
Malam telah semakin lelap berselimut gelap. Pada sebuah dojo berpenerangan temaram, satu sosok tengah menghadap cangkir yang sebelumnya telah ia tuang air panas, dikucek sebentar sampai setelah dirasa cukup, kegiatan berlanjut menuju ruang yang lebih terang daripada dapur bercahayakan lampu pijar. Satu tubuh menjulang membelakangi adalah yang ia dapati kemudian.
"Sedang apa kamu?"
Suara itu menarik tubuh tinggi untuk menoleh, namun tetap bungkam. Sehingga memberikan ruang untuk sosok lainnnya kembali bicara.
"Kenapa kamu mandangin dia kayak gitu?" Menaruh cangkir berisi teh chamomile yang mengepulkan asap tipis di coffe table lalu menarik satu kursi untuk diduduki, menghadap seseorang yang ia ajak berbincang.
Lelaki yang lebih muda melepaskan raut serius yang sedari tadi mewarnai wajahnya. Mengembus udara. "Nggak. Cuma, aku kenal orang ini."
Sepasang alis tua terangkat tinggi, penasaran. "Kamu kenal?" Ia memastikan.
"Iya." Kembali menatap sesosok tubuh yang separuh meringkuk di sofa dengan matanya yang terkatup. "Dia adik kelas aku waktu SMA."
"Oh, tak kirain mantan kamu."
"Bisa jadi."
Suara tersedak khas milik seorang Kakek terdengar. "Huh?! Kamu bisa punya mantan secakep itu?! Dia kelilipan cinta segede kebo apa ya, waktu nerima kamu jadi pacarnya!"
Berbanding terbalik dengan tanggapan itu, jawabannya masih dalam intonasi tenang. "Kita dulu pacaran dan gak pernah putus. Sebelum dia ninggalin aku gitu aja."
Sesuatu dari kalimat itu membuat tindak tanduk si Kakek jadi serba salah. Kebingungan menjawab, akhirnya ia diam, sampai lawan bicaranya mengganti topik, berkekuatan magis yang mampu menguapkan rasa canggung yang Kakek ini derita sendiri.
"Kakek nemuin dia di mana?"
Rasanya setelah pengakuan barusan yang menguak soal status tergantung sekian tahun lamanya, Kakek ini tak enak hati kalau harus mengatakan yang sesungguhnya terjadi. Maka dari itu dia menjawab, "Di jalan tadi. Dia pingsan gitu aja dan pas banget di depan Kakek, makanya ditolongin."
Kepala sang cucu mengangguk mengerti.
Tak mendapat sambutan yang terlalu berarti, suara si Kakek terdengar lagi. "Dennias, kamu masih suka sama dia?" tanyanya hati-hati. Mengawasi segala ekspresi yang timbul sebagai reaksi. Dan raut sendu yang keruh oleh kilasan masa lalu itu memberikan jawaban yang terlalu gamblang. "Kamu masih suka sama dia," simpulnya.
"Dia gak pernah pergi dari hati aku sampai sekarang. Dia terlalu berarti buat dilupakan dengan mudah, tapi di waktu yang sama, juga terlalu menyakitkan buat dikenang."
Senyap lagi, mengambang agak lama. Dennias kembali memandangi raut Ayu yang menurutnya tak berubah. Perempuan itu masih sama seperti yang terakhir kali ia lihat. Terkecuali rupa lelah dan kantung mata menghitam ini. Dulu wajah Ayu selalu berseri, bersih dari dua hal tersebut.
Jarinya sampai pada pipi pucat Ayu, terasa sedikit dingin. "Kamu ke mana aja?" gumamnya pelan.
Brak!
Dua manusia sadar di sana terperanjat, spontan menoleh pada pintu yang didobrak tak manusiawi. Figur jangkung lainnya yang jadi pelaku. Melihat wajah kusut penuh kepanikan itu, mata Dennias berputar. Belum apa-apa sudah jengah, sebab mengira kedatangan itu bertujuan menyapa kawan lama yang disangka telah tenggelam dalam kenikmatan yang disajikan New York sana. "Bisa pelan-pelan gak? Jantung gue salto gara-gara kelakuan bar-bar lo. Kalau misal sampe silaturahmi sama dengkul, mau kasbonin di mana lo?"
Kekesalan yang terungkap berbelok kesan jadi guyon ketika kalimat semacam itu yang terlontar. Namun dalam situasi genting seperti ini, tak ada yang menarik senyum. Terlebih wajah yang dihadapi dua orang dalam ruangan itu sama sekali tak bersahabat.
Tanpa salam dalam bentuk apapun, Sore langsung mengungkap inti. "Di mana Yuna?"
Memancing dahi Dennias untuk berkerut, telah menyadari tidak adanya kesan "selamat datang" yang ia kira akan didapatnya. Dan begitu saja, Dia jadi sedikit kesal setelah menyadarinya. Apakah temannya itu harus diteriaki dengan angka berapa yang melambangkan tahun di mana mereka tak berjumpa?! Lima tahun, ya Tuhan. Namun dia urungkan, terpikirkan gengsi. Takut dikira ia berharap. "Yuna sapa?" jawab Dennias dengan tanya kelewat ketus.
"Yunaira."
Tak dapat ditahan, kerutan di kening Dennias makin dalam. "Kenapa lo cari dia di sini?" Sengaja beranjak guna menghadap, tujuannya untuk menghalangi Sore menemukan sosok yang tergeletak di sofa panjang- yang sebetulnya tak dihalangi pun, sudah bisa menyembunyikan karena posisinya yang membelakangi pintu. Dennias hanya ingin memastikan saja.
"Gue ditelpon seorang, katanya dia di sini."
Dennias mendecak, sudah dapat memperkirakan itu sebabnya. Menghadap Kakeknya yang masih senantiasa melongo pada kedatangan manusia tak sopan itu. "Kek?"
Yang ditanya menjawab tanpa melepaskan tatapan pada pemilik napas memburu di ambang pintu. "Iya. Kakek yang telpon."
"Terus?"
"Terus ke mana?" tanyanya balik dengan polos.
Dennias menggeram gemas. "Maksud aku. Terus gimana ceritanya? Orang ini bukan seseorang yang harusnya datang sekarang. Dia bukan keluarganya Ayu."
"Oh." Si Kakek mengangguk-angguk paham. "Satu-satunya kontak yang paling mudah Kakek temuin ya, yang dilabeli 'Bos Bulldog'. Urutannya paling atas. Kan dari 'B'."
Astaga. Jawaban yang tak diduga.
"Kenapa gak nyari kontak Mamanya?" Kalimat itu mengigatkannya pada sesuatu. "Ayahnya! Dari 'A' kan tuh!"
Si Kakek protes. "Gak ada dari 'A'! Yang paling atas itu 'Bos Bulldog'! Apalagi Mamanya! Dari M! Kejauhan! Mata Kakekmu ini gak jelas liat tulisan kalau gak pake kacamata!"
"Terima kasih karena udah nolongin dia. Sekarang dia saya bawa."
Mendengar penuturan lempeng Sore yang menyelonong di antara argumen tak penting mereka, Dennias berdiri kilat, menahan Sore yang hendak berbalik dengan Ayu dalam gendongan bridal. "Oit, bentar," tukasnya. "Kenapa lo yang bawa dia pergi? Apa hak lo?"
"Gue Bosnya."
"Oh, jadi lo si Bos Bulldog itu- eh, maksud gue, kenapa gak-"
"Berisik. Lo gak tau cewek ini berat?" Sore mendesis. Selepas itu, ia melenggang pergi tanpa kata apapun lagi dengan ketidaksopanan yang sama seperti kedatangannya.
Dennias diam dengan mulut terbentang, syok pada apa yang baru saja ia alami. Tetapi selanjutnya. dia kepanasan, ingin mengatakan sesuatu hanya karena tak terima kalah dalam sesi adu mulut dengan Sore yang sayangnya sudah tidak terlihat. Apalagi suara mesin mobil yang menjauh itu, mustahil Dennias sanggup mengejarnya hanya karena telah mendapatkan bantahan. Akhirnya ia hanya bisa mengatai. "Dasar ubin mesjid!" Lalu melemparkan dirinya ke sofa kasar. Hangat langsung dirasa, ditinggalkan Ayu di sana.
Mengabaikan raut kesal cucunya, sang Kakek beranjak dan berpamitan dengan, "Dah, ah. Kakek mau mandi terus bobo tampan. Jangan ganggu-ganggu! Apalagi cuma karena kamu gak tau di mana letak saklar lampu! Kalau gak bisa nemu, lebih baik kamu pulang ke rumah orangtuamu sana. Ada di sini juga bikin susah. Gak becus ngapa-ngapain selain nyusahin diri sendiri, terlebih Kakek ...."
Omelan itu tak terdengar lagi karena sang oknum yang tertelan belokan menuju kamar. Sejenak Dennias menerima pencerahan mengenai asal muasal sifat ceriwis yang mendarah daging padanya. Sekarang dia tidak curiga lagi sebagai anak angkat. Nyatanya, dia mewarisi itu dari Kakek.
Terlepas dari pemahaman itu, Dennias merogoh saku, menggulirkan jarinya di layar ponsel dan melakukan panggilan pada seseorang. Di dering ke tiga, seseorang yang ditujunya bersuara.
"Hm?"
Kekeh pelan terdengar. "Uwaw, cepet banget." Lalu terkikik.
Menyamankan posisi duduk, ekspresinya telah berubah drastis ulah seringai di ujung bibirnya. "Ada kejadian gak terduga, tapi menguntungkan pihak kita."
Suara terkesiap senang sampai ke pendengaran.
"Jadi, lanjut rencana berikutnya?" Mengulang tanya yang belum sempat dijawab.
Suara dari seberang sana sangat jelas terdengar ceria. "Oke. Selanjutnya ... singkirin Rendi."
...*...
" ... Dia hampir jadi korban pelecehan. Saya ketemu dia di gang dan ya, karena gak tau rumahnya, saya bawa pulang ke tempat saya. Walau sebelum itu saya harus menerima perlawanan yang gak keduga dari dia tapi gak papa, cuma pertimbangkan agar kukunya segera dipotong. Cakarannya rada maknyus."
Suara itu menghadang mulut Sore yang akan bicara dengan kalimat lanjutannya.
"Pertimbangkan juga buat konsul ke Dokter, dia keliatan kayak orang yang punya trauma berat sama kejadian serupa."
Napas Sore tertahan canggung, seolah-olah dengannya saja bisa membongkar jawaban untuk kalimat tersebut dengan isi pikirannya yang terbeberkan. "Oke. Saya mengerti. Maaf sekali lagi sudah menggangu malam Anda. Dan terima kasih sudah menolong Sekretaris saya."
Sore melempar sembarangan ponselnya ke atas nakas, membiarkannya berada di bawah cahaya lampu duduk. Tatapannya jatuh pada wanita yang baru saja ia bawa dengan tergesa-gesa, mengundang tatapan bertanya dari para maid. Termasuk seorang yang telah ia marahi habis-habisan karena raibnya Ayu dari kamar. Tak dapat dihalaunya, rasa bersalah merundungnya kini.
Trauma?
Sore memijat pangkal hidung. Ia ingin menolak, tetapi tetap saja, hatinya membenarkan apa yang sedari tadi jadi pikirannya. Bahwasanya bisa saja, trauma yang Ayu alami berasal dari masa lalu. Dan ia ikut andil di dalamnya.
Agak lama setelah itu, tubuhnya terdorong pada terali pembatas. Kepulan asap pekat hadir menemaninya menyingkap malam. Sore menghabiskan satu batang rokok, batang ke dua hanya sebatas keinginan sebab geraknya menarik benda bernikotin itu harus terhenti oleh ponsel yang tiba-tiba menyala. Alarm yang ia pasang sejak berbulan-bulan lalu lantas mengingatkan, jika hari ini adalah saat di mana ia lama tak bertandang.
...*...
"Apa selanjutnya?"
"Bapak ada meeting di Restoran Himalaya satu jam lagi. Setelah itu Bapak diundang datang ke launching sebuah brand-"
"Undur."
Ayu berhenti menatapi jadwal sang Direktur di tabletnya. "Ha? Maaf?"
Sore mengendurkan dasinya sedikit, lalu berkata sambil mengikis lengan kemeja. "Undur atau kalau perlu batalkan. Hari ini saya ada urusan pribadi."
"Baik, Pak." Ayu berkata setengah hati pada punggung Sore yang mengecil ditelan jarak dengan cepat. Mengembuskan napas panjang, ia harus bersiap untuk omelan yang akan segera diterima. Sore dengan seenaknya saja membatalkan di waktu yang sudah semepet ini.
...*...
Berjalan pelan di jalan setapak agak becek melewati gundukan-gundukan yang tersebar di tanah luas, tak lantas membuat Sore kesal. Justeru dadanya sedang dihinggapi kembali oleh ribuan rindu yang semula ia terbangkan dalam sikap tak acuh, menjadikan pekerjaan sebagai alasan tak mampunya ia berkunjung.
Langkah pelan tapi pasti tertuju pada satu titik. Sejenak ia memperhatikan buket bunga lily yang dibawanya, spontan tersenyum. Kakenya sangat suka bunga lily.
Sore berjongkok di satu gundukan berselimut rumput hijau. Meskipun amat jarang dikunjungi, makam ini terawat. Setidaknya dia menugaskan seorang pekerja untuk sedikitnya seminggu sekali membersihkan pusara sang Kakek.
"Kek, Sore datang," ujarnya pada pawana yang bersemilir pelan.
Sorot mata tajamnya berubah. Melembut dan penuh sendu. Teringat pada sang terkasih yang begitu memanjakannya dulu. "Selamat ulang tahun, Kek."
Sore mengambil napas. Permulaan untuk sesi mengadu yang akan ia lakukan. "Maaf baru bisa datang. Dan sekarang pun, Sore datang dalam keadaan pikiran kusut begini." Senyap menyelinap sesaat. Menarik napas panjang lagi, seolah begitu terbebani dengan apa yang ia tanggung kini. "Sore gak tau harus gimana lagi, Kek. Dia benci banget sama Sore."
Banyak jeda yang ia ambil. Sore tak akan buru-buru, dia bisa menggunakan banyak waktu di sini. Hanya pada Kakeknya ia berani menunjukan kelemahan. Walau kini yang ia hadapi hanyalah perlambang atas eksistensinya yang telah lewat. Sore melanjutkan. "Wajar dia melakukan itu. Kesalahan aku sama dia terlalu besar. Dan Kakek tau sendiri kan, kalau aku ini egois. Aku mau dia maafin aku. Setidaknya buat kesalahan aku yang baru-baru ini. Untuk yang waktu itu ... aku bahkan belum berani buat ngebahas ...."
Ia meraup wajah lelahnya kasar. "Aku gak mau dia pergi kalau aku bahas itu di saat seperti ini. Aku gak mau kebenciannya bertambah besar sama aku. Kek, aku harus gimana?" Sudut matanya tergenang. Cepat ia menghapusnya dengan ujung telunjuk. Betul-berul hanya pada tempat ini ia bisa menumpahkan segala keluh kesah, kesedihan. Menunjukan kalau sebenarnya dia adalah manusia lemah. Menampakkan kalau sesungguhnya wajah dingin yang selama ini orang lain lihat hanya sebatas topeng guna menyembunyikan hati rapuhnya.
"Karena nyatanya, aku masih cinta sama dia."
...*...
"Gimana?" tanya Krystal pada Hera bersama sisa tawa yang ia bawa dari percakapan dengan sang sahabat, pemilik butik di mana mereka berada sekarang.
Hera berwajah kecewa, melunturkan senyum di bibir Krystal. "Sore bilang gak bisa, Kak. Katanya hari ini dia ada urusan penting."
Mencoba menghibur, Krystal mengembangkan senyumnya kembali. "Mungkin emang ada urusan penting. 'Tar deh coba gue pastiin. Siapa tau dia diem-diem lagi nyiapin suprise buat lo."
Hera berpikir sebentar. "Tapi ultah aku udah lewat."
Krystal mengulum tawa di mulut melihat wajah polos Hera. Tak menyangka wanita berusia dua puluh empat tahun juga bisa semenggemaskan itu. "Ya suprise buat apaaa gitu. Buat tambahan entar di hari pertunangan kalian misalnya. Gak menutup kemungkinan patung es kayak dia bisa romatis juga kalo buat orang yang disayang."
Kalimat yang tepat sasaran. Pipi Hera mulai ditempeli warna serupa rekahan bunga mawar. Lalu ucapnya malu-malu. "Kak Ital bisa aja bikin aku salting."
Krystal betulan menyemburkan tawa. "Astagaaa. Lo lucu banget sih. Gak sabar pengen cepet-cepet jadiin adik ipar. Udah deh, gue rikues ke Om Jo biar langsung adain hajatan aja. Gak usah pake acara tunangan-tunangan segala."
Hera melotot kaget, tetapi pipinya yang telah memerah hebat berbanding terbalik dengan tanggapannya. "Apa sih, Kak Ital," rengutnya. "Aku gak mau buru-buru."
Dengan itu, Krystal memiliki celah untuk makin gencar menggoda. "Euuum, masa sih? Tapi pipinya merah bangeeet."
Hera tak tahan. Sebagai pelarian, ia gesit mengalihkan perhatian pada sebuah gaun berwarna coral dengan manik-manik indah di sekitar area dada, diiringi tawa Krystal yang tak jua surut.
Hanya saja tak disadari oleh Hera, tawa Krystal menguap secepat itu, ketika fokusnya telah betul-betul beralih pada gaun tersebut. Tak ada alasan terselubung dari peristiwa itu, selain dari sedikit kepercayaan Krystal akan apa yang baru saja ia katakan. Krystal meragu akan persentse tebakannya bisa lebih besar dari sepuluh. Dia khawatir justeru hal lain yang mendasari ketiadaan sepupunya di sini.
...***...