
Hari ujian akhir semester sudah tiba, tentu saja berkat persiapan kami semua tidak ada yang khawatir soal ujian ini.
Setelah membagikan soal, pengawas yang mengawasi ujian pergi meninggalkan kelas. Jujur saja itu sudah biasa.
Tapi tidak dengan setan guru itu yang menggantikannya. Ini pertama kalinya sih setan jadi pengawas ujian, rasanya lebih mencekam.
Untung saja tidak ada kejadian apapun, setelah kami selesai mengumpulkan lembar jawaban. Setan guru itu mengambil semua lembar jawaban itu dan hilang begitu saja.
"Ngomong-ngomong, apa setan itu tahu harus diletakkan dimana semua lembar jawaban itu?"
Mendengar pertanyaan Rizal langsung membuat seluruh kelas tertawa.
Yang membuat setan lain muncul dan menyeret mereka semua ke luar kelas. Untung saja aku tidak ikut tertawa.
Setelah istirahat ujian dilanjutkan yang kembali diawasi setan guru itu. Jujur saja aku sampai bingung semalas apa pengawasnya sampai membiarkan setan yang jadi pengawasnya.
Hari berlalu dengan cepat yang juga terasa lama, soalnya setiap hari guru setan yang selalu mengawasi ujiannya.
Selain tidak ada kesempatan buat bertingkah benar-benar membuat tertekan. Seluruh kelas masih mengingat dengan jelas saat temanku batuk dikelas dan berakhir diseret setelah dadanya ditusuk kukunya.
Yang mengerikan, dia harus mengulang ujian mata pelajaran itu berdua dengan setan itu. Setelah ujian berakhir kami masih masuk selama seminggu untuk menerima hasil ujian.
Yang tentu saja hampir semuanya memuaskan sampai aku mendengar berita ada anak kelas 1 yang menghilang setelah pulang sekolah di hari terakhir ujian.
Itu membuatku berkeringat dingin dan benar saja berikutnya ada guru yang naik dan menyuruhku ke ruang guru.
Menjengkelkan... Dengan lesu aku kesana seperti layaknya murid biasa yang ke ruang guru. Tentu saja dalam kasus yang berbeda.
Diruang guru sudah penuh dengan guru, semua guru itu langsung menatap ke arahku membuatku merasa kalau keadaan kali ini sangat serius.
"Jadi... Siapa yang hilang?" Bu Endang menatap yang lain, tapi semuanya diam seolah-olah angkat tangan, akhirnya Bu Endang yang bicara.
"Ani Sekarsari, anak kelas 1 B" Kelas 1 B? Aku tidak punya banyak urusan dengan setan disana meski begitu aku tahu kalau tidak ada dari mereka yang suka menculik seseorang.
"Ada kejadian aneh yang menimpa korban sebelumnya tidak? Seperti menemukan sesuatu, mendengar sesuatu, atau diikuti sesuatu?"
"Gak ada hal kaya gitu menurut semua teman sekelasnya" Bu Endang menjawab sambil berpikir.
Tidak ada kejadian aneh, tapi hilang begitu saja? "Ada yang menemani kalau pulang tidak?"
"Tentu saja selain kamu tidak ada yang berani pulang sendirian tahu".
Bu Siska menimpali begitu saja. Dan entah kenapa aku merasa tersindir "apa selain anak itu ada lagi yang menghilang?."
Bu Endang melihat daftar absen siswa "gak ada cuma anak itu saja" Kalau begitu kenapa? Jarang sekali sih ada kejadian seperti ini tanpa sebab.
Tidak, ada satu yang seperti itu. Kejadian tahun lalu yang menimpa kelas yang sama, waktu itu korbannya anak baru juga.
Aku jadi ingat cerita soal mereka. Itu mengingatkanku dengan kejadian saat kami mencari mereka.
"Apa sudah di cek di gudang?" "Gudang? Udah kayaknya" Bu Endang menjawab begitu saja.
"Gudang kimia di belakang kelas 12 A IPA".
Mendengarku semua guru langsung diam sejenak "sudah ko, gak ada" Pak Guru yang mengajar di sekolah SMA IPA yang menjawabnya.
Tapi aku merasa disanalah dia berada, yang kutahu setan di gudang itu tidak mungkin menculik orang.
Setan penculik di kenal dengan pembuli kelas 1. Biasanya mereka akan menyeret anak kelas 1 dengan jumlah yang tidak tentu pertahun untuk dibawa ketempat yang ada kutukannya.
Gudang itu adalah tempat terkutuk, semua yang terkunci disana sampai malam hari hanya bisa keluar waktu malam.
Sama seperti kejadian tahun lalu. Masalahnya jika tidak ketemu selama 3 hari, korban disana akan ditemukan dalam keadaan berbentuk mayat.
"Sepertinya hari ini disekolah sampai malam lagi" Bu Endang menatapku dengan tatapan terkejut.
"Kamu sudah tahu dia dimana?" "Seperti yang bisa diharapkan dari Aldi" Mendengar kata-kata bu Siska aku sama sekali tidak senang.
"Ya, di gudang itu malam hari" "Aku sudah cek gudang itu sebelumnya, gak ada anak itu disana. Memangnya kamu pikir aku bohong?"
Pak Guru yang bilang gudang itu kosong marah.
"Aku tidak bilang seperti itu. Anak itu hanya ada di gudang itu waktu malam saja, saat pagi sampai siang anak itu akan berada di dunia lain yang tidak mungkin bisa digapai"
"Masalahnya kalau tidak ada disana bagaimana?" Pertanyaan bu Siska membuatku memikirkan kemungkinan itu.
"Aku tidak tahu, tapi untuk sekarang itulah yang paling mungkin. Jika tidak ada, kemungkinan lainnya akan terbuka waktu malam nanti."
"Bukanya anak kelas 11 B dulu juga ada yang terseret kesitu kan? Bisa jadi mereka tahu sesuatu" Perkataan guru lain membuatku sadar akan kejadian itu.
Benar juga, korban tahun lalu masih ada kan?
Akhirnya guru lain pergi ke kelas itu memanggil 2 orang siswi yang bernama Rini dan Via.
Dan Siswa bernama Deni mereka adalah 3 murid malang yang terseret saat baru masuk sekolah ke gudang itu.
Bu Endang menceritakan sedikit soal Ani yang langsung membuat kedua siswi itu shock dan gemetar hebat sampai tidak bisa diajak bicara.
Menurut Deni mereka menderita disana dimana tubuh mereka kelaparan dan kehausan seperti berminggu-minggu disana.
Daging mereka juga menyusut dengan cepat disertai rasa sakit yang mengerikan. Ditambah mereka berempat disana bersama setan yang hanya tersisa tulang dibungkus kulit yang tidak memiliki tangan dan juga bibir.
Dimana seluruh rahang dari setan itu terlihat. Meski begitu setan itu hanya diam memperhatikan mereka tanpa melakukan apapun.
Kalau aku tidak mengalami ujian diawasi oleh setan, aku tidak akan mengerti soal rasa takut itu.
Tapi sekarang aku mengerti perasaan dimana selalu khawatir, cemas, waspada dibarengi perasaan keputusasaan yang mengerikan.
Akan menyiksa jiwa dan mental wajar saja kedua siswi itu takut soal ini. Akhirnya Deni mau membantu kami.
Ini pertama kalinya aku berada disekolah pada malam hari bersama banyak orang. Kebanyakan guru laki-laki akan ikut denganku untuk mencari Ani.
Bagaimanapun nama sekolah dalam bahaya soal ini. Akhirnya semua kembali seperti biasa menunggu waktu malam.
Aku ke perpustakaan untuk mencari informasi lain. Takutnya bukan di gudang itu keberadaan Ani.
Setelah kupelajari ada beberapa yang mirip, hanya saja mereka meninggalkan petunjuk yang bisa diikuti. Hanya gudang itulah satu-satunya keberadaan yang paling memungkinkan.
Akhirnya bel pulang berbunyi, kami berlima yang terdiri dari aku dan Deni serta 3 guru laki-laki bersiap untuk menyelamatkan Ani.
#bagaimana kelanjutannya? Sabaarr.....tunggu yaa 😁