
Hari ini, seminggu sudah Ayu tak masuk kerja. Selepas kejadian tak mengenakkan di pantai tempo hari, Sore tak pernah melihat lagi batang hidung Sekretarisnya itu. Ia berprasangka baik mulanya. Mungkin Ayu sedang menghindarinya karena bagaimanapun, pertemuan terakhir mereka sama sekali tidak bagus. Sore terlalu tersulut api cemburu waktu itu. Dia cukup kalut.
Tetapi memasuki satu minggu ini ketiadaan Ayu tanpa adanya kabar atau keterangan dalam bentuk apapun, biar mencoba menolak, tetap saja Sore terhampiri cemas, setra curiga. Bagaimana kalau Ayu mendadak menghilang lagi seperti dulu? Yang tahu-tahu kabarnya disampaikan seminggu sebelum olimpiade dan Ayu sebagai salah satu perwakilan sekolah terpaksa "menghilang" karena satu dan lain hal.
Mungkin kala itu Sore merasa legawa, tetapi dia yang sekarang tentu akan merasa kecewa. Teramat kecewa.
"Selamat pagi, Pak."
Lelaki itu bahkan terlalu terlarut dalam pikirannya sendiri sampai-sampai tak menghiraukan sapaan serempak dari dua orang karyawati yang baru saja berpapasan dengannya. Dia tetap berjalan lurus, melewatkan bisik-bisik yang muncul gara-gara sikapnya.
Sore bahkan tanpa sadar telah membanting pintu ketika melihat dari pintu transparan di samping ruangannya, kursi itu masih kosong seperti hari-hari yang lalu.
Mendesah lelah, berderap menuju meja kerjanya, kemudian tertahan di bagian sudutnya. Sesuatu yang ganjil baru tersadari; sebuah amplop putih tergeletak di dekat tumpukan map. Praktis ia mengernyit aneh sebab tak merasa benda itu adalah miliknya. Enggan penasaran, dia membawa benda itu mendekat.
Surat pengunduran diri? batin Sore. Tiap kata yang tertera pada secarik kertas di dalamnya ia telusuri selama beberapa lama, yang kemudian dengan cepat berubah jadi gumpalan yang berakhir di tempat sampah sisi meja.
Jadi, seminggu tanpa berita ini hanyalah ancang-ancang untuk pengunduran diri?
Dengan kemarahan di menggelegak, Sore mendatangi salah satu divisi. Langkahnya terarah secara mantap pada satu kubikel. Penghuninya terlihat sangat terkejut atas kedatangannya yang tiba-tiba. Apalagi suaranya yang dingin berucap dengan nada tak mau dibantah. "Kamu ke ruangan saya. Sekarang."
Indah sempat linglung hingga celingukan tak mengerti, namun akhirnya ia terbirit-birit mengikuti jejak Sore yang sudah lebih dulu berlalu.
"Siapa yang menaruh ini di meja saya?" Tembak Sore langsung, melakukan gestur menunjuk dengan arahan mata.
Amplop laknat itu! Indah dibuat gelagapan karenanya. "I- itu ... Ayu, Pak."
Sore terlihat mengangguk sekilas. Bukan menandakan paham, tetapi lebih seperti terpaksa menyetujui satu kenyataan yang bertentangan dengannya.
Tetapi terlepas dari semua itu, tolong, Indah kebingungan sekarang. Yuna katanya? Perasaan dia berkata Ayu deh. "Ayu, Pak."
"Mereka orang yang sama."
Dahi Indah makin berlipat bingung. Ada apa dengan atasannya ini? Pagi-pagi sudah bertingkah aneh. Tidak cukupkah ia dibuat gondok karena kepergian Ayu yang terlalu terburu-buru hingga dia tak sempat menanyakan alasan di balik tindakan wanita berperawakan mungil itu.
"Kamu tahu alamat rumahnya?"
Berani sekali ketika Indah mencengir. "Hehe. Enggak, Pak. Saya belum pernah bertamu ke rumahnya."
"Kalau nomer hape?"
"Hng, enggak juga."
Alis Sore naik agak tinggi. "Kamu berteman dengan dia selama delapan bulan tapi gak punya kontaknya?"
Hati nurani Indah menambahkan dengan dramatis, pertemanan macam apa itu?
"Saya juga heran, Pak," sahutnya polos.
Dan kelihatannya hal itu bisa sangat membuat Sang Direktur stres. Terbukti dari tangannya yang langsung memijat kening. "Ya sudah. Kamu boleh pergi sekarang."
"Baik, Pak."
Indah menyempatkan untuk memberi anggukan hormat sebelum benar-benar ke luar dari ruangan bersuhu dingin tersebut. Begitu pintu tertutup rapat, Indah langsung terheran-heran. "Kok bisa ya, gue gak punya nomer hapenya Ayu?"
Padahal nomer sepatu rekannya itu dia tahu. Sedangkan kontak ponsel? Dia tidak tahu? Yang benar saja! Mendadak Indah keki sendiri.
...*...
Dari balik kaca depan mobilnya, Sore memantau sebuah rumah sederhana berpagar hitam rendah itu.
Oke. Dia sudah seperti penguntit saja setelah berjam-jam melakukan hal itu tanpa lelah.
"Apa sih yang gue lakuin di sini?" kata Sore lelah pada sikapnya yang lagi-lagi seakan tak terkendali dan bergerak semaunya sendiri.
Lembayung kala ini telah bertakhta di langit sana, tetapi bangunan itu tampak tak berciri-ciri memiliki kehidupan di dalamnya. Hal inilah yang tidak bisa menampik bahwa Sore sangat berharap. Asalkan melihat Ayu, dia akan melajukan mobil dan pulang. Dia hanya perlu memastikan kalau Ayu masih tinggal di tempat yang mudah dijangkau olehnya.
Sore menarik napas sebagai awalan untuk membanting pintu mobil, memaksa agar tetap percaya diri memasuki pekarangan dengan luas tak seberapa itu. Butuh keberanian besar sampai akhirnya dia mengetuk pintu.
"Permisi," katanya, sekali saja. Tadinya inginnya begitu, tetapi yang terjadi adalah dia menyerukan kata itu berkali-kali. Sekarang dia persis seperti kurir paket.
Beruntung, seorang tetangga muncul dan jadi penyelamat gengsinya agar tak jatuh sepenuhnya.
"Mas ganteng tipe-tipe CEO dingin! Tamunya Ayu?"
Sore agak terganggu dengan titel itu, tetapi dia memberikan senyum terbaiknya. "Iya, Bu. Orangnya ada?"
Bu Luluk mesem-mesem ditahan. Gantengnya poool! "Oalah. Ayu pergi tadi pagi. Terus belum balik sampai sekarang."
Belum pulang sampai nyaris larut begini? Sore menipiskan bibir kecewa, namun berusaha agar tak terlalu kentara. "Kalau begitu saya pamit dulu, Bu. Permisi."
Bu Luluk tersenyum lagi. "Iya. Hati-hati di jalan, yaaa." Seperti kurang, Bu Luluk turut melambaikan tangan sok manis.
"Di mana perempuan itu sekarang?" tanya Sore pada diri sendiri sebelum masuk ke dalam mobil dan segera membawanya guna membelah jalanan.
...*...
Pagi-pagi, hidung Ayu sudah semi memerah. Sekuat tenaga dia menahan tangis. Mengingat tidak mungkin dia menangis di sepanjang trotoar, selamat di halte juga di dalam bus. Belum lagi rumah Rendi jaraknya agak memakan waktu, dihitung dari halte pemberhentiannya.
Ayu berlari, terengah-engah begitu sampai di sebuah gerbang mewah yang berdiri kokoh. "Pak!"
Memenuhi panggilan itu, seorang laki-laki berumur empat puluhan ke luar dari pos satpam. "Mbak Ayu?"
"Tolong buka gerbangnya, Pak."
"Tapi Mbak ada kepentingan apa kesini pagi-pagi?"
"Emangnya kepentingan apa lagi yang jadi alasan saya ke sini?" sambut Ayu tak sabaran. Apakan sesi tanya jawab ini penting? Memangnya dia ini orang tak dikenal? Demi Tuhan, dia bahkan sampai lupa letak toilet di rumahnya sendiri saking intensitas berkeliaran di rumah ini lebih sering daripada di tempatnya sendiri.
"Tapi Pak Rendi tidak-"
"Ugh! Jangan bilang kalo manusia berbatang itu gak bisa ditemuin siapapun! Saya udah capek-capek datang ke sini DAN SAYA BAHKAN BELUM SARAPAN!"
Pak satpam mengerjap ngeri. Tidak menyangka wanita mungil bisa sangat mengintimidasi seperti ini. "Tapi, Pak Rendi-"
"Pak!" Ayu menghentakkan sebelah kakinya kesal. "Buka gerbangnya saya bilang!"
"Siap, Mbak!" Dengan salah tingkah ia membuka gerbang. Ayu yang sudah tidak tahan langsung masuk saja ketika telah terbuka celah yang cukup untuk tubuhnya menyelinap.
Ayu berlari. Hampir mengumpat saat baru sadar kalau jarak dari gerbang menuju pintu utama bisa sejauh ini.
"REN! RENDI!" Langsung dia menggunakan intonasi yang tidak tanggung-tanggung bahkan sampai ke pendengaran Pak Satpam. Lelaki itu kaget, tak menyangka manusia kecil begitu punya kapasitas suara menggelegar.
Padahal sebenarnya daripada teriak-teriak seperti ingin melabrak begitu, Ayu lebih baik mendengarkan apa yang ingin Pak Satpam... Sebentar.
Sejenak, Pak Satpam mengatur napas. "Mbak. Jangan marah-marah. Semuanya bisa diselesaikan baik-baik."
Ayu mengernyit. "Maksud Bapak apa?"
Setelah pertanyaan heran tersebut, mereka saling melempar argumen. Sampai satu titik, Pak Satpam merasa putus asa. "Pak Rendi sedang tidak ada di rumah. Sudah berangkat tadi pagi."
Ayu tercengang. "Kenapa gak bilang dari tadi, sih?!"
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Ayu tancap gas dari sana.
Di atas perjuangannya berlari sekuat tenaga, Ayu berusaha melakukan sambungan telepon pada Rendi, namun nahas, ponsel lelaki itu tidak aktif. Tolong jangan bilang kalau Rendi sudah berangkat.
"Rendi, please. Tunggu gue." Ayu tak ingin memperkirakan bagaimana keadaan mata dan hidungnya karena sekarang mulai terasa panas. Rendi, gue mohon. Jangan tinggalin gue. Setidaknya enggak tanpa salam perpisahan.
...*...
"Bagaimanapun, lo harus bahagia."
Rendi sadar betul, kalau kebahagiaan itu tak akan bisa Ayu raih jika ia bertahan di sampingnya. Rendi hanya akan menghalangi, karena sedari awal, bukan dia yang berhak membahagiakan wanita itu.
Rendi hanya mengulang tingkah pengecut yang ia lakukan dulu; menipu dirinya sendiri. Berpura-pura tidak tahu apa-apa padahal dia sudah tahu. Apalagi malam itu, ketika percakapan pertama antara dirinya dengan Krystal menegaskan sesuatu yang telah jelas itu.
Tetapi kali ini, ia ingin mengalah. Ia ingin pergi dengan gagah. Dengan hati lapang.
"Kakak harus pergi dari sini. Mungkin agak lama. Mungkin, beberapa tahun Kakak gak bisa kunjungin kamu. Kamu mau, kan bersabar nungguin sampai Kakak balik?"
Gadis yang sedang asik bermain boneka kelinci di pelukannya menoleh, lalu terbit sebuah senyum manis yang dilanjut oleh derai tawa.
Hati Rendi terenyuh, sekaligus terasa seakan-akan diremas perlahan. Itu adalah tawa pertama setelah bertahun-tahun lamanya.
Tersenyum teduh, mengusap puncak kepala seseorang di hadapannya. "Maaf, gak bisa jagain kamu sampe sembuh. Tapi Kakak janji, bakal pantau kamu terus. Kamu jangan khawatir. Kakak juga janji, kalau kamu sembuh, Kakak bakal bawa kamu ke pantai."
Tidak ada tawa kali ini. Namun berupa celotehan tak jelas dari seorang gadis yang mengajak mainannya bicara.
"Kamu tau, Kakak belakangan ini suka main ke pantai kesukaan kita. Sama teman .... Dia juga suka pantai, sama kayak kamu. Makanya Kakak selalu merasa dia ngingetin Kakak sama kamu banget. Sikap kalian sama persis. Hobi teriak-teriak di depan muka Kakak."
Rendi tahu dia akan terus bicara sendiri. Tidak apa-apa. Masih banyak unek-unek yang belum ia curhatkan.
"Kakak suka sama orang itu, tapi sayangnya dia enggak suka Kakak." Sunyi menetap sementara. Rendi menarik napas, mencoba melegakan dadanya yang terasa seolah-olah menyempit. "Kakak bodoh banget, kan? Memperjuangkan seseorang yang udah jelas-jelas milik orang lain." Kemudian tertawa getir, tersedak ludahnya sendiri.
Dunia memang penuh kejutan.
"Kakak pengen peluk kamu, tapi gak benani. Gak bisa jamin kalau kamu gak bakal ngamuk lagi." Bibirnya membentuk satu garis beralaskan kekecewaan. "Tapi boleh, kan Kakak temenin kamu di sini sampai sore? Kakak pengen ngabisin waktu sama kamu sebelum berpisah dalam waktu cukup lama. Kakak pasti bakal kangen banget sama kamu. Ugh. Sekarang aja udah kangen. Pengen peluk kayak dulu sebelum kamu sakit."
Rendi mendengar pintu digeser. Dari sana menyeruak seorang berpakaian perawat. Rendi disapa dengan senyum, yang dibalas dengan yang serupa. Dia sudah akrab dengan wanita yang telah menjaga adiknya selamat dua tahu terakhir ini.
"Kirain udah lupa sama Sesha. Padahal gue ada niat buat adopsi jadi adik," selorohnya sambil menaruh nampan di nakas berbahan metal yang menempel ke tembok.
Memandangi punggung si perawat, Rendi mengancam dengan serius. "Jangan berani-beraninya ngelakuin itu. Atau kalo lo maksa, langkahin dulu mayat gue."
Wanita ini berbalik, membawa wajah meremehkan untuk diperlihatkan pada Rendi yang menukik alis. "Oya? Gampang banget dong kalo gitu. Di tempat ini banyak psikotropika yang sekali cussss, bisa bikin lu koid."
Rendi tertawa. "Sialan lo, Ra."
Wanita yang dipanggil "Ra" itu ikut tertawa, tetapi lebih pelan. "Sekarang waktunya Sesha makan."
"Sini. Biar gue yang suapin."
Ra mengangkat sebelah alis. "Yakin bisa?"
"Bisa."
"Jangan deh. Nanti malah piringnya dibanting lagi kayak waktu itu," cegahnya agak skeptis.
"Nggak. Gue jamin," ucap Rendi dengan nada meyakinkan.
Ra menyerahkan apa yang Rendi minta. Dia lalu memasukkan kedua telapak tangannya ke saku baju. "Tapi tetep gue pantau di sini."
"Iya, iyaaa," jengah Rendi. Dia sudah tidak sabar.
Sebelum kegiatan menyuapi itu dimulai, Rendi sempat-sempatnya berkata dengan nada sangat-sangat mempermasalahkan. "Cuma bubur? Ck. Gue bayar mahal-mahal, ternyata adek gue dikasihnya cuma bubur nasi."
"Kenapa? Ngerasa rugi?" kata Ra dengan suara mencela. "Lo bisa kok nuntut. Itupun kalo lo gak malu. Lagian cuma itu yang mau Sesha makan akhir-akhir ini."
Tanpa mempedulikan tanggapan nyinyir itu, Rendi bicara antusias pada adiknya. "Sesha suka bubur, ya sekarang? Oke deh, ditambahin janjinya sama Kakak. Nanti kalo kamu udah sehat, Kakak bakal sering-sering beliin kamu bubur ayam Mang Otis. Langganannya Kakak. Bubur di sana gak ada duanya."
Sesha tidak biasanya seperti ini. Gadis itu luluh dengan mudah. Tiap suapan yang Rendi berikan diterima, meskipun adakalanya dia harus pandai membujuk.
Jika seperti ini, Rendi merasa kembali ke masa lalu. Saat Sesha masih baik-baik saja. Kembali pada adik kecil yang selalu merajuk dan baru akan memaafkan kalau makannya disuapi. Diam-diam Rendi menarik senyum. Dia sangat bersyukur atas perkembangan adik kesayangannya itu. Sekarang, hatinya yang hancur seperti sedang direkatkan ulang oleh kelopak-kelopak bunga yang merekah. Apalagi ketika Ra berkabar kalau Sesha tidak pernah lagi mengamuk. Tidak perlu ditenangkan dengan suntikan yang bahkan Rendi tak sanggup untuk tahu cairan apa yang dimasukkan ke dalam nadi adiknya. Sesha tidak perlu melemas total setelah disuntik lagi.
"Sesha udah hampir sebulanan ini menunjukkan perkembangan. Dia udah gak perlu bantuan obat lagi. Mungkin dengan perawatan lebih baik dan bersabar sedikit lebih lama, Sesha bisa ke luar dari sini dan menjalani terapi."
Apa yang lebih baik dari ini? Rendi amat sangat bahagia. Rasanya untuk hari ini, Rendi sudah merasa cukup dengan kebahagiaan yang ia dapatkan. Rendi tidak ingin maruk. Adiknya membaik, itu yang terpenting. "Semoga aja, ya. Gue juga berharap lo bisa bersabar ngurusin dia sampai betul-betul sembuh. Cuma lo yang gue percaya buat ngurusin dia. Sesha juga harus tau siapa yang selama ini jagain dia tanpa putus asa meski pernah sekali kena banting gelas dan kepalanya bocor."
Ra terkekeh. "Gue gak tau harus tersanjung atau enggak. Tapi yah ... gue anggap itu sebagai pujian."
"Emang pujian kali."
Ra berdecak, tetapi tak bicara lagi. Dia lebih memilih membereskan bekas makan Sesha dan membawanya ke luar namun tak lama, karena dalam beberapa sekon selanjutnya pintu digeser kembali oleh wanita itu.
Rendi baru mau bertanya apakah ada yang tertinggal saat Ra lebih dulu bicara.
"Ren. Ada yang nungguin lo."
"Siapa?"
"Meneketehe."
"Cewek? Cowok?"
"Cewek."
"Ciri-cirinya?"
"Ucrit, cebol, pendek. Tapi putihnya kayak mayat, cantik, idungnya mancung- eh! Lo liat aja ndiri napa! Gue mau naro ini!"
Rendi terkekeh senang telah sukses mempermainkan temannya itu. Setelah puas, dia ke luar ruangan. Menemui seseorang yang katanya menunggunya.
Dan orang itu adalah Ayu. Rendi terdiam, melihat hidung bangir yang telah memerah itu.
...***...