One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 9 Killer Teacher



Aku menghabiskan waktu di perpustakaan. Ibu sempat datang membawa seragam padahal aku tidak masuk kedalam kelas.


Aku sibuk belajar didalam perpustakaan. Sebenarnya aku berpikir kalau caraku ini sangat gegabah.


Kecuali aku membuat contekan tidak mungkin bisa aku mengerjakan semua soal itu dengan gabungan 7 mata pelajaran hanya dengan belajar beberapa jam saja.


Aku tidak tahu ini jam berapa, aku terlalu sibuk membaca, menulis berulang kali, membaca lagi, menghitung.


Sampai.... "Aldi!!" Aku terkejut sampai melompat mendengar suara Rizal. Belum juga aku bereaksi,


Rizal sudah dicekik oleh setan perpustakaan.


Aku langsung menghampiri setan itu "Ini temanku. Maaf akan aku pastikan dia tidak berisik bisa lepaskan dia?"


Setan itu menatap ke arahku. Sebenarnya aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya setan itu sedikit memperdulikan aku.


Rizal dilempar begitu saja dan dia menghilang.


"Jangan bicara di perpustakaan. Aku gak mau nolong lagi" Rizal hanya mengangguk saja.


Aku melanjutkan belajarku dan Rizal hanya berputar-putar saja di perpustakaan membuatku jengkel dan menyesal menolong dia tadi.


Sepertinya yang jengkel bukan cuma aku saja. Setan itu kembali muncul dan menarik kerah Rizal dan dibuangnya dari perpustakaan.


Aku hampir tertawa melihat itu. Aku melanjutkan belajarku, entah beberapa lama waktu berlalu dan setan perpustakaan berdiri dengan diam di depan mejaku.


"Sudah waktunya?" Pertanyaan tanpa harus kujawab atau dijawab. Aku membuang nafas menguatkan diriku dan keluar dari perpustakaan.


Jam menunjukkan jam 6.30 malam sebentar lagi jam 7. Mengingat kata kepala sekolah jam 7 adalah jam sekolah dunia lain dimulai.


Aku berjalan kearah kelasku, gelap tidak ada lampu yang menyala maupun orang yang lewat, sekilas aku melihat ada setan di seberangku.


Aku menelan ludah apa akan banyak setannya? Aku membuka pintu kelas dan berasa ke dunia lain.


Kelasku bercat merah, anggap aja cat merah.


Ada beberapa anak disana yang lehernya terpenggal, sehingga kepalanya menempel di bahu.


Ada juga perempuan yang memakai baju dengan corak yang indah. Dimana diperut kebawah berwarna merah termasuk rok abu-abunya.


Ada juga anak laki-laki gendut yang menggaruk dengan tangannya yang masuk kedalam perutnya.


Ya semua disini anak normal kok. Ya normal, termasuk perempuan ini yang ada di mejaku.


Yang tidak memiliki tangan dan pinggang kebawah yang memakai kalung berupa tali tambang.


Ya cukup normal. Ohh... Kursi dan meja di kelas ini juga berwarna merah dan lengket. Aku duduk di kursi yang kosong harusnya sih..


Jika tangan dari kolong meja tidak keluar dan menarik-narik bajuku. Semua yang disana menatap kearahku ya itu menurutku.


"Maaf aku murid yang ingin ikut remedial. Hehe"


Semua setan itu berdiri, bahkan setan di kolong mejaku keluar.


Dia adalah wanita dengan kedua tangan yang utuh. Sisanya tidak, tubuhnya gepeng kepalanya cuma setengah, dan tidak memiliki kedua kakinya.


Semua setan itu keluar dari kelas yang membuatku bingung... Bukanya yang harusnya takut itu aku ya?


Tidak menunggu lama setan yang membawa bambu masuk ke kelas "Aldi kamu dipanggil"


Aku menatap setan itu.


"Aku tidak mau" "Kamu tidak punya hak memilih Aldi" Aku menatap setan itu "Bagaimana jika gurunya aja yang kesini. Aku mau semua remedial ku disatukan saja biar aku tidak perlu ke kelas lagi"


Setan itu tidak memaksa atau berbicara lagi. Dia menatap tajam kearahku "Tunggu disini!!!"


Setelah mengatakan itu, dia pergi


Baiklah inilah pertarungan sesungguhnya dimulai. Lantai bergetar seperti ada raksasa yang berjalan.


"Wah ini pertama kalinya ada yang ingin lulus lebih awal" Suara itu tidak keras juga tidak lembut tapi membawa rasa takut yang tidak bisa dijelaskan.


Pria besar muncul di depan kelas, badannya seukuran pintu kelas. Aku merinding melihatnya, jika diperhatikan secara manusiawi dia cuma memiliki satu tangan yang bisa dia gunakan.


Satu tangannya lagi terkulai dan hangus seperti arang. Tapi jika dilihat dengan mataku, dia punya belasan tangan dan semua tangan itu memegang sesuatu seperti rotan atau cambuk.


Badannya mengeluarkan bau aneh. Seperti singit dan busuk yang bercampur, selain itu seluruh ruangan jadi panas saat dia muncul.


Meski masih gemetar aku tetap bersikeras untuk menyelesaikannya hari ini juga. Aku tidak kau berurusan dengan dia lagi.


"Aku mau kelar semua urusan hari ini juga. Aku tidak mau kembali ke kelas anda lagi".


Setan itu menyeringai. Sumpah aku ingin lari rasanya.


"Memang kamu pantas lulus lebih awal? Kamu itu hanya anak bodoh yang sombong dan egois. Lulus lebih awal? Jangan bercanda. Tapi sebagai guru yang mendukung muridnya aku akan menemanimu sampai kamu bisa dipastikan lulus lebih awal. Tentu saja itu semua akan menyenangkan"


Kelas bergoyang, semua bangku dan meja meleleh jadi darah. Semua darah itu menutupi seluruh kelas membuat kelas ini dilapisi oleh darah.


"Kamu punya 5 detik untuk menjawab. Jika salah atau tidak berhasil menjawab tanggung sendiri konsekuensinya".


Setan itu tersenyum dan aku mulai putus asa. Kursi yang kududuki menempel dengan tubuhku membuatku tidak bisa bergerak


"Pertanyaan pertama, Tanah yang terjadi dari pelapukan batuan yang mengandung kuarsa pada iklim basah disebut"


"Podzolit kan?"


"Pertanyaan kedua Ilmu penunjang geografi yang mempelajari laut disebut?"


"Oceanografi?"


"Pertanyaan ketiga apa sifat budaya?"


"Berubah mengikuti zaman dan alam


"Mempelajari masalah asal usul evolusi manusia dari fosil manusia purba disebut apa?".


"Palentologi? Kalau ga salah"


"Aku maklumi. Berikutnya Apa penyebab banjir menurut konsep Geografi?"


"Kerusakan hutan, hujan, sampah. Manusia?"


"Biarlah. Berikutnya apa pengertian kebudayaan menurut Koentjaraningrat"


Astaga itu panjang dan aku tidak ingat


Suara setan itu berikutnya seperti petir di malam hari yang sunyi


"LAMA!!!" Salah satu tangannya mengayun kearahku. Aku berteriak kesakitan, tanganku rasanya seperti ditebas sesuatu hanya saja tidak ada lukanya.


"Berikutnya Ilmu yang mempelajari kaitan antara bahasa menurut dunia dengan budaya disebut?"


"Etnologi?"


"Salah"


Salah satu tangannya berayun kearahku dan rasa sakit kembali terasa di dadaku.


"Berikutnya. Jangan harap kamu bisa pergi sampai kunyatakan kamu lulus"


Aku tidak tahu berapa lama aku terus ditanyai dan disiksa seperti itu.


Konsep waktu sudah jadi kabur, yang aku tahu hanya menjawab sebisa mungkin dan kena cambuk saja


***


Semua gelap dan aku bergoyang. Terdengar sayup-sayup suara yang kukenal


"Aldi...al...ba......gun....." Suara siapa? Suara itu penuh rasa khawatir dan cemas


Berikutnya yang kudengar suara pertengkaran, apa neraka itu sudah berakhir? Aku membuka mata dan melihat 2 wanita yang sedang bertengkar.


Wanita itu "i..bu..." "ALDI..... Kamu ngapain sih tidur di kelas sampe pagi begini? Kenapa juga guru kamu gak nyariin. Sekolah macam apa ini?"


Begitu ibu membuka mulutnya, ibu tidak bisa berhenti bicara sama sekali "Ibu tenang ya. Lebih baik Aldi di bawa pulang dulu, gak perlu masuk sekolah dulu biar Aldi istirahat"


Bu Endang berusaha menenangkan ibu "ibu ayo pulang bu" Ibu berbalik kearahku "ya ayo pulang"


Kayaknya aku bakal kena semprot dirumah deh....😁😁