One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Part 36. Mengangkat kutukan (END)



Aku tiba-tiba menyadari sesuatu, bagaimana dengan perilaku para setan? Aku melihat kuntilanak diatas pohon yang hanya diam saja.


"Dia gak menyerang tuh" Perkataan Rizal tidak perlu dikonfirmasi "Ini kerisnya tapi secara bersamaan bukan ini"


Rizal menatapku dengan tatapan tidak mengerti.


"Maksud kamu apa sih?" Aku cuma mengangkat bahu. Karena aku juga gak ngerti.


Aku memutuskan untuk membawa keris ini. Nanti sore bakal kukasih tahu semua guru dan kepala sekolah.


"Apa berarti kutukan sekolah sudah diangkat?" Pertanyaan Rizal membuatku melihat kuntilanak itu lagi.


"Kayaknya enggak deh" "ya sudah balik ke kelas aja yuk" Rizal meninggalkanku setelah mengatakan hal itu.


Aku mengikuti Rizal dari belakang. Saat pulang sekolah aku lagi yang apes, karena aku terikat lagi dikelas.


Aku sudah menitipkan pesan sama Rizal untuk memberi tahu guru. Karena bisa dipastikan guru bakal ada sampai malam, aku cuma nunggu sampe jam 7 malam aja disini.


Begitu sudah jam 7 aku langsung ke ruang guru dimana banyak guru disana. Meski hampir semuanya berhubungan denganku sih.


Aku menceritakan soal keris dan kejadian 3 hari lalu kepada semua guru. Rencananya aku bakal ketempat yang tadi untuk melihat ada perubahan disana atau tidak.


Aku takutnya keris saat siang sama malam berbeda dan aku harus melalui keadaan mempertaruhkan nyawa untuk mengambil keris itu lagi.


Semua guru sepakat untuk membiarkan gerbang terbuka untuk memudahkan aku keluar dari sekolah.


Setelah semua guru keluar dari gerbang mereka menunggu di gerbang sekolah untuk keadaan darurat.


Aku mulai bergerak ketempat semalam. Benar saja cahaya itu masih ada disana bahkan kerisnya juga.


Masalahnya semua setan berkumpul di lorong aku saja lewat jalan belakang. Kalau begini bukanya aku bakal harus lewat jalan memutar sambil dikejar mereka?


Aku menarik nafas dan berlari kearah cahaya itu. Kuntilanak memekik keras membuat setan yang lain memperhatikanku.


Aku langsung mengambil keris itu dan jatuh. Kakiku sudah dipegang kuntilanak itu "Minggir!!!" Aku mengayunkan keris itu dan kuntilanak langsung melepaskan kakiku.


Aku langsung berlari kearah lorong dibelakang. Aku keluar di deket toilet dan dikejutkan setan wanita gendut yang melompat menimpaku.


Aku langsung bertahan dengan tanganku, tapi begitu wanita itu melihat kerisnya, Wanita itu pergi.


Aku tidak memikirkan apapun lagi, hanya lari dan pergi darisini yang ada didalam kepalaku. Di luar jauh lebih banyak setan tapi mereka tidak mendekat hanya mengepungku saja.


Aku mematung bukan karena setan-setan itu melainkan kaki raksasa yang menutupi gerbang sekolah.


Saking besarnya aku tidak bisa melihat kepala si raksasa itu. Tidak mungkin untukku lolos darisini. Apa semua ini sudah berakhir?


Tapi aku belum mau menyerah, aku berlari kearah kerumunan setan itu. Yang aneh semua setan membukakan jalan untukku.


Kecuali tangan-tangan berdarah yang terus menahan tubuhku itu juga berhasil kusingkirkan dengan keris di tanganku.


Seluruh lapangan mendadak gelap. Saat aku melihat keatas, ternyata itu merupakan telapak tangan raksasa. Bersamaan dengan itu seluruh badanku terasa tertusuk-tusuk paku dan sulit bergerak.


Paling tidak aku tidak mau semuanya sia-sia. Dengan sisa tenaga terakhir aku melempar keris itu kearah luar sekolah.


Meski kaki raksasa menutupi seluruh gerbang ada celah yang cukup besar yang bisa dengan mudah dilewati keris.


Begitu keris itu keluar gerbang, keris langsung bersinar terang dan semua setan berhenti bergerak termasuk raksasa itu.


Badanku bisa bergerak lagi dan aku jatuh ketanah. Raksasa itu berbalik dan berubah jadi asap hitam dan menghilang.


Setan disana satu persatu hilang dalam cahaya secara tidak sengaja aku menatap kearah perpustakaan dan melihat setan perpustakaan didepan pintu perpus.


'Terima kasih' Suara lembut seperti semilir angin terdengar dan setan perpustakaan juga menghilang.


Aku berdiri dan berjalan kearah gerbang. Disitu bu Siska pingsan sedangkan guru lain menatap ke arahku.


"Bu Siska kenapa?" Aku bertanya pada bu Endang "Pingsan waktu liat raksasa tiba-tiba muncul didepan gerbang" Jawaban dari bu Endang sudah membuatku paham.


Aku mencari keris yang kulempar tadi "Ada yang liat keris yang kulempar?" Mendengar pertanyaanku semua guru saling menatap.


"Keris apa?" Pak Agus bertanya padaku "Keris yang Aldi lempar tadi sebelum semua setan berhenti bergerak".


Semua guru saling menatap lagi "Aldi tadi yang ibu liat kamu cuma lempar sesuatu kearah kaki raksasa terus semuanya hilang" Perkataan bu Endang membuatku makin bingung.


"Keris yang kaya gini-" aku membuka tasku dan menyadari keris itu tidak ada. Apa aku tinggalkan di ruang guru? Itu tidak mungkin.


"Keris yang tadi aku tunjukkin di ruang guru itu loh" Aku bersikeras tapi semua guru dengan kekeh gak tahu soal keris itu.


Aku yakin keris itu kuncinya. Ya sudahlah lagi pula kutukan sekolah ini sudah berhasil dilepas, keris itu sudah tidak penting.


"Berarti sekolah ini sudah lepas dari kutukannya?" Pertanyaan pak Agus membuat semua guru menatap kearahku.


"Harusnya, liat aja besok" Kami semua pulang kerumah masing-masing bu Endang menawarkan mengantarkan aku pulang.


Keesokan harinya saat aku sampai disekolah suasana disekolah berbeda. Semua murid bermuka ceria begitu juga di kelasku.


Rizal dengan sombongnya mengatakan itu semua berkatku dan memaksa aku cerita kejadian semalam.


Setelah itu kami bersekolah layaknya murid biasanya yang bahkan aku sendiri hampir lupa rasanya.


Guru-guru juga ceria dan sering bercanda dikelas. Tapi krisis mulai datang setelah ujian tengah semester.


Banyak adik kelas yang memutuskan untuk pindah atau tidak datang lagi ke sekolah. Guru yang tidak pernah menghadapi hal ini hanya mengabaikannya.


Akhirnya selain kelas 3 semua kelas hanya diisi murid kurang dari sepuluh orang. Aku juga bicara pada semua anak kelas 3 untuk tetap bersekolah dan lulus darisini karena aku merasa kalau kita ini angkatan terakhir disekolah ini.


Guru juga setuju soal itu jadi semua guru hanya fokus mengajar murid kelas 3 dan memperlakukan murid lain seadanya.


Setelah 5 bulan kemudian kami lulus dari sekolah. Kegiatan kelulusan berjalan dengan cepat semua ujian kami memiliki nilai tinggi sampai tidak perlu pusing untuk masa depan kami.


Sebagai angkatan terakhir sekolah ini, sekolah mengadakan acara perpisahan dengan meriah tidak ada satupun murid yang dikenakan biaya untuk acara ini.


Mengenai adik kelas yang lain mereka sudah lama berhenti datang ke sekolah. Semua dokumen penutupan sekolah juga sudah selesai.


Jadi acara perpisahan ini juga meliputi acara penutupan sekolah. Agak menyesal aku mengangkat kutukan disekolah ini tapi itu semua langsung kuabaikan saat melihat muka semua teman sekelas dan guruku yang ceria.


Dengan lulusnya kami berakhir juga sekolah ini. Sekolah ditutup setelah 1 minggu kami lulus meninggalkan bangunan kosong terbengkalai.


Hanya satu hal yang tersisa dari sekolah ini bagiku. Hadiah perpisahan dari sekolah ini, dan itu adalah mata kiriku.


Di suatu tempat terpencil


Keris yang ditemukan Aldi sekarang berada digenggaman pria yang Aldi sempat lihat dulu.


"Gagal lagi ya. Sudah keberapa kalinya ini ternyata menyatukan kedua dunia memang sulit.


Mau bagaimana lagi tindakan yang kulakukan memang menyalahi aturan kedua alam. Tapi semua kegagalan ini sudah cukup mengumpulkan pengetahuan baru lain kali aku tidak akan gagal lagi."


Pria itu menghilang didalam gelapnya malam


TAMAT


#siapakah sosok pria tersebut?? Masih penasaran ga??😁


Makasih yaa sudah mengikuti cerita receh ini..... semoga lain waktu bisa dilanjutkan lg 🙏🏻❤️