Ours

Ours
Bab Tiga Puluh Lima - 20 April



Ketika satu meeting selesai, Sore langsung menuju ruangannya. Langkah tegapnya menapak di lantai, dengan mantap melewati ruangan Ayu yang kini telah dihuni sekretaris baru. Beruntung wanita itu sama cakapnya dengan Ayu. Setidaknya, Sore tidak perlu marah-marah atas kinerjanya.


Belum sampai dia pada niat ingin mengistirahatkan diri, nada dering ponsel menginterupsi geraknya. Sore terdiam sesaat, dia kira akan ada nama Aldi di layar benda pipih itu–ini sudah dua hari, Sore kira Aldi akan segera menepati perkataanya, tetapi nyatanya Sore harus dibuat mengembuskan napas panjang, itu bukan Aldi. Melainkan nomor yang tidak ia kenali.


Sore tidak peduli pada kemungkinan nomor nyasar atau semacamnya, lalu tanpa curiga dia mengangkat telpon itu, hanya untuk dimatikan kembali oleh si penelpon. Sontak, alis Sore mengernyit. Apa-apaan itu?


Sore sudah ingin melakukan sambungan balik dengan dorongan untuk langsung mencecar pelaku keisengan itu atau bagaimanapun caranya asal kekesalannya termuntahkan, tetapi notifikasi lainnya menghentikan aksi yang masih niat itu. Dia menelan kemarahannya kembali, terlalu penasaran pada apa yang dikirimkan nomor tak dikenal ini.


Sebuah video. Durasinya tidak terlalu panjang, tetapi cukup untuk membuat Sore kebingungan. Dia yakin tidak kenal pada rangkaian angka pengirim, tetapi bagaimana bisa Ayu dan seorang anak yang ia tahu bernama Irene ada dalam video tersebut?


Sore sempat terpana. Wajah dua wanita beda generasi itu terlihat begitu bahagia. Binaran di kedua mata itu tampak bercahaya. Pun sore mendengar suara orang-orang, antuasiasme dan ledakan yang tak seberapa, membuat sepasang alis Sore nyaris bertaut. Apa yang mengirimnya adalah Ayu?


Namun rasanya tidak mungkin, mengingat wanita itu bahkan tidak ingin repot-repot berhubungan dengannya. Bagaimana bisa itu Ayu, sementara mendengar suaranya saja wanita itu tidak sudi.


Kalau begitu siapa?


Sekarang Sore sadar, tidak mungkin jika nomor ini sekadar iseng ataupun salah sambung. Apalagi itu menyangkut Ayu. Namun sayang, tidak ada keterangan apapun yang sampai padanya setelah video itu. Sepertinya memang sengaja.


Masih dalam kemelut pikirannya, terdengar ketukan di pintu, lalu masuk sosok semampai sekretarisnya. Wanita yang tiga tahu lebih tua dari Sore itu, menurunkan pandangan dengan sopan. Bibir tipisnya berkata, "Pak. Ada yang ingin bertemu Bapak. Beliau belum melakukan janji temu dengan Bapak, tetapi beliau meminta saya menyampaikan jika namanya Aldi dan ingin bertemu."


Ah. Syukurlah Aldi segera datang.


"Suruh dia masuk."


"Baik Pak."


Sore sudah bersiap di kursi kebesarannya. Menanti Aldi yang muncul beberapa saat setelahnya. Dengan tidak sabar, saat pintu terdorong dari luar, dia langsung menyambar. "Gimana?"


Eksistensi yang baru saja selesai berurusan dengan kenop pintu menyunggingkan senyum miring. "Gak ada sambutan yang lebih etis apa?" komplainnya.


Kontan dibayar satu decakan oleh Sore. "Gak usah bertele-tele. Cepat tunjukin hasil kinerja lo. Duit satu milyar yang udah gue gelontorkan bukan bayaran buat basa-basi."


Aldi terkekeh. "Yang barusan itu gratis ngomong-ngomong." Tepat setelah itu, ekspresinya berubah serius, apalagi ketika Sore berwajah keras dan terang-terangan menunjukan tak ingin diajak bermain-main. "Ini yang lo minta."


Sore melirik amplop cokelat tersodor ke atas di meja. Namun benda itu tak lantas membuat dia melemaskan pandangan. "Jelasin garis besarnya aja."


Aldi merengut sebal. "Bah! Apaan! Gue putar-puter bolak-balik sana-sini buat ngumpulin semua data-data itu tapi lo cuma minta gue jelasin pake mulut? Tau gitu gue gak usah susah-susah melancong ke negri orang."


Gerutuan itu Sore abaikan. Ia masih lekat menatap Aldi, seakan tidak terpengaruh dengan segala cerocosan yang temannya itu sampaikan.


"Oke, oke," kata Aldi keki. "Biasa aja ngeliatinnya bisa gak?" Sebab sudah seakrab apapun mereka, Aldi tetap gentar diperhatikan dengan tatapan tajam khas Sore itu. Dia mengambil kembali amplop dari atas meja, membuka dan merangkum intinya untuk disampaikan pada Sore. "Yuanaira Kiazmi atau nama lainnya Nakamoto Ayumi, usia 23 menjelang 24 tahun. Putri mendiang Kenta Nakamoto dengan Tias Maharani. Lahir di Indonesia, menjalani masa pendidikan di Indonesia sampai usia 16 tahun. Terakhir dia terdaftar sebagai murid Nusa Cendikia–sekolah lo, lalu pindah ke Jepang tiga bulan sebelum kenaikan kelas. Setelah enam tahun, dia kembali ke Indonesia. Ini masih perkiraan gue, tapi kayaknya keputusan itu diambil atas dorongan ekonomi. Bisnis menengah orang tuanya di bidang properti sedang mengalami penurunan drastis. Ayumi tercatat masih lajang." Aldi menjeda, tampak berpikir sejenak dan membuat Sore gregetan. Hampir saja lelaki itu melotot, namun Aldi sudah lebih dulu melanjutkan. "Tercatat masih lajang tapi miliki seorang anak bernama Nakamoto Irene. Tidak tercatat sebagai Ibu asuh, atau mengadopsi anak di panti asuhan manapun."


"Sebentar," Sore menyela. Dahinya berlipat dalam-dalam. "Apa maksud lo dengan bilang dia udah punya anak?"


Andi menggeleng polos. "Gak ada maksud. Emang itu yang tercatat di sini."


"Gue pikir itu adiknya," gumam Sore, lebih kepada dirinya sendiri. Tetapi Andi menyangka ia pun kebagian.


"Kalo gak percaya kenapa gak liat sendiri aja," jengahnya kemudian.


Andi tadinya malas, tapi ya sudahlah. Terlanjur dia dikte juga. Lagipula, bayaran yang Sore berikan lebih dari sepadan untuk membuang-buang suara emasnya. "Anak bernama Irene itu memang anak kandungnya, gue dapet catatan dari sebuah rumah sakit di Tokyo kalo Ayumai Nakamoto ini pernah menjadi pasien bersalin kurang lebih lima tahu lalu. Gue ini nyarinya susah ya. Sampe mesti nyuap sana-sini."


Setelah penjelasan itu, Andi undur diri karena bosan melihat wajah Sore yang tidak tahu sejak kapan jadi terbengong-bengong.


Dadanya bertalu, napasnya tersendat. Sore meraup surai legam miliknya, membuat carut-marut. Dia tidak habis pikir. Kenapa selama ini dia tidak bisa menyadarinya.


Seperti potongan puzzle tertimbun yang baru saja ia temukan kembali, ingatan itu bersatu dengan kenangan-kenangan lain yang ia alami di masa kini. Bagaimana Ayu yang teramat rapat menjaga ranah pribadinya agar tak diketahui. Bagaimana tatapan sepenuh rasa iri Irene yang pernah ia lihat dulu. Bagaimana Ayu yang terlihat memiliki kedekatan lebih dengan anak itu. Dan bagaimana Ayu yang bersikukuh membencinya selama ini. Lalu kini, dia menemukan kejanggalan yang ia pertanyakan saat melihat raut wajah Irene pada foto itu.


Tentu saja. Seharusnya dia tahu hal ini sedari awal.


...*...


20 April, akan Sore tandai sebagai hari paling sial dalam hidupnya. Bagaimana tidak, kekasihnya baru saya memutuskan hubungan mereka yang telah berjalan setahun atas dasar pengkhianatannya sendiri. Perempuan itu berselingkuh dan langsung memutuskan hubungan dengan Sore secara sepihak. Sore sempat ditunjuk-tunjuk, dikatakan tidak menarik lagi.


Tentu saja, Sore tidak akan terima. Tidak boleh ada yang memperlakukannya begitu. Tidak boleh ada yang merasa bangga karena telah mencampakkan dirinya. Termasuk perempuan ja*lang itu. Karena seharusnya, dalam hubungan yang ia jalin, hanya dirinya yang boleh mengakhiri. Entah atas dasar bosan, emosi apalagi "sudah tidak menarik lagi". Hanya Sore yang berhak mengatakannya.


Makan atas emosi yang menggelegak di kepala, Sore menghampiri seorang lelaki yang telah mengambil perempuan yang beberapa jam lalu berwajah jumawa setelah mengatakan perpisahan. Sore yang memang telah dikuasai emosi negatif, menghajar lelaki itu dengan membabi-buta. Menjatuhkan banyak tinjuan dengan tenaga yang tak tanggung-tanggung. Di beberapa kepalan tangannya yang melayangkan pukulan tanpa kasihan, Sore terengah. Ia tersenyum miring melihat seperti apa wajah menjijikkan itu berantakan sebegitu rupa karena ulahnya.


Sore puas, biarpun ada beberapa pukulan si lawan yang juga tepat mengenai bagian wajahnya. Lagipula, bajingan itu lebih mengenaskan darinya. Oh, lihatlah. Sepertinya dia tengah meregang nyawa. Dan Sore ada di sana sebagai orang yang menjatuhkan kaki di dadanya, membuatnya batuk kesakitan, juga memuntahkan darah. Sore tertawa bengis, dengan satu tendangan terakhir, napas tersengal itu ikut berakhir.


Sosok Sore beranjak, menyugar rambut dan berjalan terseok. Pada gang sempit itu, Sore membuang ludah, menandai jika dirinya telah mengambil satu nyawa dengan mengerikan. Dia tidak peduli. Toh, tidak akan ada berita apapun tentangnya yang naik peredaran esok. Sebab dapat Sore pastikan, Ayahnya akan bergerak cepat begitu tahu apa yang telah ia perbuat. Lelaki itu, dengan segala kekuasaannya akan menutup semua ini dari seluruh pasang mata maupun telinga. Hingga tidak ada yang akan tahu jika Seorang cakrawala Sore telah merenggut satu jiwa.


Jonathan memang senyeleneh yang orang-orang ketahui, tetapi lelaki itu bisa jadi sangat berhati dingin apabila posisinya terancam biar sedikit saja. Termasuk oleh kelakuan bejat anaknya, Jonathan akan membuatnya tampak bersih di permukaan. Menguburnya dalam-dalam sampai bau busuknya tak akan tercium sama sekali.


Tentu saja Jonathan tidak akan mengotori tangannya secara langsung. Ia cukup berpangku kaki pada meja, membiarkan tangan-tangan yang berada di bawah kepemimpinannya beraksi. Menyingkirkan segala bukti, melenyapkan seluruh jejak, menghilangkan sekecil apapun tanda keluarga Dirma yang tertinggal di tempat kejadian. Lalu setelah itu, dunia miliknya akan berjalan ideal kembali.


Sore malas jika harus langsung pulang, entah itu ke rumah atau kamar asrama. Jadi, untuk melepas sisa emosi yang masih mengendap, Sore masuk ke salah satu bar ternama. Jangan tanya kenapa dia yang belum legal bisa masuk. Kalau kalian tidak ingin berakhir sama dengan lelaki bajingan itu.


Kaki berbalut sepatu keluaran brand ternama itu berjalan kian dekat ke meja bartender. Dengan percaya diri dia memesan minuman yang membuat tenggorokannya terasa terbakar, tetapi sore suka sensasi itu. Apalagi ketika kesadarannya berangsur-angsur lenyap. Sore rasanya telah melayang, dunianya berputar dengan cara paling menyenangkan dan sejenak, dia bisa melupakan segala kesialan yang telah diterima.


Pada langkahnya yang terhuyung, Sore berjalan ke dance floor, serta merta melibatkan dirinya di tengah suara musik yang menghentak-hentak telinga. Sore dengan persentase kesadarannya yang tinggal sedikit sempat menyeringai saat banyak wanita berbaju minim menghampirinya. Dia tentu senang ketika tangan-tangan lentik itu menggerayangi tubuhnya dengan gerakan halus. Sore mengambil salah satu dari mereka untuk semakin dibawa rapat ke arahnya. Wanita itu sempat kaget, namun suaranya terdengar sangat sengaja dibuat menggoda, mendayu dengan kata-kata seduktif yang semakin gencar diungkap ketika tubuh keduanya sudah melekat erat. Sore dengan senang hati membalasnya, meraba apa-apa yang ingin ia jangkau.


Lalu ketika perempuan tampak menikmati, Sore semakin melancarkan aksi. Tangannya bahkan hampir menelanjangi wanita yang entah siapa itu Sore tak peduli. Yang penting adalah urusan nafsunya terselesaikan terlebih dahulu. Ujung telinga Sore memerah, terutama ketika si wanita merengek agar di bawa ke salah satu kamar. Dalam suara manjanya yang terasa begitu memabukkan, Sore menangkapnya tepat di depan telinga.


"Malu ...." kata dia.


Sore berdecih. Malu, huh? Lalu kemana urat malunya sejak tadi? Apa terputus sebentar lalu menyambung lagi, begitu?


Persetan dengan malu. Sore, atas penyatuan bibir mereka yang entah ke berapa, menggiring wanita itu pada sisi yang telah ia hapal betul. Tak ingin berlama-lama, Sore segera menggendong si wanita bak koala, yang direspon dengan lingkaran kaki di pinggangnya. Sore memilih satu pintu, yang memang terkhusus dirinya dan tak boleh ada pengunjung lain yang memakainya.


Tubuh kurus itu Sore lempar pada kasur. Terlalu keras hingga membuatnya memantul dan menghasilkan suara mengaduh kesal. Tanpa peduli, dengan tubuhnya yang telah terasa panas dari ujung kepala sampai kaki, Sore mengambil tempat di rajang yang sama.


Malam itu, Sore menghabiskan waktu dengan lenguhan dan geraman. Dia menyukai rintihan perempuan yang pasrah di bawah kuasanya. Merasa birahinya sangat terpacu, entah sampai berapa kali, Sore baru puas pada puncaknya yang ke sekian kali. Tubuhnya ambruk ke sisi lain.


Hingga di pagi hari, Sore mengernyit atas cahaya yang mengusik tidur lelapnya. Dia kira itu mimpi, tetapi memang dirinya baru saja mendengar suara kicau burung. Terlanjur bangun, Sore mendudukkan badan. Kepalanya sempat terguncang, berputar-putar dengan sangat pening. Sore mengerang. Efek Hangover-nya masih kuat. Tetapi ketika ia melihat sekeliling dengan mata menyipit, Sore kaget luar biasa.


Ini bukan kamar yang semalam ia datangi. Ruangan bernuansa hangat dengan luas tak seberapa ini menampung satu meja belajar, meja rias dan lemari pakaian. Praktis, Sore melarikan tatapan. Melotot kaget pada sebuah foto di pigura kecil yang terpajang di meja belajar.


"Sial!" umpatnya.


Bagaimana bisa dia ada di sana? Sore mencoba mengingat-ingat, tetapi justru kepalanya semakin sakit. Ia memegangi pelipis, menyangga agar kepalanya tetap tegak. Dia memang tidak kaget pada tubuh bagian atasnya yang terekspos; polos tanpa sehelai benang pun, juga pada kemungkinan apa yang telah terjadi semalam. Hanya saja, ketika selimut tebal itu disibak, bercak darah yang terpampang jelas di atas permukaan putih sprei membuatnya semakin tegang.


Tanpa pikir panjang, dengan tergesa-gesa dia memunguti pakaiannya yang bercecer di lantai, buru-buru mengenakannya dan keluar sebelum suara pancaran air di kamar mandi selesai.


......***......