One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 7 Nightmare class



UTS sudah selesai... Aku gak konsen sama sekali selama ujian itu. Ada aja yang bikin fokusku terpecah.


Apalagi penampakan guru tanpa kepala itu kadang kelihatan lewat depan kelas. Kayaknya dia bosen di lorong itu deh.


Dan yang lebih nyebelin, ada yang suka ganggu waktu lagi ujian. Beberapa alat tulisku hilang saat aku butuh, begitu minjem alat tulisnya udah nongol di meja.


Selain itu berkat insiden horor disekolah ini aku hampir jarang belajar. Apalagi setelah aku kehilangan buku yang ku pinjem di perpus.


Membuat malamku semakin menderita. Setiap malam terdengar jeritan wanita di kamarku, yang hanya terdengar olehku.


Aku harus mencari buku itu, dan butuh waktu 3 hari. Berkat itu semua nilaiku hancur karena tidak bisa belajar.


Erna dengan tidak tahu malunya memaksaku meminjam buku lagi, dan hal sama terulang.


Hal ini terjadi karena aku tidak membuka buku itu sama sekali.


Dari buku itu terdengar suara jeritan wanita tanpa jeda tanpa henti sampai menyakiti telingaku.


Jeritan itu baru hilang saat aku membaca bukunya. Ditambah buku itu tidak tertipu, kalau aku cuma membuka bukunya tanpa membacanya.


Akhirnya nilaiku jelek semua deh karena semua gangguan itu. Aku menatap 7 kertas dengan pelajaran Sejarah, Geografi, bahasa inggris, Matematika, Antropologi, Seni budaya, ekonomi dan Kewarganegaraan.


Yang memiliki nilai 5 dan 6. Hancur sudah, di depanku ada wali kelasku Bu Endang.


Di Sekitarku guru-guru mata pelajaran terkait.


Daripada marah mereka terlihat khawatir padaku. Ya, aku tahu alasannya sih. Itu adalah kelas mimpi buruk.


Kelas itu akan dibuka saat ada anak yang memiliki nilai jelek di 7 mata pelajaran di ujian.


Menurut beberapa anak yang mengalaminya, Kelas akan berlangsung setiap malam selama seminggu. Selain diajari, murid didalam kelas itu akan disiksa dengan teror tanpa henti.


Agar pelajaran tertanam kuat di otak mereka. Aku menatap pelajaran matematika yang sudah susah dari awal.


Membayangkan belajar pelajaran ini yang meski fokus saja aku tidak paham ini dibawah tekanan dan teror.


Bagaimana nasibku nanti? "Aldi, kamu pasti sadarkan apa yang akan menunggumu nanti?"


Bu Endang bertanya dengan nada gelisah.


"Aku tahu itu. Habis aku tidak fokus belajar karena semua teror ini" Aku merasa aku tidak bersalah.. sedikit deh salah, tapi tidak semuanya.


Lagian kan aneh. Kalau memang nilai jelek akan membawa hal begini, kenapa para guru tidak mengganti nilainya aja? agar tidak ada siswa yang tertarik dalam kelas itu.


Seperti mengerti dengan isi pikiranku bu Endang mengatakan sesuatu yang mengejutkan


"Kita tidak bisa curang dalam memberikan nilai Aldi".


Apa guru ini bisa baca pikiran? "Sekolah ini melarang hal itu" Bu Endang mengambil kertas dan pulpen. Dia menulis 1+1


"Beri jawaban yang salah!!" Mendengar perintah bu Endang aku menulis 11. Bu Endang mencoret tanda Cheklist.


Tapi hal aneh terjadi, tanda Cheklist itu berubah jadi silang dan angka 0 muncul di kanan atas


"Apa itu?"


Tidak ada yang menjawab, aku juga sudah tahu jawabannya "Tidak ada cara menghindari kelas itu Aldi. Cara terbaik adalah kamu mengikuti kelas itu secara langsung di sekolah ini".


Bu Endang mengatakannya dengan santai. Tapi terdengar gila di kupingku "Jadi maksud ibu saya harus tetap disini saat malam hari dan memulai kelas yang digurui oleh setan?"


Bu Endang hanya mengangguk saja. Memikirkan hal ini saja sudah membuat kakiku gemetar, aku tidak bisa membayangkannya sama sekali.q


"Ibu tahu Aldi, belajar siang dan malam itu berat. Kamu tidak perlu masuk sekolah, cukup datang saja saat malam bagaimana?"


Memang guru ini berpikir aku takut dengan pelajaran? Aku takut dengan sekolah ini. Ini Sekolah horor ditambah suasana malam hari pasti akan membuatku mengalami neraka.


"Tetap aku tidak mau" Bu Endang menghela nafas "Itu keputusanmu. Hanya saja kamu pasti berubah pikiran besok, lebih baik untuk sementara kamu tidak perlu ke sekolah selama kelas itu berlangsung. Atau kejiwaanmu akan terganggu. Sudah itu saja, kamu bisa kembali ke kelas".


Aku masih duduk dan membayangkan apa yang akan terjadi padaku nanti malam?


"Bolehkah aku izin pulang saja bu?"


Bu Endang menatapku "Silahkan" "Terima kasih bu" Aku kembali ke kelas dan mengambil tas kemudian pulang kerumah.


Di rumah aku dimarahi ibuku karena dapat nilai jelek saat UTS. Tapi itu tidak kalah seram dengan apa yang menungguku nanti malam.


Aku menatap jam dinding di kamarku. Sekarang jam 7 kurang. Tidak ada yang tahu kapan kelasnya dimulai, soalnya tidak ada yang sadar akan hal itu.


Tiba-tiba pintu kamar diketuk "SIAPA?!" Aku panik sampai berteriak "Ini Ibu. Kamu udah belajar belum?"


Aku terdiam membeku. Ibuku tidak pernah menyuruhku belajar setelah ujian kalau sebelum ujian sih sering.


"Siapa itu? Kamu bukan ibuku" Suara ibu masih terdengar "Sekolahmu gimana? Bukanya sekolah akan memberikan kelas tambahan kalau muridnya dapat nilai jelek?"


Aku gemetar, aku tidak tahu itu apa. Yang jelas itu bukan manusia "aku gak ikut kelas itu"


"KAMU HARUS IKUT" suara ibu berubah jadi keras dan seram.


"Aku tetap tidak mau" tiba-tiba pintu di gedor "ITU BUKAN SESUATU YANG KAMU BISA PUTUSKAN"


Pintu itu rubuh menunjukkan seorang guru yang memegang tongkat dan di seluruh tubuhnya tertusuk bambu runcing.


"Kamu harus berangkat sekarang... Aldi..." Setan itu mengangkat tongkatnya dan memukul ke arahku.


Aku langsung kehilangan kesadaran. Aku terbangun di kelas yang gelap, kakiku dirantai dan tidak bisa bergerak


"PERTANYAAN PERTAMA jika diketahui fungsi f kali x sama dengan x dikurangi sebelas maka berapa nilai f dikali x kuadrat dikurangi tiga kali f dikali x dikurangi f dikali x kuadrat"


Otakku langsung ngeblank. Aku belum sempat mencerna apa yang terjadi sudah disuguhi soal mematikan.


Aku menghitung di buku dan pulpen yang ada dimeja "Selesai" setelah entah berapa lama aku berhasil menghitungnya.


Meski aku tidak yakin sih. Tiba-tiba semua angka dan tulisan di buku berubah jadi SALAH


"ARGHHH...."


Punggungku rasanya seperti tertebas benda tajam "SOAL BERIKUTNYA. Ada segitiga siku-siku abc jika salah satu sudutnya 60° berapa nilai a dan b"


Sepertinya penderitaanku belum berakhir. Aku kembali menghitung lagi setelah selesai semua angka dan tulisan berubah kembali jadi Salah.


Punggungku rasanya seperti disiram air panas. Aku kembali menjerit, aku kehabisan nafas.


Tiba-tiba seluruh kelas bercahaya.


Dan asalnya dari api yang memenuhi kelas ini.


"Soal berikutnya. Jika kamu tidak bisa menjawab 3 soal lainnya, kamu akan terbakar hidup-hidup disini"...


#kira" Aldi sanggup menyelesaikan soal-soalnya ga??


Stay tune terus yaa... 😉