Ours

Ours
Bab Sembilan Belas - I Miss You Too



Ayu seharusnya bersikap tak acuh, tetapi Hera tak tahu apapun mengenai masalahnya dengan Sore.


Alasan itu pula yang mendasarinya berusaha sekuat tenaga memberikan senyum terbaik untuk wanita itu. Meskipun sebetulnya dia tidak tahan ingin segera pergi. Namun seiring berjalannya waktu, perlahan nyali Ayu terkikis sedikit demi sedikit, ketika Sore menampilkan wajah paling mengerikan yang pernah Ayu lihat.


Apa Ayu pernah bilang kalau dirinya adalah seorang yang penakut? Terngiang di benaknya masa-masa ia baru mengenyam pendidikan di tingkat SMP. Satu hari ia  pernah mendengar sebuah pepatah yang bunyinya:


Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.


Ayu juga ingat ia bersitegang dengan Guru Bahasa Indonesianya waktu itu. Dia dengan teman seperbodohan berkoalisi soal "Kalau jatuhnya ngegelundung dari puncak Everest, gimana hayooo? Kan, naeknya gak pake tangga" melawan para jenius kelas dan sang Guru yang mengatakan jika itu PEPATAH, sampai urat lehernya menonjol. Ayu kukuh pada pendapatnya. Atau kalau harus jujur, ia tidak mau mengakui kekalahan. Dan malam ini, adalah momen ketika Ayu mau mengakui kekalahan itu.


"Yu."


"Huh?"


Hera terkekeh gemas, entah karena apa. Ayu terlalu tak punya nyali untuk memikirkan sesuatu saat ini. "Kamu gugup banget, Yu. Santai aja kali. Aku gak bakal gigit mendadak, kok."


Ayu tahu itu, Hera tak mungkin rabies. Tetapi bisakan wanita itu memilih kalimat yang lebih baik? Karena sungguh, yang barusan itu tak berefek besar pada balon penuh rasa canggung-salting-salger di atas kepalanya.


Menggaruk pipinya pelan. "Aku ...." Tidak tahu. Ayu tak tahu harus bicara apa lagi. Otaknya buntu dan ia terdiam seribu bahasa. Bisakan dia pulang saja?


"Mau pesen lagi?"


Gelengan kepala ribut yang Hera dapatkan.


"Ya udah kalo gak mau. Tapi mukanya dikalemin dikit dong. Kamu kayak orang yang nahan pipis."


Ayu menahan diri untuk tidak berlari pulang.


"Makan aja, Ra," tegur Sore berwarna jenuh pada Hera yang masih sibuk mempermasalahkan raut muka Ayu yang tak hentinya menegang.


"Iya. Tapi gimana aku bisa makan kalau Ayu salah tingkah begitu."


Jadi sejak tadi dia sudah ketahuan? Apa Hera juga tahu jika kini Ayu tak ubahnya bak obat nyamuk yang keberadaannya di persimpangan alias serba salah?


Ayu tak ingin jahat, namun harusnya Hera peka terhadap situasi. Baginya mungkin kehadiran Ayu seperti tidak apa-apa dan diindahkan. Tetapi bagi Sore, layaknya asap yang dihasilkan, adanya hanya sebatas penganggu. Dan Sorot tajam itu, menampilkan terlalu gamblang. Layaknya sangat teringin menyingkir obat nyamuk dan menggantinya dengan semprotan pembasmi serangga.


"Biarin aja. Gak usah menanggapi hal-hal yang gak penting," ucap Sore dengan tanpa peduli mengambil satu suapan ke mulutnya.


Meski terdengar menyepelekan, nyatanya Sore lah yang paling mengindahkan kehadiran Ayu. Hal ini terpancar jelas lewat tatapannya yang membuat Ayu duduk gelisah tak keruan sebagai tempat sorot mengintimidasi Sore menetap. Ia hampir sukses merinding sekarang, tatapan itu tak mau lepas darinya. Sampai rasa-rasanya jika mencongkel mata seseorang bukan merupakan tindakan penganiayaan, niscaya akan dilakukan Ayu tanpa pikir panjang.


Ayu bodoh, rutuknya dalam hati. Menyadari jika ia mendapatkan momen ini sebagai upah karena telah sukses mendalami peran sebagai "obat nyamuk-pengganggu" dengan mau-maunya terselip di acara kencan sekaligus dinner sepasang kekasih dan dibonusi tatapan yang seolah-olah ingin mendemonstrasikan gerakan menembus tempurung kepalanya jika bisa. Sampai ia terlupa kalau harus membuat kue untuk kejutan ulang tahun Irene.


Berakhir di sini bukanlah keinginannya sama sekali saat ia menyambut sapaan Hera dengan sedikit ramah. Sesak rasanya menghadapi Sore jika mengingat aksi tampar-menampar kemarin petang.


"Makan, Yu," ucap Hera setengah mengguman, makanan penuh di mulut berkapasitas kecilnya.


"A- ah, iya," jawab Ayu kikuk. Meraih garpu dan melilitnya dengan untaian spaghetti.


Tertanam di sana hingga berbelas menit kemudian, rela tak rela Ayu harus menampung banyak ekspresi terganggu dari satu-satunya lelaki di sana. Namun lebih dari itu, Ayu


mempertanyakan ada apa dengan hatinya yang kini meletup-letup penuh amarah hanya karena tanggapan dari Sore. Mungkin masih dendam soal kemarin, namun mengingat tumpukan dendam lainnya yang sudah tertimbun sejak dulu,  ia merasa tak semudah ini terpancing emosi ketika Sore memperlakukannya lebih dari sekadar respon ekspresi. Cacian sudah menjadi makanan sehari-harinya.


Mengira akan terus berada di sana entah sampai kapan, plot twist terjadi. Suara ponsel begitu mengageti Ayu, tetapi ia tersenyum cerah begitu melihat nama si penelpon. Seolah-olah tak pernah tegang sama sekali.


"Hm ...."


Suara ponsel Ayu tak terdengar keras, seolah segaja, pikir Sore di seberang meja. Sore sok tidak peduli, tapi senyum itu memaksanya untuk sedikit-sedikit mencuri lirik.


"I Miss You too."


"Too"-nya panjang sekali. Ayu tersenyum-senyum sendiri, tak jauh beda dengan remaja bodoh yang sedang dimabuk cinta -yang Sore hafal sekali semboyannya : dunia terasa milik berdua, yang lain hanya boneka Rusia. Betul-betul menggelikan. Tetapi sepertinya hal itu bukanlah rumor karenya Sore membuktikannya sendiri sekarang. Mereka seakan-akan tak ada ketika Ayu tertawa, mengabaikan senyum tergelitik Hera yang kontras dengan jilatan api di kepala Sore.


"Ah, Iya. Aku pulang kok. Tunggu, ya. Jangan kemana-mana. Eh, bawa gado-gado gak?"


Gado-gado itu membawa Sore pada prasangka. Menjelmakan satu sosok yang pernah terkait dengan makanan itu. Alisnya menukik emosi.


"Ahaha. Becanda. Tau kok, di bandara mana ada Abang yang jual gado-gado. 'Tar deh, biar aku yang beliin."


Bandara?


Pacaran? Sore merasakan keinginan yang besar untuk menjemput Rendi dengan sebilah samurai.


Kemudian yang ia dapati selanjutnya adalah Ayu yang rusuh beranjak, mematikan sambungan telefon dengan masih tersenyum tanpa sadar. Lalu ucapnya,


"Kak Hera, makasih buat ajakanannya. Tapi sori, aku gak bisa lama. Sukses ya, buat kencan kalian malam ini." dan terburu-buru memberondong pintu dengan diberi sedikit dorongan berupa teriakan,


"Good luck ya, Yu."


dari Hera yang mengacungkan jempol sok mengerti pada suasana padahal belum tentu yang ia pikirkan  itu benar- menurut Sore.


Sore rasa dadanya menggelegak sekaligus menyempit. Serta merta kasar beranjak, mengucapkan, "Gue mau ke toilet dulu." lalu melesat tanpa menoleh sedikit pun pada Hera yang jatuh menunduk sedih. 


"Kamu mau ke toilet ... atau mau ngejar Ayu?" Hera berbisik dalam suara lirih yang tak akan didengar siapapun selain dirinya sendiri.


...*...


Sore mengejar. Mencekal tangan Ayu yang berlari pelan di trotoar dan hendak menghentikan satu taksi. Perempuan itu terlalu fokus pada gumpalan kesenangan dalam dirinya hingga tak menyadari langkah Sore di belakangnya, hal ini Sore perkirakan dalam kecepatan nano sekon setelah Ayu berjengit dan hampir mejerit menerima perlakuan darinya.


"Saya ingin bicara," kata Sore, di antara napasnya yang lumayan kacau setelah mencari jalan ke luar lain dari restoran tanpa harus diketahui Hera.


Ayu mengerjap-erjap, setelah sadar ia menyudutkan alis marah, menyentakkan genggaman Sore di permukaan tangannya. "Saya rasa tidak ada pembicaraan yang harus kita bahas selain mengenai pekerjaan di jam kerja," jawab Ayu ketus.


Rupanya kemarahannya tak kunjung mereda, Sore mencoba paham atas tindakan Ayu yang menolaknya lagi dan lagi. Ia ingin mencoba menawar. "Sebentar saja."


"Maaf, Pak. Tapi saya harus pulang. Permisi."


Tak mau menyerah, Sore menahan Ayu lagi. Kini dengan memutar badan mungil itu dengan satu sentakan berkekuatan yang  mengagetkan Ayu, karena saat dibawa berbalik, tubuhnya nyaris oleng ke jalan. Namun sebelum Ayu menjerit histeris, Sore lebih sigap menahan dengan tumpuan tangan kokohnya.


"Maksud Bapak apa melakukan ini?!" Ayu separuh berteriak, kesal karena menurutnya Sore lagi-lagi berbuat semaunya. Ayu tersinggung, juga marah karena acapkali tak mampu melawan dan merasa terintimidasi-seperti tadi. Dada Ayu naik turun gusar, napasnya tertarik penuh kemurkaan. Ia kesal tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan egonya, kesal karena selama ini tak mampu menegaskan seberapa besar dendamnya, sampai akhirnya rasa hati ia abaikan, ia biarkan berlalu. Namun kali ini tak akan sama lagi. Mata menyalaknya menanjak, menantang Sore.


"Saya hanya ingin bicara," ucap Sore, berusaha tidak tersulut emosi. Tak ingin keadaan memburuk.


Ayu bertahan sejenak pada kegiatannya memandang Sore penuh tersinggung. Baru mau bicara lagi setelah dapat menekan emosinya sampai di bawah limit kembali. "Ada apa? Tolong katakan dengan ringkas karena saya sudah terlambat."


"Jangan berhubungan dengan Rendi."


Alis Ayu menukik tajam, nyaris bersatu. "Maksud Bapak?"


"Jangan pacaran dengan Rendi."


"Siapa yang- apa urusan Bapak? Saya dan Rendi bukan hal yang patut Bapak urusi," ujar Ayu dingin.


Cukup lama, sampai kalimat Sore berikutnya membuat Ayu melotot tercengang.


"Saya cinta sama kamu."


Praktis, satu-dua langkah mundur Ayu ambil. Ekspresi di wajahnya tak jua hilang. Seketika, batinnya tersapu banyak gelombang emosi, tercampur namun membentuk satu yang solid. Dahinya mengerut kesal. "Sebaiknya setelah ini Bapak jauhi saya."


Sore terdiam. Ayu menemukan binar kaget menggelantung di matanya walau mencoba dihalau oleh ekspresi yang tak banyak berubah. "Saya tidak bisa."


"Kenapa?"


"Saya tidak ingin menjauhi kamu."


"Bapak harus." Tekankan Ayu. "Bapak sudah punya calon tunangan dan apakah harus saya ingatkan kalau saya hanya Sekretaris Bapak?" Tanpa ingin mendengar apapun lagi, Ayu berlalu dengan langkah cepat, berharap bisa membentangkan jarak selebar mungkin secepatnya. Namun rupanya dia tak bisa kemana-mana, sebab kalimat yang ke luar dari mulut  Sore selanjutnya memaku Ayu di langkah ke enam.


"Kamu orang yang saya cintai sejak dulu. Sedari SMA."


Bagai kehilangan arah seketika, Ayu senantiasa terdiam dengan tatapan mengambang tidak percaya. Cukup lama sampai akhirnya dia berbalik dengan pandangan nanar. Hela napas berantakan masih mengisi, belum sanggup bicara. Pikirannya tiba-tiba terasa tercampur. Ayu baru bicara saat sadar tatapan Sore yang melemah, terlihat penuh kesenduan dan ... secercah pengharapan.


"Setelah ini ... Bapak harus benar-benar menjauhi saya."


Setengah berlari, separuh terseok Ayu meninggalkan Sore yang kepalanya menunduk sedikit oleh kecewa sembari menarik napas panjang.


Dia sudah memperkirakan ini. Ayu tak mungkin mau memaafkannya. Karena sekali lagi, dosanya terlalu besar.


...***...