One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab. 35 Keris



Sepulang sekolah aku langsung pergi ke lab biologi. Baru sampai di lantai tempat lab itu berada..


Wanita tanpa mata muncul dan memegang kepalaku, melempar aku dari lantai itu ke tangga.


"Menyebalkan" Aku berdiri dan mengusap kepalaku.


Untungnya ga bocor, aku berjalan menaiki tangga dan menatap wanita tanpa mata yang ada diujung tangga.


"Maaf menggangumu, aku tahu kalau aku sudah tidak diperbolehkan datang dengan alasan apapun. Tapi aku butuh bantuanmu, aku butuh mata yang bisa digunakan untuk melihat yang tidak terlihat".


Aku menatap ke wanita tanpa mata yang masih tidak menunjukkan reaksi apapun. Apa aku sudah gagal?


Tidak ada suara apapun yang terdengar diantara kami, senyap. Sampai akhirnya wanita tanpa mata itu menggerakkan tangannya menunjuk kearahku.


Aku baru mau bertanya apa maksudnya secara mendadak mata kiriku sangat sakit rasanya seperti sesuatu bergerak-gerak didalam kelopak mataku.


Aku berteriak saat sesuatu itu keluar dari dalam kelopak mataku bersamaan dengan menghilangnya penglihatan sebelah kiri mataku.


Aku terkejut melihat mata ku memiliki kaki dan berjalan kearah wanita tanpa mata itu. Aku langsung meraba mata kiriku dan benar saja mataku hilang.


Saat aku melihat kedepan wanita tanpa mata itu sudah berada di hadapanku dan memasukkan sesuatu ke mata kiriku.


Rasa sakit kembali menerjangku setelah beberapa detik mataku mulai terasa pulih.


Wanita tanpa mata itu sudah hilang dari pandanganku.


Aku pergi ke perpustakaan dan mengambil cermin kecil yang ada disana. Aku bercermin dan melihat mata kiriku yang memiliki pupil biru.


"Mataku.. Bagaimana caranya aku menjelaskan ke ibu nanti?" Aku melihat jam yang menunjukkan jam 6 kurang.


Aku harus pulang sebelum temanku yang ada dikelas tidak bisa pulang. Saat dirumah aku sendiri yang bingung ibuku tidak menunjukkan reaksi apapun pada mataku.


Aku tidak berani menanyakannya takutnya hanya aku saja yang salah paham. Aku memutuskan untuk mencari tahu soal mata ini.


Tentu saja tujuannya adalah sekolah nanti malam, tapi setan disekolah kan terlihat dengan mata telanjang. Jadi apa sekolah itu pilihan yang tepat?


Jam 8 malam aku berangkat ke sekolah dengan mata ini aku malah lebih gugup dalam perjalanan.


Tapi tidak ada yang aneh sampai aku melihat perempuan dengan baju putih berdiri dibawah pohon.


Aku mendekati perempuan itu belum juga aku menyapa atau bicara perempuan itu menatap kearahku dengan mata yang hitam legam dan pandangan yang kosong.


Tiba-tiba dia menghilang disertai suara tertawa khas. Ya dia kuntilanak, aku tidak takut melainkan terkejut saja.


Apa ini efek kelamaan disekolah itu ya? Tapi aku tidak menyangka dengan mata ini aku bisa melihat setan yang tidak berada dalam lingkungan sekolah.


Aku melanjutkan perjalananku ke sekolah. Seperti biasa sekolah penuh dengan setan hanya saja ada yang berbeda.


Aku melihat cahaya kecil di bagian belakang sekolah. Padahal dulunya aku tidak melihat apapun disana.


Aku masuk kedalam sekolah dan berjalan kearah cahaya itu. Letaknya dekat gudang dibelakang pohon dimana kuntilanak berbaju merah berada.


Aku mendekati cahaya itu yang ternyata itu adalah sebuah keris. Bentuknya cukup akrab dimataku seperti keris yang ditancapkan raksasa waktu itu.


Aku menyentuh keris itu tapi suara teriakan kuntilanak terdengar dengan nyaring di belakangku.


Saat aku berbalik kuntilanak itu terbang kearahku, secara reflek aku menghindar. Kuntilanak itu berbalik kearahku.


Saat aku berbalik kuntilanak itu mengejarku, perasaan kali ini berbeda dengan biasanya rasanya kalau aku tertangkap aku benar-benar akan mati.


Aku keluar dari lorong dan sudah dekat dengan gerbang. Dilapangan semua setan berkumpul bahkan setan yang tidak pernah keluar dari tempat mereka.


Seperti wanita tanpa mata, penukar kecantikan, penjaga sekolah, guru tanpa kepala, kepala sekolah, setan perpustakaan bisa dibilang semua setan ada dan mereka semua mengejarku.


Aku langsung berlari kearah gerbang dan langsung menaikinya. Kakiku dipegangi, saat aku berbalik itu adalah tangan berdarah milik setan perpustakaan.


Kuku dari tangan itu menusuk kakiku, aku berusaha melepas tangan itu. Tapi bambu runcing melesat dan mengenai pundakku bersamaan dengan aku berhasil melepas tangan itu.


Aku jatuh keluar gerbang. Bambu yang menancap itu menghilang dari pundakku tapi tidak dengan lukanya.


Biasanya kalau aku keluar dari sekolah seluruh luka yang kudapat di sekolah akan hilang. Tapi ini tidak, apa berarti kalau tulangku hancur seperti sebelumnya. Tulangku tidak akan kembali dan aku benar-benar akan mati?


Aku berjalan tertatih-tatih untuk menjauhi sekolah. Saat sampai dirumah badanku rasanya hancur sampai aku tidak bisa bergerak.


Terpaksa keesokan harinya aku tidak berangkat ke sekolah dan harus dirawat dirumah sakit. Aku beralasan pada ibu kalau aku terserempet dan masuk ke kali.


Untungnya ibu percaya soal itu. Tidak ada yang luka yang serius hanya di bahu yang merupakan luka tusuk itu juga tidak dalam.


Setelah 2 hari di rumah sakit aku bisa kembali kerumah dan keesokan harinya bisa kembali sekolah lagi.


Selama aku dirumah sakit banyak guru yang khawatir soal aku. Aku baru tidak masuk selama 2 hari saja sudah begini bagaimana nanti kalau sudah lulus?


Aku menceritakan kejadian sebenarnya pada Rizal saat jam istirahat "Kamu beneran hampir mati saat disekolah?"


Rizal bertanya dengan tatapan aneh "Kali ini lukanya nyata bahkan sudah dikonfirmasi sama dokter".


"Jadi keris yang kamu lihat itu... Beneran?" Rizal bertanya dengan nada yang meragukan "Beneran aku gak bohong. Kayaknya itu memang sumber kutukan disekolah deh, kalau waktu itu aku gak berhasil kabur bukanya berarti aku bakal meninggal?"


Rizal diam sejenak "kayaknya kamu gak bakal mati deh. Kalau kamu mati seluruh orang disekolah akan kacau bahkan ibumu juga akan mencari masalah kan?" Perkataan Rizal ada benarnya. Tapi aku mengingat sesuatu.


"Gimana kalau kalian lupa sama aku? Ingat kan semua alumni kelas 3 aja lupa sama kehadiran setan disekolah. Bukanya mereka juga bisa membuat seluruh sekolah lupa sama aku?"


Kami berdua terdiam, sampai akhirnya Rizal mengatakan sesuatu yang mengejutkan "Coba kita lihat sekarang"


Aku mematung "kamu mau mati Rizal?" Bukanya merasa bersalah Rizal malah menunjukkan wajah sombong.


"Kamu yang salah Aldi. Coba pikir kalau waktu istirahat seluruh setan disekolah ngejar kita bagaimana? Seluruh sekolah akan kacau proses belajar mengajar akan kacau pasti para setan akan kerepotan juga kan?"


Ehh.. Ada benarnya juga Rizal. Jadi waktu yang paling tepat ngambil kerisnya memang saat siang hari ya.


Aku dan Rizal ketempat keris kemarin. Cahaya yang kulihat semalam tidak ada, begitu juga keris yang menancap.


Hanya ada kuntilanak yang berdiri diatas pohon dalam diam "Gak ada tuh" Perkataan Rizal menjelaskan kalau dia memang tidak menemukan apa-apa.


"Aku yakin disini ko" aku mengusap-ngusap tanah dimana aku menemukan keris itu. Dan ternyata memang ada yang terkubur disini.


Aku menggalinya dengan tanganku, dan keris semalam ada disini. Yang anehnya meski sama terasa berbeda dengan yang semalam.


Aku tidak bisa menjelaskannya hanya terasa beda..


#penasaran jadinya.....