Ours

Ours
Bab Lima - Sakit



"Buatkan saya nasi goreng."


Ayu merengut sedih. "Tapi Pak, ini sudah malam. Saya harus segera pulang."


Sore berhenti pada kegiatannya membubuhkan tanda tangan pada satu berkas di tangannya. Mata tajamnya menanjak, menatap Ayu sengit dari balik kacamata bulat yang bertengger di hidung mancungnya. "Kamu tidak dengar apa yang saya katakan?"


"Tapi Pak-"


"Buatkan saya nasi goreng, Yuna."


Ayu mengembuskan napas panjang. Percuma saja beradu argumen dengan manusia batu seperti Sore. "Baik, Pak."


Pintu selanjutnya tertutup dengan Ayu yang ke luar dari ruangan. Sore melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda.


...*...


Setengah jam berlalu dan nasi goreng yang dipesannya belum juga muncul. Sore curiga kalau sebenarnya Ayu memanfaatkan titah darinya sebagai kesempatan untuk melarikan diri. Sore menggeram pelan. Kenapa dia tidak terpikirkan kemungkinan tersebut?


Membawa dirinya melesat menuruni tangga, saat sampai di dapur, yang ia temui adalah Ayu yang sedang memotong sosis dengan kepala terkantuk-kantuk. Sore menggulirkan bola matanya jengah. Dia tidak minta ditambahkan sosis, hanya nasi goreng saja.


Sore mendekat ke sisi kosong di samping Ayu, menjumpai sayuran, bakso, sosis dan pisau yang masih dipegang Ayu. Ketika kepala Ayu hampir limbung, Sore refleks menahannya agar tidak terjerembab ke tembok. Sore mendesah lelah. Wanita satu ini benar-benar menyusahkan.


" ... Hngg ..." Ayu malah mendengung saat dahinya masih menempel di telapak tangan Sore, membuat mata si empunya lagi-lagi berotasi jengah.


Sore mengguncangkan sedikit tubuh Ayu dan untungnya kali ini wanita itu segera tersadar.


"Eh?! Maaf, Pak! Saya ketiduran!" Ayu berseru, tidak sadar jarak mereka yang cukup dekat membuat telinga Sore berdenging oleh seruan yang ia keluarkan.


Sore segera mengambil langkah mundur. Mencari jarak aman sebagai antisipasi dari teriakan lainnya. Setelah merasa aman, dia bertolak pinggang. Wajah dinginnya kembali. "Saya suruh kamu masak nasi goreng. Bukan tidur di dapur."


Dalam keadaan setengah sadar begini saja, melihat wajah garang Sore masih bisa membuat Ayu merinding. Ayu menunduk. "Maaf, Pak. Saya ngantuk."


"Menurut kamu dengan ngantuk kamu itu saya bisa kenyang?"


Kepala Ayu terangkat. "Huh?"


"Cepat masak!"


Ayu langsung gelagapan. "I-iya, Pak."


Sore berlalu. Mendaratkan diri di meja makan. Kondisi dapur yang tanpa ada sekat dengan ruang makan membuat dia bisa dengan leluasa mengawasi Ayu. Perempuan itu sekarang sedang memaksakan gerakannya agar tetap cekatan mengolah bahan makanan sambil sesekali mengucek matanya menggunakan punggung tangan.


Saku piyama yang dikenakan Sore bergetar, satu panggilan telepon masuk. Dia beranjak dan berjalan menuju ruang keluarga untuk memenuhi panggilan tersebut. Lima belas menit berlalu ketika kembali menginjakkan kaki di ruang makan, hidung Sore bergerak-berak seperti kelinci. Ada bau gosong yang memenuhi tempat itu. Hidungnya makin berkerut. Segera dia berlari kecil menuju dapur.


Nyatanya, Ayu memang tipikal orang yang bisa tidur kapan saja dan di mana saja kalau sudah mengantuk berat.


Sore cepat-cepat menghampiri kompor, mematikan nyala api dan segera saja memukul tangan Ayu yang masih memegang sodet. Ayu terperanjat, matanya langsung membelalak. Namun sebelum dia dibuat lebih kaget lagi melihat penampakan masakannya yang hangus, Sore sudah lebih dulu menyambar.


"Kamu becus kerja gak, sih?!"


Ayu lagi-lagi hanya bisa menunduk. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja ketiduran." Meski merasa sangat bersalah karena lagi-lagi membuat Sore mendengus sebal akan kelakuannya yang ceroboh, Ayu berharap Sore akan berbaik hati dan melepaskannya untuk pulang.


Sore berdecak sarkas. "Cepat buatkan lagi. Kali ini nggak boleh salah. Waktunya lima menit."


Cakrawala Sore yang identik dengan hati tanpa rasa manusiawi memang bukan sekadar berita bohong. Ayu mengangguk pasrah karena dia tidak lagi mempunyai sisa tenaga untuk berdebat dengan atasannya itu. Ia kembali pada bahan-bagan yang masih berada di atas meja konter. Memotong sisa bahan yang ada di sana tanpa terkecuali. Termasuk liam siung bawang putih yang niatnya ia gunakan untuk balas dendam.


Melawan musuh tidak hanya bisa dengan beradu otot secara langsung, kan? Dengan membuat Sore batuk-batuk saking baunya benda yang ia makan, Ayu akan terbahak-bahak tanpa peduli besok ia akan jadi pengangguran lagi. Ayu akan bersantai di rumah dan mencari pekerjaan lain yang lebih ringan. Menjadi seorang pekerja kafe terdengar tidak terlalu buruk.


Berbicara soal rumah, Ayu melotot begitu teringat sesuatu. Dia belum mengabari orang rumah! Ya Tuhan. Mama pasti menunggunya.


Ayu mempercepat gerakan memotongnya. Dia harus segera pulang karena besok Mama akan pulang ke Jepang dan Ayu berencana mengantar beliau ke bandara.


Terlalu rusuh gerakan yang ia lakukan, tanpa sengaja jarinya teriris pisau. Ayu spontan berseru dan mendesis. Dia tidak tahu kalau suaranya lebih keras dari yang ia perkirakan terakhir kali, sehingga sosok Sore dalam beberapa kerjakan mata sudah berdiri di sampingnya. Lelaki itu setengah membeliak dan dengan gerakan cepat merampas tangan Ayu lalu mengalirinya dengan air di wastafel. Ayu meringis, menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan desis sakit. Tidak mau dikatai cengeng nantinya oleh Sore.


Sore terus mengomeli -tepatnya memarahi Ayu selama melakukan sesi pertolongan pertama. "Kamu itu bisa tidak, sehari saja tidak usah ceroboh?" Ini gerutuan yang entah keseberapa. "Tadi di kantor saya dengar kamu memecahkan vas bunga di lobi. Sebenarnya kamu ini kenapa, sih? Gayanya aja anggun, tapi tabiat aslinya serampangan."


Ayu sudah tidak bisa mendengar apa lagi yang Sore keluhkan. Dia lebih konsentrasi pada rasa sakit di jarinya karena ternyata luka sayatnya cukup lebar. Ayu spontan menjerit dan meranik jarinya yang digenggam Sore ketika alkohol membasuh lukanya.


Dihardik begitu, wajah Ayu mengerut. Air mata memupuk di kelopak matanya. "Sakit ...." cicitnya pelan.


"Cengeng!"


Air mata Ayu sudah terstimulus dengan sempurna. Dia akhirnya menangis dengan aliran yang menganak sungai di pipinya. Aku nggak cengeng! Hanya rasanya benar-benar sakit. Ayu tidak pernah tahu jika rasa sakit tersayat bisa meninggalkan rasa perih yang lebih besar.


Sore melempar sembarangan kapas yang telah selesai ia gunakan. Kota P3K juga mendarat pada permukaan meja dengan kasar. Ayu pikir, jika memang Sore tidak ikhlas melakukannya, sebaliknya tidak usah menolongnya saja.


Sore lekas berdiri. Kakinya mengentuk-ngetuk lantai sebelum apa yang dilakukannya terhenti dan suara dengus darinya menjelma jari serentetan kalimat.


"Pak Diman, maaf saya menganggu istirahat Bapak. Tapi bisa tolong belikan saya makanan?"


"..."


"Di rumah makan padang langganan saya. Bilang aja menunya kayak biasa. Mereka udah tau saya akan pesan apa."


"..."


Ayu tak mendengar apa-apa lagi setelah itu selain dari suara pentemuan antara sandal rumahan yang dikenakan Sore dengan lantai yang meredup. Sore pergi meninggalkan Ayu di ruang tengah tanpa berkata apa-apa.


Tangan Ayu terkepal. Realisasi dari rasa kesal yang bercokol dalam dirinya.


Kalau Sore bisa meminta seseorang untuk membelikan makanan, kenapa dia harus susah-susah menghujani Ayu dengan bentakan karena tidak becus memenuhi keinginanya mengenai sepiring nasi goreng?!


Ayu rasa besok dia bisa jadi sosok yang terlihat lima tahun lebih tua dari usia aslinya jika harus menghadapi sikap menjengkelkan Sore lebih dari ini.


...*...


Bukan karena wajanya betul-betul bertransformasi jadi lima tahu lebih tua yang membuat Ayu tercengang, tetapi dia yang untuk kedua kalinya terbangun tidak pada tempat semestinya. Langit-langit putih yang ia lihat pertama kali bukanlah hal yang biasanya ia tangkap ketika membuka mata. Ayu bangkit dengan rasa terkejut yang sangat besar. Kepanya berputar beberapa kali dalam gerakan yang terlalu cepat sehingga berakhir sedikit pening.


Kasur empuk pada sebuah kamar yang luasnya lebih dari setengah rumahnya ini membuat jantung Ayu jumpalitan. Dalam gerakannya yang terlalu ceroboh kala berdiri, Ayu terjerembab ke lantai dengan kepala yang terbentur keras. Selimut yang melilit kakinya yang jadi pelaku penganiayaan. Tentu respon Ayu lebih keras dari benturan itu. Sampai seorang maid tergopoh-gopoh memasuki ruangan dan menghampirinya dengan tanya khawatir.


"Nona tidak apa-apa?"


Ayu malu sekali karena ketahuan. Kecepatan antara pintu terbuka oleh maid ini dengan dirinya yang terjatuh terlalu rapat, sehingga Ayu tak sempat membenahi posisi terlebih dahulu.


"Saya ...." Ayu berusaha bangun. Setelah posisinya lebih baik, dia berdeham. Lalu melanjutkan perkataannya. "Nggak papa."


Namun hal itu belum cukup untuk membasuh kekhawatiran di mata wanita berwajah cantik tersebut. "Apa harus saya panggilkan Dokter?"


"Saya nggak papaaaaaa." Ayu berusaha meyakinkan dengan putus asa, kepalanya menggeleng-geleng ribut penuh keseriusan.


Tetapi memar di kening itu mengomfirmasi bahwa dia harus memanggil Dokter untuk sekretarisTuannya ini, dengan atau tanpa persetujuan si terkait. Karena kalau tidak, bisa-bisa dia dimarahi habis-habisan dan kehilangan pekerjaan. Dia tidak mau hal itu terjadi. Maka setelah membantu Ayu untuk duduk di tepi kasur, dia segera menghubungi Dokter keluarga ini. Yang mana membuat Ayu melotot tidak percaya.


Ayu mondar mandir sambil menggerogoti jari kukunya. Lima belas menit lalu dia membuat Sore datang bersama seorang dokter dan kening berlipat. Matanya memperhatikan dengan gaya yang membuat Ayu meriang panas-dingin. Berulang kali Ayu kesusahan meneguk ludahnya sendiri. Menyesali keputusan sang maid yang berlaku sesuai kesimpulannya sendiri karena Ayu berani bersumpah kalau dia tidak apa-apa.


Tadi, kening Ayu benar-benar diperiksa. Jarinya juga. Plesternya diganti karena katanya luka yang Ayu derita lebih besar dari ukuran plester itu sendiri.


Apa harus dikatakan juga kalau Ayu sempat meringis-ringis? Tidak, ya? Ya sudah, tidak akan dikatakan kalau begitu.


Dan sekarang dia sudah selesai mandi. Pakaian kerja yang ia kenakan ini masih berbau toko. Masih baru dan Ayu juga bisa mencium aroma uang yang banyak sebagai pengganti setelan kain ini. Semoga saja ini gratis.


Ayu kembali ke depan cermin untuk memastikan plester di keningnya terpasang dengan baik guna menutupi memar yang sekarang telah membiru. Ayu tidak mau diberondong oleh pertanyaan dari rekan-rekannya. Meskipun keberadan plester di sana akan tetap mengundang tatapan heran.


Ayu teralihkan dari kegiatannya tatkala pintu dikuak dari luar. Wanita berseragam lainnya muncul dengan kalimat yang membuat Ayu seketika menegang.


"Nona. Semua sudah menunggu anda di meja makan."


Satu balok es meluncur turun di punggung Ayu.


Maksud dari kata "semuanya" itu, apa artinya termasuk Tuan dan Nyonya rumah?


...***...