera menggiring Ayu dan Irene ke salah satu kursi panjang yang tersedia di sana.


"Pelan-pelan, masih panas." Dennias mendengar Ayu memperingatkan Irene di sampingnya.


"Oke, Bunda." Irene menyanggupi sembari memvisualisasikan "oke" itu menggunakan media jari tangan mungilnya.


Di bawah langit bertabur bintang, bersama bulan sabit menggelantung gagah menantang malam, Dennias betah memperhatikan Ayu dan Irene yang terlibat senda gurau di hadapannya. Pada siraman cahaya kuning lampu-lampu yang ditata artistik di atas kepala para pengunjung, dia sadar bahwa tidak pernah setenang ini hanya karena dua senyum yang tergambar persis. Hah. Rupanya Ayu mewariskan senyum manisnya pada Irene.


"Hati-hati makannya, Irene." Tepat setelah mencetus kalimat itu, Dennias yang mulanya hanya ingin memperingatkan tentang saus belepotan di sepanjang bibir Irene, malah mendapatkan derai tawa.


"Yah, jatuh." Bukannya sedih, Irene masih sama seperti sebelumnya, yang justeru menertawakan makanannya yang jatuh ke tanah.


Maka selain sebagai penyumbang segemerincing tawa, Ayu ada di sana merangkap peran jadi penasehat. "Lain kali hati-hati ya makannya. Jangan sampe kebuang-buang gitu. Mubadzir."


Usai satu permintaan maaf yang masih saja diselingi tawa, Irene mengangguk mantap.


Butuh beberapa menit sampai kegiatan mengudap jajanan khas negeri sakura itu selesai. Denias bangkit dengan diikuti yang lainnya. Dia menyempatkan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. "Udah hampir jam sembilan. Yuk, siap-siap buat nonton kembang apinya."


"Oh, udah mau mulai?" Ayu bertanya, tidak menyangka acara puncak akan diadakan di jam-jam segini.


"Iya. Soalnya kalo terlalu malam takut keburu sepi pengunjung. Lagian festivalnya diselenggarakan selama seminggu."


Berangkat dari kalimat itu, ketiganya bergabung dengan beberapa orang yang sudah berkumpul di satu lahan luas. Di seluruh airmuka yang ada di sana, tampak jelas jika mereka pun sudah tidak sabar ingin melihat percikan api di langit.


Beratasnamakan Sabtu malam pukul sembilan, selama lima belas menit lebih langit meletupkan cahaya-cahaya indah memanjakan mata. Meski sempat kaget atas suara ledakannya, Irene sudah mulai terhanyut pada euphoria yang tercipta. Perpaduan warna oranye, merah, kuning atau kadang sekilas terlihat merah muda menarik atensi banyak pasang mata. Termasuk milik Irene dan Ayu. Dennias tidak ada dalam hitungan karena lelaki itu sedang sibuk memandangi dua makhluk Tuhan yang berbagi kecantikan serupa. Perlahan dia merogoh kantung celana, mengeluarkan ponsel guna merekam dua presensi yang tatapnya masih tertaut di atas sana.


Cukup banyak gambar yang ia ambil, namun hanya satu video yang mampu ia rekam. Tidak apa-apa, karena ketika memutar ulang mengulang rekaman itu, Dennias merasakan gelenyar hangat yang menjalar di seluruh tubuh untuk selanjutnya mendiami dada. Mendapati mata Ayu memproyeksikan apa yang terlihat di langit, seolah-olah buncah cahaya itu memang ada di netranya.


"Mau keliling lagi gak?" Adalah apa yang Dennias katakan ketika kembang api terakhir telah dimuntahkan, lalu lesap sepersekian detik berikutnya.


"Tanya Irene dulu deh," putus Ayu, langsung meminta kesediaan sang putri yang kebetulan berupa gelengan menolak. "Langsung pulang aja ya. Irene kayaknya udah ngantuk." Sepasang manik mata Ayu menjumpai Irene menguap lebar.


"Boleh," kata Dennias setuju.


Berbekal rasa kantuk Irene yang kepalanya terkulai lemas di pundak sang Bunda, Dennias beriringan dengan Ayu juga beberapa pengunjung lain, melangkah mantap menuju tempat kedatangan. Dari pembahasan dua pasang kekasih di sebelah kanan mereka, katanya festival untuk malam besok bertema horor. Akan ada banyak cendra mata yang bertalian dengan dunia gaib. Rumornya, rumah hantu bakal mulai dibangun setelah matahari terbit nanti. Pun acaranya akan lebih meriah, karena besok adalah malam penutupan.


"Besok kamu mau ke sini lagi?" Usai sukses menempati kursi kemudi, Dennias bertanya pada Ayu yang juga telah siap dengan seatbelt melingkari badan.


"Kayaknya nggak deh."


Mau tak mau, alis Dennias terangkat satu dengan kesan menggoda. "Masih penakut kayak dulu ternyata."


"Nggak," bantah Ayu. Kemudian dia mengimbuh. "Sekarang udah gak terlalu takut, cuma ternyata tabiat aku yang satu itu malah turun ke Irene."


Kepala Dennias menggut-manggut paham. "Iya. Kalian kan ibu sama anak. Bagaimanapun, Irene bakal dengan sendirinya terpengaruh sama perilaku kamu."


...***...