
Besoknya, Sore tidak menyangka akan dapat pesan lainnya dari nomor misterius itu.
Tanpa ada maksud kejelasan apapun, Sore dapat sebuah lokasi yang dibagikan si pemilik nomor.
Karena sudah terlanjur penasaran, Sore tanpa pikir dua kali langsung membatalkan segala agendanya hari ini. Dia bergegas melewati tahap-tahap lantai kantornya, lantas langsung tancap gas menuju bandara.
Dengan pakaian formal yang masih membungkus tubuhnya, Sore memacu kendaraan. Di dalamnya, selagi menyetir dia memasang earphones bluetooth di telinga, menelpon si sekretaris untuk meng-handle pekerjaannya selama beberapa hari yang masih belum bisa ia tentukan. Lanjut ke nomor lainnya, Sore meminta salah satu orang suruhannya mengepak sekian helai pakaian dan satu atau dua hal yang dirasa akan dia perlukan, lalu mengantarkan ke tempat tujuannya. Terakhir, dia melakukan pemesanan tiket pesawat dengan jam terbang tercepat.
Sekitar tiga jam kemudian, tubuh jangkung Sore sampai di alamat yang dibagi pengirim misterius itu.
Sore tahu dia melakukan semua ini dengan waktu singkat, tanpa pertimbangan matang, juga belum tahu motif yang mendasari. Sore tahu dia impulsif saja melakukannya. Tetapi dia tidak akan membiarkan jika ini hanya sekadar jebakan atau cara bermain-main seseorang yang membencinya di luar sana. Sore tahu jika hal ini hanya alat untuk memancingnya agar datang ke tempat yang dialamatkan, namun tentu saja dia akan menyelidikinya. Sore tidak mungkin menelannya bulat-bulat begitu saja.
Dengan hanya membawa seratus tujuh puluh delapan senti tubuhnya, Sore baru sadar terhadap satu poin penting setelah dirinya kebingungan sendiri. Di kota seluas ini, apakah betul ada titik terang lain yang akan dia dapatkan?
Kaki jenjang Sore baru saja sampai di pelataran bandara, tatkala getar ponsel mengalihkan perhatiannya yang sempat berkeliling ke sekitar. Masih nomor misterius itu. Sore segera memeriksa apa yang dikirimkan.
Itu alamat lainnya.
Langsung Sore mengetik di kolom pencarian dan ternyata itu alamat keberadaan sebuah gereja. Sore berkerut heran. Untuk apa dia diminta ke gereja?
Tak ingin ambil pusing, Sore segera bergerak ke tepi jalan, menyetop satu taksi dan memberikan alamat yang ia tuju. Di dalam angkutan umum itu Sore bergerak dengan rencananya sendiri, ia tidak mau hanya mencari-cari tanpa tahu apa-apa. Mendial sebuah nomor, Sore bicara stelah sambungannya diterima pada dering ketiga.
"Gue ada nomer kontak yang mesti diketahui asalnya dari mana. Bentar lagi gue kirim."
Bahkan tanpa merasa perlu sahutan, Sore langsung mematikan telpon. Dia mengotak-atik ponselnya sebentar lalu tepat setelah memastikan nomor itu benar-benar terkirim pada Aldi, sang sopir taksi bersuara.
"Pak. Sudah sampai," katanya.
Sore melempar tatapan ke arah luar. Belum dia meneliti keadaan, suara orang paruh baya di belakang kursi kemudi kembali terdengar.
"Untuk ke gerejanya, Bapak masih harus berjalan lima ratus meter ke kanan."
Sore tidak bicara, hanya mengangguk sekenanya lalu memberikan selembar uang sebelum beranjak keluar.
Angin hangat siang hari langsung menyapa kedatangannya. Rambut hitam legam Sore tersapu, bergoyang-goyang terbawa arus pawana. Lelaki itu menatap apa yang tersaji di depannya. Bangunan-bangunan tua seperti situs sejarah, jalan-jalan konblok yang mengular dan bercabang ke segala arah dan pohon satu-satu yang menambah kesan asri. Sore mengambil langkah, menapak di salah satu jalan yang ia pilih.
Mengikuti arahan dari Bapak Sopir taksi, Sore berjalan ke arah kanan. Tidak seperti di kotanya, jalan besar di tempat ini tidak terlalu padat, bahkan di beberapa waktu bisa sangat lengang. Lalu di jalan kecil ini, banyak pasang kaki yang menapaki. Banyak dari mereka yang tampak sepetinya wisatawan, terlihat dari wajah semringah yang seakan-akan menyuarakan kobaran semangat untuk berkeiling-keliling.
Dari tempatnya berada, bangunan gereja tua telah terlihat. Salib yang berada di puncak menara itu terlalu mencolok. Sore bergegas menyongsong, namun sesuatu menahan langkahnya.
Di sana, di hamparan rumput hijau taman depan gereja, ada seorang anak kecil yang jadi pusat atensinya. Menariknya dengan kekuatan magis yang tak mampu ia tolak. Apalagi ketika anak itu tertawa lebar pada entah apa yang dikatakan wanita dewasa di depannya. Tatkala sepasang matanya beralih pada wanita itu, Sore tertegun. Seumur hidup, dia tidak pernah melihat Ayu tertawa selepas itu. Dalam benak, Sore bertanya-tanya, kenapa dulu dia tidak pernah sadar akan senyum cantik itu. Kenapa dulu dia malah menolaknya mentah-mentah.
Sore merasakan jantungnya semakin berdebar seiring pemahaman bahwa dia merindukan sosok itu. Senyum itu, tawa itu, wajah itu, mata indah itu, Sore merindukannya. Dia merindukan segala sesuatu yang ada pada wanita itu. Termasuk bocah kecil yang bersamanya.
Tetapi, apakah dia pantas merasakannya?
Sore mengembus napas. Tak lama, karena setelah itu dia harus segera mengernyit, mencoba menajamkan pandangan. Siapa lelaki yang sedang mendekat ke arah Ayu itu?
Sebentar.
Bukannya itu ... Dennias?
Iya, itu Dennias.
Sejak kapan dia dekat kembali dengan Ayu?
Tanpa bergerak sedikitpun, Sore memperhatikan mereka, terutama Dennias. Temannya dari zaman SMP itu tampak seperti sangat akrab dengan Ayu dan Irene. Dia bahkan tidak segan-segan mengusak rambut Ayu ataupun mencubit pipi Irene. Sehingga selama sejenak, Sore kebingungan pada kenyataan di depan matanya yang terlihat seperti satu keharmonisan keluarga kecil yang bahagia. Yang tanpa dia tahu, menyusupkan segumpal iri ke dalam hatinya.
Seolah itu belum cukup, tanpa disangka Sore terlempar pada satu pemikiran: Apa Ayu sedang menjalin kembali hubungannya dengan Dennias?
Sore tahu dia lancang, tetapi jauh dari lubuk hatinya, Sore tidak rela wanita yang dicintainya itu kembali ke pelukan Dennias. Tidak. Kali ini tidak boleh. Sore harus bergerak. Dia tidak ingin menjadi pecundang lagi. Cukup hanya dirinya yang dulu.
Agak lama, sampai akhirnya Dennis pergi ke arah kiri dan menyisakan Ayu bersama Irene saja.
Sore pikir, dia hanya akan memperhatikan interaksi ibu dan anak itu dari kejauhan, menonton suasana penyampaian afeksi atas satu sama lain tersebut. Tetapi nyatanya, ketika Ayu beranjak dengan wajah meringis dan tangan memegangi perut, Sore mungkin harus bersyukur atas tindakan tidak hati-hatinya mengikuti instruksi yang diberikan serangkaian nomor tidak jelas dan bisa saja berkonsekuensi besar.
Untuk semetara, Sore ingin mengabaikan fakta yang belum terkuak tentang alasan yang mendasari semua ini. Dia hanya ingin mengikuti nalurinya untuk mendekat kepada sosok kecil bernama Irene itu.
"Hai," mulainya dengan suara seramah mungkin.
Kepala bersurai panjang itu menoleh, posisinya yang tengah duduk di atas kain kotak-kotak khas piknik itu mengharuskannya mendongak, menatap sepasang mata Sore dengan kernyitan mengenali.
"Om siapa?" tanya dia setelah agak lama memperhatikan Sore.
Presensi yang jauh menjulang di pandangan Irene berjongkok guna menyetarakan tinggi. Berucap. "Saya Sore, teman Mama kamu."
"Wanita yang bersama kamu barusan."
"Oh, Bunda," kata dia mengerti.
Jadi dia memanggilnya Bunda. "Bunda kamu mau pergi kemana?"
"Bunda sakit perut katanya. Mau ke toilet sebentar."
Sore mengangguk. Bagus. Setidaknya ada cukup waktu untuk berbincang dengan anak ini. Sesaat Sore mengayunkan pandangan, sebelum kemudian tersangkut di salah satu toko dengan lonceng kecil dekat pintu. "Kamu mau es krim?"
Wajah Irene terlihat berbinar sebentar, lalu redup di detik selanjutnya. "Kata Bunda, gak boleh menerima pemberian sembarang orang. Apalagi orang yang gak dikenal."
"Tapi barusan Om sudah memperkenalkan diri dan bilang kalau Om temannya Bunda kamu."
Irene kaget. "Oh, iya ya."
Sore tersenyum. "Kalau gitu kamu mau?"
"Mau, Om!" Irene berseru. "Tapi gimana kalo Bunda ke sini tapi aku gak ada? Nanti Bunda panik."
Sore mengusap puncak kepala Irene sayang. "Kita perginya cuma sebentar. Tuh, ke toko yang itu. Deket, kan? Abis itu kita bawa es krimnya ke sini."
Irene mengangguk antusias.
"Irene mau beli apa lagi?"
"Eh, Om tau nama aku?" Irene heran. Soalnya dia ingat bahwa dirinya belum memberitahu perihal nama pada lelaki yang mengaku sebagai teman dari Bundanya ini.
"Tau. Kan Om temanya bunda kamu. Pasti Om tau."
"Hmmmm," Irene bergumam panjang, memperhatikan menu yang tertera. Tetapi kemudian di menggeleng. "Nggak deh Om. Irene mau es krim aja."
Selagi pesanan mereka belum siap dan untungnya tidak banyak orang yang mengantri di belakang mereka, Sore merendahkan badan, kembali mensejajarkan tubuhnya dengan anak perempuan itu. "Serius, Irene gak mau beli apapun lagi?" Mata Sore mengedar sesaat, berhenti di satu titik. "Irene mau yang itu?"
Irene mengikuti arah pandang Sore. Itu satu stand minuman yang menyediakan berbagai produk, berbahan utama cairan putih yang membuat Irene merinding seketika. Dia menghadap Sore kembali hanya untuk menggeleng lagi. "Nggak mau, Om. Irene gak boleh minum susu. Nanti sakit perut sama sesak napas. Bunda sama Dokter bilang, Irene alergi jadi gak boleh."
Sebetulnya Sore sengaja menawarkan untuk mengetes Irene. Dia sudah menyangka walau tidak terlalu yakin. Tetapi ternyata, Sore tetap saja dibuat tertegun. Anak ini tidak boleh minum susu. Sama sepertinya.
Tersenyum. "Ya sudah. Kita beli es krim aja."
Tepat setelah itu, seorang bersuara. "Mas. Pesanannya sudah siap."
Sore kembali ke posisi semula, melalukan transaksi dan pergi setelah mengucapkan terima kasih atas benda dingin memenuhi kedua tangan. Ketika telah lolos dari pintu, barulah dia memberikan salah satunya pada Irene. Es krim cokelat yang anak itu pilih. Lagi-lagi, sama seperti dirinya.
Dengan menggandeng erat tangan mungil Irene, Sore melangkah kembali ke tempat dimana gadis kecil itu berpiknik.
"Hm? Bunda belum balik lagi?" Irene lumayan bingung. Pikirnya, Bundanya itu kenapa lama sekali? Apa sakit perutnya parah?
"Karena Bunda kamu belum balik lagi, biar Om yang temani kamu di sini sampai Bundamu datang."
Sibuk menyuap es krim di tangannya, Irene hanya mengangguk saja. Dia tersenyum senang, merasakan sensasi benda manis itu yang langsung meleleh di mulut.
"Enak gak?" Sore bertanya, memakan es krimnya dengan lagak tidak minat. Ia sebetulnya tidak terlalu menginginkan benda itu.
Irene tersenyum lebar, memperlihatkan lubang kecil yang tercetak di kedua pipinya. "Enak, Om. Hehe."
"Kalau gitu, habiskan ya?"
Irene menyanggupi dengan anggukan antusias.
Sekitar lima menit setelah itu, es krim Irene tandas sementara miliknya telah mencair. Sore menaruh benda itu di dekat kakinya yang terlipat bersila. Lalu saat pandanganya menyapu sekeliling, dia menangkap keberadaan Ayu di beberapa puluh meter jauhnya dan sedang berkali-kali meminta maaf pada seseorang yang ditabraknya. Perempuan itu juga memunguti barang-barang si korban yang berserakan di bawah. Sore menatap Irene, tersenyum seraya berpamitan. "Om pergi dulu ya."
"Kok pergi, Om? Kan belum ketemu Bunda."
"Om mendadak ada urusan. Nanti lagi bisa ketemu Bunda kamu. Gak papa kan kamu Om tinggal sendiri? Mungkin sebentar lagi Bundamu balik."
Tak ada hal lain yang mampu Irene lakukan selain mengangguk. "Ya udah. Hati-hati di jalan ya, Om. Makasih es krimnya." Irene tersenyum lebar.
"Iya."
Dan dengan itu, Sore pergi. Setelah sebelumnya mengambil sendok es krim bekas Irene tanpa diketahui.
...***...