Ours

Ours
Bab Dua Puluh Lima - Sunrise



Ayu sedang sibuk memindahkan sesuatu di tangannya antara dari meja lampu duduk, meja dekat jendela atau meja rias dan nakas, terus-menerus mengulang pola tersebut dengan langkah riang penuh senyum semringah.


Dia sebetulnya tidak tahu kenapa melakukan hal itu. Yang jelas, rasanya sangat senang bisa berlibur meskipun tadi hampir tertinggal pesawat. Ayu bahkan tak keberatan ketika sejak tadi dia merapikan kamar yang akan jadi huniannya selama dua hari ke depan, termasuk ketika kini dia mengelilingi kamar yang ternyata hanya karena bingung menaruh jam weker. Benda itu diputuskan agar duduk di atas meja kecil dekat lampu duduk- yang sebetulnya adalah tempat semula, Ayu baru setuju kalau memang hanya di sana tempat yang cocok untuk meletakkan benda itu.


Masih dengan wajah ceria ketika merogoh saku celana, Ayu memutus getaran dari poselnya dengan sapaan ceria yang sampai menarik bibir lawan bicaranya membentuk lengkung senyum. "Halo, Rendiiiiii ...."


Ayu mendengar pula kekehan dari seberang. Ia ikut terkikik. Rasanya konyol sekali, seperti baru pertama kali merasakan liburan setelah seumur hidup.


"Lo di mana?"


"Di kamar." Ayu membanting dirinya ke kasur. Dadanya digulung oleh kebahagiaan yang menerbangkan jiwanya ke langit.


"Dah mandi belom?"


"Udah."


Padahal kenyataan yang ada berupa antonim dari ucapannya. Pertanyaan dari Rendi barusan telah mengembalikan Ayu ke dunia. Dia mengendap-endap, berupaya meminimalisir suara yang akan dihasilkan langkahnya menuju bathrobe yang menggantung dekat pintu. Rendi tidak boleh sampai tahu kalau malam-malam begini dia belum mandi atau nantinya dia akan diledek-


"Nah lho! Belum mandi, kan!"


Tiba-tiba saja suara di speaker ponsel Ayu terasa begitu nyata. Seolah-olah Rendi bisa dengan sekejap berada di kamarnya-


"Pantes baunya sampe gedor-gedor pintu kamar gue dan narik gue ke sini."


-atau memang lelaki itu ada di sini.


Ayu berbalik dan praktis berteriak, ponselnya meluncur bebas membentur lantai. Wajah Rendi berpenampakan datar dengan senyum lebar yang memproyeksikan senyum kucing Chesire di kepala Ayu. Mulanya begitu, tapi kandas seketika saat Rendi berubah ekspresi menjadi kaget.


"Astaga! Hape mahal!" Dia segera menyusul ponsel Ayu di lantai, memeriksa dan membolak-balik dengan khawatir. Barulah Rendi mengembuskan napas lega ketika ponsel itu tidak memiliki cedera.


Ayu berseru gemas. "Harus banget ya ngagetin?!"


Rendi menjawab sekenanya. "Gue nggak ngagetin, lo-nya aja yang kagetan."


Mendadak, Ayu sudah berada di tahap ingin melempar Rendi dari jendela. Karena sadar mustahil untuk melakukannya, dia memilih menenangkan diri dengan tenggelam dalam bathub- tentunya setelah menutup pintu dengan bantingan keras yang membuat Rendi berjengit.


Ayu kira Rendi sudah pergi setelah ditinggal selama dua puluh menit, tapi ketukan di pintu mematahkan sangkaan itu.


"Yu! Cepetan! Gue mau numpang buang air!"


Tentu saja Ayu balas berteriak. "Di kamar lo aja sana! Gue belum beres!"


"Kamar gue sepuluh pintu dari sini- aish! Cepet! Udah nongol ini astaga!" Setelah kalimat itu, dengan mudah ketukan bertransformasi jadi gedoran brutal.


Ayu mendecak kesal karena kegiatannya terinterupsi. Ia mengambil bathrobe dengan kasar ketika gelegar suara Rendi menyambarnya lagi.


"Ya Tuhaaan! Lo gosok badan pake sikat gigi apa gimana?! Lama banget! Ini udah nyaris gak ketahan!"


Ayu membuka pintu kesal, menyemburkan sisa omelannya di wajah Rendi persis. " ... sih! Gue belum selesai mandi juga!"


"Bodo amat! Daripada gue buang kotoran di kamar lo! Awas-awas, minggir!" kata Rendi sensi sambil menerobos juga menyenggol pundak Ayu buru-buru, pintu ditutup sadis.


Ayu sampai berjengit, lalu meniru gaya Rendi yang menggedor pintu, memperingatkan. "Awas kalo gak dibanjur yang bersih! Gue tenggelemein wajah ke lo toilet! Biar keaduk-aduk sama punya lo sendiri!"


Tidak ada sahutan untuk itu, Ayu mengeloyor tak peduli. Dia memang tidak membutuhkan jawaban ketika Rendi sedang ngegas di dalam sana. Khawatir dia akan muntah.


"Lo kok, bisa masuk ke kamar ini?" Inilah yang Ayu tanyakan saat Rendi baru lepas dari kusen pintu dengan desahan leganya.


Rendi tak segera menyahut, dia lebih dulu membuat sisa kasur Ayu semakin berantakan, kemudian menambah kelakuannya dengan berguling sampai tengkurap, setengah wajahnya terbenam di bantal. "Gue yang punya hotel ini."


Ayu mengangguk-angguk oleh jawaban sederhana itu. Dia seharusnya sudah bisa menebak hal ini sedari awal. Bodohnya dia masih bertanya. Padahal jelas sekali dari sikap hormat dan tunduk seisi pegawai hotel ini.


"Yu, sini deh." Kata Rendi tiba-tiba setelah Ayu selesai dengan hairdrayer.


"Paan?"


"Duduk sini."


Seperti anjing pada Tuannya, Ayu menurut, duduk di sisi yang telah diklaim oleh tepukan Rendi sebagai tempat yang harus diisinya.


Ayu mengulang tanyanya, dengan modifikasi agar jadi lebih patut. "Ada apa?"


Dia penasaran karena Rendi sudah merubah suasana di intonasi suaranya. Dari penuh jahil menjadi serius.


Rendi memiringkan badan, menatap Ayu yang duduk bersimpuh dan bermata kilat penasaran. Sejenak, dia terpana dan lupa apa yang akan dikatakan. Sampai Ayu merendahkan dirinya, memangku dagu menggunakan kedua telapak tangan dan mengarahkan wajahnya yang sudah dekat dengan Rendi, semakin menuju wajah lelaki itu sembari berkata, "Ada apa, Rendi?" dengan suara rendah yang entah kenapa mendatangkan makna lain di pikiran Rendi.


Ayu cemberut, mengusap dahinya seakan-akan apa yang Rendi lakukan sangat sakit terasa. "Ya abisnya. Lo malah dieeeem aja liatin gue. Kan gue penasaran."


Kalimat ini terdengar seperti sebuah rajukan ketika Ayu mengatakannya sambil memilih ujung kaus longgar di tubuhnya dengan kepala yang perlahan menunduk. Astaga. Rendi bisa saja kehilangan kendali jika begini. Apalagi mereka berada di ranjang yang sama. Kan, Rendi juga laki-laki yang keimanannya bisa goyah.


Apa?


Apa?


Kalian pikir apa??? Rendi hanya berasa ingin menerkam Ayu dan mengunyel-unyel pipi menggembungnya yang terlihat menggemaskan.


"Udah jam sebelas." Rendi bangkit. "Mending lo cepet tidur. Besok kita jalan-jalan ke pantai."


Dia seperti sangat tahu jika pantai sangat menjatuhcintakan Ayu. Tidak aneh lagi jika sekarang mata perempuan itu penuh binaran senang yang meledak-ledak cantik seperti kembang api di langit gelap. "Ada pantai di sekitar sini?"


Sebut saja itu refleks ketika Ayu memangkas jarak agar lebih dekat dengan Rendi, wajahnya menunggu-nunggu suatu pembenaran dengan penuh minat.


Jarak ini bisa membuat Rendi deg-degan tak keruan. Dia berdeham pelan sebelum menjawab di tengah usahanya agar terdengar kalem. "Nggak bisa dibilang sekitar sini banget sih. Jaraknya agak jauh. Dua puluh menit pake mobil."


Ayu tak mau memberi ruang agar Rendi meragu oleh kenyataan jarak yang cukup jauh itu, jadi dia berujar semangat. Bicara sambil mengembangkan antusias seperti anak kecil. "Ih, enggak jauh kok! Besok kita ke sana ya, ya, ya, ya, yaaaaaaa???"


Sekarang Ayu sudah menggelayut di lengan Rendi, dengan kepala memiring dan senyum terselubung bujuk rayu.


Rendi mana bisa menolak jika begitu. "Oke. Besok kita ke sana. Makanya lo tidur."


Ayu sigap mengempas tangan Rendi dari pelukannya dan menghormat. Katanya, "Siap!"


Rendi tadinya mau memprotes kelakuan manis Ayu yang hanya muncul dalam rangka memperlancar keinginannya untuk dikabul, tapi tepat sebelum mulutnya mengemukakan, Rendi melihat Ayu menguap dan menggosok sebelah matanya dengan tangan. Jadinya Rendi berbelok menuju kasihan. Ia mengusap puncak kepala Ayu seraya bilang, "Tidur. Besok harus udah siap subuh. Mau liat sunrise, gak?"


"Mau." Ayu tak seantusias tadi saat berkata begitu. Dia sudah terlanjur mengantuk. Ucapan Rendi barusan saja sepertinya didengar setengah sadar olehnya.


"Ya udah gue pergi."


Rendi menutup malam ini dengan kalimat itu. Disambut oleh "Hmm" tak bertenaga dari Ayu karena dia sudah hampir hilang ditelan mimpi, sampai lima detik berikutnya, ia benar-benar telah tak sadarkan diri.


...*...


Ayu kelelahan setalah tadi berlarian di pantai. Menyeret kaki kesana-kemari sambil tertawa tidak jelas- menurut Rendi, soalnya barusan saja ketika ada seekor Kelomang yang lepas dari cangkangnya, Ayu tertawakan kejadian itu selama lima menit sampai lemas.


Rendi membiarkan Ayu berbuat sesukanya. Dia lebih senang duduk di dekat tenda penjual sambil mengawasi. Dan baru bergabung saat Ayu nyaris menggelepar di pantai. Perempuan itu aktif sekali hari ini, persis balita yang sedang berada di fase penasaran akan segala hal.


"Udah lari-lariannya?" Rendi mengatakan kalimat ini selagi dia meletakkan sebutir kelapa muda yang ia bawa di dekat paha Ayu.


"Udah," sambut Ayu. Yang meski ngos-ngosan tetapi terlihat puas. Kemudian menambahi, "Makasih." Mengambil satu sedot lalu mendesah nikmat sekali.


Rendi mengangguk pelan. Dia mengangkat topik lain, mengubah arah pembicaraan. "Jadi Irene dibawa Mama lo balik ke Jepang?"


Jawabannya sudah sangat jelas semenjak ia tak menemukan gadis kecil itu di rumah Ayu kemarin. Hanya saja dengan kalimat ini sebagai permulanaan, dia ingin memastikan kapan Irene kembali. Dia sudah tidak bertemu dengan pecinta gado-gado nomer wahid itu sejak kepergiannya ke negeri ginseng beberapa waktu lalu.


Ayu hanya mengangguk-angguk dengan sedotan tak lepas dari mulut.


"Kapan baliknya?"


"Kalo udah masuk sekolah."


"Seminggu lagi dong?"


"He'em." Menoleh, menatap Rendi di sampingnya. "Emang kenapa sih dari kemaren nanyain Irene melulu?"


"Kangen aja. Udah lama gak ketemu," kata Rendi dengan mudahnya. "Emang lo gak kangen, gitu?"


"Kangen," ungkap Ayu jujur. "Setelah seminggu di Jepang, pulang cuma dua hari, terus seminggu kedepan baru bisa ketemu lagi. Tapi Mama bolak-balik ke Indonesia hampir tiap bulan karena kangen banget katanya." Mengangkat bahu, agak heran dengan apa yang akan ia utarakan setelahnya. "Mama terus terang bilang bakal ambil Irene lagi kalau urusan bisnisnya yang berantakan kelar. Dia bilangnya titip, padahal Irene kan-"


"Kalian?"


Nada terkejut itu serta merta menarik dua kepala menoleh, mendapati dua lainnya yang berdiri dekat di sebelah kanan. Ayu tercekat, itu Hera dan Sore.


"Kok, bisa kebetulan banget ketemu di sini?"


Ayu bertanya-tanya apa dunia memang sesempit itu hingga bagian yang ia jamah selalu dijejaki pasangan itu pula.


...***...