Ours

Ours
Bab Dua Puluh Satu - Reuni



Ayu  tipikal orang yang senang menyendiri, menghindar dari keramaian.


Apapun bentuknya, Ayu akan berusaha menjauh- jika ia bisa, bukan dalam kondisi terpaksa dan tak ada pilihan lain.


Reuni dan acara-acara resmi adalah salah satu contohnya.


Lalu bagaimana cara dia mejelaskan ketika keadaan itu dialaminya secara sekaligus? Di satu tempat. Di satu waktu yang sama.


"Gimana kabar lo?"


Ayu tersenyum kikuk pada seorang wanita bergaun merah menyala dengan gancu di bibirnya yang berwarna serupa. " ... Baik."


Ia menyempatkan untuk mengambil napas panjang, sesak rasanya ketika dia entah bagaimana caranya tiba-tiba sudah berada di tengah kerumuman. Posisinya persisi di tengah, dikelilingi, mempersulit keinginannya untuk diam-diam pergi. Rasanya seperti sedang dirundung oleh teman satu kelas, meskipun tidak secara harfiah begitu adanya.


Wanita lainnya ikut bertanya- interogasi kesannya bagi Ayu -setelah selesai dengan kudapan di mulutnya. "Lo kemana aja sih selama ini? Pas reuni gak pernah dateng. Gue kira, lo udah lupa pernah sekolah di Nusa Kencana."


Meringis tidak enak. "Enggak kok. Gue ... gak sempet. Baru balik ke Indo tahun lalu."


Seperti dikomando, serempak mereka ber-"oh" panjang lalu dituntaskan dengan "pantesan"


Ayu mengangguk kaku dengan tawa pelan canggung masuk ke hidung. Dia betul-betul tidak tahu harus bersikap bagaimana kini. Makanya pasrah saja ketika selanjutnya pertanyaan datang beruntun dari berbagai mulut. Bentuknya hampir serupa, meski pun ada beberapa yang mengurainya dengan bertele-tele. Inti yang Ayu tangkap adalah "Kenapa lo tiba-tiba ngilang?"


Mereka berujung memberi kesan mendesak jawaban dari Ayu yang diam saja, tidak peduli seberapa besar rasa kurang nyaman yang ekspresi Ayu tampakkan. Ia sekarang bahkan telah meringis-ringis seperti orang yang menahan buang air- sebentar.


Buang air?


"Emm. Guys sori banget nih. Tapi gue ada panggilan alam. Butuh toilet."


Karena hal itu, Ayu sangat lega dan untuk pertama kalinya merasa tidak masalah ketika punggungnya didorong agak bertenaga untuk ke luar dari lingkaran percakapan.


Ayu sigap mengambil langkah, setengah berlari. Melewati begitu saja beberapa orang yang tampak ingin menyapanya.


"Fyuuuh." Menumpukan kedua tangan di tepi wastafel, menatap dirinya di pantulan cermin. Wajah layu sisa riasan luntur diperhatikannya. "Seharusnya gue pake make up waterproof." Pandangannya turun, tersangkut di gaun panjang yang membungkus badannya. Tak urung ia mendesah lelah. "Seharusnya juga gue gak pake gaun jahanam ini."


Seharusnya Ayu tahu, meminta saran pada Bu Luluk bukanlah ide bagus. Apa yang dipilihkannya tidak cocok untuk Ayu. Tidak kampungan, memang. Hanya saja, terlalu glamor. Dan bodohnya Ayu setuju-setuju saja tanpa ingin ambil pusing.


Menjatuhkan tubuhnya agar bersandar di tembok samping, Ayu menarik sesuatu yang hadir dengan sensasi panas di hidungnya. Mengerjap-erjapkan mata, menahan sesuatu yang mendadak ingin menerobos. Kembali menadah air di penyatuan kedua telapak tangannya, Ayu membasuh kembali wajahnya berkali-kali. Cipratannya mengenai bagian pundak yang terbuka, tetapi Ayu enggan peduli. Pun pada seberapa berantakan wajahnya kini.


Namun rasanya usaha itu sia-sia, karena bukannya enyah, justeru semakin membayang di benak. Tatapan kurang ajar dari banyak lelaki di ruangan tadi, benar-benar membuatnya merasa ditelanjangi.


Mungkin bagi sebagian orang hal itu bukan sesuatu yang perlu direnungi dengan waktu lama seperti yang Ayu lakukan, tetapi baginya hal ini sedikit menyentil perasaan. Sehingga ketika semakin larut dipikir, dapat dengan mudah menjatuhkan air mata.


Ayu sangat benci diberi tatapan begitu. Sangat. Ia merasa ...


"Ayu?"


Merasa terpanggil, ia berbalik memenuhi panggilan tersebut. Praktis membuat si pelaku terlonjak kaget.


"Astaga!" Wanita bergaun di atas lutut ini adalah Hera yang selanjutnya mengusap dada, menenangkan diri dalam beberapa sekon. Katanya kemudian, "Ada apa sama kamu?"


"Huh? Gak ada apa-apa. Emangnya kenapa?" tanya Ayu polos, lemas dan seperti tak niat sama sekali.


Hera mengerjap tidak percaya dengan apa yang Ayu katakan. "Riasan kamu," tudingnya berakhir agak geram. "Lagi cosplay jadi hantu apa gimana??"


Ayu berbalik agar kembali menatap dirinya di cermin, dalam hati terperanyak. Sejak kapan jadi seburuk ini? "Aku kebanyakan cuci muka."


Hera menepuk dahi- wanita anggun itu benar-benar melakukannya, asal kau tahu. Pikirnya, bagaimana bisa Ayu menjawab dengan wajah polos tapi menakutkannya itu?


Dan mendadak ia menelusuri samping, digeret Hera menelusuri sisi yang tak terlalu diperhatikan para tamu.


"Kita- mau ke mana Kak?" Ayu menyempatkan bertanya di antara usahanya untuk bertahan, takut menginjak ujung gaunnya sendiri.


"Ikut aja," ucap Hera seolah-olah itu menjawab kebingungan Ayu.


Ayu belum bisa memahami keadaan ketika mereka sudah memasuki satu ruangan yang tampaknya khusus keluarga penyelenggara acara.


"Ra, siapa ini?" Adalah apa yang Ayu dapat dengan nada kaget dari seorang wanita paruh baya yang mudah ditebak sebagai Ibunya Hera. Dan dia pasti kaget karena melihat tampang Ayu, melihat dari caranya kini memperhatikan wajah Ayu dengan kening berlipat.


"Temenku. Jangan tanya dulu. Aku sama dia ada urusan bentar."


Ayu hanya mengangguk kikuk memberi tanda hormat pada Ibunya Hera. Dia tak enak hati tiba-tiba muncul di tengah keluarga orang lain. Sekonyong-konyong jadi pusat perhatian semua pasang mata. Mungkin sekitar sepuluh atau belasan orang yang ada di sini, dan itu membuat kepala Ayu makin jatuh menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara tirai yang terbentuk dari helai rambutnya.


...*...


Ayu diam, merapikan tangan di atas pangkuan. Kepalanya celingukan sungkan selagi menunggu Hera yang masuk ke satu pintu yang ada di balik pintu tempat ini dan sampai sekarang masih belum kembali.


Ruangan ini adalah kamar. Berkesan mewah, elegan sekaligus estetik. Ayu terpana, gordennya saja terlihat sangat bagus. Mungkin lebih mahal harganya jika dibandingkan dengan daster sehari-hari di lemari pakaiannya.


Suara Hera tahu-tahu sudah ada di sebelah. Ayu agak terkejut dibuatnya. " Ah ... itu. Em, gak usah Kak. Aku gak papa kayak gini," jawabnya sungkan.


"Buat kamu sih gak papa. Tapi buat tamu undangan lain? Jangan bikin mereka sakit mata, Ayu." Menyiapkan segala alat di atas meja, yang ia keluarkan dari make up pouch berwarna senada dengan eyeshadow, blush dan lipstik yang walau mirip-mirip sedikit, tetap berwarna merah muda. Tidak memilih di antara benda yang disebutkan di atas, Hera justeru mengambil selembar kapas yang selanjutnya ia tetesi cairan pembersih riasan. "Hargain aku juga sebagai salah satu pihak penyelenggara acara."


Intonasi yang Hera bawa terasa dingin sejak ia muncul kembali dari ruangan di samping kanan itu. Ayu tak tahu apa yang terjadi, tapi seingatnya tadi Hera masih sehangat biasanya.


Tak dapat ditahan tatkala pikirannya mulai merancang satu adegan sinteron. Bahwasanya selama ini wajah ramah Hera hanyalah topeng belaka, ucapan manisnya adalah omong kosong. Ketika kenyataanya wanita ini sebenarnya membencinya, termakan omongan-omongan orang tak bertanggungjawab soal hubungan "terlarang" di antaranya bersama Sore. Namun ternyata ...


Hera tergelak. "Ya ampuuuun." Dia hanya sanggup mengucap satu kata itu, tawanya berderai tak terbendung. Membuat Ayu kebingungan. "Wajah kamu ...."


Ada kemajuan, kini dua kata. Tapi tetap saja belum bisa memberi jawaban untuk kerutan di kening Ayu. Selang waktu sepuluh detik, barulah Ayu memahami apa yang Hera maksud dengan perubahan signifikan dari sikapnya barusan.


"Aku cuma bercanda, Yu. Kamu percaya aja sampe takut segitunya."


"E- enggak, Kok!" Melambaikan tangan rusuh di depan wajah, lalu melengos ke samping. Meski pun menampik, Ayu tetap menarik napas lega. Barusan itu mendebarkan sekali.


Hera terkekeh. "Oke-oke. Sekarang mari kita mulai sesi make up-nya."


Setelah itu, Ayu terdiam bagai patung. Tak ada yang dia lakukan selain bernapas dan berkedip.


"Jadi," Suara Hera terdengar lagi. Sebuah kelanjutan yang Ayu kira tak akan pernah ada, yang disangkanya akan mempertahankan senyap di antara mereka. Hera lanjut bicara, sambil tetap konsentrasi pada gerakan menyerupai putaran lewat kuasnya di pipi Ayu. "kamu cukup deket ya, sama Sore?"


Ayu menegang seketika, tangannya separuh mengepal. " ... Kami ... bekerja bersama." Cepat-cepat ia mengimbuh, "Tapi tidak dekat sama sekali. Tidak dalam hal apapun." tatkala dapat disadarinya gerakan tangan Hera memelan di rahangnya.


Hera menganggukkan kepala. Lalu, "Oh ... Oke."


Ayu harap kalimat ambigu itu bermakna kalau Hera mengerti. Namun sepertinya usaha "meyakinkan" darinya tak begitu baik ketika Hera berucap, "Kata Mamanya Sore, kamu pernah beberapa kali nginep di rumahnya."


Hera dengan pembawaan "biasa saja", tetapi Ayu tahu betul ada kecurigaan di sana, membuatnya tergerak menghentikan laju tangan Hera, meminta perempuan itu memperhatikan kesungguhan yang ia pancarkan dari tatapnya. "Kak, please. Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku ke sana karena kelakuan pak Sore yang nyeleneh. Minta dibantuin nyelesein kerjaan di waktu mepet. Aku gak punya pilihan lain selain nurut. Kalau enggak, bisa dipastiin besoknya aku jadi pengangguran. Dan aku gak bisa jadi pengangguran karena ada yang harus aku hidupin. Aku gak ada apa-apa sama pak Direktur. Suer." Ayu mengatakan kalimat panjang ini dengan satu tarikan napas. Sekarang ia sedang mengambil oksigen banyak-banyak karena barusan ia berkata disertai campuran emosi sebal yang menggebu-gebu. Mengenang masa menyebalkan memang menguras energi.


Hera tersenyum, dengan itu Ayu mengira kalau dia telah paham. "Gue ngerti, kok," kata dia, mengguyur Ayu dengan kelegaan luar biasa. "Lagian aku cuma nanya. Kamu gak perlu sepanik itu."


Suara Ayu pelan sekali ketika mengatakan, "Ya abisnya ...."


Namun sepertinya jauh dari yang semula ia bayangkan karena terdengar oleh Hera.


"Maaf." Tersenyum merasa bersalah. "Eh! jangan dikedalemin gitu bibirnya! Nanti lipstiknya rusak! Bukan matte soalnya!" jeritnya pada Ayu yang melipat bibirnya ke dalam.


Ayu melotot kaget, meringis seperti akan menangis. "Heeee ... maaf. Abisnya Kakak bisa denger suaraku. Padahal pelan banget. Serem tau. Kakak kayak punya pendengaran super."


...*...


Ayu telah berpisah dengan Hera dua menit yang lalu. Sekedar memberitahu, Ayu masih terjebak di tengah acara yang bahkan belum dimulai ini.


Duduk menyudut sendirian, ia baru memperhatikan banyaknya lapisan usia yang menghadiri acara ini: anak muda; orang tua; anak kecil bahkan para Kakek-Nenek turut serta.


Kebanyakan mereka berbinar, larut dalam euforia. Sebagian ada pula yang membicarakan satu hal dengan serius. Ayu tak bisa dengar, tempat ini terlalu riuh oleh percakapan yang tumpang-tindih. Tapi sekadar menebak, orang dewasa itu tak mungkin jauh dari berbincang soal bisnis. Memang, selalu ada tempat di sebuah pesta untuk kerja sama dan uang.


Tentunya acara ini penting dan menguntungkan bagi banyak orang, terutama bagi para pebisnis. Kehadiran mereka bisa jadi batu loncatan untuk memperluas relasi. Pun untuk penyelenggara, mereka- sengaja tak sengaja- memperlihatkan seberapa mewah dan besar nama yang disandang, memancing banyak perhatian untuk "mempertimbangkan". Meski kecil kemungkinan, tetap ada niat terselubung dari mempertontonkan kekayaan dengan menggelar acara semewah ini. Menyediakan lapak yang potensial untuk ajang pamer.


Lihat saja orang-orang berjas dan bergaun mewah itu. Tertawa-tawa sambil berlomba memperlihatkan segala aksesori mewah yang menempel di badan.


Ayu mendecih kecil saat seorang lelaki dari perkumpulan orang berduit berjarak cukup jauh itu menyingsingkan lengan jasnya, semata-mata hanya agar arloji bermerknya tak terhalangi. Belum cukup ia menggelengkan kepala heran, satu wanita menuntun tangannya untuk menjumpai kalung berkilauan yang melingkar di leher saat ia tertawa. Waktu yang tepat; tatkala banyak mata yang tertarik memperhatikan tawanya.


"Cek, cek. Satu dua tiga. Cek. Oke." Tes dengan ketukan di mikrofon itu menyedot atensi, termasuk milik Ayu. Lelaki paruh baya yang ia kenal sebagai CEO-nya berdiri di sana. Terlihat tampan dengan poni gaya koma, belum lagi diimbangi wajah ramah berlesung pipit dan pancaran wibawa. Ayu sampai menggeser kursinya sedikit guna bisa penuh memperhatikan.


Tetapi lelaki itu seketika menjungkirbalikkan ekspektasi Ayu kala dia dengan tingkahnya, terlihat kebingungan di atas panggung rendah yang ada di sana.


Mau apa lelaki itu? benak Ayu.


Ayu memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan, mengikuti kemanapun lelaki itu bergerak. Hingga pada satu titik, ia kembali lagi dengan menyeret sang raja pesta, Sore, untuk turut berdiri di panggung. Seperti biasa, wajah ratanya tak bisa terkelupas oleh keadaan apapun.


"Jadi, karena sekarang Sorenya udah ada dan kalian pasti tau tentang kenyataan kalau saya gak pinter ngomong bener, mending kita langsung aja ke intinya, oke?"


"Oke!"


"Siap!"


"Lanjut Gan!" Sayangnya Ayu kenal betul dengan suara ini. Rafi. Dan lelaki itu tak disadarinya sudah berdiri di sebelah, dalam jarak dekat. Ayu bergerak menutupi wajahnya perlahan dari pandangan banyak orang yang menoleh. Ingin sekali ia tidak usah mengenal seorang berkemeja baby blue itu.


Mikrofon mengeluarkan suara lagi usai dapat sambutan. "Mari kita mulai acara secepatnya. Eem ..." Dia celingukan. "Bagi yang merasa bernama Hera Yudhistira silakan naik ke panggung. Karena acara ini gak bakal selese dengan Sore yang pake cincin sendirian."


...***...