Ours

Ours
Bab Dua Puluh Tiga - Mencari



Dennias bersandar pada pilar di belakangnya bukan tanpa alasan. Ia ingin menikmati pesta dan satu gelas berisi cairan merah pekat yang ada di genggam tangannya- ia goyangkan sedikit dengan gaya elegan- dan juga membiarkan matanya tak lepas dari sesuatu yang jauh di sana. Diperhatikan dengan seksama gerak-geriknya. Di tengah kegiatannya, Dennias mengulas senyum miring yang sekilas terlihat sinis.


Dia pasti sangat kebingungan, pikirnya begitu selagi berjalan.


Ada lima langkah dia ambil sebelum berbalik, memenuhi tepukan di pundaknya yang disertai seruan.


"Nias."


Dennias mau-mau saja menyiram wajah cantik Krystal jika tidak ingat pada satu kenyataan kalau ini pesta yang diselenggarakan keluarga wanita itu. Jadinya dia hanya merotasikan bola mata. "Gue bukan pulau," katanya jengkel.


Krystal memamerkan senyum tanpa merasa bersalah sama sekali, malah terlihat puas. Dia mengangkat telapak tangannya tanda damai sambil berkata, "Sorry. Hehe."


Dennias mencibir tanpa suara, kemudian meneguk isi gelasnya sedikit selagi matanya bisa begitu saja tertuju pada sosok yang sama, seperti tanpa kendali.


Krystal mengikuti ke mana pandanganya bertahan dan tepat setelah itu ujung bibirnya tertarik sekilas. "Gak disamperin aja, nih?"


"Nggak minat."


Krystal seolah-oleh tercengang, padahal dia sudah tahu reaksi ini yang akan ia dapatkan. "Ouuuw. Bukannya lo masih suka sama dia?" picunya, sedikit mengerling.


"Memang," jawab Dennias ringkas dan tanpa beban.


Krystal berdecap, tanda kalau dia tertarik pada pembahasan mereka.


Dennias mengambil intonasi yang berbeda kali ini. Mengharuskan Krystal untuk mengindahkan atmosfer berbeda yang menguat di sekitarnya. "Menurut lo, apa gue bakal ada di sini kalau berniat mempertahankan itu?"


Ini jelas sebuah pernyataan.


Krystal menggedikkan bahu tak terpengaruh, tersenyum pelan tatkala mengambil satu teguk dari gelas berisi cairan berwarna serupa dengan milik Dennias. "Tergantung," katanya. "Lo bisa aja berubah pikiran dan berbelok ngehianatin gue."


"Udah terlambat buat itu, Krystal. Dan lo tau. Kalau gue ada niatan begitu, rencana lo udah berantakan dari awal."


Krystal tak menjawab, hanya lagi-lagi menanggapi dengan senyum yang lebih cenderung merupakan sebuah seringai.


Agak lama mereka memperhatikan objek yang sama, sampai dua langkah majunya terambil dan diputus oleh cekalan dari belakang. Menoleh, menatap Dennias bertanya.


Tetapi yang lelaki itu berikan adalah sesuatu yang sama. Dia pun bertanya, "Mau ke mana lo?"


Kepala Krystal memiring. Bodoh sekali bertanya sesuatu yang sudah diketahui dengan pasti jawabannya. "Menurut lo?"


"Jangan."


Mengempaskan tangan Dennias terlebih dahulu. "Kenapa? Gue cuma mau nyapa."


Padahal niatnya lebih dari itu dan Dennias tahu dengan mudahnya.


"Jangan bikin kacau dia di antara orang-orang yang mengenalinya."


"Lo bikin gue kedengeran kayak penyihir jahat yang muncul dari masa lalu," Kemudian menghentak tangan, berlagak kecewa. "Padahal gue udah kangen banget sama dia, tau?"


"Emang lo lagi memerankan peran itu, kan?" ujarnya tak peduli. "Biarin dia hari ini. Kita tunggu Rendi yang bergerak dulu."


"Dan kalau misalnya dia gak sesuai perkiraan? Tetap kita juga mesti bergerak."


"Kalau misalnya dia melenceng dari tujuan kita, lo bisa singkirkan dia dengan cara lo sendiri."


"Sip." Krystal menyambut dengan senang hati. Kembali, sudut bibirnya tertarik.


Kemungkinan yang mana saja akan terjadi nantinya, Krystal sangat menunggu dan antusias.


Permainan ini akan lebih menarik.


...*...


Ayu terburu-buru di antara langkahnya. Menuju ballroom hotel, dia bersyukur tempat itu telah kosong. Mempermudahkannya menemukan benda yang ia cari.


Membungkuk sambil menyapukan pandangan, memutari sudut-sudut yang ia datangi namun hasilnya nihil, walaupun sudah tiga kali Ayu mengecek tempat yang sama. Dia menggigit bibir bawahnya cemas, rambutnya terjatuh berantakan akibat ulahnya yang mengibaskan setengah kesal ke belakang seiring ia menegakkan badan. Pikiran Ayu semakin merajalela. Bagaimana kalau benar-benar hilang? Bagaimana kalau dia tak akan bisa menemukannya? Bahkan sekarang setelah ia beralih menggigiti kuku tangannya pun, rasa paniknya belum terkendali. "Gimana ini??"


Ayu makin bergerak gelisah. Mondar-mandir dan mendadak tertegun saat mendapatkan satu petunjuk.


Mulanya, dia mengobrak-abrik toilet dan tentu tak ditemukan di sana. Spontan, erangan kesalnya terlepas keras. Ke mana lagi dia harus mencari kalau yang dicarinya tidak ada di tempat ini?


Terima kasih pada kenyataan bahwa benda yang dicari-carinya kecil, maka tak akan mudah menemukannya di tempat seluas ini.


Ayu memejamkan mata guna meredam emosi yang telah meluap. Kalau saja membenturkan kepalanya ke pilar bisa menghilangkan tabiat pelupa dan teledor, niscaya sudah sedari lama ia lakukan.


Mencoba berpikir jernih, Ayu melakukan metode tarik-embuskan napas. Mulai dia mereka ulang adegan di otaknya. "Gue cuci muka," tuduhnya pada wastafel di mana ia melakoni hal tersebut. "Abis itu ketemu Kak Hera. Terus dibawa ke ... Ah! Ruangan di belakang!" serunya seakan-akan mendapatkan pencerahan.


Ayu tak menyia-nyiakan waktu, langsung melesat ke ruangan yang tadi sempat disambanginya bermodal seretan dari si empunya pesta.


Tanpa tata krama, pintu didobrak sampai menganga lebar. Ayu tak peduli, yang ada dia merasa beruntung karena tempat ini belum dikunci. Melesak masuk ke kamar di mana ia didandani Hera, Ayu tak jauh beda dengan perlakuannya di toilet tadi, ia mengacak-acak tempat ini. Hanya saja di sini lebih banyak benda yang bisa ia buat berantakan.


Lima menit baru lewat tatkala kini Ayu merosot lemas ke lantai. Mungkin hari ini memang hari di mana isinya total berupa kesialan untuknya. Ayu mengerang pelan, meringis dan hampir menangis sambil susah payah berdiri. Kini kakinya yang pegal pun telah terasa.


Terlalu lambat otak Ayu memproses apa yang baru saja terjadi. Mulai dari tangannya merasakan sentuhan yang menghantarkan sensasi sengatan pelan ke jantungnya, satu benda yang mendarat di sana, sampai pada dirinya yang terpaku lama hanya karena lima kata dalam intonasi sukar didefinisikan.


"Mungkin itu yang kamu cari."


Jadi cincin itu dapat dilihat juga olehnya.


...*...


"Hm," satu jawaban singkat dikeluarkan Sore sebagai sahutan untuk si penelpon.


"Warnanya pink. Kalau gak salah aku taruh di meja yang di atasnya ada vas bunga ukurannya lumayan."


"Oke."


Senyap menguasai sambungan selama beberapa saat, sampai suara Hera yang lagi-lagi harus memulai. "Udah dikunci belum?"


Pertanyaan itu tepat setelah kenop pintu bisa dibukanya. Sore mengkonfirmasi. "Belum."


"Oh, bagus kalau gitu." Tak ada sambutan untuk yang satu ini, Hera berpikir mungkin lelaki itu sedang mencari. Beberapa lama berselang dia bertanya lagi. "Udah ketemu?"


"Udah."


Sore akan membawa benda di tangan kirinya ke luar seandainya ia tak tertahan sebab mendengar sesuatu yang mengerincing. Seperti suara benda bermaterial tambang yang beradu dengan marmer. Otomatis matanya jatuh, benda berwarna kuning berkilau itu terdorong tak jauh oleh kakinya. Ia mendekat, mengambil lingkaran yang ternyata adalah cincin.


Punya siapa?


Sore nyaris lupa kalau Hera sedang bertelepon dengannya, jika saja suara wanita itu tak segera terdengar lagi.


"Ada apa?"


"Gak ada." Mengambil cincin.


Dengan jawaban serbapelit begitu, Sore masih punya keberanian untuk memutus suara Hera yang bahkan belum tuntas. Dia lebih tertarik untuk menelusuri cincin di tangannya.



Cincin yang berpola sederhana. Dengan detail simpel namun tetap terlihat elegan oleh berlian kecil-kecilnya, benda ini seolah ingin menginterpretasikan kesederhanaan si pemilik dengan gamblang.


Sore terlepas dari aksi mengamatinya ketika mendapatkan jawaban yang membuatnya agak tercengang. Dia tahu siapa pemilik cincin ini. Akhir-akhir ini dia melihat jari Sekretarisnya tersemati benda ini. Tetapi bagaimana mungkin Ayu pernah masuk ke tempat- ah, Hera. Sore mengangguk-anggukkan mengerti.


Kepalannya segera berputar, mencari keberadaan si pemilik barang. Kesimpulan bahwa Ayu tak ada di ruangan yang sama dengannya dipatahkan oleh suara gebrak di pintu, Sore pun kaget karenanya.


Seraut milik Ayu yang dipenuhi kepanikan terlihat. Sayangnya wanita itu terlalu kalut untuk menyadari keberadaanya.


Ayu berjalan sambil merangkum gaunnya dengan tanga kanan- mungkin agar mempermudahkan langkah tergesanya. Sedari semula kedatangannya, dia memang sudah bergestur memberondong pintu kamar. Yang Sore heran, Ayu berada di dalamnya lumayan lama.


Mau apa dia ke sana? Sore tadinya diam saja, tetapi erangan samar dari dalam sana menuntunnya mendekat. Yang kebetulan sekali bersamaan dengan Ayu di muka pintu.


Sudah kepalang, sekalian saja dia meraih tangan kanan Ayu dan tanpa peringatan apapun menaruh benda yang membuat kamar lebih buruk rupa dari kapal pecah.


Meski sudah tahu pasti, Sore masih berkata, "Mungkin itu yang kamu cari."


Dan Ayu masih lamban mencerna sampai satu kata sederhana ia ucap. "Ma- makasih, Pak."


Sore memberikan gumaman sebagai jawaban.


Ayu menyimpulkan jika hanya sampai di sana urusan mereka- toh dia sudah menyampaikan terima kasih juga. Dia pergi membawa rasa tak mengenakkan di hati, yang tidak bisa ia ketahui seperti apa rupanya. Hanya saja, melihat wajah Sore sudah cukup untuk membuat hatinya serasa terhimpit.


Namun memang keahlian bagi Sore untuk menjebaknya agar tetap berada di jarak dekat dalam ruangan yang sama.


"Kenapa tidak bilang sedari awal kalau kamu sudah menikah?"


Ayu membatu, telapak tangannya terasa mendingin. Ia menelan saliva susah payah, sebelum berkata dengan gugup. "Ss- saya permisi."


Belum. Belum sempurna satu langkah, namun dia berhenti begitu saja. Ayu bertanya pada dirinya sendiri, kenapa dia harus peduli? Sore bukan siapa-siapa.


"Ini cara kamu balas dendam sama saya?"


Ayu diam ketika Sore terus bicara, tetapi kepalan tangan dan jari-jarinya yang memutih tak lepas dari pemantauan Sore. Perempuan itu marah, tetapi Sore lebih dari itu.


"Kamu membiarkan saya mencintai kamu, sementara status kamu bukan sesuatu yang bisa diganggu gugat lagi. Kalau itu cara kamu membalas saya, selamat, kamu berhasil."


Ayu akhirnya bersuara, dingin terucap. "Bapak tidak berhak bicara seperti itu pada saya saat status Bapak sendiri sudah terikat pada seseorang. Dan saya gak pernah bermaksud membalas Bapak dengan cara bodoh seperti itu. Perasaan Bapak adalah milik Bapak sendiri, terserah Bapak mau berkata mencintai saya. Semuanya sudah terlalu terlambat." Ayu akan beranjak, tapi dia belum selesai di sini. "Saya membenci Bapak, sangat. Tapi Bapak adalah kebahagiaan buat Kak Hera, maka saya akan berusaha untuk tidak peduli. Tolong jangan buat dia sedih. Dan saya harus mempertegas di sini, jika kita memang tidak seharusnya memiliki cerita. Jadi saya mohon, tetaplah bersikap seperti saat Bapak terang-terangan menyatakan membenci saya. Itu akan lebih baik untuk kita semua."


Ayu mendengar Sore membalas dengan, "Saya salah pernah ingin memperjuangkan kamu."


Dan ia tak ingin mendengar lebih dari itu. Ayu terus berjalan, membungkus cincin di tangannya dengan genggaman kuat.


Dia marah, kacau dan lebih kalut dari sebelumnya. Bagaimana bisa Sore masih bersikukuh mengatakan hal itu? Padahal dia jelas-jelas baru saja mengikat seseorang dengan ikatan pertunangan. Yang mana maknanya pernikahan tak lagi sejauh dulu, sudah di depan mata. Bagaimana bisa-


Badan Ayu bersandar di dinding, ia rasa mulai tak sanggup lagi melewati semua ini.