Ours

Ours
Prolog



Dia biasanya dipanggil Ayu. Kalian tahu Yoona personel girl group Girls Generation? Sepertinya ke sanalah tipikal wajahnya berkiblat. Namanya juga hampir sama, Yunaira.


Ada "Yuna"-nya, kan? Meski Yoona yang itu bukan Yuna, tetapi Yoona. Pakai "oo" bukan "u".


Terlepas dari fakta barusan, Ayu tidak pernah sekalipun diterima jadi trainee di agensi manapun, karena memang dia tidak pernah mencalonkan diri. Ayu juga bukan seorang aktris, apalagi penyanyi. Dia pengangguran.


Hari ini, Ayu hampir telat bangun pagi. Interview pagi ini yang menjadi sebabnya. Makanya Ayu sangat terburu-buru, sampai meninggalkan rumah dengan pintu menjeblak terbuka.


Ayu menyadari kecerobohannya setelah duduk di salah satu kursi penumpang sebuah bus. Untungnya supir baru saja melajukan kendaraannya, jadi Ayu bisa dengan teriakannya meminta sang sopir untuk berhenti.


Ayu terbirit-birit. Menggerutu samar pada heels yang dikenakannya. Padahal haknya hanya tiga sentimeter, tapi Ayu yang tak berpengalaman harus berkali-kali keseleo.


"Yu! Ini loh kunci rumahmu! Tadi kamu lupa ngunci! Malahan dibiarin ngejeblak gitu aja!" seru Bu Luluk saat Ayu melewati jalan kecil depan rumahnya.


Ayu melihat pada pintu rumahnya yang telah tertutup. Bu Luluk baik sekali sampai mau menguncikannya untuk Ayu.


"Lempar aja kuncinya, Bu!" Ayu balas berteriak. Dia tidak punya waktu hanya untuk sekadar melewati pekarangan rumah Bu Luluk yang luasnya sekitar enam meter. Masalahnya adalah, kalau Ayu menghadap Bu Luluk Marjuki yang tersohor sebagai pemimpin kaum ibu-ibu ghibah satu komplek, Ayu akan ditanya-tanyai dulu kenapa bisa terburu-buru sampai lupa mengunci pintu.


Kunci terlempar dan hampir mendarat di wajahnya. Beruntung Ayu sigap menghindar. "Thanks ya, Bu!" kata Ayu sambil memutar badan dan berlari menuju arah kedatangannya tadi.


"Yu! Tengs itu apa?!"


Ayu lupa. Bu Luluk tidak mengerti bahasa asing saking cintanya dengan Indonesia. "Matur nuwun, Bu!"


"Oh, itu toh! Yoi, Yu!"


Dan setelah berbalas teriakan yang mengundang pintu tetangga yang lain untuk terbuka penasaran, Ayu harus menunggu bus berikutnya yang akan datang sepuluh menit lagi dengan kaki terketuk tidak sabaran. Semoga dia tidak terlambat hari ini.


...*...


Ayu melongo. Rahangnya seperti jatuh ke lantai kala dia dinyatakan diterima begitu saja.


Orang berdasi di depannya telah berwajah lelah. Padahal dia tidak berucap banyak.


"Ini ... Serius, saya diterima?"


Meski begitu, Ayu tidak senang. Ayolah, apa persiapannya mengenai jawaban-jawaban dan intonasi suara yang ia rencanakan semalam suntuk akan percuma begitu saja? Ayu bahkan tidak sarapan karena telat bangun!


Astaga. Dia tak pernah menyangka dirinya justeru merasa kesal mendapatkan pekerjaan dengan cara yang teramat mudah.


Orang di hadapannya merengut sedikit. Mungkin terganggu akan Ayu yang masih setia di hadapannya. Dia menegakkan tubuh, mencondongkan sedikit ke depan. "Kalau kamu punya penyakit tuli, sepertinya tidak akan diterima."


Tentu Ayu langsung tercekat panik. "Bukan! Bukan seperti itu maksud saya!" katanya sambil mengibas-ibaskan tangannya rusuh. "Saya tidak punya riwayat sakit pendengaran."


Alis terangkat lawan bicaranya entah kenapa terlihat menakutkan. Pekerjaannya di tempat ini sepertinya mulai terancam. Padahal ia bahkan belum bekerja. Ayu merutuki dirinya saat lelaki di hadapan bicara lagi.


"Lalu?" tanyanya. Terkesan sangat menuntut dan menyudutkan. Ayu hampir sukses merinding.


"Hanya saja ... saya bahkan belum memperkenalkan diri."


Alis orang di depannya terangkat satu. "Kamu kira ini audisi pencarian bakat? Saya sudah melihat data diri kamu di surat lamaran kerja yang kamu lampirkan sebelumnya. Ini, di amplop ini."


Pria itu menggoyang-goyangkan amplop cokelat di tangannya.


Tapi kan, interview biasanya tidak seperti ini, batin Ayu.


"Sudah sana. Sekarang kamu jadi sekretaris si Patung Es- maksudnya Pak Direktur. Cepat pergi, sebelum pintu ini jadi korbannya," kata dia, sembari menuding pintu ruangan yang tertutup.


Ayu masih tidak terima. "Tapi Pak, interview gak kayak gini."


"Astaga, bocah iniiii."


Mereka spontan berjengit kaget. Ayu sampai refleks menahan dada. Jantungnya serasa akan melompat ke luar begitu saja. Dia menoleh, mendapati pintu yang baru saja didobrak keras terbuka lebar-lebar, menampakkan seorang pria berwajah dingin dengan dagu terangkat angkuh serta lipatan kedua tangan di depan dada. Tatapannya tajam menusuk pada seseorang yang sejak tadi jadi lawan bicara Ayu. Sedangkan sebagai satu-satunya wanita di sana, Ayu merasa jantungnya mencelos jatuh sampai ke tulang ekor.


Lelaki di ambang pintu itu tampak tak terkesan tatkala berucap, "Mana pembantu gue yang baru?"


Ayu rasanya ingin melompat lewat jendela -kalau saja dia tidak ingat tempat ini berada di lantai lima- ketika dirinya ditunjuk dan mata itu berayun ke arahnya. Ayu hampir kehabisan napas ketika mata mereka bersirobok dan segera saja sang lawan mengernyit mencoba mengenali.


...***...