Ours

Ours
Bab Tiga Puluh - Tamu Tak Diharapkan



Hilir mudik manusia tidak menyurutkan Ayu yang terus menatapi remasan kedua tangannya. Dalam hati dia resah. Ditinggalkan Rendi yang telah dia anggap sebagai sahabat adalah satu hal yang paling akhir ingin ia jumpai di dunia.


Namun pula dirinya tahu betul jika bukan haknya buat menahan lelaki itu lebih lama.


Rendi bebas ingin pergi ke mana. Ingin meninggalkan siapa untuk mendatangi siapa. Semuanya terserah lelaki itu.


"Gue ... pergi dulu."


Kalimat itu entah bagaimana sangat mengejutkan Ayu. Menilik penanda waktu, Ayu tak sadar jika satu jam telah berlalu. Dan belum ada satu kalimat pun yang dia lontarkan semenjak itu.


Kegundahannya hanya membuang-buang waktu.


"Tunggu," sambutnya dengan suara sengau. Masih kemerahan juga ujung hidungnya.


Demi mendapatkan rematan di sisi blazer dan wajah menyedihkan Ayu, Rendi mengalah meski peringatan pemberangkatan pesawatnya sudah terdengar. Duduk sebentar mungkin tidak apa-apa.


"Gak akan pergi lama-lama, kan?"


Setelah kalimat itu tersampaikan, balasan vokal tidak lantas segera Ayu dapatkan. Untuk alasan yang belum diketahui, Rendi justeru bungkam, memberi lahan untuk senyap menggelantung lama. Sampai pada harap Ayu yang hampir musnah, barulah ia bicara.


"Gue gak bisa janji. Tapi setelah semuanya membaik, kembali adalah hal yang tentu bakal gue pertimbangin."


Ayu menunduk, hampir saja air matanya luruh untuk kesekian kali, meremas kedua lengannya lagi yang tidak tahu sudah berapa kali- bahkan sekarang sudah memerah. Katanya di antara semua itu, "Lo harus balik. Jangan pertimbangin gue, Irene atau siapapun. Lo harus balik setidaknya buat Sesha, buat kesembuhan dia. Lo harus ada di saat dia kembali."


Bukannya menjawab, Rendi justeru memandangnya cukup lama, sangat intens dan menarik Ayu untuk tenggelam dalam hampa sorot matanya. Melalui kedua tangannya, lelaki itu merangkum dua tangan lainnya, meremas pelan berusaha menyalurkan segala afeksi.


"Lo jaga diri baik-baik, ya? Jaga Irene juga. Tolong, setelah nanti gue kembali, kita udah sama-sama berada di titik terbaik."


Ayu meragu, tentang kapan datangnya hari itu. Pasalnya bahkan Rendi tidak menjawab ucapannya. Lelaki itu justeru tanpa tersirat telah memberikan jangka tidak terbatas untuk penantian yang akan Ayu jalani nantinya. Namun karena terdorong remasan tangan Rendi yang menguat, Ayu mau tak mau mengangguk-anggukkan kepala, berbarengan dengan isakan menyeruak dengan air mata yang luruh entah untuk yang keberapa.


Sore itu, Ayu mendapati air matanya yang disingkap dari kedua belah pipi, mendapatkan satu kecupan di dahi serta salam selamat tinggal yang begitu menusuk hati.


...*...


Ayu menarik napas. Dari arah dapur, matanya memicing tajam. Dua gelas air putih ia bawa menuju sisi ruangan lain di rumahnya, lantas menyuguhkan pada si tamu tak terduga.


"Saya tidak punya apa-apa untuk disuguhkan," katanya, membuat kaget seorang pria berpakaian formal yang terus memandangi foto pernikahan sang Kakak.


Sore berderap mendekat, meraih tempat di sofa panjang dengan empasan yang lumayan terdengar. Ditatapnya Ayu yang tentu saja langsung buang muka.


"Kamu kenapa tidak kerja?" tembaknya yang tepat setelah itu mendapatkan delikan dari si lawan bicara.


"Saya rasa Anda sudah tahu alasannya. Saya sudah melampirkan surat pengunduran diri."


"Saya tidak menerima pengunduran diri kamu," jawab Sore tenang tak terkesan.


"Tapi saya sudah tidak ingin bekerja di perusahaan Anda lagi. Dan Anda tidak bisa memaksa saya terus bekerja," dengus Ayu.


"Saya punya hak untuk tidak menerima pengunduran diri kamu. Jadi saat itu terjadi kamu tidak memiliki pilihan selain tetap bekerja."


Kedua alis Ayu mengerut terganggu. "Sejak kapan–"


"Sejak kamu berada di bawah kekuasaan saya," sergah Sore cepat. Nada suaranya masih sedingin biasanya.


Gigi Ayu gemerletuk, saling beradu menahan semburan emosi. Dia membawa tatapnya untuk menantang Sore dengan berani. "Untuk apa Anda bersikeras mempertahankan saya? Toh di luar sana masih banyak orang yang bersedia bekerja dengan Anda dan mungkin saja lebih kompeten daripada saya."


Sore menjawab acuh tak acuh. "Hanya ingin memastikan kalau kamu tetap berada dalam pengawasan saya."


"Apa?" Ayu memicing.


Sore dengan tubuh tingginya dibawa condong kepada Ayu yang duduk di kursi single di dekatnya. Sehingga Ayu dapat dengan mudah menangkap intonasi tajam dari suaranya. "Jangan coba-coba untuk kabur dari saya, Yunaira. Karena kali ini saya tidak akan membiarkan kamu pergi kemana-mana. Saya tidak akan melepaskan kamu. Tidak seperti dulu."


Kemudian dia tertawa, sarkas terdengar. Bukankah ini menggelikan, pikirnya.


Di sisa gelak itu ekspresi Ayu segera berubah, sangat dingin untuk dilihat. "Anda tau? Sepertinya keadaan mulai berbalik. Sekarang saya tau bagaimana rasa benci dan jijik yang Anda tampakkan pada saya waktu itu dan oh! Itu membuat saya merinding dan ingin muntah."


Sore berlagak tidak peduli, beranjak dari sana seolah-olah yang baru saja Ayu katakan tidak berefek apa-apa. Tidak membuat hatinya sakit lebih dari yang dikira. Ucapnya sambil lalu, "Omong-omong, maaf karena saya sudah mengira Kakak kamu sebagai suami kamu. Tapi siapa yang mengira kalau dunia memang sesempit itu?"


Ayu menoleh, memandang iritasi keberadaan Sore yang berdiri tepat di depan foto pernikahan Jun dan Kakak iparnya Meyra, tiga tahun lalu. Meski sudah payah menahan gejolak emosi, Ayu bungkam. Membiarkan Sore lanjut dengan ucapannya.


"Kakak kamu baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan saya. Saya juga sempat bertemu dengan istrinya."


Entah kenapa kalimat lelaki itu terdengar seperti ancaman di telinga Ayu. "Jangan berani-berani Anda ganggu keluarga saya," ucapnya dengan penekanan.


Sore mengangkat kedua tangan seakan menyerah tetapi jelas airmukanya penuh cemooh. "Saya tidak akan menganggu keluarga kamu yang lain. Masalah saya hanya bersama kamu dan Kakak kamu dengan keluarga konglomeratnya itu memang seharusnya tidak usah ikut campur."


"Saya tidak punya masalah apapun dengan Anda," sergah Ayu seakan tak ingin membuang waktu.


"Oh, ya? Anggap saja sepeti itu tapi bagi saya, kita memiliki masalah satu sama lain." Sore buru-buru berkata ketika dilihatnya Ayu bergelagat ingin menyela. "Dan boleh saya tau siapa anak ini?"


Ayu mengikuti jari Sore yang menunjuk satu sosok di foto dengan pasti. Itu Irene, bergaun putih senada dengan Ayu yang berdiri tepat di sebelahnya. "Untuk apa Anda bertanya? Itu bukan urusan Anda." Ayu berdiri, melipat tangan di dada.


"Saya hanya penasaran. Seingat saya Jun mengatakan kalau dia belum punya anak."


"Itu adik saya."


Sepasang alis Sore spontan terangkat mempertanyakan. Benarkah? Dia ragu untuk percaya tapi tidak bicara lagi. Hanya mengangguk-angguk sederhana. Akan tetapi tidak lama dia ingin kembali angkat bicara. Setelah ditelusuri, foto itu terlihat janggal di matanya. Tapi entah di bagian mana. "Anak ini–"


"Halo, Ma?"


Sore tertarik untuk menghadap Ayu, yang kini sedang bertelepon entah dengan siapa. Tentu saja Sore tetapi diam, mendengarkan. Oh, ayolah. Dia jadi sangat penasaran dengan semua yang berhubungan dengan Sekretarisnya ini. Mana mungkin dia akan pergi hanya demi memberi Ayu privasi?


Dia mengernyit saat sekarang, Ayu tampak panik.


"Ma! Ngomongnya pelan-pelan! Aku gak ngerti Mama bilang apa!" Ayu mengerang putus asa.


Sayang sekali Sore tidak dapat mendengar apa yang dikatakan orang di seberang sambungan sebab jarak yang terpaut. Namun tetap sebuah keuntungan, Ayu yang frustrasi seolah melupakan keberadaanya; terus bicara di tempatnya berdiri. Dan ia begitu kaget ketika Ayu mengerang lebih keras lagi.


"Kok bisa sih, Ma?! Irene kan gak bisa minum susu!"


Irene? Siapa itu? Sore bertanya namun sebelum sempat dia bereaksi lebih jauh, Ayu sudah ketar-ketir kesana kemari. Pada akhir sambungan ia berkata,


"Aku ke sana. Mama tolong jaga Irene dulu sebelum aku datang."


Tanpa mempedulikan eksistensi tatapan Sore yang mengikuti setiap geraknya dengan bingung. Kemudian dia melihat Ayu yang memasuki kamar dan keluar lagi beberapa saat kemudian. Wanita itu sudah berganti pakaian– masih sederhana seperti biasa –ada satu ransel yang ia bawa keluar begitu saja. Tanpa bicara apapun pada Sore. Bahkan tanpa repot-repot mengunci pintu.


Ada apa dengan wanita itu?


Tidak butuh pikir panjang, Sore menyusul. Dilihatnya Ayu sedang berlari ke arah kiri. Baru akan mengambil langkah lain, raungan ponsel menginterupsinya. Nama si Kakak sepupu tertera sebagai pelaku.


"Apa?" sahut Sore tidak sabaran.


"Kemana aja lo, hah?!"


"Bukan urusan lo!" Sore balik membentak.


"Heh, Cunguk! Balik lo! Di kantor lagi ada masalah!"


Oh, sial!


...***...