
"Kamu berencana membunuh saya setelah segala kesalahan kamu hari ini?!"
Intonasi tajam itu menusuk telak, menundukkan kepala Ayu semakin dalam. Perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu telah meremas telapak tangannya sejak menerima delikan pertama dari Cakrawala Sore, sang Direktur.
"Ma-maaf Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu," cicit Ayu, sepelan suara anak burung. Ayu tidak tahu kenapa, tapi lagi-lagi Sore menggebrak meja. Dia mulai bertanya-tanya apakan hal itu merupakan hobi laki-laki tersebut.
"BICARA YANG JELAS! KAMU PIKIR SEDANG BERHADAPAN DENGAN SIAPA?!" Selepas untuk kesekian kalinya sukses membuat Ayu berjengit kaget setengah mati, Sore mendekat, menempatkan diri di samping kanan Ayu sembari membawa atmosfer ingin membunuh yang menyeruak tajam. Ayu merinding begitu Sore menambahi ucapannya.
"Camkan baik-baik hal ini," mulainya dengan suara merendah, menandakan adanya perubahan babak. "Saya tidak suka orang yang lemah seperti kamu. Semua pegawai saya haruslah tegas dan berwibawa."
Ayu mengangguk terpatah sebelum menjawab, "Iya, Pak. Saya mengerti." dengan masih bertahan menunduk. Tidak berani membayangkan seberapa sempit jarak yang tersisa di antara wajah mereka berdua. Dia bahkan bisa merasakan embusan napas Sore di wajah bagian sampingnya. Astaga! Ini dramatis sekali, Demi Tuhan!
Sore menarik diri, mengizinkan Ayu untuk mengambil napas lega. Tetapi tak lama, karena dua detik berikutnya Ayu nyaris tumbang oleh lontaran satu kalimat mematikan dari Sore.
"Bagus kalau kamu mengerti. Kamu saya pecat."
"Apa?!" Spontan suara Ayu meninggi. Mengundang kernyitan terganggu yang amat jelas di kening calon mantan bosnya. "Pak, saya mohon maaf atas segala keteledoran saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Tolong beri saya kesempatan." Ayu memohon. Dan dia memang jadi sering memohon setelah memasuki ranah kuliah sampai sekarang. Padahal sewaktu SMA mana sudi dia merendahkan harga dirinya begitu.
Intonasi Sore masih tenang, tampak tak terpengaruh. "Kamu tau apa kesalahan kamu?"
Tentu Ayu tahu. "Saya salah memasukkan takaran gula ke kopi Bapak."
"Lalu kenapa kamu masih bebal ingin bekerja sama saya?"
Ayu setengah melotot tidak percaya. Yang benar saja! Hanya karena kopi hitam kelebihan gula dia harus berhenti bekerja?!
Sore berkeliling, sementara Ayu menahan geraman kesalnya sekuat tenaga. Kemudian laki-laki itu berucap lagi. "Kamu tau, saya tidak suka kopi kemanisan?"
Mana Ayu tahu! Dan apa hubungannya kopi kelebihan gula dengan niat membunuh?! Ayu harus searching mengenai keterkaitan kopi dengan pembunuhan setelah ini. Huft. Kenapa juga tadi dia tidak bertanya terlebih dahulu kopi selera Direktur arogan ini pada seorang office boy yang sempat ia temui sewaktu meracik kopi.
Ayu tidak mampu menjawab dan hanya terdiam. Dia sudah tidak punya tenaga sekarang. Rasanya energi hasil sarapannya terkuras cepat hanya dengan menghadapi Sore. Jadi dia membiarkan laki-laki itu meneruskan ocehan.
"Saya sudah berbaik hati dengan memaklumi kesalahan-kesalahan kamu sebelum ini. Tapi harus kamu tau kalau saya tidak sebaik itu. Jadi silakan kamu keluar dari ruangan saya."
Untuk kali ini saja, Ayu memberanikan diri menatap kedua obsidian Sore. Dia menatap penuh harap dan patut untuk diketahui kalau dia tidak pernah semenyedihkan ini sebelumnya. Ya, setidaknya setelah peristiwa memilukan sore itu.
...*...
Ayu menutup pintu ruangan Sore dengan hati yang teramat lega, sampai tak disadari ia terus menarik-embuskan napas panjang sejak tadi. Untung saja sebelum sempat ia melancarkan jurus memohon dengan wajah menyedihkan yang menjadi cara terakhir baginya, sang pemilik perusahaan yang tidak lain adalah Ayah dari Sore muncul dan menyelamatkan nasib pekerjaannya.
Ayu tidak bisa menahan diri betapa dia senang ketika dibela oleh sang CEO di depan batang hidung anaknya. Dia terselamatkan dan tidak jadi pengangguran dalam waktu empat jam, itu yang membuatnya amat sangat berterimakasih pada sang pimpinan. Ia tidak mampu membayangkan dirinya yang keluar-masuk banyak tempat untuk mencari pekerjaan setelah dipecat dari tempat ini.
Bertepatan waktu istirahat ketika ia terbebas dari ruangan berhawa mencekam yang berisi tatapan sengit Sore pada Ayahnya sendiri, seorang wanita dengan rambut dikuncir kuda menyongsong ke arahnya. Itu Indah. Dengan wajah khawatirnya dia bertanya pada Ayu. "Kamu gak papa, kan? Dipecat gak?"
Mendengar kalimat "Dipecat gak" dari Indah, Ayu bertanya-tanya mengenai sudah berapa banyak korban Sore sehingga proses pemecatan tanpa terhormat sudah menjadi hal yang lazim terjadi.
Ayu tersenyum menanggapi kekhawatiran rekan barunya itu. Tetapi senyum dari Ayu malah membuat Indah menahan napas. Memperkirakan dua kemungkinan dari senyum tersebut. Antara senyum sok kuat setelah kehilangan pekerjaan atau senang karena tak jadi dipecat. Maka ketika Ayu berkata, "Aku gak jadi dipecat" Indah nyaris bersorak gembira karena wanita yang dirasa cocok jadi temannya itu tak akan segera pergi dari perusahaan.
"Nah. Dalam rangka penyambutan lo di hari pertama sekaligus syukuran karena lo gak jadi dipecat, gue bakal traktir lo di kantin hari ini. Sepuasnya."
Mendengar kata penutup dari Indah, tentu Ayu kegirangan. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Boleh."
...*...
"Selain gak suka kopi yang kemanisan, Pak Direktur itu gak suka orang yang gak tepat waktu."
Ayu memasang telinga baik-baik atas segala penjelasan dari Indah. Setelah diberitahu takaran gula kopi sang atasan -yang sempat benak Ayu pertanyakan apakah setengah sendok gula bisa mengimbangi pahitnya tiga sendok kopi, Ayu sempat bertanya pada Indah berapa kisaran toleransi yang akan diberikan Sore kalau saja suatu hari dia terlambat. Sayangnya, tidak ada. Sore sangat disiplin mengenai waktu. Dia tidak akan mengampuni walau Ayu telat barang semenit. Oke. Maka Ayu memutuskan untuk membeli jam alarm selepas pulang nanti. Meski itu artinya membuang-buang uang, dia harus menyiapkan dua alarm agar pemasukan uangnya tak terancam akan terhenti. Indah melanjutkan sesi dengan petuah-petuahnya sampai akhirnya mereka mencondongkan badan ke tengah meja dan berembuk.
"Katanya, Pak Sore suka cewek yang feminim." Mulai Dean. "Nah. Lo bisa coba tuh jurus yang satu itu. Siapa tau kalau liat lo pake setelan sesuai seleranya dia, dia gak bakal sepet-sepet ama liat muka lo setelah ini. Karena asal lo tau aja, Pak sore tuh orangnya dendaman. Lo bakal dicecar habis-habisan atas kesalahan sekecil apapun sebelum dendamnya tertuntaskan."
Ayu tidak langsung menerima. Karena yah, dia di sini hanya untuk bekerja, bukan memuaskan minat sang Direktur. Lagipula Dean bilang "katanya" berarti itu masih jadi berita yang belum terbukti. Ayu tentu tidak setuju atas saran pertama ini namun dia mengangguk agar percakapan mereka tetap berlanjut tanpa adanya adu argumen.
"Nah, berikutnya, Pak sore tuh sukanya orang yang tegas. Gak boleh tuh lo jawab pake suara kecil waktu dia nanya. Sebenernya gue heran, pak Sore berbuat begitu apa karena dia agak budeg, ya?" Rafi berlanjut mengelus-elus dagu dengan sorot mata berpikir.
Dan kalau soal itu, Ayu sudah tahu. Dia telat mendapatkan informasi. Kalau informasi sepenting ini lebih cepat ia terima, maka kemungkinan dirinya tak akan berakhir dimarahi. Seterusnya Ayu masih mendengarkan dengan baik, sampai pada satu pasal yang membuatnya bertanya kaget. "Apa?!"
"Tiap pagi lo harus udah standby di rumah dia dan ngurusin semua keperluan dia sebelum berangkat ke kantor." Rafi mengulang penuturannya.
"Emangnya dia gak punya pembantu?!" Nada suara Ayu sangat kental dengan penolakan.
"Punya lah. Banyak malah. Tapi hal ini udah jadi tradisi. Kebiasaan dia emang begitu."
"Tapi gue gak mau!"
Pun sampai penolakannya telah diutarakan terang-terangan, ekspresi tiga rekannnya kasat mata mengatakan kalau mereka tak bisa berbuat apapun untuk membantu dan perintah dari sang Direktur mutlak adanya, tak dapat diganggu gugat.
"Sabar ya, Yu."
...*...
Meski menolak dengan segenap jiwa raga, Ayu tetap datang dan membuktikan kalau perkataan Rafi soal pembantu di rumah Sore yang banyak jumlahnya ternyata bukan mitos. Begitu banyak sampai-sampai Ayu melongo waktu pertama kali membuka pintu dan disuguhi pemandangan wanita-wanita berseragam sama sedang lalu lalang di depan matanya. Mereka sibuk sendiri, tak mengindahkan Ayu yang berdiri kebingungan.
Bagaimana kalau dia tersesat jika memutuskan mencari sendiri di mana gerangan Sore berada. Bertanya rasanya sungkan, Ayu takut mengganggu pekerjaan mereka.
Tuhan, rumah ini luasnya melebihi sebuah lapangan sepak bola. Mana mungkin dia dapat menemukan Sore dengan mudah.
"Sekretaris barunya Tuan Muda, ya?"
Seseorang tahu-tahu saja sudah berada di sampingnya, membuat Ayu sedikit terlonjak kaget. Dan apa katanya? Astaga, Tuan Muda? Ayu serasa jatuh ke dalam adegan drama Korea. "I-Iya."
"Mari, silakan ikut saya. Saya akan tunjukkan di mana ruangan Tuan Muda."
"A-ah. Baik." Ayu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, berusaha mengalihkan rasa canggung yang tiba-tiba menggunung tanpa sebab, sampai selama ia mengikuti langkah wanita paruh baya di depannya ini.
Ayu dibawa ke beberapa lorong penuh barang-barang yang ia kira pasti sangat mahal. Furnitur di rumah ini sangat berkelas, berbeda berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan isi rumah sewaannya. Usai menaiki tangga yang berkelok-kelok, kini Ayu berhadapan dengan pintu bercat putih gading yang menjulang di depan mata. Menarik dan mengembuskan napas berulang-ulang merupakan permulaan untuk dia mengetuk pintu. Bagaimana ini?! Tangannya sampai gemetar! Dan dia sudah ditinggal oleh kepala maid yang barusan mengantarnya! Bagaimana kalau terjadi masalah?! Dia harus meminta tolong pada siapa?!
"Permisi Pak. Boleh saya masuk?"
Butuh lima menit kaki Ayu bergerak gusar karena takut bila ternyata Sore tidak ada di balik pintu ini sebelum sahutan terdengar. Setelah mendapatkan izin, Ayu memberanikan diri meraih kenop pintu. Seenggan apapun dia melangkahkan kaki, dia tidak punya pilihan dan harus tetap melakukannya, kan?
Ketika pintu berayun terbuka, punggung tegap berbalut kemeja putih dan suara Sore sudah menguasai ketika belum satu kalimat lain Ayu ucapkan sebagai permulaan. "Cepat ambilkan saya dasi."
"Ba- baik."
Percayalah. Ayu berusaha sekuat mungkin menahan gugupnya agar tetap di bawah limit. Kalau tidak, kakinya akan gemetar ketika dia berderap menuju sisi ruangan yang dipenuhi oleh keberadaan lemari. Namun ternyata, apa yang Ayu takutkan terjadi. Dia tetap harus mendengar suara keras dari Sore meskipun ini masih terlalu pagi.
"Kenapa kamu diam saja?!"
Ayu berbalik dari menghadap lemari dengan terpatah-patah. Langsung menunduk, tidak berani menantang tatapan tajam dari lawan bicaranya. "Ma-maaf Pak. Tapi saya tidak tau di mana dasi Bapak diletakan."
Jawaban tak segera didapatkan. Ayu nyaris melirik penasaran, namun urung karena Sore sudah bersuara lebih dulu. "Di laci paling kanan atas."
Sigap Ayu berbalik, menemui lemari berupa susunan laci-laci. Laci atas paling kanan, Ayu membatinkannya berkali-kali. Berharap tidak akan berbuat salah kali ini. Dia memperhatikan sebentar begitu laci terbuka, mengambil dasi berwarna selaras dengan pakaian yang Sore kenakan hari ini.
Melangkah menuju Sore yang sibuk mengancingkan -astaga! Ayu harus sekuat tenaga agar tidak menatap dada bagian atas Sore yang masih terpampang. Tidak-tidak! Dia bukannya memiliki mata ganjen, hanya saja dia tidak mau dianggap tidak sopan pada atasan, sungguh! Meskipun biasanya dia berjingkrak-jingkrak sambil teriak seperti orang tidak waras kalau melihat Jungkook memperlihatkan tubuh bagian atasnya, karena hey! Sore bukan Jungkook, ya!
"Bukan yang itu."
Kalimat Sore menyadarkan pikiran Ayu yang sempat mengawang pada konser yang sempat ia jejaki sewaktu SMA dulu. Ayu mengguncangkan kepalanya pelan sebelum bertanya, "Maaf?"
Dan tentu, alis Sore akan berkerut semudah itu setelah Ayu kemarin diberitahu kalau Sore tidak suka diminta mengulang kalimatnya. "Kamu ini budeg apa gimana?"
"Maaf, Pak." Ayu harus fokus setelah ini.
"Saya tidak mau pake dasi yang itu, ambilkan yang biru dongker." Kentara sekali dari nada suara yang dipakai kalau Sore tengah menahan emosi.
"Baik, Pak."
Meski begitu, Ayu tetap tak bisa untuk tidak menggerutu dalam hati. Padahal yang ini lebih cocok. Huh. Bodo ah, gak peduli juga.
Dan apabila ada yang bertanya kondisi Ayu saat ini, tentu saja dia sedang merasakan dar-der-dor di dadanya. Ia masih tidak bisa mengendalikan laju jantungnya yang berdetak melebihi batas normal kala harus menghadapi Sore yang merunduk ke arahnya, bersabar diri menunggu ia selesai memasangkan dasi di leher sang atasan. Ayu sedikit-sedikit menahan napas, berupaya menghalau bau parfum Sore yang beraroma segar agar tidak masuk ke penciumannya.
Meski tatapan mereka tidak bertemu karena Sore yang memalingkan matanya ke arah lain sedangkan Ayu fokus pada gerak tangannya, jarak sedekat itu akan selalu bisa membuat wajah Ayu memerah malu. Demi apapun, Ayu lebih suka diminta membajak sawah daripada melakukan hal ini setiap hari. Berada di tempat yang sama dengan lelaki ini saja sudah membuatnya gerah tanpa sebab.
Ayu mengintil Sore menuruni tangga sambil menenteng jas sepuluh menit kemudian. Cewek itu masih membisu sampai dia berdiri kaku di hadapan meja makan penuh sajian menggugah selera. Ayu sampai merasa berkemungkinan meneteskan liur tatkala aroma sedap menyeruak ke dalam penciumannya. Tolonglah! Ayu belum sarapan!
Ketika Ayu mendengar Sore berkata, "Kenapa kamu cuma diem di situ?" dia berpikir mungkin dia akan diajak menyantap sarapan. Namun sayangnya dia lupa kalau Sore manusia yang tidak punya hati nurani terutama setelah laki-laki itu menambahi ucapannya dengan kalimat,
"Sana ke luar. Tunggu saya di mobil."
Pupus sudah harapannya agar bisa mengisi kekosongan di perut. Hampir-hampir Ayu menghentak kesal di setiap langkahnya. Dengan empasan kuat punggungnya disandarkan pada jendela mobil mengilat yang telah terparkir apik di luar rumah.
Dia manyun sambil sesekali menggerutu kesal, tanpa peduli kemungkinan ada yang mendengar segala sumpah serapahnya.
Lalu kala sosok sang Direktur muncul dengan lagak santai, Ayu masih belum bisa memperbaiki raut mukanya. Sore melemparkan kunci mobil pada Ayu yang menangkap tanpa persiapan dan berkata,
"Kamu yang nyetir."
Ayu melongo bukan main. Apa-apaan itu? Dia mau dijadikan sopir juga oleh manusia yang sombongnya selangit ini? Harusnya dia protes untuk penambahan gaji lain kali.
Ayu tidak peduli lagi tanggapan Sore ketika ia setengah membanting pintu bagian kemudi. Menyalakan mesin dan melajukan mobil membelah sibuknya jalanan pagi hari ditemani kebakaran di kepalanya.
...***...