
"Rendi .... Tolongin gue ... please. Sakit."
Ayu memang punya cara galau yang berbeda.
"Yu. Bangun dah. Mandi dulu sana." Rendi sudah terlanjur jengah, dia menggoyangkan buntalan selimut di atas kasur menggunakan kaki. Kurang ajar, memang. Tapi dia sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Ayu.
"Hmauooo," jawab Ayu, teredam selimut yang membungkus badannya.
"Lo ngomong apa?" Rendi memutar bola mata, ia tambah jengah. Patut dipertanyakan berapa usia wanita ini sekarang. Kelakuannya masih seperti remaja tanggung yang sedang putus cinta saja.
Selimut menyingkap perlahan, wajah sembab Ayu akhirnya terlihat walaupun hanya sampai sebatas bibir. Kemudian dahinya merengut, "Gak mau, Rendiiii."
Rendi duduk di tepi ranjang. "Terus mau lo apa. Mewek sampe pagi di situ?"
Ayu mengangguk.
Mata Rendi kontan melotot tidak percaya. "Itu kasur gue! Entar gue tidur di mana?!"
Ayu menggeleng. Antara berkata "tidak tahu" atau "tidak peduli".
Secepat kilat, Rendi bergerak menarik paksa selimut yang menggulung tubuh temannya itu. Namun tak semudah yang ia kira, karena Ayu menahannya tak kalah kuat dari dalam.
Mereka beradu lemparan tatapan sengit sembari masih adu tarik menarik selimut. Namun seperti kenyataan yang ada, kekuatan lelaki pastinya lebih besar dari wanita. Selimut akhirnya bisa ditarik oleh Rendi dan langsung terlempar ke lantai.
Praktis, Ayu terpekik, menutup beberapa bagian badannya dengan tangan dan wajah was-was. Mewaspadai Rendi yang mengerutkan wajah sebal.
"Lo masih pake baju, Yunaira," erang Rendi geram.
Usai itu dengan satu gerakan, Ayu membalikan badan, tengkurap dan meraung lagi. "Huaaaaaa ... gak mau mandiii."
Rendi memutar bola mata. Lelaki itu meraih kembali selimut, membentuknya jadi bola dengan kesal dan melemparkannya pada Ayu. "Kalo pas gue balik lo masih belum mandi, bakal gue tendang lo dari kamar gue!"
Rendi ke luar, membanting pintu dan membuat Ayu terlompat kaget.
...*...
Rendi terpaku di ambang pintu bersama segelas air putih yang ia bawa dari dapur. Apakah dia benar-benar harus menendang Ayu sekarang? Karena nyatanya wanita itu masih belum mandi juga.
"Yu," Panggil Rendi pada buntalan selimut itu.
Ayu tidak menjawab.
Sekali lagi ia memanggil. "Yunaira."
Meski jelas enggan, selimut perlahan terbuka. Ayu sangat tahu jika Rendi sudah memanggilnya begitu, berarti lelaki itu serius dan tak ingin keberadaannya tak diacuhkan. Ia menyahut, "Hmmm." setengah hati.
Rendi kembali mengambil tempat di tepi ranjang. "Ikut gue, yuk," katanya, dengan suara berkesan membujuk.
Ada sisa senggukan kala Ayu menjawab. "Ke mana?"
"Ikut aja."
"Ikut aja" yang dikatakan Rendi tak langsung terlaksana. Ia memerintahkan- atau lebih tepatnya memaksa Ayu untuk mandi terlebih dahulu. Wanita itu berakhir dengan hoodie putih dan celana tidur milik Rendi yang menelan tubuhnya, lima belas menit kemudian.
Ayu mengikuti Rendi dengan celana yang digulung sampai setengah betis karena celana itu pastilah terlalu panjang untuknya. Alis Ayu menurun dengan kesal. Apa Rendi tidak bisa membelikannya sepotong pakaian atau paling tidak, meminjamkan milik Ibunya?
Rendi memutar-mutar kunci mobil di tangannya sambil bersiul pelan. Suaranya terpenggal di ambang pintu begitu kedatangan seseorang dari arah luar membuatnya sedikit berjengit.
"Mau ke mana kamu?"
Rendi memutar bola mata jengah. "Bukannya Papa gak pernah peduli aku mau ke mana dan gimana?"
Ayu yang berada di belakang punggung Rendi sempat melihat rahang lelaki paruh baya itu mengetat. Ia bergeser takut, berharap keberadaannya tak sampai disadari. Karena sungguh, orang dengan rambut mengilat ini cukup menyeramkan dan membuat nyalinya ciut seketika.
"Siapa yang ada di belakang punggung kamu?"
Tepat setelah itu Ayu berjengit. Kenapa keberadaanya masih bisa diendus? Walaupun merasa sangat takut, Ayu tak ingin disangka tidak sopan. Ia memberanikan untuk menampakan diri. Hanya saja, sebelum tubuhnya bergeser penuh, Rendi sudah memposisikannya kembali di belakang punggung, seolah-olah hendak melindungi dari ancaman.
"Papa gak perlu tau siapa dia. Urus aja wanita simpanan Papa yang terbaru itu."
Pembawaan Rendi yang terlalu dingin sukses membuat Ayu merinding. Rendi tak pernah seperti ini sebelumnya.
Namun sepertinya seseorang yang dipanggil Papa oleh Rendi tersebut memiliki penglihatan yang mampu menerobos lewat lapisan daging, sehingga meski tubuh Ayu nyaris tersembunyi sepenuhnya, dia masih bisa berkomentar.
"Dia cukup cantik. Dengan wajah seperti itu dia bisa sukses jadi bintang."
Ayu tidak sama sekali merasa tersanjung di belakang sana.
"Kamu bersedia masuk agensi saya? Saya pemilik label besar. Kamu bisa saya buat terkenal."
Ayu merinding dan tak tahu harus menanggapi atau tidak. Ia beruntung ketika Rendi yang menggubris perkataan tersebut dengan diawali dengusan mencela.
"Terus setelah Papa bikin dia terkenal, Papa bisa sesuka hati buat jadiin dia simpanan kayak aktris-aktris yang lainnya, begitu?"
Papa Rendi menjawab dengan intonasi tenang. "Yang itu bisa dipikirkan nanti."
Berefek pada punggung Rendi yang naik turun gusar. Ia bisa saja merangsek dan menjatuhkan tinjuan ke wajah beraut tak merasa bersalah Papanya, kalau saja tidak merasakan rematan di punggung pakaiannya yang kasat mata menunjukan kekhawatiran dan ketakutan si pelaku.
Rendi menarik napas sejenak. Ia tidak boleh melibatkan Ayu dalam masalah keluarganya apalagi Papanya. Ia harus membawa Ayu cepat pergi dari rumah terkutuk ini. Maka tanpa mempedulikan Papanya yang masih setia di ambang pintu, Rendi mendorong pintu satunya dan membawa Ayu dari sana dengan genggaman yang kokoh.
...*...
Ayu merasakan adrenalinnya tersentil sekarang. Matanya bergerak gusar. Ke mana Rendi berniat membawanya?
Ayu melirik takut-takut pada Rendi yang masih tak menurunkan kadar kebekuan dalam ekspresinya, kemudian pada pemandangan di luar sana. Ayu sungguh tak berani untuk melirik ke luar jendela lagi setelah itu.
Rendi membawanya ke pusat industri di malam hari. Hal itu menjadikan pikiran Ayu merambat ke mana-mana. Jangan-jangan Rendi selama ini menyimpan dendam padanya dan berniat mengeksekusinya di tempat ini?
Ayu meremas sepasang tangannya cemas. Dia tak sanggup berprasangka lain lagi setelah pemikiran itu lewat di benaknya.
"Ke luar," katanya. Mendorong pintu mobil dan dirinya sekarang sudah berada di luar. Lima belas detik ia menunggu, sampai sosoknya berputar ke samping pintu Ayu dan membukanya tanpa aba-aba. Ia meraih pergelangan tangan Ayu dan memaksanya ke luar. Ayu menurut meski sempat melemparkan tatapan bergetar penuh takutnya.
Kepala tertunduk tak berani milik Ayu di bawa ke satu titik. Napas wanita itu tertahan saat embusan angin menerpa wajahnya kasar. Perlahan pandangannya diangkat, Ayu segera terperangah.
Suasana kota di malam hari adalah yang memenuhi penglihatannya kini. Kerlap-kerlip cahaya bak tumpahan kunang-kunang memperindah malam yang senantiasa kelabu oleh polusi saban hari. Ayu terpana, tidak menyangka terdapat sudut yang tepat untuk menikmati padatnya kota seperti ini.
"Nih." Rendi menyodorkan minuman cokelat kaleng. Setelah Ayu menerima, ia tersenyum sebagai permulaan untuknya bicara. "Gue sering ke tempat ini kalau lagi mau merenung."
Pengakuan yang berkekuatan magis dan mampu menghentikan gerakan Ayu yang akan mengambil satu teguk. Tangan Ayu jatuh bertahan di pembatas besi sebatas perut. Lalu katanya, "Berarti secara gak langsung tempat ini adalah salah satu tempat yang spesial buat lo?" Ayu melihat Rendi mengangguk. "Berarti cuma orang spesial buat lo yang bakal lo bagi tau tentang tempat ini?"
"Hm. Ya."
Ayu tidak sedang berniat memancing pernyataan itu, dia mulanya hanya berniat menggoda. Ayu terdiam sesaat, memalingkan wajah ketika rasa bersalah menyelinap di relung hatinya tanpa bisa dicegah.
Senyap mengambang. Ayu berdiri canggung di sebelah Rendi yang mengetahui hal itu dengan jelas. Ingin memutus keadaan menyebalkan ini, Rendi memulai percakapan.
"Jadi, lo tadi kenapa?"
Ayu tak langsung menjawab, ada waktu kosong sesaat di sana sebelum ia berkata ragu. " ... Masalah. Sedikit."
"Sedikit, tapi gue nemuin lo nangis-nangis di dekat tempat sampah?" kata Rendi skeptis. "Kalau mau boongin gue, lo mesti lebih banyak belajar lagi."
Ayu tahu, percuma berbohong pada lelaki ini. Rendi sudah terlanjur tahu banyak tentangnya. "Gue ...." Tetapi tetap saja, Ayu tak sanggup memutar ulang kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.
Rendi menunggu, tetapi Ayu malah menyendu. Wanita itu tak sanggup hanya sekadar bercerita. Sebesar apa masalah yang terjadi sekarang? "Lo ada masalah lagi sama Sore?" Bahkan rasanya Rendi marah sekali walau sebatas mengingat dan menyebut nama itu.
Ayu mengangguk, tetapi masih membisu.
"Kenapa lo gak berhenti aja kalau semua ini udah gak tertanggung lagi buat lo?"
"Gajinya gede, Ren."
Rendi memutar bola mata. "Materialistis."
Kepala Ayu naik dengan cepat karena itu. "Gue gak gitu," tampik Ayu." Lo sendiri kan udah tau ... ada yang mesti gue perjuangin." Ayu kembali tertunduk lesu.
Rendi memposisikan dirinya yang sebelumnya bersandar di pembatas untuk menghadap Ayu sepenuhnya. "Pekerjaan di dunia ini bukan cuma di tempatnya dia. Banyak, Yunaira. Atau paling mentok, lo bisa kerja di tempat gue. Gue bisa kasih gaji yang sama tau bahkan lebih. Dibanding dia yang cuma Direktur, gue pemilik perusahaan. Gue setara sama Ayahnya dia."
Ayu cemberut. "Gue gak mau nambah utang budi sama lo. Gue gak enak."
"Gue gak pernah anggap semua ini utang. Lo temen gue Ayu." Rendi bernada tersinggung.
"Gue tau. Tapi tetep aja gue ngerasa gak enak."
Rendi bicara dengan masih kukuh. "Yu. Lo lebih milih tertekan daripada berutang budi sama gue?"
Ayu diam, tidak mau menjawab. Tetapi dalam pikirannya ia menjelaskan jika rasa tertekan bisa ia abaikan dan mungkin suatu saat bisa terbebas, tetapi hutang budi ... Ayu sudah cukup menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Jangan sampai Rendi ikut jadi seseorang yang terlalu banyak ambil andil dalam hidupnya. Karena suatu saat Ayu akan merasa tidak sanggup jika terpaksa harus meninggalkan.
Rendi membuang napas panjang. "Terus, sekarang lo milih bertahan, gitu? Sekalipun lo-"
"Ren, gue mohon. Percaya sama gue buat kali ini. Gue janji, di saat gue udah gak kuat menanggungnya lagi, gue bakal datang minta bantuan ke lo." Ayu memohon dengan ekspresi penuh harapnya. Yang berkekuatan besar untuk melempar tatapan Rendi ke arah depan. Lalu kata lelaki itu,
"Terserah." Membuat Ayu lagi-lagi menunduk layu. "Tapi gue pegang omongan lo. Lo harus datang ke gue."
Ayu lantas menatap Rendi penuh haru. Tersenyum pelan dan mengangguk.
Malam ini, biarkan mereka melepas pikiran masing-masing di tempat menenangkan tersebut.
...*...
Di waktu istirahat, Ayu harus rela memenggal jam makan siangnya untuk diinterogasi oleh rekan-rekan kerjanya yang sebelumnya mendatanginya dengan wajah tebal oleh penasaran.
"Kemarin, lo kenapa berantem sama pak Sore?" Mulai Indah.
Ayu sudah tidak nyaman di sesi pertanyaan pertama ini saja.
"He'em. Kemarin banyak yang liat kalian berantem. Terus pas lo tampar itu wajah balok es, plakkk, napas gue ilang entah ke mana," sambung Rafi.
Dean merotasikan bola mata. Teman-temannya ini memang terlalu bodoh untuk menangkap gelagat tak nyaman dari Ayu. Jadi dia yang akan menjadi super hero penolong wanita itu hari ini. "Op-popop-op. Jangan diterusin. Mending kita bahas yang lain."
"Ih. Ini tuh lagi booming banget sekarang. Ngapain bahas yang lain? Lo gak denger sejak tadi warga sini berdesas-desus ria?" protes Indah.
Dan dihadiahi pelototan oleh Dean. Lo gak liat itu anak gelisah gak nyaman gitu? Artinya dia gak mau bahas masalah itu, Juangkrek.
Indah membalas dengan tatapan juga. Yang berbunyi, Oiya. Sori-sori. Jiwa kepo gue gak bisa ditahan. Lalu mencengir tanpa dosa dan membuat Dean mencipta dengusan.
"Nah. Sekarang yang harus kita bahas adalah foto ini." Dean mengotak-atik ponselnya sebentar, lalu menunjukan layarnya ke depan muka Ayu.
Ayu terperangah. "Lo dapet dari mana?!" tanyanya kaget.
"Di depan Indoapril." Dean mencengir bangga.
Ponsel direbut Indah dan Rafi. Indah tercengang. Dia lebih dulu menyembur. "Woaaah, daebak. Lo ada hubungan apa sama pak Rendi?" Lalu ketika melihat semburat merah muda di pipi Ayu, indah menambahkan kalimatnya dengan godaan. "Hayolo ... hayooo. Ada apa nih sama wajah tersipu itu?" Dia memutar-mutar telunjuk di depan muka Ayu.
Ayu menahan senyum malu yang memaksa terbit. Lalu menampik. "Gak ada." Dengan suara oleng oleh tarikan senyum yang benar-benar tak dapat ditahannya lagi. Duh. Bagaimana bisa di sana hadir seorang Dean?
"Emh, gak ada tapi kok, itu bibirnya pake di elapin segala. Di depan umum lagi. Orang gak ada hubungan, mana sudi ngelakuin."
"Enggak." Ayu terus menolak. "Itu cuma karena gaya makan gue aja yang berantakan."
"Masa sih?" Rafi tak ingin percaya. "Gaya makan lo yang berantakan atau emang sengaja diberantakin?" godanya.
"Enggak. Astaga." Ayu sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu sekali dia.
Karena sikap Ayu yang seperti itu, mereka makin gencar menggoda. Suasana makin ramai dan tidak kondusif dan baru berhenti saat dehaman kasar terdengar dari arah belakang.
...***...