
Sakit ada di mana-mana.
Rendi rasa wajahnya remuk. Tulang pipinya berdenyut ngilu, sudut matanya -ah, tidak. Seluruh wajahnya kesakitan. Bahkan sekarang Rendi tak bisa merasakan seberapa banyak sakitnya, wajahnya mulai mati rasa.
Sedikit dia menggerakkan tubuh, rasa sakit di dadanya kontan terasa. Rendi tebak, minimalnya salah satu rusuk di dalam sana patah. Parahnya, mungkin sudah remuk.
Napas Rendi terengah-engah, tatapannya mengambang. Rasa sakit di dadanya menunjukkan betapa orang itu tak main-main ketika menghajar dirinya. Rendi terkekeh, kemudian tersedak sesuatu berbau karat. Sialan. Apa orang itu berniat membunuhnya?
Terbayang di pelupuk matanya, wajah bengis yang membabi buta menjatuhkan tinjuan. Rendi masih cukup sadar untuk mengetahui jika pemilik wajah itu adalah rekan bisnisnya, Sore.
Susah payah Rendi menyandarkan separuh punggung pada kaki sofa yang terdapat di belakangnya. Dia mendecih. "Udah gue tebak kalo ternyata lo emang masih suka sama dia." Lantas tertawa sarkas, tidak peduli pada sudut bibirnya yang sakit akibat mengalami sobekan kecil.
Rendi berkali-kali terkekeh, menggelengkan kepala dan menertawakan diri sendiri.
Semesta memang seperti ini. Rendi sudah tahu cara kerjanya. Semesta memang suka mempermainkan.
Tubuhnya bertahan cukup lama di sana. Rendi tak peduli pada pecahan gelas dan botol, genangan air berwarna pekat serta segala yang berserakan di sekitarnya. Termasuk pada manusia-manusia kurang kerjaan yang masih mengerubunginya bak sekoloni semut pada seonggok gula. Rendi ingin memutar mata, menunjukkan kalau dia jengah pada mereka yang bebal dan tetap bertahan padahal sudah diusir olehnya. Mereka tidak benar-benar peduli, hanya ingin menjadikannya bahan tontonan dan akan pergi setelah puas, Rendi tahu itu. Tetapi wajah Rendi kebas, dia tak sanggup untuk sekadar menunjukan ekspresi.
Dia beranjak dengan kaki terseok, tertatih-tatih hingga akhirnya berhasil menginjak area luar tak lama kemudian. Rendi terombang-ambing, nyaris tersungkur. Tidak hanya karena dia masih "melayang", tetapi juga karena tenaganya yang hampir terkuras habis.
Rendi berhenti melangkah, sesuatu menghadang kakinya. Mata sayu itu turun, mengernyit mencoba menajamkan pandangan yang berbayang. Satu tubuh tergeletak dalam posisi meringkuk di dekat sepatunya. Tiga menit sampai ia mampu mengenali. "Ayu?"
Rendi berjongkok, memanggil-manggil nama wanita yang tubuhnya sedang ia beri sedikit guncangan. Tetapi Ayu tidak bereaksi, selain tubuhnya yang bergerak mengikuti guncangan yang Rendi lakukan.
Wajah Ayu pucat pasi, raut lelah hadir memenuhi. Mata yang ketika terbuka akan sangat indah itu kini terpejam rapat, enggan memperlihatkan kilauan indahnya kepada Rendi yang hatinya mencelos. Lelaki itu tercekat tatkala mengingat apa saja yang telah dia lakukan pada sosok ini. Rendi telah menyakiti Ayu, wanita yang dicintainya.
Tepat setelah itu, gelombang rasa bersalah menyapunya keras sampai ia tak mampu mempertahankan diri. Rendi duduk melantai bersama tubuh lemas. Tangannya yang gemetar penuh kehati-hatian meraup tubuh ringkih itu ke dalam pelukan.
"Maafin gue, maafin gue." Berulang kali Rendi berucap, namun napas Ayu masih konstan. Dia tak menggubris Rendi yang napasnya sudah memburu karena sedih yang menyergap, yang memberatkan punggungnya sampai luruh. Tidak juga pada aliran air mata penyesalan yang berlomba-lomba menunjukan kalau dia sama rapuhnya.
"Maafin gue ...."
...*...
Rumah sakit. Begitu tempat itu dikatakan. Rendi terbangun di sana pagi ini. Hidungnya berkerut sebentar saat tajam bau obat menusuk penciuman. Ia bangkit dan dada kananya masih terasa sakit. Namun tak separah semalam, Rendi masih bisa mentolelir. Ia menyandarkan punggung di kepala ranjang. Kepala dibawanya berkeliling dengan gerakan pelan dan mendapati satu selang infus tertancap di tangan kirinya.
Siapa yang membawanya ke sini? Seingatnya semalam ia meraung-raung dengan Ayu yang berada dalam pelukan. Ia ingat dadanya yang terasa sakit dan matanya yang lelah telah memburam, tapi ia tidak ingat kenapa bisa berada di sini.
Mengabaikan pertanyaan di benaknya, Rendi mencari keberadaan Ayu. Dia mengkhawatirkan Ayu. Bagaimana keadaan wanita itu? Apa dia ikut serta dibawa ke sini?
...*...
Semalam Ayu mengalami Anxiety Attack sampai dia pingsan. Dokter yang menanganinya mengatakan Ayu baik-baik saja, tetapi masih belum bangun dari sampai sekarang.
Rendi merenungi informasi yang baru ia terima selama beralihnya matahari hangat menuju panas. Mendesahkan napas panjang yang sarat putus asa dan menjambak rambutnya sendiri. Dia memang manusia paling berengsek, lebih berengsek dari sosok paling kejam yang kerapkali menyakiti mamanya.
Dia sudah tahu segala masalah Ayu, tetapi dengan bodohnya dia membangkitkan memori kelam yang sekuat tenaga wanita itu lenyapkan.
Ayu pasti membencinya setelah ini. Ayu pasti meninggalkannya, menjauhinya dan akan mendecih jijik ketika mendengar namanya.
Kepala Rendi yang sudah pusing semakin pusing. Dia tidak ingin Ayu membencinya apalagi sampai meninggalkannya. Dia memang maruk. Masih berharap Ayu mau memaafkannya setelah kejadian semalam.
Tetapi, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
...*...
"Gue nyakitin lo banget, ya?"
"Iya." Rendi tak menunduk sedikit pun, dia menunjukkan luka di matanya pada Ayu dengan gamblang. Dapat dilihatnya sekarang mata Ayu bergetar. Entah karena terkejut atau tidak menyangka.
"Kenapa lo gak bilang?"
"Buat apa? Toh, lo bakal tetep sama."
"Enggak." tolak Ayu. "Lo harusnya bilang. Lo bisa marahin gue, caci maki gue, nunjuk-nunjuk gue, benci-"
Ayu menyelesaikan kalimatnya dalam bungkaman dada Rendi. Rendi memeluknya erat, mengusap kepalanya dan ... menjatuhkan satu kecupan di sana. Ayu meremat kain pakaian yang membalut punggung Rendi, melepaskan napasnya yang sempat berhenti canggung.
"Lo nyakitin gue, Yunaira. Enam taun, enam taun gue mendam perasaan ke lo. Lo yang pergi tanpa pemberitahuan, lo yang menghilang tanpa sempat gue nyatain perasaan, lo yang muncul lagi setelah setengah mati gue berjuang buat ngelupain, lo yang cuma anggap gue temen, semua itu nyakitin gue." Isak pelan Rendi mulai menyelinap.
"Maaf," kata Ayu di pundak Rendi yang sedikit berguncang. "Lo harusnya caci maki gue aja. Jangan pergi ke tempat laknat kayak gitu. Sesakit apa lo, Rendi? Sampai lo-"
"Keluarga gue berantakan, Yu." Rendi melerai pelukan keduanya. Kemudian menambahi kalimatnya, "Orang tua gue penuntut. Papa gue mainin banyak cewek, mama gue pemukul. Sejak dulu gue udah tertekan, tapi gue gak punya temen yang membimbing saat lagi terombang-ambing, saat gue linglung di jalanan. Sampai tempat laknat itu yang gue pilih buat jadi pelampiasan. Sampai akhirnya cuma tempat itu satu-satunya yang menerima gue."
"Lo salah!" sanggah Ayu cepat-cepat. "Sekarang lo punya gue. Lo bisa datang ke gue. Keluh kesah, rasa sedih, amarah, lelah, apa yang pingin lo lepas sanggup gue tampung. Datang ke gue Rendi. Kayak gue yang datang ke lo." Suara Ayu tercekat, gumpalan pahit tak kasat mata menyumbat tenggorokannya. "Apa gue masih belum pantes buat itu semua? Gue gak pantes buat jadi tempat buat lo berbagi?"
"Bukan gitu, Ayu." Rendi meraih telapak tangan Ayu, meminta perhatiannya yang dilemparkan ke luar jendela. "Gue gak mau bebanin lo dengan masalah gue."
"Itu gak adil!" seru Ayu, nyaris berteriak. "Selama ini gue udah memberatkan lo dengan memaksa lo-"
"Lo gak pernah memaksa."
"Gue memaksa lo buat dengerin masalah gue! Dan lo gak mau memberatkan gue sedikitpun? Rendi, gue masih orang asing ya, buat lo?"
Rendi memejamkan matanya dalam sesaat. Ayu yang sudah berpasangka buruk akan menjadi sangat rumit. Dia akan sulit dibuat mengerti.
Rendi menarik dan mengembuskan napas pelan-pelan, lalu membuka matanya kembali. Ayu yang sudah menghadap ke arah lain dengan lipatan emosi di dahi yang dapat ia lihat setelahnya. Sekali lagi, dia meraih tangan wanita itu. "Gue janji. Setelah ini gue bakal datengin lo. Gue janji," ucap Rendi dengan penuh keyakinan.
Ayu tak segera berbalik, lama dia mempertahankan amarah dalam dirinya. Tubunya baru dibawa menghadap Rendi setelah laju napasnya normal kembali. "Janji lo gak bakal ke tempat kayak gitu lagi," suara Ayu masih masam, tetapi sorot matanya redup dalam pengharapan.
"Gue janji. Asal lo juga janji satu hal sama gue."
Ayu diam sesaat. "Apa?"
"Lo mesti mampu menopang pundak gue saat gue datengin lo dalam keadaan paling rapuh."
"Gue janji." Ayu menjawab tanpa berpikir. Suaranya terdengar sangat yakin.
"Satu lagi."
Sekarang Ayu merengut. "Kok, banyak? Kan, tadi udah," protesnya.
Rendi meloloskan tawa kecil. "Sama yang ini cuma jadi dua, Ayu."
Ayu menatap Rendi aneh, tepatnya curiga. Tetapi ia tetap menyambut dengan tidak rela. "Apa?"
"Lo gak boleh ngetawain gue kalau gue mewek. Gak boleh jadiin itu sebagai ledekan. Kayak yang suka gue lakuin ke lo."
"Dih, gak bisa gitu! Lo selalu ledekin gue berhari-hari!"
"Dilarang meng-coppy paste karya orang lain, Yunaira."
...***...