
Begitu sampai, Ayu langsung melesat ke ruangan yang telah diberitahukan pihak resepsionis sebagai tempat Irene dirawat.
Di kursi tunggu Ayu menemukan Mamanya yang sedang duduk. Wanita itu sempat terkejut atas langkah tergopohnya, lalu cepat-cepat berdiri menyambut kedatangannya.
"Gimana kondisi Irene?" Ayu langsung memberondong. Dalam jarak sedekat ini, dia dapat dengan mudah menemukan kantung mata Mama yang menghitam dan agak bengkak.
"Kondisinya sudah stabil."
Demi mendengar itu, Ayu mengembuskan napas lega, tubuhnya merosot ke kursi dengan degup penuh syukur di dada. Ia menoleh, memperhatikan si orang tua yang duduk dengan wajah letih di sampingnya. "Mama belum tidur?" tebak Ayu yang ia pastikan jawabannya iya, tetapi justeru Mama menggelengkan kepala. Ucapnya,
"Mama gak bisa tidur. Mama harus mastiin Irene gak ngalamin gejala-gejala lain." Lantas dia menunduk lesu. Dari deru napasnya Ayu tahu jika wanita itu merasa bersalah.
Mendapati Ayu yang belum mau bicara, Mama meneruskan kalimatnya. "Mama minta maaf karena gak bisa jaga Irene dengan baik."
Ayu menggeleng, menolak pendapat itu. "Gak apa-apa, Ma. Yang penting sekarang Irene udah baikan."
Mama mengangguk, melipat bibir getir sebelum menuntun Ayu masuk ke ruang perawatan Irene. Sambil lalu beliau bilang, "Mama gak tau kenapa Irene nekat minum susu, tapi dia udah sadar dari tadi dan sekarang lagi tidur. Dia nanyain kamu terus."
Ayu menanggapi dengan anggukan. Pandangannya fokus pada anak kecil yang terbaring lemah di atas brankar dengan tubuh nyaris dipenuhi ruam merah. Ayu meringis prihatin. Itu pasti sakit. Tangannya terjulur, mengusap kepala Irene sayang. Ia menoleh pada Mama yang masih diam kaku di belakangnya, hanya memperhatikan gerak geriknya. "Mama udah makan?"
"Belum. Mama gak laper."
Ayu berdecak ringan. "Mama mending makan dulu. Sekarang Irene aku yang jaga."
"Mama gak papa, kok," balas wanita itu, sedikit kukuh ingin tetap berada di tempat.
"Aku yakin Mama bahkan belum makan dari kemarin. Mama harus makan. Gak perlu khawatir soal Irene. Aku bakal jagain dia."
"Tapi kamu bahkan baru datang," bantah Mama. Ayu akhirnya tahu dari siapa sifat keras kepalanya diturunkan.
"Aku gak papa, Ma. Di pesawat aku cuma duduk, di taksi juga. Dan aku sempat tidur juga makan. Sedangkan Mama?"
Lelah mendebat, akhirnya Mama menarik napas pasrah. "Ya sudah. Mama cari makan dulu."
Ayu mengangguk, lantas menggiring wanita itu dengan tatapan sampai ke depan pintu. Setelah kepergian itu, barulah Ayu mendaratkan diri di kursi samping ranjang. Tetapi mungkin karena terganggu, Irene justeru bangun.
" ... Bunda ..." ucapnya lirih.
"Iya. Ini Bunda." Ayu tersenyum. Teduh, persis seperti yang terakhir kali Irene ingat. Dengan telaten ia membantu Irene yang ingin duduk. "Masih sesak napas?"
Pasalnya, Ayu jelas-jelas mendengar tarikan napas Irene yang masih agak tersengal. Itu cukup untuk membuatnya lumayan panik. Namun Irene menggeleng. Dia menunduk, seperti enggan menatap Ayu. Kemudian ucapnya di antara suara yang terdengar begitu lemah, "Gak papa, Bunda. Irene udah bisa napas sekarang."
Ayu mengangguk, namun tetap was-was. "Pelan-pelan aja ya, napasnya."
Kepala yang setia tertunduk itu mengangguk lesu. Irene tidak bicara, namun Ayu mengerti dia sedang bergumul dengan rasa bersalah. Setelah itu, Ayu tidak menyangka dirinya yang akan dikagetkan oleh isak tangis yang pelan-pelan muncul. Buru-buru Ayu mengangkat wajah Irene, meminta untuk menatapnya saja.
"Kok nangis sih?" tanyanya dengan pembawaan setenang mungkin.
Kontan Ayu kebingungan, lumayan panik pada pemikiran Irene yang seperti itu. Menggunakan kedua tangannya ia menarik Irene ke dalam sebuah dekapan hangat. "Kenapa Irene mikir gitu? Irene gak pernah nyusahin Bunda kok."
Merasakan tubuh Irene yang justeru semakin bergetar, Ayu mengusap punggung kecil itu, berusaha menyalurkan ketenangan. Tetapi yang terjadi justeru kebalikannya. Irene malah semakin kesusahan menangani ledakan emosinya. Lantas di dada sang Bunda, di antara kehangatan peluk yang selalu ia rindu, Irene menumpahkan segala sesuatu yang memberatkan kepala. Meracau hal-hal yang membuat Ayu tertegun setiap detiknya.
"Tapi kata Paman, Irene selalu nyusahin Bunda. Katanya Irene gak harusnya ada. Kalau Irene– gak ada, Bu–bunda baru bisa bahagia. Maaf, Bunda. Maaf. Maafin Irene."
Ayu menutup mata, menekan dagu pada kepala Irene yang terguncang kuat, dekapnya semakin erat. "Irene gak perlu minta maaf. Irene gak salah apa-apa sama Bunda."
Pelukan dikendurkan. Ayu memperhatikan manik Irene yang tergenang air mata, serta aliran di kedua bilah pipinya. Perlahan ia menyingkirkan air mata itu, merasakan pipi Irene yang lembab setelahnya. "Irene dengar Bunda, ya? Paman cuma lagi kesal sama Bunda, terus marahnya jadi ke Irene. Irene tau kan Paman orangnya suka marah-marah?" Irene mengangguk, Ayu menambahi ucapannya. "Nah, Paman lagi bohong sama Irene. Irene sama sekali gak nyusahin Bunda. Justeru Bunda bahagia karena ada Irene."
Irene tidak menjawab, tetapi dia menatapi Ayu dengan tatapan yang masih redup, sebelum melemparkan dirinya kembali ke tengah-tengah pelukan Ayu, melesakkan kepalanya di sana. Dengan isak tangisnya yang kembali merajalela, Irene meminta perlindungan di antara dekap sang Bunda. "Irene janji. Irene bakal jadi anak baik. Irene pasti nurut sama Bunda. Irene juga gak akan nanya-nanya soal Ayah lagi. Irene janji. Asalkan Bunda gak pergi ..."
Ayu mengernyit atas kalimat bernada putus asa itu. Ia bertanya-tanya kenapa Irene bisa berkata demikian. Namun keputusan untuk tidak bertanya lebih lanjut justeru diambil. Ayu tidak ingin menambah rumit. Apalagi Irene yang sepertinya sedang frustrasi.
"Ja– jangan pergi Bun– da ..."
Irene terus kerepotan dengan tangisnya yang kini telah berubah jadi sesenggukan. Dia kesusahan bernapas.
Ayu kontan panik. Memberi instruksi pada Irene untuk melakukan apa yang ia katakan. "Irene, sayang. Tarik napas. Tarik napas, sayang. Pelan-pelan."
Irene menurut. Butuh waktu lama untuk dia akhirnya bisa menghirup udara dengan sedikit bebas. Matanya kembali berkaca-kaca, memikirkan dirinya yang lagi-lagi menyusahkan Bundanya. Tangan kecilnya bergetar, terulur penuh ragu untuk meraih sisi lengan baju Ayu, berpegangan di sana dengan seluruh pengharapan. Cicitnya pelan juga ketakutan. "Bunda ... jangan pergi."
Ayu mengangguk-angguk, masih susah payah menahan serbuan rasa sakit di hati. "Iya, iya. Bunda janji. Bunda gak akan pergi. Bunda gak akan kemana-mana."
Di antara suaranya yang goyah, sekuat tenaga Ayu menahan gejolak emosi miliknya sendiri, terutama tangis yang telah mendesak sejak tadi. Hatinya pilu. Kesakitan mendapati fakta jika masih ada segelintir anggota keluarganya yang masih menolak kehadiran Irene. Membenci anak kecil tidak tahu-menahu itu. Meski begitu, Ayu jujur kalau dia tidak pernah menyesal memiliki Irene. Anaknya. Sumber kebahagiaanya. Karena sekalipun waktu diulang kembali, Ayu akan tetap memilih jalan yang mengantarkannya pada Irene.
Tidak apa-apa jika adik dari Mamanya masih tidak mengakui Irene, Ayu tak keberatan. Apapun kenyataannya, Ayu akan tetap menjadi orang pertama yang melindungi gadis kecil kesayangannya.
Setelah dirasa Irene sudah mulai terkendali, Ayu mengurai pelukan mereka lagi.
"Irene kenapa minum susu? Bukannya Bunda sering bilang kalo Irene gak bisa minum susu?" tanya Ayu perlahan. Berusaha agar tak terdengar menghakimi.
Kepala Irene kembali jatuh lesu. Dengan nada takut-takut dia berkata, "Kak Hina bilang, Irene anak manja. Gak mau minum susu. Maunya dibuatin jus aja." Mulai dari sini, pembawaan Irene berubah. Terdapat setitik pengaduan di sana. "Irene udah bilang kata Bunda gak boleh minum susu tapi Kak Hina bilang Bunda, Mama, Paman, Kak Hina bahkan Aiko yang masih kecil aja bisa minum susu. Katanya Irene cuma bohong. Irene cuma mau jadi anak manja. Irene cuma mau diperhatiin orang-orang."
Ayu menarik napas panjang. Hina. Putri dari sang Paman itu persis seperti Ayahnya. Dia jelas-jelas ikut-ikutan sang Ayah untuk membenci Irene. Gadis itu sudah kelas dua SMP, seharusnya dia tahu kondisi yang dialami Irene bukan semata-mata hanya manja, tetapi alergi. Irene akan kesusahan bernapas bila dia mengonsumsi susu ataupun produk turunannya.
Ayu sadar betul dia tidak bisa memaksa perasaan orang lain. Tidak bisa meminta orang yang benci padanya untuk melebarkan kedua tangan; menerima semuanya dengan legawa. Maka hal terakhir yang bisa Ayu lakukan hanya memberi pengertian pada Irene. "Irene juga tau kan kalo Kak Hina suka bohong? Nah, semua yang Kak Hina bilang ke Irene juga gak bener. Irene gak manja. Irene alergi. Dokter bilang, Irene memang gak boleh minum susu. Liat sekarang. Irene masuk rumah sakit karena minum susu. Dan itu bikin Bunda sedih. Irene gak mau kan bikin Bunda sedih?"
Tentu saja Irene mengangguk kencang. Melihat itu, Ayu menarik senyum lebar.
"Kalau begitu, Irene jangan minum susu lagi, ya?"
"Iya, Bunda."