
Bab 3 Teror lorong tanpa batas dan insiden 77
Sudah seminggu lewat sejak kejadian dinding berdarah. Jujur saja aku sempat gak mau sekolah lagi
Kalau gak ingat sakitnya dipukul sapu ibuku aku gak mau kesini lagi. Aku cuma bisa gak sekolah sehari doang karena itu
Aku ingin masuk ke kelas tapi berhenti melihat lorong anak kelas 3 soalnya sepi. Bukan urusanku lah
Aku masuk ke kelas dan duduk di bangku ku
Tidak lama setelah itu Rizal dateng "Lah udah masuk kupikir bakal lama gak ke sekolah"
Aku menoleh kearah Rizal
"Tadinya mau berhenti sekolah aja. Kalau bukan takut di coret KK mah udah berhenti kali aku"
Rizal duduk di sampingku
"Sekarang percaya kan ceritaku?" Aku berdecih acuh "gak. Siapa tahu kebetulan doang. Aku kebayang gara-gara cerita kamu"
Rizal memandangku dengan tatapan merendah
"Dih masih sombong. Yang kamu alami itu cuma kejadian paling kecil, di sekolah ini ada ratusan kejadian yang lebih serem tahu"
Aku menatap tidak percaya pada Rizal "Ratusan?! Itu semua ada korbannya?"
Rizal menampilkan wajah sombong
"Sekarang penasaran kan? Jelaslah ada korbannya meski gak ada yang meninggal sempet ada yang keganggu kejiwaannya"
Aku merinding.. Sekolah macam apa ini? Apa jangan-jangan ini sarang setan?
"Kamu tahu ga kenapa anak-anak kelas 3 pada pindah kelas?"
Aku menatap Rizal dengan tatapan bingung.. Ah yang tadi ya "emang mereka pindah kelas?"
Rizal menatapku dengan pandangan heran
"Kamu gak tahu? Gak liat? Apa gak perduli sih Al?" Aku cuma ketawa gak bersalah
"Gak perduli sih"
Rizal menghela nafas "ku ceritakan ya-" "STOP!!"
Aku berteriak membuat semua teman sekelas ku menatapku
"Maaf lagi asik ngobrol. Aku gak mau denger lagi. Nanti sial lagi aku" Rizal malah tertawa
"Kalau aku gak cerita kamu nanti malah celaka loh. Yang satu ini serem banget soalnya. Jadi......"
Cerita Rizal terpotong suara bel masuk dan guru masuk kedalam kelas "ya. Keluarkan buku sejarah, oh ya ini hari 77 jangan berkeliaran di lorong ya"
Pelajaran dimulai dan aku bingung maksud hari 77 aku menatap Rizal tapi dia mengacuhkan aku.
Aku cuma bisa menyimpan rasa penasaranku saja..
Setelah 3 jam bel istirahat berbunyi. Aku menarik Rizal yang hampir berdiri untuk ke kantin
"Apa maksudnya 77?" Rizal mencibir padaku "kukira kamu gak mau tahu" aku mendecih kesal
"Kalau aku gak tahu ceritanya gimana nanti kalau kejadian hal yang tidak mengenakkan"
"Ya deh. Karena kamu memaksaku aku akan berbaik hati bercerita. Jadi dulu ceritanya saat sekolah ini baru berdiri ada guru yang galak yang juga bekerja sebagai satpam malam hari"
Rizal mulai kesal denganku "kamu mau diceritain gak sih?" "Iya maaf aku mau tahu ceritanya"
Rizal kembali bercerita "jadi guru itu bisa dibilang merantau, rela digaji kecil biar bisa tinggal disini. Karena merantau dan gak punya uang buat kos atau ngontrak jadi sekolah nerima guru itu jadi satpam jaga malam dan guru siang hari"
Aku penasaran satu hal "apa gak capek tuh guru jadi satpam malam jadi guru siang?" Rizal menatapku dengan kesal tapi dia tetap menjawab
"Capek lah.. Karena itu guru itu cuma jaga dan keliling sekolah sampe jam 10 baru tidur. Nah ada 7 murid kelas 3 yang gak suka sama guru itu dan selalu menggangu guru itu baik waktu jam sekolah dan jam malam. Kalau jam sekolah ketujuh orang itu langganan dihukum. kalau jam malam, mereka mengganggu guru itu sampe jam 2 malam"
"Jam 2 ? Wah keterlaluan sih itu" Rizal mengangguk setuju "Itu berlangsung selama 7 hari 7 malam. Pada tanggal 7 juli dilakukan oleh 7 siswa dan melibatkan 7 ruangan kelas.
3 di lantai 2 dan 4 dilantai 1. Semua kelas itu di hubungkan dengan satu lorong dan satu tangga"
Aku mengangguk mengerti "tapi kenakalan apa yang dilakukan anak-anak nakal itu?" Rizal menggeleng "gak ada yang tahu. Ada cerita kalau mereka mencoreti tembok, ada juga yang bilang mereka membuat keributan, ada juga yang bilang mereka membuat kerusuhan sampe membakar kelas. Yang jelas perbuatan mereka sangat menggangu guru itu"
Aku malah kasian sama guru itu. Rizal melanjutkan ceritanya
"Jadi singkat cerita guru itu diganggu setiap malam sampe malam kelima guru itu sudah kehilangan kewarasannya. Begitu ketujuh murid itu datang ke sekolah. Guru itu menutup akses buat kabur dengan kayu balok dan mengejar anak-anak itu dengan parang"
"Gila!!" Aku berteriak dengan keras. Karena kelas sudah sepi aku tidak perduli sih "terus akhirnya gimana?"
Rizal melanjutkan ceritanya. Intinya semua murid itu berusaha menghindari guru itu dengan bersembunyi di 7 kelas
Dan semuanya berakhir jam 2 malam karena guru itu terpeleset di tangga dan parangnya menusuk lehernya
"Awalnya bagus tapi akhirnya apes" "Namanya juga cerita dari mulut ke mulut. Gak ada yang tahu aslinya gimana, lagipula emang gak ada yang tahu nyata apa gak itu. Jadi jangan kamu pergi ke lorong dan tangga atau ketujuh kelas itu"
Aku mengangguk memahami maksud Rizal..
Tapi.... Kenapa aku sekarang ada disini?!!!
Jadi ceritanya setelah bel pulang berbunyi kami semua pulang, dan aku melupakan buku ku. Jadi aku kembali ke kelas tanpa mendekati lorong berhantu itu atau 7 kelas itu
Tapi saat aku keluar dari pintu kelas. Aku muncul di kelas 12 B tempat dimana kejadian mengerikan itu bermula
Aku langsung berlari mengikuti ingatanku menjauh dari tempat ini. Tapi setelah aku berbelok aku malah ke lantai 2 dimana 3 kelas itu berada. Meski disini banyak kelas yang kosong lainnya
Semua kelas ini hanya di bagian kanan yang dipakai, sisanya dikunci oleh sekolah. Sedangkan aku berada di bagian kiri yang merupakan kumpulan kelas yang dikunci.
Salah satu pintu kelas terbuka, aku langsung bersembunyi, ada 3 anak yang keluar dari kelas itu salah satunya aku mengenalnya
Alvin kakak kelas 3 yang waktu itu masuk ke kelas untuk memperkenalkan sekolah
"Ini kan? Insiden 77 sial banget bisa kena beginian"
Alvin menatap ketiga anak yang bingung dengan suasana itu "Aku cuma bilang sekali, cuma ada 7 menit sebelum malam kalau gak cepat bisa keluar-"
Anak perempuan disitu mengangkat tangannya "bukanya tadi masih jam 5 sore? Kok 7 menit udah malem?"
Alvin menepuk jidatnya "makanya dengerin. Kita keseret insiden 77, insiden ini memaksa kita untuk cari jalan keluar dengan waktu 7 menit. Kalau malam tiba dia muncul dan kita harus bertahan 7 jam"
Anak laki-laki disana mengangkat tangannya "7 jam? Berarti kita gak bisa pulang dong. Terus dia siapa?"
Alvin menggosok mukanya frustasi "udahlah. Pokonya kita harus cari 4 murid yang lain. Pasti ada diantara ketujuh kelas. Dari sana kalau kita bisa menempati ketujuh kelas sebelum 7 menit habis kita bisa keluar"
Jadi harus berkumpul? Aku baru tahu soal itu. Kayaknya memang gak bisa keluar dengan normal jadi harus kerja sama. Aku keluar dari lorong dan menemui mereka bertiga
"Boleh aku minta penjelasannya?"
#Penasaran yaa.... Sabbbaarrr... seperti sabarku padanya 😉💃💃