Ours

Ours
Bab Tiga Puluh Tiga - Cerita Rumit



"Bukankah kamu sudah memberi tahu saya?"


"Maksud anda?"


Seperti biasa, Sore bisa mengendalikan dirinya agar tetap terlihat tenang. Dia duduk di kursi kerjanya serta menyandar dengan nyaman. Namun jika ditelusuri, ada sekemelut emosi di dalam sorot matanya.


"Waktu di rumah kamu. Kamu pernah bahas soal dia kepada saya. Dan kalau kamu ingin tahu kenapa saya mengetahui namanya, karena kamu menyebutkan waktu itu." Meski bukan ini yang dia maksud dengan "sudah memberitahu"-nya. Sore tidak bisa langsung mendesak Ayu, dia harus mengetahui masalahnya dengan jelas terlebih dahulu.


Suara Ayu tidak segera Sore temukan, maka dia kembali bicara. "Jadi bagaimana kabar Irene."


"Irene baik." Jawaban itu terdengar.


Sore bangkit dari kursi. Beralih ke depan kaca membentang yang memperlihatkan hiruk-pikuk kegiatan di luar gedung perkantoran miliknya. "Baik? Lalu kenapa kamu bisa sepanik waktu itu jika Irene baik-baik saja?"


"Karena Irene memang baik-baik saja."


"Kalau begitu, lalu apa yang terjadi waktu itu?"


"Tidak ada apa-apa. Tidak terjadi apa-apa."


Sore tahu, Ayu memang sangat keras kepala. Wanita itu tidak akan mau menjawab suka rela.


"Mungkin saya kurang jelas dalam bertanya. Bagaimana keadaan Irene saat itu, bukan sekarang. Dia kenapa sampai kamu sangat buru-buru dan tidak kembali dalam seminggu?"


Lengang lagi. Sore menanti segala respon Ayu dengan sabar. "Dengar, Bapak Cakrawala Sore yang terhormat. Apapun yang terjadi dalam hidup saya, entah itu tentang saya sendiri ataupun orang-orang yang ada di sekitar saya, itu bukan urusan Anda. Jadi berhenti bertanya-tanya tentang apapun lagi kepada saya. Saya bukan bawahan Anda lagi dan itu berarti anda tidak punya sangkut paut apapun lagi dengan saya. Terima kasih."


Terputus tepat sebelum Sore memberikan tanggapan. Dia menarik napas, memasukkan ponsel ke saku celana, lanjut balik badan. Sepasang mata tajamnya tertuju langsung pada Aldi– seseorang yang sedang duduk anteng di sofa dan tentunya mendengar apa yang Sore katakan. Aldi menatap balik Sore dengan lagak jumawa.


"Dia gak ngasih jawaban yang memuaskan," kata Sore padanya.


"Itu artinya tugas gue dimulai?"


Itu bukan pertanyaan, namun sebuah pernyataan. Sore mengangguk.


Sosok tinggi itu lantas berdiri. "Gue pastiin dua hari lagi informasi yang lo minta pasti udah ada di tangan lo."


Sore mengangguk lagi, membiarkan lelaki satunya pergi.


Ini bukan kemauan Sore, namun Ayu tak memberinya pilihan. Maka jangan salahkan dia jika sekarang sudah meminta bantuan salah satu teman untuk mengorek informasi tentang wanita itu. Terutama yang terjadi selama dia menghilang beberapa tahun belakangan.


Kembali duduk di kursi, Sore merenung. Ingatannya berkeliaran ke beberapa waktu lalu. Saat setelah krystal dengan sangat sialan mengatakan ada masalah dengan perusahaan padahal hanya akal-akalan untuk memintanya menemani Hera jalan-jalan.


Keparat memang.


Jika saja Hera dan Krystal tidak mengganggu, mungkin saat itu dia bisa mengikuti Ayu dan bisa langsung mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan yang justru harus selama seminggu memenuhi pikirannya. Sore mendesah, mengurut pangkal hidung. Semoga saja, Aldi bisa menemukan seluruh informasi. Tanpa terkecuali.


...*...


"Bunda. Nanti Irene mau main lagi sama Om Dennias boleh, ya?"


Ayu merunduk menuju Irene. Alih-alih mejawab, Ayu terdesak keinginan untuk melontarkan tanya. "Irene suka main sama Om Dennias?"


Irene mengangguk-angguk semangat. "Iya! Om Dennias baik banget."


Memang betul. Tadi Irene muncul di tengah-tengah percakapan mereka dengan mengeluh haus. Dennias langsung mengajaknya mencoba air kelapa dan semudah itu, Irene dan Dennias akrab setelahnya.


Tidak hanya di pantai, Dennias mengajak Irene ke tempat-tempat lainnya dan membuat si gadis cilik semakin menempel padanya. Ayu saja seringkali dianggarkan. Irene lebih suka bercengkrama erat dengan Dennias seolah-olah mereka ayah dan anak yang sesungguhnya. Ayu terenyuh melihat interaksi keduanya juga pada bagaimana cara Dennias memberi afeksi yang jelas hanya ditujukan pada Irene– tidak terlihat sama sekali dia hanya ingin menarik perhatian Ayu.


"Boleh kan Bunda?" Irene kembali menagih jawaban dari Ayu dengan mengulang tanya itu.


"Boleh."


Ayu berderap ke koper dekat kasur, mengambil sisir lanjut merapikan rambut basah Irene. Baru saja mereka selesai mandi bersama.


"Bunda," Irene bersuara lagi begitu rambutnya sudah rapi tertata. "Om Dennias itu temannya Bunda ya?"


Ayu tersenyum cerah pada binar penasaran yang memenuhi tatapan Irene. Ah, putri kecilnya itu memang selalu penasaran dan detail. Akan terus bertanya-tanya sampai keingintahuannya terpuaskan. "Iya. Om Dennias sama Bunda dulu sekolah di SMA yang sama. Om Dennias teman yang dekat sama Bunda."


"Wah, keren. Bunda bisa punya temen laki-laki." Irene bersorak, tapi kemudian wajahnya berubah muram. "Irene di sekolah gak punya teman laki-laki, Bunda. Cuma Ale sama Ica."


"Oh, ya? Kenapa Irene gak punya teman laki-laki?"


"Gak tau." Irene menggeleng. "Di sekolah Irene, temanannya anak perempuan sama anak perempuan lagi, anak laki-laki sama anak laki-laki lagi."


"Kalau gitu, mungkin mereka masih malu-malu buat ajak anak perempuan main. Lagian sekolahnya belum lama kan? Nanti kalo udah lama, bakal akrab sama temen laki-lakinya juga. Gak papa kok, Irene cuma punya teman Ale sama Ica. Dulu Bunda juga gitu. Cuma punya temen Om Dennias sama temen perempuan satu. Sama kan? Kita cuma punya dua teman?"


Irene mengangguk lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih ceria. "Iya. Teman Bunda yang perempuan siapa?"


Mendengar itu, Ayu terdiam sesaat. Kenangannya dengan sosok Krystal kembali terputar. Terus, terus, dan terus menyampaikan kilas balik sejarah pertemanan mereka yang kini retak dan mungkin tidak akan dapat titik terangnya. "Namanya Tante Krystal."


Mata Irene membelalak, gaya khas jika kagum. "Namanya cantik."


Ayu menampilkan seulas senyum tipis. "Orangnya juga cantik. Persis kayak namanya."


"Oh ya? Irene pengen ketemu sama Tante Krystal!" seru bocah itu antusias.


Ayu dapat mengetahui rasa tertohok yang kemudian menjalar dan berakhir diam di jantungnya. Irene sepertinya serius ingin berjumpa dengan wanita itu. Sayangnya Krystal tidak akan mau bertemu dengannya. "Iya. Ngomong-ngomong, Irene mau liat kembang api gak?" tanya Ayu yang sebenernya hanya upaya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Mau, Bunda! Irene mau!"


"Yaudah. Kalo gitu kita temuin Om Dennias di lobi."


Alis Irene mengernyit, kepalanya miring sedikit, kedua bola matanya menyampaikan tatapan bingung yang mirip anak kucing. Lucu sekali. "Om Dennias nginap di sini juga?"


"Nggak. Om Dennias punya villa di dekat sini. Dan barusan dia ajak Bunda sama Irene buat nonton festival. Katanya ada kembang apinya. Makanya sekarang Om Dennias ada di lobi, nunggu kita."


Penjelasan singkat itu bermuara pada tautan tangan keduanya. Ayu menuntun Irene menuju lift yang akan mengeluarkan mereka di lobi.


"Om Denniaaaas!" Teriak Irene yang sementara mengambil alih seluruh perhatian tiap pasang telinga yang ada di sana, termasuk sosok empunya nama yang menoleh. Dia tersenyum, lantas sebelum sempat Ayu cegah, Irene telah menyongsong sosok tinggi itu menggunakan langkah pendeknya yang dibawa lari.


"Hai, Irene," sambut Dennias begitu menangkap sosok kecil itu dengan pelukan. Dalam senyumnya, Dennias sukses menampilkan lubang cacat di pipinya. "Cantik banget sih. Tapi lain kali jangan lari-lari ya."


Irene nyengir, kelihatan tak merasa dosa sedikitpun. "Hehe."


Ayu menghampiri keduanya. Sejenak dia tidak bisa menahan diri untuk memperhatikan presensi di hadapannya dalam balutan kaus putih dirangkap kemeja hitam, celana jins hitam dipadukan sebagi bawahan. Tak lupa disebutkan, sepasang sepatu putih melengkapi tampilannya. Dennias tersenyum, wajahnya cerah dengan binar jenaka, merasa tergelitik menemukan Ayu yang terang-terangan menilai penampilannya. Lalu,


"Kamu cantik," kata dia. Menyadarkan Ayu atas aksinya yang terbilang lancang. Perempuan itu tersenyum kikuk. "Yuk berangkat sekarang. Tempatnya lumayan jauh soalnya."


Di ujung kalimatnya, Dennias lihat Ayu yang mengangguk. "Nah. Sini. Irene biar Om gendong."


Ayu berniat melarang. Irene sudah besar dan pastinya agak berat dengan tubuhnya yang berisi, namun rupanya dia telat sepersekian detik ketika Irene telah berjingkrak kegirangan dan Dennias mengangkatnya seperti tidak memiliki beban.


"Gak papa kok. Sampe parkiran depan doang," bilang Dennias pada kekhawatiran Ayu yang tercetak jelas di keningnya. "Irene udah gak sabar kan mau liat kembang api?"


"Iya, Om! Irene gak sabar!" Lagi-lagi Irene bersorak.


Dengan Irene yang dipangku ala koala– anak itu tampaknya senang-senang saja –Ayu mengiringi dengan langkahnya di samping. Di tatapan banyak orang kini, mereka seperti keluarga kecil bahagia yang tengah berlibur bersama. Tidak tahu saja pada cerita rumit macam apa yang menyertai setiap langkahnya.


...***...